
Neyza melihat Lalita yang tertidur pulas. Harum khas bayi yang semakin besar itu semakin lekat dalam ingatan Neyza. Ia tahu, ia bukan Ibu langsung dari anak perempuan ini. Sudah tiga bulan ini mereka masih menetap di Tokyo. Waktu semestinya akan panjang karena pekerjaan Rion yang tak kunjung selesai.
Neyza merapikan rambut Lalita. "Ta, Mama gak tahu sampai kapan bisa menjaga Lalita. Tapi Mama yakin, Ta nanti bersama orang-orang yang sayang sama Lalita," Neyza mencium pipi anak perempuan itu dengan penuh kasih sayang.
"Ney, kamu belum makan, lho. Ayo makan. Biar Lisa yang nemenin Lalita tidur," kata Tante Manda sedikit berbisik. Neyza tersenyum dan segera pergi untuk makan siang. Tante Manda ikut makan bersama Neyza. "Ney, Tante Manda habis ini pulang ke Korea. Mungkin Lisa akan ikut kalian. Dia mau kuliah di sana. Katanya gak bisa jauh dari Lalita," Neyza tertawa. "Iya, bakal rame rumah kalo ada Lisa. Tante gak ikut?" Tante Manda menggeleng. "Tante di Korea aja dulu. Usaha travel Tante masih butuh diawasi. Kalo ada luang Tante nyusul ke Jakarta," Neyza mengangguk dan melanjutkan makan siangnya.
Rion pulang dan mendapati Neyza sedang sibuk di depan laptopnya. "Sayang. Ngapain? Tumben," sambil menghampiri Neyza dan mencium keningnya. "Hmm, gak. Aku lagi cari literasi digital," jawab Neyza. Rion sedikit melihat layar laptop itu. "Aku udah siapin baju ganti kamu di kamar mandi. Di meja ada Teh tawar hangat sama cookies vanila. Aku tadi baking sama Lisa. Hehe.." Rion tersenyum lebar. "Waah, bisa-bisa kalian buat bakery nih di Jakarta. Oia, Ney. Ngomongin Jakarta. Kayaknya aku majuin kepulangan kita di Jakarta minggu depan," Neyza melihat Rion. "Sebelum itu aku tanya Dokter dulu, ya. Bisa apa gak terbang lama dengan kondisi kandungan masih awal gini," Rion mengangguk. "Harusnya masuk trimester dua udah aman, sih. Tapi wajib tanya dokter. Besok, ya? Aku pulang lebih cepat."
Rion keluar dari kamar mandi. Neyza memberikan suatu tanda kepadanya untuk duduk di samping Neyza. "Mau ngobrol?" Rion memegang tangan Neyza. "Iya. Tentang Hani. Yang pertama.. " Neyza membuat jeda kata-katanya. "Gpp, Ney. Lanjut aja. Aku dengerin," Rion menenangkan. "Semenjak kita berkunjung lihat Hani. Ada satu hari setiap minggu aku jenguk Hani setelah kamu pergi ke kantor," Rion menatap Neyza. "Kenapa?" tanya Rion. "Udah jadi kebiasaanku tiap pagi setelah Lalita habis mandi, aku tunjukin foto Hani ke Lalita. Aku bilang sama dia kalo ini Mama Hani, mama kandung dia. Sedangkan Mama Neyza adalah orang yang merawat Lalita semenjak Hani pergi. Terus terang aku agak khawatir Ta bisa gak kenal Hani paska Hani keluar penjara. Aku gak mau dia gak punya memori sama Hani," Rion tersenyum. "Terus kamu bawa Hani ke penjara?" Neyza menggeleng. "Gak. Aku juga gak pingin Lalita malu kalo dia sudah tahu itu penjara. Biarin jadi rahasia kita aja Baga Hani dan Tito punya sisi kelam. Dan aku yakin mereka bisa lebih baik lagi," Rion bingung. "Kamu pasti bingung. Aku cerita sama Ta walau dia belum ngerti kalo Mama Hani itu ada di luar negeri buat kerja. Aku pikir yang kumaksud bekerja adalah bahwa dia bekerja untuk menjadikan dirinya lebih baik di dalam penjara," Rion tersenyum. Tiap kata Neyza membuat Rion takjub. "Aku bilang sama asisten rumah tangga untuk video call saat aku di penjara. Aku sama pengacara nemui kepala penjara buat ijin melakukan komunikasi antara Hani dan Lalita via telepon," Rion tertawa. "Terus Hani masih pakai baju tahanan?" Neyza menggeleng. "Dia pakai baju biasa." Rion terdiam. "Mau kamu gimana lagi, sayang?" Neyza menunduk. "Lalita berhak tahu orang tuanya. Itu aja. Aku mau dia tumbuh jadi anak yang menyenangkan dan pemaaf. Aku dan kamu gak akan bisa gantiin posisi orang tua kandungnya. Tapi kita bisa isi kekosongan dia dalam hal perhatian dan kasih sayang," Rion mengangguk. "Terus sekarang Lalita off dong komunikasi sama Hani?", Rion penasaran. "Gak. Aku minta tolong Weni nemui Hani tiap minggu buat video call sama aku, kamu bisa lihat din ponsel Lisa. Dia pernah videoin Lalita sama Hani. Ta seneng banget. Sampai sekarang dia masih ingat Hani. Dan kadang dia nangis. Meluk hape aku," Rion memeluk Neyza. "Dan endingnya kamu juga ikutan nangis dan baper seharian sampe nyuekin aku," Neyza mencubit perut Rion. "Kamu tahu aja," Rion kembali mencium kening Neyza "Aku gak punya kamus cewek. Tapi karena aku atau bukan. Kalo kamu bete pasti sasarannya aku." Neyza tertawa. "Hahahhaa, itu karena kamu pasti gak marah kalo aku ngambek."
