
Sebuah rekaman yang diberikan Neyza kepada Rion membuat Rion menjadi semakin yakin bahwa Regina adalah otak dibalik semua kegaduhan perusahaannya. "Kenapa dia malah bekerja sama dengan seorang mahasiswa?" Rion bertanya-tanya. "Dia asisten dosen, Kak. Aku pernah ketemu sama dia. Sekali. Dia orang berpengaruh di laboratorium. Aku pikir dia itu anak rektor. Mungkin," Lisa memberikan informasi. "Hmm, coba nanti kota cek siapa sebenarnya pria ini," Rion masih melihat foto lelaki itu. "Rekaman tadi itu hanya satu dari banyak bukti. Rasa-rasanya masih belum cukup untuk menyeret dia ke persidangan. Yang aku herankan dari sekarang, kenapa sih dia tiba-tiba muncul terus mau main bahaya gini? Kamu pernah ada salah gak sih sama Regina?" Neyza menatap Rion tajam. "Kita temenan biasa, Ney. Itu aja. Gak ada yang lain. Pacaran aja gak. Ya sebatas 'hai' atau 'apa kabar?'.Lepas itu ya kalo ketemu gak sapa-sapaan jadi hal biasa," Neyza hanya menarik napas. "Belum cukup jelas, sih. Pasti kalian ada apa-apa. Coba inget-inget lagi," Rion semakin dibuat penasaran oleh ulah Regina.
Malam ini, Rion tak bisa tidur. Neyza dan kedua malaikat kecilnya sudah berada di alam tidur. Rion duduk dan mengecek ponselnya. Mendengarkan rekaman yang dikirim Neyza tadi, juga wajah pria yang membantu Regina.
Mau kamu apa, Regina?
Ah, sebuah nama. Teman sebangkunya saat masih duduk di bangku sekolah yang juga kenal dengan Regina. Dias. Besok, Rion akan menghubungi Dias untuk mencoba menggali informasi tentang Regina. Rion segera mengetik sebuah pesan ke nomor Dias. Berharap Dias ada waktu luang untuk ia hubungi.
[Anda:] Dias, besok lu ada waktu luang jam berapa? Gue ada perlu buat nelfon lu.
__ADS_1
Pesan itu segera terkirim ke nomor Dias.
[Dias:] Bro, gue di Jakarta dari kemarin. Apa kita ketemuan di restoran keluarga lu?
Mata Rion berbinar. Wah, keberuntungan nampaknya semakin berpihak padanya.
Rion tersenyum. Sedikit lega yang ia rasakan. Setidaknya, ini adalah sebuah proses ke sebuah solusi. Rion lalu menutup matanya agar dapat mengumpulkan energi yang lebih besar untuk esok hari.
Pagi itu, Rion akan berangkat kerja setelah sarapan pagi bersama Neyza. "Sayang, aku pergi dulu, ya?" pamit Rion. Neyza sedang menyiapkan sebuah bekal untuk Rion. Ia menjadi terburu karena Rion akan segera pergi. "Tunggu tunggu. Dua menit, ya," Rion berjalan menuju ke arah Neyza. Istrinya itu segera menutup tempat makan yang sudah ia siapkan. "Ngapain, sih?" Neyza memasukkannya ke dalam lunch box. Memberikannya kepada Rion. "Ini, gak usah makan di luar. Aku masak dari tadi pagi," Rion tersenyum. "Sekalinya aku dibikinin bekal terus kalo ketagihan gimana?" Rion memeluk Neyza. "Ya gpp aku bikinin tiap hari. Gak cuma bekal anak-anak aja. Gih, pergi. Hati-hati," paksa Neyza. Rion mencium pipi Neyza.
__ADS_1
Neyza menyiapkan makanan untuk kedua anak-anaknya dan Lisa. Mereka baru saja turun untuk pergi ke sekolah. "Mama. Selamat pagi," Neyza tersenyum. "Hai, sayang. Tadi gak rewel kan sama Auntie Lisa?" Lalita mengangguk. "Aku jadi anak baik sama Rui. Kita ajak Auntie mandi sama-sama?" Neyza mengernyitkan dahinya. "Ha?" Lisa mendudukkan Rui. "Aku disemprotin sama anak-anak. Gitu maksudnya, Kak," Neyza tertawa. "Ta, Rui. Auntie kan bantuin Mama nemenin Kakak sama Adek mandi. Lain kali jangan ya, nak. Kasihan Auntie," Neyza menasihati. "Auntie, maaf," kata Rui. Lisa mencium rambut Rui. "Kak, gimana? Aku ke kampus buat cari informasi orang itu?" Neyza mengangguk.
