Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 65 Perkasa


__ADS_3

Neyza tak menggubris perkataan Tante Manda. Ia masih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Rion. Ocehan Tante Manda bisa membuat mood Neyza menurun bila ia tidak pandai mengontrol hatinya. "Tante mau tahu ceritanya?" Tante Manda tak merespon. "Kalo saya yang cerita nanti nanti malu. Mending Rion aja yang cerita langsung sama Tante. Gimana?" Tante Manda melihat sinis pada Neyza. "Ya tapi dikira-kira dong. Kamu kan juga anak orang berada. Masa segampang itu nyerahin keperawanan sama orang lain. Kayaknya Rion juga bukan orang gampangan kalo gak emang ada yang mancing."


Braak.


Neyza sengaja menaruh sabuk hitam bela dirinya. Tante Manda terkejut. "Aduh, kenapa ada di sini, sih?" Tante Manda sedikit memundurkan posisinya. Seorang asisten rumah tangga berada di dekat Tante Manda. "Eh, si Neyza itu belajar bela diri, tho?" Asisten itu mengangguk. "Mbak Neyza bisa ngalahin 20 orang laki-laki sekaligus. Apalagi cuma satu perempuan," Asisten itu lalu meninggalkan Tante Manda yang agak sedikit takut.


Neyza dengan muka datar membawa makanan ke dalam kamar saat Riin baru bangun. "Suara apa tadi?" tanya Rion. "Oh, gak. Cuma kain jatuh," Neyza menjawab singkat. "Iya, pake atraksi dikit," Neyza mencium Lalita yang masih tertidur. "Ih, aku kenapa sih, gak digituin kalo belum bangun?" Rion memantulkan bibirnya. Neyza tak menggubris perkataan Rion. Neyza dengan kecepatan maksimum membuat Rion yang duduk di tempat tidur jatuh tergeletak kembali. Neyza mendaratkan sebuah sentilan di dahinya. "Bangun, suamiku," Neyza segera bergegas ke arah Lalita. Namun tangan Rion yang terlanjur memegang pinggang Neyza 'menguncinya'. Neyza berusaha melepaskan tangan Rion. Tapi ia tak mempu menahan cengkeraman tangan Rion. Ia malah tergeletak jatuh ke pelukan Rion. "Sebentar aja. Aku masih kangen kamu. Kayaknya aku gak butuh apa pun di dunia ini. Kamu aja cukup," Rion menutup matanya. "Belajar gombal dari mana kamu?" Neyza meledeknya. "Jatuh cinta itu emang bikin orang jadi semakin banyak keahlian di luar kebiasaannya. Gak bisa dinalar." Rion mempertegas.


Neyza membiarkan Rion berbicara dalam pelukan itu. Ia menutup mata selagi Rion berbicara.


Ini apa-apaan, sih? Kayak mau perang malam pertama aja. Udah aku masih ngantuk, lagi. Kalo gak karena Tante Manda. Aku pasti masih gempor dulu.


Rion berhenti berbicara ketika ia sadar Neyza kembali tertidur di pelukannya. Rion membenarkan posisi tidur Neyza.


Cepet banget, sih. Tidurnya. Pasti capek banget. Kalo dilihat lebih dekat gini emang setan udah heboh dipikiran gue.

__ADS_1


Lalita terbangun dengan ocehannya. Neyza terbangun dan tersenyum. "Pagi, anak cantik. Ayo mandi sama Mama," Rion baru saja keluar dari kamar mandi. "Ney, aku langsung ke kantor, ya? Hari ini ada tanda tangan kontrak sama investor," Neyza mengangguk. "Sarapan tadi udah dihabisin semua?" Rion masih memakai bajunya. "Sudah habis, sayang. Kamu yang belum sarapan. Jangan telat makan, ya?" Neyza tersenyum dan mencium Lalita. "Iya iya. Aku makan."


Rion berjalan ke arah Neyza dan Lalita lalu mencium kedua perempuan itu. "Papa pergi dulu, ya?" Lalita tertawa dengan muka yang sangat lucu. Seraya ingin meminta gendong Rion. "Sayang, nanti pulang kerja Papa main sama Lalita. Tolong jagain Mama, ya? Bawelnya,ya Tuhan. Puyeng Papa." Neyza menaikkan bibir atasnya. Rion dengan cepat mendaratkan bibirnya ke bibir Neyza. "Kalo gak bawel rumah jadi gak seru. Yuk, Papa pergi ya semua. Dahh," Rion segera pergi meninggalkan Neyza dan Lalita.


