
Tahun demi tahun keluarga Rion dan Neyza bertumbuh menjadi keluarga yang bahagia. Banyak pasang surut kehidupannya mereka yang mereka lalui bersama. Ogi dan Regina yang sudah mempunyai dua anak. Bili dan Weni yang juga berketurunan tiga orang anak. Lisa kembali pulang ke Korea setelah lulus dari kuliahnya. Tiga tahun setelahnya, ia menikah dengan sahabatnya. Kini ia menetapkan di Korea dan baru saja dikaruniai seorang anak.
Langkah sepatu high heels nampak sangat tegas melewati lorong kantor perusahaan Rion. Setelah mengetuk dan masuk. Perempuan paruh baya itu menyapa Bili. Sang sekretaris pimpinan itu mengangguk dan mempersilahkannya masuk.
"Sayang," sapanya ketika ia menutup pintu ruang kerja Rion. Lelaki itu hanya tersenyum melihat istrinya datang. Neyza mencium pipi Rion dengan lembut. Mereka berencana untuk makan siang bersama. Rion segera mematikan komputernya. Memastikan dokumen yang baru saja ia baca tertutup rapi di map yang telah disiapkan oleh Bili. Mereka berdua bergandengan tangan berjalan menuju tempat parkir.
"Bil, gue duluan ya makan siangnya," kata Rion pamit. Bili memberikan jempol kanannya tanda mempersilahkan Rion untuk memanfaatkan waktu dengan Neyza. Mereka pergi dengan mobil Rion untuk pergi ke restoran di sebuah hotel berbintang. Hal yang jarang sekali ia lakukan bersama Neyza. Namun kali ini, untuk merayakan ulang tahun pernikahannya, mereka sengaja memesan meja khusus di restoran yang terletak di lantai 15. Rion dan Neyza duduk di dekat jendela. Sky view yang mereka dapatkan merupakan sebuah hadiah yang berkesan. Siang itu, pemandangan kota Jakarta yang sangat sibuk menjadi saksi berapa hubungan mereka layak dirayakan bersama. Neyza dan Rion telah memesan makanan.
Neyza tersenyum, mengingat pagi tadi, Lalita dan Rui membuat sebuah kejutan cantik yang akan ia kenang. Setelah bangun pagi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Neyza dan Rion keluar kamar dan berjalan turun ke ruang makan. Namun ia sangat terkejut karena lantai di luar kamarnya terdapat karpet memanjang berwarna hijau tua. Neyza setengah tak percaya. Namun Rion sadar bahwa ini pasti ulah kedua anaknya. Mereka berjalan mengikuti karpet yang sudah dibentangkan itu. Ia hampir tak mampu memilah kejutan apa yang akan ia dapatkan.
Pegangan tangga dihiasi dengan bunga lili putih dan mawar berwarna salem yang sangat cantik. Berpaduan dengan dedaunan yang semakin menambah keanggunan rumah. Neyza sangat menikmati pagi ini.
"Ini kamu yang bikin?" Rion menggeleng. Namun Neyza masih tidak percaya. Rion pun bisa melakukan ini. Walau persentase yang ada 1% berbanding dengan 99% tidak mungkin. Karpet itu mengarah ke meja makan. Meja makan putih itu dihiasi banyak bunga segar nan harum. Beberapa kain menghias meja dan kursi makan terlihat sangat menawan.
Super food untuk Rion dan Neyza adalah makanan yang cocok untuk mereka makan di pagi ini. Mereka menikmati makanan. Segelas air rendaman kiwi dan semangka membuat kesegaran yang cukup mengenyangkan.
Setelah selesai makan, Lalita dan Rui datang dan memberikan sebuah kartu ucapan. Keduanya lalu berlalu. Membiarkan pasangan ini tetap menikmati pagi dan kejutan mereka.
__ADS_1
"*Dear Mama dan Papa.
Tak ada yang lebih mungkin kami jelaskan. Beribu kata tak akan mampu menggambarkan betapa besarnya cinta dan kasih kami dan rasa syukur kami atas kehadiran Mama dan Papa. Namun, apa pun yang kami rasakan sekarang, tak akan membandingi betapa luar biasa dan istimewanya kisah cinta Mama dan Papa.
Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga selalu diliputi kebahagiaan dan kesehatan. Dan apa pun yang selalu membuat kalian merasa nyaman. Terima kasih sudah menyayangi kami tanpa syarat.
