
Neyza dan Rion terperangah melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
"Ma.. ma.. ma... " Neyza terkejut. Matanya berbinar. Tak ada yang membuat hatinya sangat damai kecuali melihat Lalita yang ada di depannya saat ini. Neyza mencoba memegang tangan Lalita. Ketika tangannya sangat dekat dengan Lalita, seketika Lalita memeluk lengan Neyza. Bayi perempuan itu seperti menemukan sebuah pelukan yang membuat ia nyaman. Neyza lalu menggendongnya. Lalita menaruh kepalanya di pundak Lalita. Ia tertawa bahagia berada dalam pelukan Neyza. Rion dan Heri senang melihat Lalita yang tenang dalam pelukan Neyza.
Heri: "Sori kalian nunggu. Gue masih ada perlu terus nunggu taksi."
Rion: "Kita juga baru datang. Gak perlu khawatir. Duduk dulu, Heri."
Neyza duduk memangku Lalita.
Heri: "Sudah sebulan ini Lalita sama gue di rumah teman gue. Selama seminggu dia gak sama Hani, Lalita nangis. Tiap malam bangun dan nangis. Lama kelamaan dia udah biasa sama gue. Akhirnya tiap malam nempel di lengan gue. Mungkin dia ingat Mamanya."
Rion: "Apalagi lihat perempuan kayak Neyza. Dipikir itu Mamanya. Jadi waktu lihat pertama kali dia kayak excited gitu."
Heri mengangguk.
Neyza: "Udah berapa bulan ini?"
Heri: "Senin kemarin 5 bulan."
Rion: "Jadi gini, Her. Gue sama Neyza bicarain masalah ini berdua. Gue paham situasi lu saat ini. Dan itu gak mudah. Ditinggal keluarga, ngurus anak kecil, sampai akhirnya cuti dari kuliah. Lu gak ada niatan DO, kan?"
Heri: "Ada. Gue mau urus surat pengunduran diri gue. Gak mungkin gue bolak balik luar negeri dan bayar uang semester. Kekayaan bokap udah habis kena sita. Gue mau cari kerja pakai ijazah sarjana gue. Itu cukup, gue rasa. Sekalian jagain Lalita."
Rion: "Urungin niat lu."
Heri terkejut dengan respon Rion.
Heri: "Maksud lu gimana, Rion?"
Rion: "Lanjutin aja sekolah lu."
Heri: "Dapat duit darimana gue?"
Rion: "Gue yang bayar kuliah lu. Selesein cepet. Cari kerja. Syukur-syukur lu dapa kerjaan yang enak posisinya."
Heri: "Tunggu.Gak bisa gitu. Lalita gimana? Keluarga gue gak ada yang mau sama apapun yang hubungannya dengan keluarga gue."
__ADS_1
Rion: "Gini, gue sama Neyza mau nawarin bantuan ke lu. Lalita biar kita yang jagain. Lu fokus sama kuliah dan cari kerja. Lalita biar safety sama gue dan Neyza di Indonesia."
Heri melebarkan matanya. "Gue ini mimpi apa gimana sih?"
Rion mengangguk. "Lu pingin ditampar atau gimana? Biar gue yang lakuin. Hahaha.."
Heri: "Bentar bentar. Sori gue sempet berpikir negatif. Kalian ini kan dijahatin sama Kakak gue. Dan lu Rion. Gue gak bakal tahu hidup gue kalo gue dikhianati kayak gitu sama... ah sebut saja dia kakak gue."
Neyza tersenyum. Rion menatap Neyza. "Gue bersyukur, itu aja," jawab Rion singkat.
Heri: "Gak semudah itu, kan?"
Rion: "Gak naif gue emang gak suka sama kelakukan Kakak lu. Tapi, gue belajar. Gue bersyukur karena dari situ gue belajar. Ikhlas. Memaafkan. Gue dapat manfaat sebagai manusia. Dan gue dapat bonus istri baik kayak Neyza."
Neyza: "Gombal mulu dari kemarin, Her."
Heri: "Gue gak tahu mesti ngomong apa lagi. Kalo bisa gue tolak karena gue malu."
