
Bili tertawa melihat reaksi Rion mendengar nama Neyza. Bili menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu sedang dimabuk cinta. Ia hanya terjebak, mungkin saja. Hani adalah cinta pertamanya. Rion tak mungkin melupakan Hani. Baru saja ia ditolak cinta, dan tak mungkin begitu cepat ia melupakannya. Apalagi tiba-tiba muncul kabar kalau Rion akan menikahi Hani. Cerita apalagi ini?
Lain Hani, lain pula Neyza. Neyza adalah perempuan yang baik. Sejauh ini, Bili menganggap Neyza adalah teman yang baik. Andai berita pernikahan tidak terdengar di telinga Bili, mungkin ia tidak merasa kasihan terhadap Neyza. Bili kasihan karena Rion selalu bersikap usil terhadap Neyza. Rion pria yang baik. Ia tampan. Mana mungkin tak ada perempuan yang tersentuh olehnya. Namun keputusan menikahi Hani. Apakah itu tidak melukai perasaan Neyza? Andai saja mungkin Neyza mulai suka kepada Rion. Bili tiba-tiba merasa pusing dengan pikirannya sendiri.
Rion: "Bre, mungkin bentar lagi nyokap bokap mau ke rumah Hani. Lu ikut, ya?"
Bili: "Buset. Ngapain gue yang ikut? Lu yang mau nikah."
Rion: "Temenin gue, bre. Ya masak lu gak sayang sama gue?"
Bili: "Sayangnya gue tapi gak harus nemenin lu kemana-mana, ya?"
Rion: "Gue demam panggung. Kalo nanti gue gemeteran terus pingsan gimana? Ini kan pertama kalinya dalam hidup gue. Nanti lu gue temenin deh kalo mau ngelamar anak orang."
Bili: "Ya gue sendiri, lah. Ngapain gue minta tolong lu? Gue cowok," Bili memukul dadanya lalu terbatuk.
Rion: "Oke. Deal. Gue beliin jas branded yang sama kayak gue. Udah lama gue gak beliin lu baju. Oia, sama makan di restoran Jepang yang di lantai 8 itu. Wah, ikannya enak banget sama wasabi. Sop tulangnya, waduh, enak banget kayaknya makan malam-malam."
Bili: "Udah udah. Gue ikut. Gak usah iming-iming makanan. Hih. Nyerah gue kalo sama makanan."
Rion terkekeh melihat Bili yang membayangkan makanan.
Bili: "Oia. Masalah sawah di dekat kontrakan gimana kabarnya? Lu jadi beli, kan?"
Rion: "Jadi, dong. Gue gak mau ada apa-apa sama orang-orang di sana."
__ADS_1
Bili: "Mahal tapi, bre. Pinggir kota."
Rion: "Hajar, gue yang bayar. Gue minta tolong urusin, ya?"
Bili mengangguk. "Gue balik ke kampus, ya? Konsul," sambung Bili. "Hati-hati, ya?" balas Rion.
Rion memandangi ponselnya. Pesan dari Hani ia baca. Ia tersenyum sendiri. Ia merasa dibatas awan. Hatinya dibawa kemana-mana. Ia terbuai dengan takdir yang sedang memanjakannya saat ini. "Hani. Jadi juga kita nikah," bibir Rion tersenyum lebar.
Bili sudah berada di kampus. Ia tengah memarkir sepeda motornya ketika seorang perempuan berjalan di sebelahnya. "Eh, lu kan yang waktu itu sama Rion?" perempuan tadi menoleh. Prili, perempuan yang pernah menuduh Rion menghamilinya. Bili juga pernah melihatnya saat mengendap mengawasi Rion. Hingga akhirnya Rion menceritakan segala kisahnya bersama Prili di suatu hari. Cerita yang tak biasa yang membuat Prili berpikir seribu kali untuk berurusan dengan Rion.
Prili: "Eh, iya kamu temannya Rion, ya?"
Bili: "Gue Bili. Apa Kabar lu sekarang?"
Prili: "Sehat. Kalo kamu dengar ceritaku dari Rion. Sekarang aku udah gak hamil lagi. Aku keguguran karena mantanku berusaha ngeracunin aku."
Prili: "Dia kasih racun ke makananku waktu aku pesan makanan di kos-an."
