Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 22 Harus bagaimana?


__ADS_3

Rion tiba di sebuah cafe. Tempat yang selalu didatangi Hani dan sering ia mengajak Rion untuk makan malam atau sekedar membantunya mengerjakan tugas kampus. Rion datang dan mencari Hani di tempat favoritnya. Sudut cafe yang ia tempati saat suasana hatinya ingin menyendiri.



Rion mendapati Hani sedang merenung. Matanya berkaca-kaca. Hani lalu mengaduk kopi hazelnut kesukaannya. Rion tahu persis apa yang menjadi kegemaran Hani. Karena Hanin adalah cinta pertamanya. Rion tak tega melihatnya.


Rion: "Kamu kenapa?"


Hani hanya diam. "Aku temani, ya?"


Rion: "Iya tapi kamu kenapa dulu? Bikin orang khawatir aja."


Hani: "Mama Papa pingin aku nikah. Tapi aku gak mau."


Rion: "Ada yang kamu suka? Bilang sama Mama Papa kamu kalo kamu suka sama orang. Nikah sama dia."


Hani mengaduk lagi kopi hazelnutnya. Ia lalu menghela napas panjang. "Mereka pingin aku nikah secepatnya. Kalo aku gak punya calonnya, aku dijodohin."


Rion mengernyitkan dahinya. "Lha itu, ada pilihan calon." Rion sedikit menahan rasa yang luar biasa di dalam tubuhnya. Ia ingin sekali berteriak. Hani belum bisa menjaga perasaan Rion yang ditolaknya belum lama ini. Mengapa Hani menceritakan semua ini? Walau Rion sudah menerima penolakan Hani. Tapi ia juga manusia yang punya hati. Ada rasa yang ingin pecah setiap saat ketika berada di samping Hani. "Hani," batinnya.


Hani: "Aku bilang kalo aku punya calon."


Rion: "Beruntung sekali pria itu."


Hani: "Tapi aku gak tahu caranya membawa pria ini ke rumahku. Aku takut Papa Mamaku gak setuju dan aku dijodohin sama orang lain. Tapi orang ini belum tahu kalo aku suka sama dia."


Rion: "Perlu aku samperin?"


Hani: "Aku butuh bantuanmu, Rion. Temani pria ini datang ke rumahku."

__ADS_1


Apa? Menemani calon suami Hani? Apa Hania sudah memikirkan baik-baik apa yang baru saja ia katakan? Kenapa semudah ini? Apa Hani tak punya hati? Batin Rion tak karuan.


Rion: "Aku temani. Kapan dia mau datang?"


Hani: "Besok. Hari ini aku pingin utarain kalo aku suka sama dia. Entah dia terima atau tidak."


Rion: "Kalo dia gak terima?"


Hani: "Aku sama kamu."


Jantung Rion sepertinya sudah tidak karuan. Ia ingin memegang dadanya agar jantungnya tidak jatuh berserakan. Hani yang ia kenal tidak mungkin secepat ini memutuskan sebuah perkara penting. Apalagi pernikahan.


Rion: "Jangan bercanda."


Hani: "Gak aku gak bercanda. Paling tidak kamu masih ada rasa suka sama aku. Dan dicintai seseorang itu anugerah."


Rion: "Kamu jangan membuat keputusan gila kalo kamu gak jadi sama calonmu."


Hani: "Daripada aku harus sama anak teman papaku. Lebih baik aku sama kamu."


Rion: "Ha?"


Hani: "Intinyab aku gak suka sama dia. Titik. Kamu mau bantu aku apa gak?"


Rion: "Aku bantu tapi.. "


Hani: "Tapi?"


Rion: "Kalo ada pilihan menikah dengan kamu."

__ADS_1


Hani: "Kamu gak mau?"


Rion: "Menikah bukan pacaran, Hani. Kalo hanya salah satu yang menyukai. Gimana mungkin ada keharmonisan? Gimana yang lain menikmati indahnya berkasih sayang?"


Hani: "Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Karena terbiasa. Kamu paham itu."


Rion: "Aku tahu. Tapi gak semudah ini."


Hani: "Aku harap calon ku itu setuju."