Neyza berada di ruang kerja di kantornya. Ia menunggu seseorang menghubunginya. "Halo!" Neyza berbicara dengan orang tersebut dengan serius. Setelah ia menutup teleponnya, ia segera pergi menemui orang yang menghubunginya tersebut. Di sebuah restoran China. Neyza duduk dan menunggu orang tersebut. "Neyza," Neyza tersenyum. "Hai, Ogi. Duduk duduk. Sori ya tiba-tiba hubungi. Gimana kabarmu?" Ogi tersenyum. "Baik baik. Lama gak ada kabar, ya," Neyza mengangguk. "Aku mau tanya," Ogi penasaran. "Tentang apa?" Neyza menghela napas. "Kamu kenal Regina?" Ogi terkejut. "Ini, kan? Kenal. Kenapa, Ney?" Neyza tersenyum. "Aku searching namanya dan keluar di salah satu media sosialnya dan kampusnya sama seperti kampus kamu. Seingatku kampus kamu di Universitas Satya Kencana," Ogi membenarkan. "Kayak gimana sih Regina ini?" Ogi mengangkat tangannya untuk menghentikan pembicaraan Neyza. "Cerita dulu ada apa? Biar luwes aku ceritanya," Neyza meminta maaf dan segera menceritakan semua yang dialami Rion dan perusahaannya.
"Dia anak baik. Kayaknya bukan tipikal anak yang mudah jatuhin orang. Aku sering dulu kumpul sama dia dan teman-teman aku. Kita sering baik gunung malahan. Kalo dari cerita kamu. Kayaknya ada sesuatu yang ada kaitannya dengan suamimu itu," Neyza menggeleng. "Dan aku gak tahu apa itu. Juga Rion," Ogi berpikir sejenak. "Aku bisa bantuin apa?" Neyza menggeleng. "Itu aja kayaknya. Aku cuma penasaran Regina itu kayak gimana? Makasih, ya," Neyza pamit dan segera kembali ke kantor.
Kriiing.
Ponsel Regina berdering. Nomor tak dikenal. "Halo," kata Regina. "Hai, Regina. Ini gue. Ogi. Apa kabar?" Regina menaikkan alisnya, terkejut. "Ogi? Darimana dapat nomor hape gue?" katanya antusias. "Gue nih canggih. Tiba-tiba dapat nomor lu aja udah seneng. Masih di luar negeri? Terakhir katanya lu udah nikah sama bule?" Regina duduk dengan wajah penuh senyuman. "Enak aja lu. Gue belum nikah. Gue masih pingin kerja dulu. Lha lu apa kabar?" Regina begitu bersemangat. "Baik. Sehat. Eh, kapan-kapan ketemuan, yuk?" kata Ogi menuju poinnya. "Hmm, minggu ini kayaknya gue gak bisa. Mulai besok gue ribet banget sama urusan kantor," jawab Regina. "Gpp. Kalo gitu entar malam aja. Kan lu rusuhnya mulai besok," ucap Ogi. Regina berpikir. Mungkin tak ada salahnya menerima tawaran Ogi. "Oke, mungkin gue bisa luangin waktu. Mau ketemuan dimana?" tanya Regina. "Gue jemput lu, lah. Masa cewek jalan sendirian? Entar dibilang jomlo lagi sama polisi tidur," Regina tertawa. "Ah, lu gak berubah ya, Gi. Oke, deh. Rumah gue masih sama. Dia gak punya kaki buat pindah," Regina memberikan 'lampu hijau'. "Ooh, rumah yang dulu pernah gue datengin waktu gue gebetin lu?" Regina kembali tertawa. Kali ini tawanya makin tak bisa ditahan. "Cerita lalu, ah. Emang gue terima lu?" Regina menghadirkan nostalgia masa lalunya bersama Ogi. "Andai lu terima gue waktu itu, mungkin lu.." Ogi hampir meneruskan pembicaraannya. "Stop stop. Gue ada tamu. Orangnya udah datang. See you nanti malam, ya. Bye," tutup Regina mengakhiri reuni singkat itu dengan Ogi.
__ADS_1