Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 81 Pertanyaan-pertanyaan


__ADS_3

Ogi menjadi salah tingkah saat mendengarkan penjelasan Rion. "Ah, hahaha. Maksud gue. Mending dia kita comblangin sama cowok yang pas. Biar cepet momong anak," Lgi menampik hal tersebut. Semua orang kembali berbaur dan berbicara satu sama lain. Ogi mengambil sebuah minuman dan berjalan ke luar beranda. Seseorang sedang mengamatinya. Ia pun berjalan mengikuti Ogi. "Hei," Neyza membuka pembicaraan. Ogi menoleh ke arahnya. "Oh, Hai. Makasih, makan malamnya," kata Ogi. Neyza tersenyum. "Kamu gak papa?" tanya Neyza. Ogi mengangguk. "Kamu gak ngobrol sama Regina?" Ogi melihat Neyza dengan pandangan terkejut. "Ngobrol? Tentang apa?" Neyza tersenyum. "Dari hati ke hati," kata Neyza menjelaskan. "Hmm, ketahuan banget ya?" Neyza menahan tawanya. "Ya gitu itu orang jatuh cinta. Kamu gak bisa nahan perasaan kamu dan akhirnya keceplosan aja," Ogi menggaruk kepalanya. Ada sedikit yang mengganjal pada hatinya. Entah dari kesekian kalinya ia berusia jujur terhadap perasaannya. Tapi Ogi akhirnya tanpa sadar berimajinasi tentang pandangan Regina tadi. "Andai Regina dijodohkan teman-temannya sendiri," Neyza menatap langit. "Bro, kalo lu emang udah yakin sama satu perempuan yang bisa bikin lu nyaman dan lu yakin dia juga punya perasaan yang sama kayak lu. Saran gue. Gak usah nunggu. Langsung aja," Rion bergabung bersama Neyza dan Ogi. "Nha, kalian bisa ngobrol berdua. Dari sudut pandang laki-laki. Kalo dari sudut pandang cewek. Kita kaum hawa gak suka digantung. Senangnya dikasih kejutan. Sesuatu yang romantis walau sederhana. Tapi niatan tulus itu bakal terbaca. Kalo kelamaan, bisa-bisa blacklist, kata Neyza. "Aku tinggal ke dalam dulu, ya?" Rion memberikan kelingan mata pada Neyza.


Ogi menarik napas. Ia tahu betul bahwa semua orang sudah menangkap aura jatuh hatinya kepada Regina. "Sejak kapan lu mulai suka sama dia?" Ogi diam. Menunduk seakan-akan menghitung kapan ia mulai menyematkan sebuah ruang di hatinya untuk Regina. "Sejak lama. Sejak di bangku kuliah. Gue suka dengan keceriaanya. Dan perhatiannya sama teman-temannya," Rion mengangguk. "Gue satu sekolah sama Regina waktu di SMA. Dia emang gitu. Kita semua dibeliin makanan. Bahkan dia suka berderma. Tiap jumat ajak keliling cuma buat kasih air minum sama snack," Ogi membuka matanya lebar-lebar. "Inilah yang bikin gue sering kagum, Rion. Dia beda," mata Ogi berbinar. "Sekali waktu gue pernah utarain isi hati gue. Dan gue pingin dia hanya mendengarkan. Gue gak minta hubungan lebih dari itu. Dan dia cukup kooperatif gak menjauhi gue apalagi gak nyaman sama gue. Gue salut," Rion mengangguk.


"Lu mau nunggu apa lagi?" tanya Rion menegaskan. "Menurut lu? Gue harus ngapain?" Rion memegang dagunya. "Seperti kata Neyza. Lu harus pakai jurus kilat biar dia gak lari dan cari orang yang lebih peka buat dia," Ogi menunduk. "Menurut lu dia suka gak sama gue?" Rion memandang para hadirin di ruang makan. "Hmm, sekarang lebih tenang dan lepas. Cara dia ketawa juga kayak orang bebas gitu. Ya kita bisa tahu karena dia teman kita sekolah, kan?" Ogi mengangguk.


Acara makan malam selesai. Bili, Ogi dan Regina pamit untuk pulang. "Gue duluan, ya? Makasih buat makan malamnya. Selamat rehat," kata Bili lalu pergi dari rumah Neyza. Ogi dan Regina juga pamit untuk segera pulang. Kini mereka berada dalam perjalanan ke rumah Regina.

