
Rion terkejut dengan perkataan asisten rimah tangganya itu. Neyza
tak pulang ke rumah sejak tadi malam. Rion bahkan tidak melihat Neyza di kamar
yang lain. Ia hanya berpikir bahwa Neyza dan dirinya sedang dalam situasi yang
tidak baik. Ah, satu hari lalu. Saat ia menyuruh salah seorang karyawan
kantornya untuk menemui Neyza dan menjemputnya untuk bertemu dengan Rion saat
makan malam, karyawannya itu tengah menuju ke tempat Rion. Namun ia mendapati Neyza
sedang terburu-buru dan segera pergi meninggalkan apartemen. Dengan cepat
karyawan itu berpikir bahwa Neyza akan datang sendiri sehingga ia mengikuti Neyza
dan akhirnya mendapati Neyza dengan seorang pria di sebuah restoran. Naas,
karyawan itu hanya mengikuti instingnya. Ia mengira bahwa Neyza sedang menemui
seorang lelaki lain untuk berkencan. Foto yang ia dokumentasikan dengan cepat
ia kirimkan kepada Rion dan dengan sangat geram Rion pun memuncah amarah. Ia
tak menyangka Neyza melakukan hal itu di belakangnya.
“Pak, mungkin ada baiknya bapak menemui pria itu bersama
dengan Bu Neyza. Ini sama baiknya dengan
mengklarifikasi keduanya,” jelasnya memberi Masukan. Rion yang sudah terlanjur
marah karena foto-foto itu merasa ia harus segera berbicara kepada Neyza. Namun
urung ia lakukan karena ia Masih merasa penat dan lelah selepas pulang kantor. Ia
membiarkan Neyza melayaninya namun ia dengan kukuh tidak akan mengiyakan
permintaan Neyza. Perilaku yang menyakitkan memang. Pagi itu setelah Rion tahu
bahwa Neyza pergi, ia Masih menyingkirkan berbagai asumsi tentang istrinya itu.
Ia kesmapingkan dahulu Masalahnya dengan Neyza. Dan saat ini ia akan mengikuti
kelanjutan rapat proyek yang besar itu. Ia berharap ini semua segera berakhir. Pikirnya.
Waktu makan siang telah tiba. Rion mengajak koleganya untuk
makan siang di sebuah restoran mewah di tengah kota. Ini adalah sebuah wacana
penting mengingat proyek di kota Tokyo bukanlah proyek kecil. Maka dari itu, ia
akan menjamu koleganya itu sebaik mungkin. Bercakap dan saling memberi Masukan
kepada hasil rapat tersebut berlangsung santai. Setelah satu jam lamanya,
mereka akan kembali ke kantor. Rion menyuruh Bili untuk membayar penuh seluruh
makan siang itu. Namun Bili kembali dengan sebuah kabar mengejutkan. “Bre,
makanan ini sudah dibayar sama pemiliknya,” bisik Bili dan membuat Rion
__ADS_1
terkejut. Alisnya mengerut tanda penasaran. “Siapa dia? Gue gak kenal sama
sekali sama pemilik restoran ini. Apa salah satu tamu kita?” Bili menggeleng. “Kayaknya
dia kenalnya sam alu doang,” tambahnya. Rion segera pamit untuk menemui sang
pemilik restoran itu. Setelah meminta ijin kepada kasir restoran dan kasir
tersebut dengan senang hati megantarkan Rion ke sebuah ruangan. Rion duduk di
sebuah sofa. Ia Masih mengingat-ingat siapa teman atau kerabatnya yang
mempunyai restoran di Tokyo.
“Jadi lu gak inget siapa gue?”, seorang pria muda tengah Masuh
ke dalam ruangan sesaat setelah Rion Masuk. Rion membalikkan badan. Matanya membesar.
Senyumnya melebar. Rion tahu persis siapa pria ini. “Dias!” ujar Rion dengan
suara mengeras. Keduanya tertawa dan saling memeluk dengan kencang. “Dari mana
aja lu? Kenapa nyasar sampai Tokyo gini?” tanya Rion. Keduanya seperti tidak
percaya kalau akan bertemu di tempat ini. “Bentar-bentar. Lu hutang banyak
cerita ke gue. Ini sekarang gue keburu
balik kantor. Kelar urusan kantor kita harus ketemu,” Rion mengangkat telunjuknya
membuat ultimatum kepada Dias. Sahabatnya
berapa?,” Rion dengan sigap mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya. Berjalan
keluar dengan gaya khasnya.
