Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 56 Password : Cemburu


__ADS_3

Lalita tertidur di pangkuan Neyza di dalam mobil. Rion melirik Neyza yang sedari tadi diam sejak selesai memeriksa Lalita. Dugaan Rion benar. Ada yang aneh dengan Neyza.


Rion: "Kenapa?"


Neyza: "Ha? Gak. Kenapa?"


Rion: "Daritadi diam mulu. Aku ada salah lagi?"


Neyza: "Hmm, gak."


Rion: "'Hmm' kamu itu menandakan ada apa-apa. Kasih tahu, dong?"


Neyza: "Gak apa-apa."


Rion menghela napas panjang. "Gue salah apa lagi ini?" batinnya. Mobil mereka melaju dengan cepat untuk sampai ke rumah.



Neyza meletakkan Lalita di tempat tidurnya. Lalu ia menuju ruang makan untuk makan malam bersama Rion. Makanan baru saja dihidangkan dan Rion turun setelah melihat Lalita yang tertidur lelap. Neyza melahap makanan yang hampir separuh dihabiskan. Rion duduk untuk mengambil makanan. Neyza cepat-cepat menghabiskan makanannya dan pergi ke kamar Lalita.


Rion: "Tadi sore gue nawarin anter ke Dokter. Sampai di klinik gue daftarin Lalita, dia main sama Lalita di ruang bermain. Habis itu masuk ruang Dokter, a Lalita diperiksa, udah terus pulang. Terus salah gue dimana, sih? Pusing gue nih sama moodnya perempuan."


Rion mengambil ponselnya lalu menghubungi Bili.


Bili: "Oi, Bre."


Rion: "Bre. Semisal lu punya cewek. Terus tiba-tiba dia marah itu karena apa?"


Bili: "Bini lu?"


Rion: "Yoi."


Bili: "Lu jangan cerita dapur rumah lu sama gue ya. Neyza juga temen gue. Gue harus jaga wibawa lu berdua."


Rion: "Ya gue cuma minta tolong aja nih gue bingung tiba-tiba dia kayak tinggal sama patung. Gue ajak ngomong diem aja. Ditanya ada apa jawabnya gak gak mulu. Kan gue stress juga lama-lama."


Bili: "Ah lu emang gak ada pengalaman sama namanya dunia ciwi. Nih, gue kasih tahu ya. Dunia cewek tuh ribet banget. Moodnya naik turun gak jelas. Kesenggol dikit bisa marah. Lagi PMS, marah.Lipstik tinggal sedikit, bete. Jadwal kuliah padet, bosan. Pesan gak dibalas, marah. Gak ada 2000 rupiah dompet buat bayar parkir, marah. Pacarnya ganteng, marah. Suaminya kaya, marah. Ya gitu aja muter-muter di situ. Tapi. Kata bokap gue. Kita sebagai pria yang punya harga diri harus bisa mengambil hati pasangan kita. Bokap tuh kalo Nyokap lagi marah suka beliin ketoprak kesenangannya terus usah deh, pada baikan lagi."


Rion: "Cuma beli gitu, doang?"


Bili: "Iya. Coba aja."


Beberapa menit kemudian. Rion masuk ke kamar dengan membawa sepiring makanan yang akan diberikan pada Neyza.


Neyza: "Buat siapa?"


Rion: "Buat kamu."


Neyza: "Kan aku udah makan tadi."


Rion: "Kan biar para cewek-cewek suka. Mood kamu baik lagi."


Neyza: "Tapi aku gak suka ketoprak, Rion. Kasih siapa gitu. Jangan dibuang. Mubadzir."

__ADS_1


Rion keluar dengan menggaruk kepalanya. "Tadi kata Bili cewek-cewek suka."


Rion menelepon Bili.


Rion: "Bre. Katanya tadi ketoprak pasti doyan. Gak doyan si Neyza."


Bili: "Lu beliin ketoprak?"


Rion: "Iya. Tadi katanya Bokap lu beliin ketoprak buat Nyokap."


Bili: "Ya elah, Bre. Maksud gue tadi apa yang dia suka. Ketoprak mah doyannya Emak gue. Gimana, sih?"


Rion: "Oooh, gitu. Ya udah gue makan aja yang ini. Terus apa lagi selain makanan?"


Bili: "Hmm, kasih dia bunga."


Rion: "Bunga yang dia suka? Kalo dia gak suka?"


Bili: "Semua cewek rata-rata suka bunga sama coklat."