Rion hanya diam memikirkan apa yang akan terjadi. Menolak untuk membantu Hani pun rasanya juga kurang tepat melihat ia kalut. Situasi ini sangat menjebak. Walau ada sedikit harapan ia lah yang akan bersanding dengan Hani suatu saat nanti. Dengan perasaan yang sama. Hani dan Rion sama-sama saling mencintai. Bukan salah satunya. Ia kembali menghela napas. Hani membuatnya semakin sulit bila pria yang disukainya menolak tawaran Hani untuk menikahinya. Rion kembali ke rumah kontrakan. Bili sedang tertidur di ruang tamu. Rion merebahkan dirinya di kamar. Matanya tak bisa dipejamkan. Hani memenuhi isi kepalanya. Rion tak bisa membayangkan dua pilihan Hani sangat berat.


Bila Hani akhirnya menikah dengan pilihannya. Rion pasti sangat bersedih. Walau ia dengan lapang hati akan menerima. Ia seorang laki-laki. Ia akan cepat mendapatkan pengganti Hani. Namun bila Hani menjatuhkan pilihannya pada Rion. Mungkin lebih tepatnya tidak ada pilihan lain, maka itu pun jadi beban pikirannya. Menikah dengan orang yang tidak mencintainya sungguh menjadi sebuah petaka. Hani hanya menghindar pada sebuah keadaan. Ia pasti tidak mau diambang kegalauan besar karena paksaan menikah oleh kedua orang tuanya. Rion menganalisis hati dan pikirannya. Ah, biarlah. Apa kata waktu saja. Begitu pikirnya. Ia lalu menutup matanya. Besok ia harus membantu Hani.


Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 18.30. Rion berdiri di depan rumah kontrakannya. Ia akan pulang ke rumah sebentar, memakai pakaian rapi dan membawa mobil sport miliknya. Pria tampan ini seperti seorang mak comblang antara Hani dan seorang pria yang tak dikenalnya. Sebuah pesan dari Hani tadi siang mengatakan bahwa ia langsung ke rumah Hani. Mobil sport hitam miliknya berjalan menyusuri keramaian kota.


Dua puluh menit berlalu. Rion sudah berada di depan rumah Hani yang besar. Pintu gerbang yang megah terbuka untuknya. Para penjaga telah mengetahui bahwa akan ada tamu yang akan datang. Rion memarkir kendaraannya. Seorang asisten rumah tangga tengah menyambutnya. Jas hitam dan kemeja merah yang ia pakai sangat pantas untuknya. Rion sangat berkelas bila mendatangi sebuah acara penting. Rion dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Hani datang menyambutnya. Rion terkesima dengan kecantikannya. Gaun coklat dan rambut hitam terurai sangat cantik. Hani tak pernah berubah. Ia adalah perempuan yang cantik dan menawan hati Rion. "Kamu cantik, Hani" puji Rion. Hani tersenyum lebar. Rion sudah bisa menduga bahwa usaha Hani sepertinya berbuah hasil. Cinta Hani tak bertepuk sebelah tangan. Ada rasa sedih. Sedikit sedih di hati Rion. Kini ia benar-benar akan mundur dengan langkah yang jauh ke depan. Meninggalkan banyak kenangan dengan Hani.


Mama Papa Hani sudah berada di ruang tamu. Rion memberi salam dan hormat. Kedua orang itu tersenyum. Mereka lalu mempersilahkan Rion duduk. Kedua orang tua Hani pernah bertemu dengan Rion. Mereka memuji Rion karena ia sangat sopan. Seduhan teh safron dan beberapa kue disajikan oleh asisten rumah tangga Hani. "Silahkan dinikmati. Setelah ini kita makan malam bersama." Rion mengangguk. Rion berbisik pada Hani yang duduk tidak jauh darinya. "Kemana teman pria mu itu?" tanya Rion. "Sebentar lagi." Hani tersenyum.


"Ma, Pa. Sesuai janji Hani. Ada seseorang yang akan Hani kenalkan untuk menjadi suami Hani." Hani membuka pembicaraannya.


"Selamat malam." suara berat seorang pria memutuskan pembicaraan Hani. Ia lalu duduk di sebelah Hani. "Hmm" Rion bergumam. Lelaki ini tinggi dan tampan. Ia memang pantas mendapatkan Hani.


Mama Hani: "Lalu siapa dia, Hani?"


Hani: "Ini dia. Rion."


Rion: "Ha?"

__ADS_1


__ADS_2