
Sore itu, Rion pergi bersama Neyza ke Restoran Dias. Ia berencana akan mengenalkan Neyza kepada dua sahabatnya itu. Jana sedang dalam perjalanan menuju restoran. Neyza dan Rion sedang menunggu sambil memesan minuman. Dias sedang berada di ruangannya bersama beberapa karyawan yang sedang melakukan rapat khusus.
"Ney, kemarin kenapa, sih?" Rion memulai pembicaraannya. Neyza melihat Rion. "Kamu ingat pesan yang masuk ke ponselku? Ternyata orang itu ada di Tokyo. Aku gak tahu siapa dia. Tapi pesan terakhir waktu kamu pergi ke kantor pagi itu. Dia bilang kalo dia teman baik kamu waktu di Jakarta. Namanya Jana. Dan dulu kamu suka dititipin ke rumahnya kalo Mama Papa pergi. Makanya aku berani keluar tanpa ijin kamu. Soalnya dia mau ngomongin kalo mau bikin pesta kejutan sama teman kamu yang namanya Dias," Rion mengangguk. "Akhirnya, aku pergi restoran tempat kita janjian. Ternyata Jananya malah gak sempat karena ada keperluan mendadak. Cuma dia bilang kalo ada karyawannya yang bawain sesuatu untuk kamu. Kue. Dia sempat juga kasih aku beberapa foto kamu waktu kamu masih kecil. Aku ketawa waktu buka itu di restoran. Karena cuma sebentar, aku jadinya pulang," Neyza mengakhiri cerita panjangnya.
Rion memegang tangan Neyza. "Harusnya aku lebih sabar nungguin kamu cerita kayak gini. Biar gak salah paham. Dari pada aku dua hari gak tidur sama kamu. Kan tersiksa juga," Rion melanjutkan. "Aku juga salah, sih. Cuma aku benar-benar simpan rahasia biar kamu dapat kejutan dari teman-teman kamu," Rion menatap dalam mata Neyza. "Kalo gak Jana kasih tahu kalo dia udah janjian sama kamu dan ketemuannya sama karyawannya, mungkin aku lebih merasa bersalah karena masih diemin kamu. Maaf ya, sayang. Tolong ingetin aku kalo salah," pinta Rion. "Aku juga, ya. Aku masih jauh dari dewasa. Tolong ingetin aku dengan cara halus. Karena aku gampang nangis." Rion tersenyum lebar. Masalah mereka selesai. Tak ada salah paham lagi.
"Jadi, kamu sudah suka lagi sama aku, Ney?" tanya Rion. "Terlanjur, Rion. Suami aku kan kamu. Masa aku harus suka sama yang lain?" Rion melebarkan matanya. "Apa? Jadi kamu. Ya, Ney. Aku ngarepnya kamu tulus suka sama aku." Neyza tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Rion malah melihatnya tanpa berkedip. Semakin ia melihat Neyza, semakin terlihat kecantikan istrinya itu. "Kamu makin dilihat-lihat emang nyayangin, ya? Bikin aku pingin balik ke rumah aja." Neyza menatap tajam Rion. "Ngapain balik ke rumah? Kita baru nyampe juga. "Hehehe.. lha, masak gak ada program sama adek Lalita?" Neyza melempar setangkai bunga dari vas di atas meja ke arah Rion.
"Wah, pengantin baru mesra amat. Iri gue," Jana datang bersama Dias lalu duduk bersama Rion dan Neyza. Rion tersenyum dan merangkul Dias serta Jana. "Kenalin, ini istri gue, Neyza. Sayang, ini Dias, ini Jana." Neyza mengangguk, "Halo," balas Neyza. "Akhirnya kita bisa ketemu ya, Neyza. Gue Jana." Dias memberitahu seorang karyawan untuk mengambil makanan yang telah disiapkan. Beberapa makanan dan kue ditata rapi di atas meja.