Rion: "Aaa, gue beliin coklat aja kalo gitu."


Rion menutup teleponnya dan segera memesan cokelat dari sebuah mini market. Rion kembali naik ke kamar dengan dua plastik besar yang berisi cokelat berbagai merk.


Rion: "Nih!"


Neyza: "Apa ini?"


Neyza: "Buat?"


Rion: "Kamu."


Neyza: "Tadi ketoprak, sekarang coklat. Emang ada apa sih?"


Rion: "Biar kamu gak marah lagi. Stress juga ya kalo bini lagi marah. Ditanyain jawabnya gak gak."


Neyza: "Masalahnya aku gak suka coklat juga. Gigi aku sensitif sama coklat."


Rion: "Lha, Bili kalo kasih info salah lagi. Jadi kamu sukanya apa biar gak marah lagi sama aku? Biar aku beliin."


Neyza: "Aku? Marah?"


Rion: "Iya."


Neyza: "Sini aku ambil satu yang dark chocolate. Lainnya aku kasih mbak-mbaknya."


Rion: "Udah gak marah, kan?"


Neyza: "Masih."


Rion: "Kasih tahu aku, dong. Biar gak salah sangka sama salah paham."


Neyza mengatur posisi duduknya agar nyaman. Rion duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Neyza: "Tadi waktu di klinik. Aku dengar para perawat bicarain kamu. Dulu pernah antar cewek hamil ke sana. Bener?"


Rion: "Ya. Bener. Aku antar cewek yang lagi hamil."


Neyza: "Pacar kamu?"


Rion: "Gak lah. Ngapain hamilin anak orang?"


Neyza: "Aku gak suka. Itu aja. Aku gak tahu masa lalu kamu kayak gimana. Kamu orang kayak gimana juga aku masih belum tahu."


Rion menatap Neyza. "Bisa dong diartiin kamu sekarang lagi cemburu?"


Neyza menatap Rion, "Aku cuma penasaran."


Rion: "Penasaran gak bakal cukup untuk bikin aku cerita. Kalo kamu penasaran, tanya aja sama perawat. Aku cuma mau ngeladeni orang yang cemburu aja."


Neyza: "Rion!!"


Rion: "Oh, ya udah. Aku keluar dulu, mau ke perpustakaan."


Rion melangkah menuju pintu. "Aku cemburu," Neyza memberi alasan. Rion tersenyum. Menang telak. Rion membalikkan badannya. Wajahnya menjadi serius.


Rion: "Apa? Gak denger."


Neyza: "Udah. Kamu dengar."


Rion: "Sekali lagi."


Neyza: "Gak."


Rion: "Hmm, aku keluar lagi kalo gitu."


Neyza memegang lengan Rion. "Duh, Rion. Aku penasaran. Cepet cerita." Rion menatap Neyza. "Password?" Neyza membuat wajah tak suka. Rion menaikkan alisnya. "Aku cemburu. Puas, kamu?" Rion tertawa.


Rion: "Sini duduk sini."


Neyza mengatur duduknya. Rion lalu duduk di sebelahnya. "Dulu.. " Neyza mendengar dengan seksama. "Kamu nungguin, ya?" Neyza memukul Rion. "Apaan, ah?" Rion terkekeh.


Rion: "Dulu waktu masih ngampus. Tiba-tiba ada cewek ngaku kalo aku hamilin dia. Untung waktu itu gak di depan orang banyak. Akhirnya aku ajak dia ke klinik tadi. Kan Klinik keluarga. Aku daftarin dia. Aku kasih catatan ke Dokter kalo dia hamil di luar nikah. Terus aku cerita kalo itu klinik keluarga. Takut juga dia. Baru ngaku kalo dia hamil sama pacarnya. Depresi mau minta tanggung jawab siapa."


Neyza: "Oooh. Gitu ceritanya."


Rion: "Jangan oh oh aja, kamu. Seneng, kan?"


Neyza berdiri agar tak menjawab pertanyaan Rion. Rion menahan Neyza dengan menarik tangannya. Neyza terduduk di pangkuan Rion. Mata mereka bertemu. Semakin melekat, semakin dekat. Jantung mereka saling memacu. Napas mereka tak karuan.


"Oeeeeek... oeeeeek..."


Lalita membuyarkan situasi canggung tadi. Neyza cepat-cepat menggendong Lalita. Rion merebahkan dirinya di kasur.


Romantisme yang gagal dibuat.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2