
Neyza meremas sebagian gaun yang ia kenakan. Duduk sendiri sampai semuanya menjadi yakin bahwa ia adalah kepunyaan seseorang. Ada rasa hari biru dalam hatinya. Tak menyangka. Romansa cintanya bakal secepat ini. Sesederhana ini. Berangkat dari keinginan untuk membuat orang tuanya bahagia, ia malah mendapatkan hadiah seorang suami. Ia masa bodoh siapa suaminya itu. Yang ia tahu, bila Mama Papanya memang menyukai seseorang, maka mereka akan tulus memberikan komentar. Baik atau tidak.
Ah, biarlah. Hanya ini yang mungkin ia mampukan untuk membalas semua kebaikan Mama Papa. Atas semua yang terjadi belakangan ini mengenai kasus Papanya, dan juga dirinya. Tapi ia bukan orang yang keras kepala. Neyza adalah anak yang baik. Bahkan calon suaminya kalau itu diperkenalkan oleh Tante Fani, Mamanya, juga punya keinginan yang sama dalam perjodohan ini. Zaman ini jauh dari masa Siti Nurbaya. Tapi tak ada jeleknya juga bila semua dikembalikan lagi pada tiap kebutuhan seseorang.
Neyza hampir mengeluarkan air mata. Ini nampaknya air mata bahagia. Neyza akan punya seorang pria yang ia sandarkan penuh hidupnya. Bertahan bersama, berjalan bersama, bekerja sama berdua dalam sebuah pernikahan. Tak ada lagi cinta monyet saat remaja dan cinta sebelah tangan seperti yang ia rasakan terhadap Rion.
"Sudah. Rion, hari ini kamu selesai di hatiku," diam-diam ia berikrar.
Suara MC untuk membuka acara terdengar sampai ke ke kamarnya. Di ruang serbaguna di salah satu sisi rumahnya, tempat akad akan berlangsung. Semua tamu, keluarga serta kolega dari kedua keluarga mempelai telah hadir. Weni menunggu di depan kamar Neyza membiarkan Neyza dengan sedikit waktu menyendiri sebelum akhirnya ia menemui suaminya.
Rangkaian demi rangkaian acara telah berjalan sesuai jadwal yang telah diatur.
Suara telepon Neyza berdering. Rupanya salah seorang temannya yang akan hadir susah mendapatkan alamat rumah Neyza. Ia dengan sabar menuntutn temannya itu untuk segera menemukan alamat rumahnya. Hingga akhirnya, ia pun sampai melewatkan suara sangat suami yang mengucapkan ijab qobul.
"Sah!" suara riuh pertanda bahwa ia sudah menjadi milik seseorang secara legal terdengar kencang. Neyza goyah juga. Saat bahagia ini apakah ia harus tersenyum atau kah menangis? Ia ingin melakukan keduanya. Namun ja harus menahan sampai acara ini berakhir.
Weni membuka pintu kamarnya. Ia masuk dan memeluk sahabat baiknya itu. "Selamat, Ney. Kamu gak sendirian. Gak perlu baper sama orang lain. Kamu dengar suara suamimu tadi. Itu kayak... "
"Non Neyza mohon bersiap untuk turun ke meja akad," ujar seseorang wedding organizer.
Weni: "Jangan nangis. Hari bahagia gak boleh nangis. Harus senang."
Neyza: "Iya, nih. Kenapa jadi hari gini, ya? Temanin aku, Wen."
Weni: "Ayo! Aku temani sampai di meja akad untuk digantikan suamimu."
Neyza dan Weni turun melalui tangga ke ruang akad nikah. Jantung Neyza kembali berdegup kencang. Bukan karena tak sabar bertemu suaminya. Tapi karena rasa malu menyelimuti dirinya. Neyza menggenggam erat tangan Weni. Ia mengambil semua energi baik Weni untuk sebuah semangat, untuk sebuah keberanian.
Neyza tak berani melihat suaminya. Ia langsung duduk menghadap penghulu. Berdua menandatangani beberapa dokumen yang telah ditunjukkan.
Penghulu: "Baik, karena sudah selesai. Selamat. Anda berdua menjadi suami istri. Silahkan mengambil dokumentasi dari fotografer dan videografer. Jangan lupa, pertama. Istri mencium tangan suaminya."
__ADS_1
Neyza dan suaminya saling berhadapan. Neyza masih malu sehingga ia masih menunduk. Namun akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat suaminya. Neyza tersenyum sambil menaikkan wajahnya.
