Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 61 Sadar


__ADS_3

Rion terkejut dengan perkataan asisten rimah tangganya itu. Neyza


tak pulang ke rumah sejak tadi malam. Rion bahkan tidak melihat Neyza di kamar


yang lain. Ia hanya berpikir bahwa Neyza dan dirinya sedang dalam situasi yang


tidak baik. Ah, satu hari lalu. Saat ia menyuruh salah seorang karyawan


kantornya untuk menemui Neyza dan menjemputnya untuk bertemu dengan Rion saat


makan malam, karyawannya itu tengah menuju ke tempat Rion. Namun ia mendapati Neyza


sedang terburu-buru dan segera pergi meninggalkan apartemen. Dengan cepat


karyawan itu berpikir bahwa Neyza akan datang sendiri sehingga ia mengikuti Neyza


dan akhirnya mendapati Neyza dengan seorang pria di sebuah restoran. Naas,


karyawan itu hanya mengikuti instingnya. Ia mengira bahwa Neyza sedang menemui


seorang lelaki lain untuk berkencan. Foto yang ia dokumentasikan dengan cepat


ia kirimkan kepada Rion dan dengan sangat geram Rion pun memuncah amarah. Ia


tak menyangka Neyza melakukan hal itu di belakangnya.


“Pak, mungkin ada baiknya bapak menemui pria itu bersama


dengan  Bu Neyza. Ini sama baiknya dengan


mengklarifikasi keduanya,” jelasnya memberi Masukan. Rion yang sudah terlanjur


marah karena foto-foto itu merasa ia harus segera berbicara kepada Neyza. Namun


urung ia lakukan karena ia Masih merasa penat dan lelah selepas pulang kantor. Ia


membiarkan Neyza melayaninya namun ia dengan kukuh tidak akan mengiyakan


permintaan Neyza. Perilaku yang menyakitkan memang. Pagi itu setelah Rion tahu


bahwa Neyza pergi, ia Masih menyingkirkan berbagai asumsi tentang istrinya itu.


Ia kesmapingkan dahulu Masalahnya dengan Neyza. Dan saat ini ia akan mengikuti


kelanjutan rapat proyek yang besar itu. Ia berharap ini semua segera berakhir. Pikirnya.


Waktu makan siang telah tiba. Rion mengajak koleganya untuk


makan siang di sebuah restoran mewah di tengah kota. Ini adalah sebuah wacana


penting mengingat proyek di kota Tokyo bukanlah proyek kecil. Maka dari itu, ia


akan menjamu koleganya itu sebaik mungkin. Bercakap dan saling memberi Masukan


kepada hasil rapat tersebut berlangsung santai. Setelah satu jam lamanya,


mereka akan kembali ke kantor. Rion menyuruh Bili untuk membayar penuh seluruh


makan siang itu. Namun Bili kembali dengan sebuah kabar mengejutkan. “Bre,


makanan ini sudah dibayar sama pemiliknya,” bisik Bili dan membuat Rion

__ADS_1


terkejut. Alisnya mengerut tanda penasaran. “Siapa dia? Gue gak kenal sama


sekali sama pemilik restoran ini. Apa salah satu tamu kita?” Bili menggeleng. “Kayaknya


dia kenalnya sam alu doang,” tambahnya. Rion segera pamit untuk menemui sang


pemilik restoran itu. Setelah meminta ijin kepada kasir restoran dan kasir


tersebut dengan senang hati megantarkan Rion ke sebuah ruangan. Rion duduk di


sebuah sofa. Ia Masih mengingat-ingat siapa teman atau kerabatnya yang


mempunyai restoran di Tokyo.


“Jadi lu gak inget siapa gue?”, seorang pria muda tengah Masuh


ke dalam ruangan sesaat setelah Rion Masuk. Rion membalikkan badan. Matanya membesar.


Senyumnya melebar. Rion tahu persis siapa pria ini. “Dias!” ujar Rion dengan


suara mengeras. Keduanya tertawa dan saling memeluk dengan kencang. “Dari mana


aja lu? Kenapa nyasar sampai Tokyo gini?” tanya Rion. Keduanya seperti tidak


percaya kalau akan bertemu di tempat ini. “Bentar-bentar. Lu hutang banyak


cerita ke gue. Ini sekarang  gue keburu


balik kantor. Kelar urusan kantor kita harus ketemu,” Rion mengangkat telunjuknya


membuat ultimatum kepada Dias.  Sahabatnya


berapa?,” Rion dengan sigap mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya. Berjalan


keluar dengan gaya khasnya.


