Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 73 "Kak, aku di kantor Polisi"


__ADS_3

"Ngapain kamu di kantor Polisi, Lisa? tanya Neyza yang sangat terkejut. "Hehe, tenang. Aku anter temanku. Dia ambil barang di mamanya yang kerja di kantor Polisi," Lisa terkekeh. "Kamu nih, ya. Bikin khawatir aja. Ta minta main. Kamu mau nyusul?" Neyza bertanya. "Mauuu. Nanti kabari ya, Kak?" Lisa. Neyza menutup telepon.


Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di tempat bermain. Lalita dan Rui tengah bermain dengan sangat gembira. Lisa di tengah perjalanan menuju tempat bermain. Sebuah taksi yang mengantarnya belum kunjung datang. Hingga akhirnya taksi itu keluar tol dan pergi menjauh dari pusat kota. Lisa yang sempat panik berusaha tetap tenang. Walau keringatnya jatuh satu demi satu, ia berusaha ingin meneruskan permintaan tolong kepada keluarga dan teman-teman kampusnya.


S. O. S


Begitu pesannya kepada beberapa kontak yang ia kirim. Dua pesan kepada Rion dan Neyza pun ada dalam daftar utamanya. Ia sengaja mengirim lokasi yang aktif dalam sebuah aplikasi pesan. Sehingga penerima pesan tahu tempat mana yang dilewati Lisa. Rion sempat melihat dan menerima permintaan share location yang diberikan oleh Lisa. Namun ia pikir Lisa hanya memberitahu kedatangannya akan sampai beberapa saat lagi. Ia tidak sempat memikirkan bahwa tanda itu adalah sebuah pesan darurat mengingat Lisa berbicara tentang Kantor Polisi kepada Neyza beberapa saat lalu bukanlah sebuah salah paham besar.


"Pak, saya tahu anda keluar dari kota. Apa anda kekurangan uang? Atau anda adalah seorang psikopat?" Supir taksi itu diam saja. Ia tahu bahwa ia juga dilanda kecemasan yang sangat besar karena melancarkan sebuah kejahatan di jam seperti ini. "Saya akan menelepon polisi atau meloncat keluar dari mobil ini bila perlu," ujar Lisa menggertak. "Sudah diam. Jangankan kamu lompat. Mungkin nyali kamu besar. Tapi aku yakin kamu hanya berteriak sebentar karena kamu takut. Hahahahhaa," pria tadi tertawa dengan penuh kepuasan.


Sial.

__ADS_1


Ia kembali menata mentalnya yang hampir pudar. Ini tentu saja tak bisa dibiarkan. "Kalo saya berbuat yang tidak-tidak kepada anda. Saya yakin saya tidak menyia-nyiakan hidup saya," kata Lisa dengan penuh keyakinan. Ia mengeluarkan syalnya. Dan ia mulai mengalungkannya ke leher supir itu di tengah mobil yang melaju kencang.


Di satu sisi, Rion melihat ponselnya. "Siapa?" tanya Neyza saat menggendong Rui. "Lisa. Dia nulis SOS. Sama kirim lokasi dia," kata Rion. "Mungkin dikit lagi sampai," Neyza menjelaskan. "Iya ini aku juga nyalain lokasi aku biar dia gak tanya di mana tempat bermain anak-anak," Rion tersenyum kepada Neyza.


Ponsel Lisa tak ada yang berdering. Ia berharap seseorang melihat pesan yang ia kirim. Supir itu nampak bertahan karena ikatan syal di lehernya. Lisa mencoba menariknya lebih keras. Supir itu berusaha mengendalikan mobilnya agar tidak keluar jalur apalagi menabrak pembatas jalan tol. Akan sangat menyakitkan untuk dirinya. Mobil hancur sepertinya tak jadi masalah. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana menghentikan perlakuan korbannya ini agar segera diam. Ia lalu masuk ke dalam rest area yang tak jauh dari tempat mobil itu dikemudikan.