Bili: "Lho, kok bisa? Sini. Cerita dulu. Penasaran gue-nya" Bili berusaha mengajak Prili ke tempat yang lebih sepi. Sebuah taman kecil di dekat parkiran memang cocok untuk mendengarkan cerita.
Bili: "Gimana itu ceritanya?"
Prili: "CCTV di kos-an yang rekam semuanya. Dia sengaja nunggu di jam makan siang. Terus tiap ada kurir makanan, dia tanyain. Pas giliran orderanku, dia ambil makanannya terus taruh racun di situ. Keji emang dia."
Bili: "Lu gak lapor polisi?"
__ADS_1
Prili: "Gak bisa aku lawan dia. Bisa habis keluarga sama keturunanku."
Bili menggelengkan kepalanya. Jaman sekarang banyak iblis menyerupai manusia. Sudah menghamili perempuan, ditinggalkan, sekarang mau dibunuh sama anaknya. Gila. Bili geram.
Bili: "Gue gak kenal lu sapa. Cuma denger dari Rion. Tapi gue cukup sadar bahwa kejahatan itu nyata. Lu di pihak yang kurang beruntung aja. Terus sekarang rencana lu apa?"
Prili: "Balik ngampus. Hidup normal dan sembuhin hati dulu. Panjang ceritanya. Untung orang tuaku belum tahu apa-apa."
Bili: "Lu simpan aib lu. Semoga cuma Tuhan, lu, mantan lu, Rion, Gue dan malaikat pencatat amal aja yang tahu. Lu tobat sekarang. Jadi cewek yang lebih baik. Wajib tahu calon cowok lu kayak gimana. Jaman sekarang emang jaman edan. Ada lagunya. Lu mau dengerin?"
Prili tersenyum. Ia mendapat support luar biasa dari orang yang baru ia kenal. Rion dan Bili tiba-tiba menjadi malaikat penjaganya.
Prili: "Pokoknya hati-hati aja dengan orang tenar. Gak semua orang baik luar dalem. Jadi orang baik aja gak cukup. Banyak orang baik tapi punya rencana jahat di belakangnya."
Bili: "Gue tahu ini. Gue mau cari calon cewek gue di tempat ibadah."
Prili: "Berdoa biar diberi yang baik. Eh, Bili. Makasih, ya. Aku ada kelas habis ini."
Bili: "Oh, ya. Gas kan. Sama-sama."
Prili meninggalkan Bili yang terheran-heran dengan cerita Prili. Ini adalah berita yang besar. Bukan main-main. Rion harus mendengar cerita Prili ini.
Sebuah dering panggilan masuk di ponsel Bili. "Halo, Neyza. Ada apa?" Bili menjawab panggilan Neyza. Sambil berjalan, Bili menuju ke sebuah ruang dosen.
Bili: "Rion gak pulang karena dia nginap di rumah tantenya. Dia gpp, kok. Malah tadi pagi aku ke sana nengokin dia. Lagi sarapan. Segeran badannya. Senyam senyum gak jelas kayak orang kesurupan badut. Mungkin nanti pulang, Neyza. Pokoknya aman aku jagain... Iya... Ok.. Yuk," Bili menutup teleponnya. Ia tahu Neyza khawatir beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit ia malah tak berada di rumahnya. Neyza sudah menghitung sisa obat yang akan diminum untuk berapa hari, untuk itu ia memastikan agar Bili mengingatkan untuk menghabiskan sisa obatnya.
__ADS_1
Neyza kembali ke rumah mamanya setelah pergi ke rumah kontrakan melihat keadaan Rion. Sang Mama membuka pintu utama untuk menyambutnya. "Ada tamu," Mama tersenyum sambil mencubit pipi Neyza. Neyza yang terheran-heran melihat tingkah Mama nampak kebingungan. "Weni?" tanyanya. "Weni di kamar Ney. Mama suruh jangan turun sampai tamunya pulang. Hihihi," Mama tertawa tipis.
Neyza tidak langsung masuk begitu saja. Ia terdiam di depan pintu. Mama meninggalkannya di depan rumah. Neyza menarik napas. Siapa dia? Mengapa Mama sepertinya gembira menyambut Neyza yang pulang dengan seseorang yang sedang duduk menunggunya di rumah tamu? Apakah itu Tito? Atau orang lain?