__ADS_1
Bili mengunjungi apartemen Rion untuk makan malam bersama. "Ini siapa yang masak? Banyak dan keliatan Oishii nee," kata Bili. "Tante gue, istri gue sama mbak-mbak asisten. Lu pikir kita makan beli mulu. Ih, gak sehat tahu. Makanya lu cepat nikah biar dimasakin," Bili mencium harum makanan. "Lu nih, gue tanya pertanyaan paling ringan. Jawaban lu kayak orang ceramah di kajian," Rikn tertawa. "Semenjak banyak kerjaan di Tokyo nih gue jarang ngakak. Lu juga pada serius amat mukanya selama di kantor. Kayak susah bab," Bili mengambil anggur dari sebuah piring. "Habisnya gue takut salah tangkap. Banyak karyawan sama kolega lu yang bisa bahasa Jepang. Lha, gue? Tahunya cuma makasih, enak, gue sayang lu," Bili protes. "Kamu sayang Rion, Bil?" Bili memanjangkan bibirnya. "Lha, kan bisa salah paham. Gini ini, bikin gue tambah laper," Bili berjalan ke dapur. "Tante, ada yang bisa Bili bantu? Daripada di meja makan dibully sama juragan," Tante Manda. "Eh, Bili. Bener kata Rion, buruan nikah. Biar makannya di rumah aja. Biar ada yang ngurusi baju, rumah," Bili semakin ingin menghilang. "Ya, Tante. Gimana mau nikah, calonnya aja gak ada," Tante Manda terkekeh. "Mau nungguin aku kelar kuliah, Kak?" Lisa tiba-tiba datang. Bili hanya melihatnya terdiam.
Busyeeeet. Cantik amat. Biar gue gak jelek-jelek amat. Tapi gue bisa siangan sama artis Korea yang belum terkenal.
"Wah, mbaknya gitu. Kerja sama Rion udah lama, mbak? Gak pernah kelihatan," Lisa melempar sebuah kain pembersih. "Heh, aku sepupunya Kak Rion, ya. Main nembak sembarangan."
"Oooh, ini anak Tante, tho? Halo, dek. Ini Kakak Bili," Lisa memperlihatkan muka juteknya. "Hih. Bad mood," Lisa meninggalkan Bili di dapur. Mereka akhirnya melakukan makan malam bersama dengan suka cita.
...
__ADS_1
...
...
Seminggu kemudian. Rion dan keluarganya sudah tiba di Jakarta. Lisa juga turut ikut bersama untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.
Suatu malam, saat Lisa pulang dari rumah saudaranya, saat akan masuk di gerbang rumah Neyza. Ia melihat seseorang berdiri memandangi mobilnya. Setelah penjaga rumah membukakan gerbangnya, ia segera masuk untuk menemui Rion. "Kak. Sini, deh," Rion mendekati Lisa. "Tadi ada orang berdiri di dekat gerbang waktu aku masuk rumah. Dia liatin aku. Serem juga, sih," Rion terkejut. "Kamu diikuti gak daritadi?" tanya Rion. "Gak, kok. Waktu mau masuk rumah aja," Rion dengan cepat keluar pagar rumah bersama penjaga rumahnya. Melihat CCTV di ruang kemanan.
"Hmm, orang itu." Rion menunjuk seseorang di layar.
__ADS_1