__ADS_1


"Menurut lu. Gue tadi over gak, sih?" Ogi membuka pembicaraannya. "Ha? Yang mana? Gue gak ngeh," kata Regina. "Yang lu gendong Rui tadi," Ogi mengingatkan kembali kejadian makan malam tadi. "Ooh, itu. Biasa aja. Namanya orang blank. Hahahhaa. Kenapa emang? Lu malu? Orang-orang juga udah maklum sama lu. Mungkin belum makan malam," timpal Regina. "Bisa aja, lu. Gue serius nanya, nih," Regina melihat Ogi dengan penasaran. "Yang mau lu tanyain itu apa? Gue yang sekarang gak maklum karena gak paham. Cepet cerita!" Mobil Ogi berhenti di lampu merah. "Gue emang suka, sih. sama lu," kata Ogi. "Whaat?! Lu suka sama gue?" Regina sangat terkejut. "Itu tadi contoh kasus detail pertanyaan yang gak lu paham," Ogi buru-buru memberikan penjelasan. "Ya, Ogi. Gue kira beneran. Padahal gue ngarep. Dasar cowok!" Ogi menatap Regina. "Eh, lampu ijo. Jalan," Ogi masih tak berkedip menatap Regina. "Eh, jangan mentang-mentang sepi lu jadi seenaknya di jalan, ya?" Ogi terhenyak. "Lu tadi bilang ngarep?" Regina membuat wajah kesal. "Ya kedengeran jelas, kan?" Regina masih melihat jalan di arah belakang mobil. "Ayo jalan!" kata Regina. "Lu jawab dulu. Lu ngarep tadi yang gue bilang," Ogi tersenyum. "Ogiiii... iya gue ngarep lu suka sama gue. Cepet jalanin mobilnya," Ogi menjalankan mobilnya dengan tenang.


"Rumah lu tuh gak pindah, kan?" Regina mengangguk. "Besok pagi pindah, gak?" Regina mengangkat alisnya. "Pertanyaan lu aneh," Ogi tersenyum lebar. "Besok gue ke rumah lu. Buat ketemu orang tua lu," Jantung Regina berdebar cepat.


Apaan sih, Ogi? Tiba-tiba mau ketemu orang tua gue. Apakah ini yang disebut mendadak?


[Ogi] : "Rion. Makasih masukan lu tadi. Siap-siap lu bakal jadi salah satu Groomsmen gue. Salam buat Neyza. Makasih banyak buat kalian."

__ADS_1


Rion membaca pesan itu saat akan tidur di samping Neyza. "Sayang, cek deh pesan dari Ogi," Neyza melihat pesan dari Ogi. "Wow. Akhirnya Ogi bakal nemu jodoh," Neyza tersenyum. Memeluk Rion. "Jodoh gak bisa ditebak, ya? Ogi nemu juga sama teman kuliah dia," Rion memeluk balik istrinya itu. "Kayak kita. Udah kayak air sama api aja dulu, ya?" Neyza tertawa. "Manusia paling bikin bete seumur hidup aku saat itu ya kamu. Jahilnya kebangetan," Rion mencium kening Neyza. "Kalo gak gitu gak sayang, kan?" Neyza mendorong tubuh Rion. "Aku emang gak suka kok sama kamu dulu," Rion menarik Neyza ke dalam pelukannya. "Bisa aja. Tapi marah sama jutek setelah setahun gak ketemu. Ternyata eh ternyata. Cinta mati," Rion dengan gayanya yang bossy.


Pintu kamar Neyza terbuka. Lalita berdiri di depan dan masuk ke dalam kamar Neyza dan Rion. "Sayang. Kok belum tidur? Ta sakit? Pingin ditemani Mama?" Lalita menggelengkan kepalanya. Rion duduk dan menyuruh Lalita duduk di antara mereka. "Adek Rui dan Auntie Lisa sudah tidur. Ta gak bisa tidur," jelasnya. "Kenapa sayang? Lagi mikir sesuatu?" Lalita mengangguk.


Dengan mata berkaca-kaca ia memberanikan diri untuk berbicara. "Mama, Papa. Kalo Mama Hani sudah pulang dari belajar. Ta gak di rumah ini lagi sama Mama dan Papa?"


Deg.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2