"Lho, RION!!!!??"
Mata Neyza sempat terbelalak. Di depannya. Seorang pengantin pria yang tak diduga lagi adalah suaminya. Adalah Rion. Jantungnya kembali dibuat tak karuan. "Ini ilusi," pikirnya. Mungkin hal-hal yang ditinggalkan Rion berupa kenangan itu masih terbayang-bayang dalam ingatan Neyza. "Gak mungkin," terus ia gaungkan. Neyza mengontrol dirinya. Berharap semua akan ada dalam sebuah penjelasan besar.
Fotografer: "Mbak Neyza, Mas Rion. Dekatan lagi, ya. Kita ambil foto resmi setelah akad."
Nama Rion yang dipanggil oleh fotografer tadi membuat Neyza semakin bingung. "Kenapa jadi Rion?" Kali ini apa syukur dan minta ampun adalah hal yang tak bisa ia bandingkan. Neyza mencari sosok Weni, sahabatnya. Ia melihat Weni berada di belakang fotografer. Weni pun mempunyai reaksi yang sama. Ia paham, bahwa Neyza hendak bertanya apa yang terjadi sampai Rion ada disampingnya. Ini sungguh tidak mudah untuk dicerna.
Para tamu diarahkan oleh pembawa acara untuk segera ke tenda taman tempat ramah tamah.
Meja panjang dan kursi yang ikut menemNi dekorasi tempat makan dengan suasana yang sangat damai ditemui di sini.
Para tamu sudah sebagian besar pergi ke tempat makan. Tinggal kedua pengantin yang akan datang. Rion memandang Neyza. Diam. Ia nampaknya juga malu dan takut karena Neyza pasti akan memberikan seribu pertanyaan yang tidak akan selesai ia jawab hanya dengan satu hari.
Neyza: "Ada apa ini? Kamu tahu?"
Neyza: "Kenapa logat kamu hilang? Pakai aja lu gue."
Rion: "Gue gak nyaman juga, sih. Sama kedua orang tua. Ya masa panggil istri gue kayak manggil orang."
Neyza: "Kamu yang ngerancang semaunya ini?"
Rion: "Ogah, lah. Dibilangi sama Mak Lampir gue gak mau."
Neyza mencubit telinga Rion. "Rion, aku serius."
Rion hanya meringia kesakitan. "Gue juga, Nek."
Rion: "Gini aja. Kita tarik napas dulu bareng-bareng. Terus pergi makan. Habis itu selesai. Udah."
__ADS_1
Neyza: "Ah, tau, deh. Gak bisa mikir."
Rion: "Yaudah. Kalo gitu. Kita lari aja. Kemana, kek. Mau?"
Neyza: "Uh, ayo," Neyza meninggalkan Rion.
Rion: "Oi. Harus gue gandeng menurut aturannya. Lu nanti dimarahi mbak EO nya, lho."
Neyza kembali ke tempat Rion dengan muka manyun. Mereka akhirnya pergi bersama sambil bergandeng tangan. Selama perjalanan ke tempat makan mereka berbicara dengan suara pelan.
Rion: "Lu senang ketemu gue lagi sampai seumur hidup lu?"
Neyza: "Gak"
Rion: "Karena saat ini gue jadi suami lu. Gue gak mau lu jadi dingin kayak gini."
Neyza: "Terserah aku, dong." (sewot)
Rion: "Lu ngerti dosa, kan? Kalo kata suami gak diturutin? Kalo belum paham, entar kita buka buku pelajaran pernikahan. Kita cari tahu dosa istri pada suami."
Neyza: "Awas ya, kamu manfaatin aku."
Rion: "Ngapain capek-capek manfaatin, Nek. Gue seriusan orangnya. Gak kayak lu. Gak ikhlas sama takdir."
Neyza: "Asal takdirnya bukan kamu, ya."
"Sampai kapan, sih, kalian gini terus? udah jadi suami istri, lho," ucap Weni di belakang Neyza sambil membawa ekor gaun Neyza yang lumayan panjang. "Tahu, nih. Gue juga heran. Dari jadi tetanggaan sampai halal gini bawaan yang lihat pingin beliin martabak segudang buat lu berdua makan," sambung Bili yang juga berjalan di belakang Rion.
Rion: "Lha, sejak kapan lu berdua ada di sini?"
Weni & Bili: "Daritadi!!!! "
Rion dan Neyza berhenti berbicara karena Weni dan Bili memarahi mereka.
__ADS_1
(bersambung)