Sore itu, Rion pulang ke rumah. Ia Masuk ke dalam
apartemennya. Sepi. Bahkan suara Lalita tak kunjung ia dengar. Kemana semua
orang? seorang asisten rumah tangga menyambutnya. “Mas Rion, sudah hubungi Mbak
Neyza? Hari ini belum pulang,” kata perempuan itu. Rion melihat sekeliling. Ia lalu
mengambil ponselnya. Ia akan menghubungi Neyza. Mood-nya kembali membaik
setelah bertemu dias siang ini.
Mati.
Ponsel Neyza mati. Ia cepat-cepat mengirim pesan kepada Neyza.
“Ney, dimana? Ayo pulang!” perhatian Rion kepada Neyza banyak teralihkan karena
pekerjaan dua hari ini. Ia baru menyadari bahw aada seseorang yang harusnya
lebih ia perhatian daripada pekerjaan yang banyak dipikirkan oleh karyawannya. Hatinya
mulai gundah. Neyza belum juga pulang, ponselnya mati, apartemen ini nampak
sepi. Ia mengingat-ingat kembali apa yang ia lalui dengan Neyza. Ada apa kali
__ADS_1
ini? Ia tak menggubris perkataan Neyza beberapa waktu belakangan. Dan terakhir
kalinya di depan pintu utama rumah ini, mereka sedkit berdebat tanpa tahu apa
subjek yang dibicarakan. Rion tahu bahwa ia secara tidak langsung menuduh yang
tidak-tidak pada Neyza. Sebuah kesalah besar.
Sial.
Rion tiba-tiba membenci dirinya sendirinya sendiri. Kini ia
seperti orang kehilangan sesuatu yang berharga. Ia mengambil ponselnya dan
segera menghubungi Bili. Menceritakan apa yang terjadi. “Bre, menurut gue, nih
ya. Neyza bukan perempuan tanpa tujuan. Dia gak mungkin luntang luntung di Tokyo.
Dia juga punya uang. Bisa jadi dia nginep di hotel nenangin diri. Lagian lu
ngapain sih ngomong barang begituan sama dia. Kayak gak kenal istri lu aja. Dia
cewek baik-baik tahu, gak? Kesel gue sama lu,” Rion menggaruk kepalanya. “Gini
deh, minta tolong lu cari info di hotel mana aja di Tokyo ini, ya. Cari istri
gue. Atau kita telepon Polisi?” Rion mulai panik. “Yang ada lu diketawain sama
polisi. Udah gue cari dulu. Lu sabar aja dulu,” Bili menenangkan. Rion mondar-mandir
di ruang tengah. Masuk ke dalam kamar hanya untuk melihat tempat tidur yang
kosong. “Ney, kemana kamu? Maafin aku, Ney,” pinta Rion dengan suara lirih.
Dua jam lamanya Rion menunggu kabar dari Bili. Suara ponselnya
berdering. “Halo, lu udah dapat?” Rion bertanya dengan cepat. “Nihil, Bre,”
kata Bili. Muka Rion sedih. “Gue cari dimana lagi dia?” Rion keluar apartemen
dan segera mencari Neyza seorang diri. Ia menjalankan mobilnya menyusuri kota Tokyo.
Tak susah bagi Rion untuk pergi sendiri. Ia pernah tinggal di kota ini selama
satu tahun. Sehingga ia tak perlu bingung. Namun kali ini ia dibingungkan oleh
kehilangan Neyza secara tiba-tiba. Dari pusat perbelanjaan yang pernah ia
kunjungi dengan Neyza, dan tempat ia makan jajanan yang Neyza suka kala itu. Ia
ingat semuanya. Bahkan kata-katanya sendiri yang ia benci karena tak memikirkan
perasaan Neyza.
Rion duduk di sebuah kursi di sebuah taman. Berharap Neyza
ada di sekitar sini. “Rion?” seorang perempuan menyapanya. Rion menoleh karena
ia merasa itu adalah suara Neyza. “Hai!,” perempuan itu tersenyum.
Rion membesarkan matanya.
__ADS_1