Rion: "Ngapain lu malu? Mungkin Hani dan Tito salah. Tapi Lalita dan lu gak salah. Kalian cuma korban. Dan orang salah bisa jadi lebih baik. Mereka bakal belajar, dan kita juga. Jadi kesempatan ini kita tawarin karena simpati dan empati kami yang tinggi. Hani orang baik semenjak gue pertama kenal. Mungkin karena ada suatu hal aja dia akhirnya kayak gitu."
Ada titik air mata yang turun dari mata Heri. Rion dan Neyza tahu, ia pria yang hampir putus asa karena kejadian ini. Rion menepuk pundak Heri.
Heri: "Gue sempat mau bunuh diri dan titipin Lalita di pantai asuhan."
Neyza: "Kamu gak akan dapatin apa-apa dengan keputusan bodoh seperti itu."
Rion: "Itu bukan cara kita sebagai laki-laki."
Neyza: "Emang itu cara perempuan?"
Rion: "Ya gak juga sayang. Maksudnya, laki-laki kan lebih banyak main logika. Mengedepankan kebutuhan yang lain lebih diutamakan daripada yang lain tentang dirinya."
Neyza: "Iya bener. Laki atau perempuan punya kans yang sama untuk menyakiti diri mereka sendiri. Dan kalo kamu punya masalah, minta pendapat ke orang yang tepat dan yang mampu support kamu."
Rion: "Gue percaya lu bisa melewati ini semua."
Heri mengusap airmatanya.
__ADS_1
Neyza: "Aku minta daftar susu dan diapers, ya?"
Heri: "Ini semua ada di tas, Neyza. Lu bisa tahu merknya karena gue bawa kardus kecilnya. Kebetulan emang udah mau habis dan gue gak ada uang."
Rion mengeluarkan sebuah amplop. Memberikannya kepada Heri.
Rion: "Gue harap ini cukup untuk keperluan lu Sehari-hari. Kabari gue kapan lu lanjutin kuliahnya. Dan apa aja yang lu perluin selama di sana. Gue bakal tanggung hidup lu di sana biar gak luntang luntung."
Heri tiba-tiba berjongkok dan menangis di lutut Rion. "Cukup, Rion. Lu tambah bikin gue malu."
Rion: "Eh eh, jangan gini. Entar dipikir gue bikin nangis anak orang. Berdiri. Laki kok cengeng. Lu juga adik gue walapun gue udah gak sama Hani. Udah udah."
Heri: "Pokoknya gue hutang apa aja sama lu. Gue ganti kalo gue udah kerja."
Rion: "Gue gak butuh duit lu. Gue udah cukup. Gue pingin hidup lu lebih bermakna. Dan nanti ingat janji lu kalo udah dapat kerja dan lu bisa punya kehidupan lebih baik, Lalita dalam pengawasan lu lagi."
Heri: "Bentar. Terus apa gue yang bilang sama Hani?"
Rion: "Gue sama Neyza yang bakal nemuin Hani."
Heri: "Ke Tito juga?"
Rion: "Iya. Gue bakal ke sana."
Rion, Neyza dan Heri melanjutkan makan malam mereka bersama Lalita. Saat akan pulang, Heri mencoba memeluk Lalita. Menggendong keponakan tercantiknya.
Heri: "Ta, Paman pergi sekolah dulu, ya. Lalita sama Mama Neyza dan Papa Rion. Jangan nakal, ya. Bantuin Mama sama Papa. Lalita anak baik dan bahagia. Tunggu Paman pulang ya terus kita bareng lagi," Heri mengusap air matanya, memeluk Lalita yang hanya tertawa melihat Pamannya itu.
Rion memeluk Heri. "Kabari gue. Gue pantau lu terus," ia menepuk punggung Heri untuk membesarkan hatinya yang akan berpisah dengan Lalita.
Neyza: "Heri, jaga diri ya. Harus sehat."
Heri mengangguk dan segera kembali pulang. Kini tinggallah Neyza, Rion dan Lalita. Neyza menggendong Lalita dan mereka segera mencari kebutuhan Lalita di sebuah toko perlengkapan bayi.
Raut wajah Neyza dan Rion malam ini sangat menenangkan.
(bersambung)
__ADS_1