Sore itu, Rion pulang ke rumah. Ia Masuk ke dalam


apartemennya. Sepi. Bahkan suara Lalita tak kunjung ia dengar. Kemana semua


orang? seorang asisten rumah tangga menyambutnya. “Mas Rion, sudah hubungi Mbak


Neyza? Hari ini belum pulang,” kata perempuan itu. Rion melihat sekeliling. Ia lalu


mengambil ponselnya. Ia akan menghubungi Neyza. Mood-nya kembali membaik


setelah bertemu dias siang ini.


Mati.


Ponsel Neyza mati. Ia cepat-cepat mengirim pesan kepada Neyza.


“Ney, dimana? Ayo pulang!” perhatian Rion kepada Neyza banyak teralihkan karena


pekerjaan dua hari ini. Ia baru menyadari bahw aada seseorang yang harusnya


lebih ia perhatian daripada pekerjaan yang banyak dipikirkan oleh karyawannya. Hatinya


mulai gundah. Neyza belum juga pulang, ponselnya mati, apartemen ini nampak


sepi. Ia mengingat-ingat kembali apa yang ia lalui dengan Neyza. Ada apa kali

__ADS_1


ini? Ia tak menggubris perkataan Neyza beberapa waktu belakangan. Dan terakhir


kalinya di depan pintu utama rumah ini, mereka sedkit berdebat tanpa tahu apa


subjek yang dibicarakan. Rion tahu bahwa ia secara tidak langsung menuduh yang


tidak-tidak pada Neyza. Sebuah kesalah besar.


Sial.


Rion tiba-tiba membenci dirinya sendirinya sendiri. Kini ia


seperti orang kehilangan sesuatu yang berharga. Ia mengambil ponselnya dan


segera menghubungi Bili. Menceritakan apa yang terjadi. “Bre, menurut gue, nih


ya. Neyza bukan perempuan tanpa tujuan. Dia gak mungkin luntang luntung di Tokyo.


Dia juga punya uang. Bisa jadi dia nginep di hotel nenangin diri. Lagian lu


ngapain sih ngomong barang begituan sama dia. Kayak gak kenal istri lu aja. Dia


cewek baik-baik tahu, gak? Kesel gue sama lu,” Rion menggaruk kepalanya. “Gini


deh, minta tolong lu cari info di hotel mana aja di Tokyo ini, ya. Cari istri


gue. Atau kita telepon Polisi?” Rion mulai panik. “Yang ada lu diketawain sama


polisi. Udah gue cari dulu. Lu sabar aja dulu,” Bili menenangkan. Rion mondar-mandir


di ruang tengah. Masuk ke dalam kamar hanya untuk melihat tempat tidur yang


kosong. “Ney, kemana kamu? Maafin aku, Ney,” pinta Rion dengan suara lirih.


Dua jam lamanya Rion menunggu kabar dari Bili. Suara ponselnya


berdering. “Halo, lu udah dapat?” Rion bertanya dengan cepat. “Nihil, Bre,”


kata Bili. Muka Rion sedih. “Gue cari dimana lagi dia?” Rion keluar apartemen


dan segera mencari Neyza seorang diri. Ia menjalankan mobilnya menyusuri kota Tokyo.


Tak susah bagi Rion untuk pergi sendiri. Ia pernah tinggal di kota ini selama


satu tahun. Sehingga ia tak perlu bingung. Namun kali ini ia dibingungkan oleh


kehilangan Neyza secara tiba-tiba. Dari pusat perbelanjaan yang pernah ia


kunjungi dengan Neyza, dan tempat ia makan jajanan yang Neyza suka kala itu. Ia


ingat semuanya. Bahkan kata-katanya sendiri yang ia benci karena tak memikirkan


perasaan Neyza.


Rion duduk di sebuah kursi di sebuah taman. Berharap Neyza


ada di sekitar sini. “Rion?” seorang perempuan menyapanya. Rion menoleh karena


ia merasa itu adalah suara Neyza. “Hai!,” perempuan itu tersenyum.


Rion membesarkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2