__ADS_1
Rion meraih salah satu makanan dan segera menyantapnya. "Gue rindu sama kare ini. Juara restoran lu." Rion melirik Neyza. "Kamu mau makan apa, Ney?" Neyza mengambil okonomiyaki. "Ini aja. Lama gak makan ini." Mereka pun berbincang hingga petang. Rion dan Neyza kembali pulang ke apartemennya.
Rion membuka pintu apartemennya dan membiarkan Neyza masuk terlebih dahulu. "Oia, Ney. Aku belum bilang sama kamu. Malam ini kayaknya ada... ", belum selesai ia menyelesaikan perkataannya, seorang perempuan tengah berdiri dan menyambut Rion. "Halo, anakku sayang. Lama banget, sih. Tante nungguin dari tadi." Perempuan paruh baya itu memeluk Rion seperti anaknya sendiri. Neyza berhenti dan mengamati keduanya. Perempuan itu menatap sinis pada Neyza.
Duh, siapa ini anatgonis tiba-tiba datang di rumah tanggaku?
Rion tersenyum lebar. "Sayang. Ini tanteku. Tante Manda. Adiknya Papa. Lama di Korea. Tante Manda tahu kalo kita mau ke Jepang. Makanya mau nengokin. Sekalian kenalan sama Lalita," cerita Rion. Tante Manda sedikit kebingungan. "Lalita? 누구(siapa) Lalita?" tanyanya dengan sedikit campuran bahasa Korea. "Anak kita, 아줌마(Tante)," balas Rion mengikuti gaya bicara Tante Manda. Raut wajahnya tiba-tiba berubah. Ia lalu menggandeng tangan Rion dan menjauh dari Neyza.
Lalita tertawa melihat Rion yang masuk ke dalam kamar. "Ma... Ma.. " katanya pada Rion. "Ini Papa, sayang. Pa.. Pa," Neyza tertawa sambil menyiapkan baju tidur Rion. "Tante Manda tadi kayaknya jutek banget lihat aku," Neyza memberikan opininya. "Dia itu ekspresif, Ney. Maklumi. Apa aja direspon sama dia. Mungkin kalo ada semut lewat juga ikut nimbrung obrolan semut tadi. Gak apa-apa. Dia baik, kok." Rion menenangkan. "Iya baiknya sama kamu, doang." Neyza mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Oia, dia bakal tinggal sampai kita balik ke Jakarta." Neyza menunjukkan wajah tak percaya. "Apa? Waduh. Gimana rumah jadinya kalo ada makhluk kayak Tante Manda," Neyza sedikit khawatir. "Hahaha, tenang, sayang. Ada triknya. kamu bisa diam sambil tatap matanya. Dia agak takut kalo dilihatin. Baru, deh. Ngomong." Neyza tak menggubris perkataan Rion. "Pokoknya kalo cerewetnya gak bisa dimaklumi, mending Tante Manda suruh ke apartemen sebelah." Rion tertawa.
Malam itu, Rion tidur dengan Lalita dan Neyza dalam satu tempat tidur.
Tok tok tok.
"Rion. Rion," suara teriakan Tante Manda membangunkan Rion dan Neyza. Pukul 05.45. masih terlalu pagi untuk bangun, pikir Rion. "Kenapa, Te?" wajah Tante Manda nampak muram. "Kamu habis subuhan tidur, ya? Ayo bangun olahraga. Sarapan. Mana istri kamu? Masa mau molor terus. Nyiapin sarapan kek buat kamu." Neyza baru keluar dari kamar mandi. Sedangkan Rion kembali tidur dan tidak menggubris perkataan Tante Manda.
Neyza keluar kamar menuju dapur dan menyiapkan sarapan Rion seperti biasanya. Tante Manda juga sedang sibuk di dapur. Tante Manda memandang Neyza. Dari atas ke bawah, satu tubuhnya seperti sedang meng-screening digital apa yang ada pada Neyza.
__ADS_1
"Neyza, gimana sih kok bisa kamu sama Rion bergaulnya kebablasan gitu?"
(bersambung)