Setelah sarapan dan memandikan Lalita. Neyza menitipkan Lalita pada kedua asisten rumah tangganya itu. Neyza mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah testpack yang ia beli dari sebuah apotek kemarin. Ia menuju kamar mandi. Ia masih memandang benda kecil itu. Beberapa hari ini ia merasa badannya tak enak. Ia masih merasa ia terkena asam lambung. Namun ia menduga pula bahwa sudah beberapa hari jadwal datang bulannya telah terlewati.


Besok aja, deh. Sekalian habis bangun tidur.


Neyza lalu kembali keluar kamar mandi dan bermain bersama Lalita. Tante Manda sedang sibuk di dapur. "Ngapain, Tante?" tanya Neyza sambil mengambil susu di dalam kulkas. "Hmm, kamu pasti gak tahu kalo Rion itu suka sekali sama asinan Bogor," Neyza hanya menaikkan bahunya. "Hmm, dia gak pernah bilang," Tante Manda sedang asyik memotong buah. "Makanya, Neyza. Kamu itu harus peka sama suami. Harus tahu apa yang dia suka. Nanti kalo ada perempuan lain yang lebih perhatian sama dia, gimana?" Neyza mengambil gelas dan menaruhnya di meja dengan sedikit kencang. "Masalah mudah kalo untuk take down seorang laki-laki dan perempuan. Tante mau lihat?" Tante Manda hanya diam dan sedikit melangkahkan kakinya mundur. Ia merasa Neyza tidak bisa dikuasai olehnya.


Neyza pergi ke luar untuk berbelanja ke sebuah supermarket. Ia ingin berjalan kaki menuju apartemen hingga di sebuah jalan yang sepi, ia seorang diri sedang menenteng barang belanjaan. Tidak seperti biasanya, jalan itu nampak sepi.



Dari jalan yang gelap tiba-tiba muncul seseorang yang tengah mabuk dan mendorong Neyza hingga ia tersungkur di jalan. Barang belanjaannya berantakan. Neyza merasakan pedih di kedua telapak tangannya dan lututnya. Kakinya juga terasa seperti terkilir. Ia ingin berdiri untuk melanjutkan perjalanannya, namun ia merasakan kesakitan saat akan mengangkat tubuhnya. Ia tak menanggapi orang mabuk itu, ia mungkin bisa saja menghindari pria paruh baya itu. Namun kali ini ia agak sedikit kesusahan karena kakinya terkilir, serta tangan dan lututnya yang terbentur jalanan. Pria mabuk itu melihat Neyza. Ia menjulurkan lidahnya. Memainkannya di depan Neyza seolah-olah ia ingin melahap Neyza secara utuh. Gawat, mungkin kali ini berbeda dari situasi yang lain. Pria itu berjalan sempoyongan ke arah Neyza. Tangannya dibuka melebar hingga Neyza yakin ia akan menggapai Neyza dengan sekali pelukan.

__ADS_1


"Aaaakh!"


Laki-laki itu ambruk. Bukan karena ia terlanjur mabuk berat. Tapi seseorang nampak mendorongnya begitu kencang. Ia pun terjatuh karena tak mampu menahan tubuhnya. Neyza membenarkan kakinya. Berharap ia bisa berdiri dan menolong orang tersebut.


"Kamu bisa berdiri?" Neyza melihat si penolong itu. "Tante Manda!" Neyza terkejut. "Kamu ini. Tokyo itu kota besar. Jangan terlalu pede karena bisa bela diri. Bahaya bisa dimana saja." Tante Manda membantu Neyza berdiri dan berjalan. "Kita cari taksi buat pulang," Neyza terkesima dengan Tante Manda yang sangat berubah total dari sikapnya saat berada di rumah.


Kenapa Tante Manda betul-betul berubah, ya?


Mereka pun segera sampai di apartemen. Tante Manda menelepon Rion saat dalam perjalanan. Tak lama kemudian Rion pulang saat mereka baru saja sampai di apartemen. "Kamu gak papa, Ney? Sekarang gimana?" Tante Manda menceritakan detail kisahnya.


"Habis ini kita ke rumah sakit, ya? Kita periksa kaki kamu." Neyza mengangguk. "Tante juga ikut," Tante Manda membawa secangkir teh hangat untuk Neyza.


"Tante, Terima kasih," kata Neyza.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2