Ia lalu mengambil sebuah jalur yang sepi dan tanpa lampu penerangan. Menyetir dengan satu tangan di kendali mobil dan satu tangan lagi berusaha untuk menarik syal yang ada di leher itu. Kini mobil itu berhenti. Kedua tangannya mengambil syal yang sedari tadi di bawah kendali Lisa. Energinya semakin besar. Lisa bahkan melihat matanya yang merah membara seperti bukan mata manusia. Lisa sempat melihat wajahnya di kaca tengah mobil itu. Kini Lisa betul-betul dalam bahaya. Ia berusaha memukul kepalanya dengan tas. Lisa hendak keluar namun berulang kali dikunci oleh supir itu. Kini Supir itu tengah melangkah ke tempat duduk Lisa. Ia berusaha ingin menghabisi Lisa dengan sangat garang. Namun Lisa memberontak. Ia tak ingin hidupnya menjadi mengenaskan di tangan orang gila ini.


Lisa menendang kakinya ke dada pria itu. Namun pria itu menangkis bahkan menarik kaki Lisa sehingga Lisa sedikit mengarah kepadanya. Lisa tak akan banyak berbicara. Ia akan melawan sekuat tenaga.


Praaaang.

__ADS_1


Kaca mobil depan supir seketika pecah. Sebuah tangan menekan tombol kunci otomatis untuk membuka semua kunci di masing-masing pintu mobil. Pria itu dan Lisa terkejut. Sebuah pintu di belakang terbuka. Dua buah tangan nampak meraih baju supir taksi itu dengan mudah dan seketika, pria itu jatuh ke jalan.


Bruuuuk.


Lisa tak melihat wajah pria itu. Namun Lisa mengambil sebuah kesempatan. Jarak beberapa meter dari situ, ada sebuah minimarket yang masih terbuka. Ia hendak berlari ke sana untuk meminta pertolongan. Namun kakinya keram. Kakinya sempat tergores sesuatu. Ia menahan sakit. Siapa pria itu tak penting menurutnya. Yang ia butuhkan sekarang adalah pertolongan. Ia sama sekali tak melihat ke belakang. Ia terus berjalan dengan tertatih ke depan.


Sebuah tangan memegang pundaknya. Reflek Lisa membalikkan badannya dan menendang dengan kaki yang masih kuat. "Aduuuuh," pria itu terjatuh. Lisa menatapnya. "Kak Bili!" Bili merintij kesakitan. "Kuat juga kamu, Lisa," Lisa cepat-cepat menolongnya. "Maaf, Kak. Aku pikir kakak supir tadi," Lisa mengangkat Bili. "Gpp, dia pingsan setelah aku pukul," kata Bili. Dari kejauhan seorang karyawan minimarket tengah keluar. Bili melihat sambil melambaikan tangan. "Mas, tolongin," karyawan itu berlari menghampiri mereka. "Tolong bawa adik saya ke dalam, mas. Saya mau ambil mobil," Bili kembali dan sengaja mengikat supir tadi. Lalu ia ambil kunci dan ponsel milik supir tadi. Lisa menceritakan kejadian itu dan dengan cepat karyawan tadi menelepon polisi untuk segera datang mengusut.


Bili sudah ada di dalam minimarket. Dua orang petugas keamanan rest area tengah menjaga supir yang yang masih pingsan tadi. Lisa diberi minuman hangat dan makanan. Lukanya pun telah dirawat. Walau masih sakit ia bersyukur bahwa Tuhan mengabulkan doanya. "Itu bukan taksi. Dia memang penjahat yang pura-pura jadi taksi," Bili menjelaskan. "Kok Kakak bisa tahu?" Lisa penasaran. "Tadi aku gak sengaja ada perlu di kampus kamu. Terus pas keluar lihat kamu naik taksi. Aku lihat platnya agak aneh. Terus aku ikutin kalian. Bener, kan? Dia keluar kota. Aku telepon kantor taksi itu. Mastiin ada gak nomor plat dia. Kalo emang itu duplikat Mobil asli kemana? Beneran aja. Itu taksi palsu. Dia penjahat," kata Bili.


Tak lama kemudian. Polisi datang. Membawa pelaku. Lisa dan Bili segera mengikuti polisi untuk memberikan berita acara. Sebagai saksi dan korban. Lisa menelepon Neyza. "Kak, aku di kantor Polisi," Neyza tertawa. "Kamu ini. Dua kali lho, bilang di kantor polisi. Ayo kita udah mau jalan ke tempat makan," Neyza tak percaya. Namun setelah Lisa menceritakan semua dan Bili ikut berbicara kepadanya, Neyza memutuskan untuk pergi bersama Rion ke kantor Polisi.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2