Love,
Ta & Rui*."
Neyza merasa ada butiran air mata yang jatuh dari matanya. Bentuk perhatian ini adalah hadiah yang luar biasa. Ia tak pernah memaksa kebahagian datang dalam hidupnya. Ia hidup dalam penuh syukur. Lalita dan Rui adalah dua Malaikat bumi yang mampu mewarnai realita hidupnya bersama Rion.
Lalita dan Rui turut memeluk Neyza. Ikut merayakan cinta Neyza dan Rion. Keempatnya berpelukan bersama.
"Ma, ini dari mbak-mbak asisten. Malu katanya mau kasih Mama," Neyza menoleh ke arah dapur. Para Asisten rumah tangga tengah mencuri moment dalam keadaan khawatir. Neyza membuka sebuah kota kecil hadiah dari mereka. Sebuah foto dan pigura cantik berukir bunga. Foto antara Neyza dan para asisten. Foto itu diambil saat Rui baru lahir. Sebuah kamera jadul milik salah seorang asisten yang tiba-tiba ingin mengabadikan moment itu. "Mbak, saya mau foto sama Neng Rui dan Mbak Neyza," tentu saja permintaan itu diluluskan oleh sang majikan. Neyza tersenyum saat Rion menawarkan bantuan untuk mengambil gambar tersebut.
Foto itu menjadi kenangan mendalam untuk para pekerja di rumah Neyza. Sebuah kehormatan menjadi bagian dari rumah ini. Sepucuk surat kecil terselip di belakang pigura itu.
__ADS_1
"Sehat terus, Mbak. Kami sayang keluarga ini," begitu tulisan itu sangat menyentuh hati Neyza dan Rion. Mereka benar-benar dikelilingi orang-orang yang baik dan penuh perhatian. Itu pun karena perilaku Neyza dan Rion kepada para pekerja di rumah mereka. Sikap baik mereka untuk menghormati sangat tinggi.
Ingatan itu kini membawanya untuk lebih menatap Rion lebih dalam. Sang suami pun lebih antusias melihat istrinya. Sesekali ia menggoda dengan mengediokan salah satu matanya. Neyza lalu memukul tangan Rion yang memegang tangannya.
"Minggu depan Hani keluar penjara. Sebulan lagi Tito yang keluar," kata Neyza. Rion mengangguk. Sang suami sudah menyiapkan diri dengan Neyza jauh-jauh hari. Neyza, Rion, dan Heri berencana untuk menjemput Hani dan pulang ke rumah Heri. Sebenarnya Heri sudah menyiapkan rumah untuk Hani, Tito dan Lalita. Namun ketika itu disampaikan kepada Hani saat Heri menjenguk kan dua bulan lalu. Hani menolak. Karena ia masih belum terbiasa tinggal bersama Lalita. Ia ingin berada di rumah Heri dahulu. Ingin beradaptasi dengan Lalita. Sebelum akhirnya ia akan tinggal bersama Tito dan Lalita.
Seminggu kemudian. Neyza, Rion dan Heri sedang menunggu di ruang tunggu setelah mengurus berkas keluar bersama pengacara Rion.
Pintu ruang tunggu itu terbuka.
Seorang perempuan yang tidak lagi mudah itu bermuka datar masuk ke dalam ruangan. Mukanya sedikit lusuh. Mungkin karena belasan tahun ia tak pernah memakai krim perawatan wajah. Namun ia masih tetap segar dan awet muda.
Heri berdiri dan segera memeluknya. "Kak. Selamat datang. Ayo kita pulang!" Hani menangis dipelukan Heri. Kerinduannya nampak jelas. Ia orang yang merasa paling menyesal karena membiarkan Heri dalam perjuangan seorang diri. Ia lalu menatap Neyza. "Kamu, Neyza," istri Rion itu dengan cepat memeluk Hani. Entah terbuat dari apa hati Neyza. Belasan tahun merawat putri Hani tanpa mengeluh. Dan sekarang ia seperti membuka pintu yang sangat lebar. Mempersilahkan Hani berada dalam hidupnya setelah kejadian masa lalu yang kelam menimpa dirinya.
Rion terkejut dengan sikap Neyza. Namun ia membiarkannya.
"Rion!" kata Hani.
__ADS_1
(bersambung)