
Pagi ini, Rion dan Neyza berada di rumah sakit untuk pernikahan Ogi dan Regina. Keluarga inti dari keduanya pun sudah hadir. Rion dan Neyza menjadi orang yang paling sibuk untuk mempersiapkan acara agar berjalan dengan lancar.
Regina nampak cantik dengan baju kebaya putih dan riasan natural. Muka tirus dan senyum yang mengembang nampak terpancar bahwa ia sedang dalam suasana yang sangat berbahagia. Ogi duduk bersama Papa Regina. Ketika petugas pernikahan datang dan segera melakukan ijab qobul.
Ogi tak butuh waktu lama untuk mengatakan janji akad. Keputusannya yang dengan mantap untuk menikahi Regina adalah sebuah bukti ketulusan Ogi yang akan selalu mendampingi Regina di masa kapan pun.
"SAH!" kata petugas KUA dan saksi. Regina yang duduk sofa yang lain akhirnya duduk di sebelah suaminya. Raut wajah keduanya memancarkan kebahagiaan yang sempurna. Walau dalam suasana yang tidak menentu, namun semua berjalan lancar. Niat tulus itu tersampaikan. Pelukan demi pelukan oleh kedua keluarga mengiringi kebahagiaan mereka. Orang tua Regina terutama, yang sangat khawatir dengan kesehatan anaknya nampak sedikit lega karena ia akan didukung penuh oleh suaminya, Ogi.
"Terima kasih, Ogi. Terima kasih sudah mau menemani Regina di masa sulitnya," kata Mama Regina. Ogi memeluk mertuanya itu. Ada rasa bangga pada dirinya. Bahwa ia akan menjadi sandaran Regina saat masa yang susah ini.
__ADS_1
Semua keluarga telah kembali pulang karena prosedur rumah sakit tidak memungkinkan untuk berlama-lama pada sebuah acara di ruang pasien. Rion dan Neyza masih berada di kamar itu. Neyza membantu Regina untuk berganti pakaian sementara Ogi dan Rion berada di ruang tamu pengunjung di kamar VVIP itu.
"Kamu bahagia?" tanya Neyza. Regina membalasnya dengan senyuman. Berkali-kali Regina mengucapkan Terima kasih pada Neyza dan Rion karena banyak sekali membantu urusan pernikahannya dengan Ogi. Sambil membantu Regina berganti pakaian, Neyza kerap bercerita bagaimana awal kehidupan rumah tangganya bersama Rion. Sesekali Regina tertawa, namun terkadang ia diam. "Hidup lu ternyata gak kayak Cinderella, ya? Naik turun juga," kata Regina. Neyza tak menampik pendapat Regina. Neyza pun bercerita tentang bagaimana sosok Ogi yang ia kenal. Walau baru beberapa tahun, namun Ogi adalah pria yang baik. Ia sangat ringan tangan untuk membantu. Neyza mengatakan Regina adalah orang beruntung karena di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. "Ney, kalo gue divonis gak punya anak, gimana?" pertanyaan Regina membuat Neyza terkejut. "Gue kasihan sama Ogi kalo dia gak bisa punya keturunan dari gue," Neyza memeluk Regina sebelum ia melanjutkan kalimat yang lebih dramatis. Kekhawatirannya sangat beralasan. Tapi Neyza akan sekuat tenaga mendukung Regina agar ia selalu merasa nyaman dengan apapun kondisinya.
"Kamu perlu khawatir. Tapi kamu juga wajib punya harapan. Sekarang kamu gak hanya mikir sendiri. Tapi ada Ogi yang siap membantu kegelisahanmu. Berbagilah dengannya. Dia partnermu seumur hidup. Dia juga akan melewati masa sulit denganmu. Coba andai kata Ogi yang ada dalam posisi kamu, pasti kamu akan melakukan segalanya buat dia?" Regina mengangguk. "Lu baik banget, sih? Udah gue jutekin. Untung lu cantik," Neyza tertawa. Regina punya sisi humoris yang tidak terduga. Walau dirundung khawatir, namun ia tetap ingin mengontrol suasana hatinya sebelum operasi dua hari lagi.
Bili masuk ke rumah Neyza tepat saat mereka sedang berbicara. Shena nampak sumringah dengan kedatangan Bili. Rion berbicara sebentar dengan Bili mengenai pekerjaan kantor. Laku kembali bergabung dengan Neyza dan Shena. "Gimana? Betah di sini?" Shena mengangguk. "Tadi saya menghubungi Mama dengan nomor yang lain. Saya minta tolong mbak-mbak asisten buat beli kartu perdana baru. Besok orang tua saya baru akan pulang. Mungkin saya akan dijemput di sini," kata Shena. "Terus tunangan lu? Gak dilaporin Polisi?" Shena menggeleng. Ia tak punya cukup bukti untuk melaporkan tunangannya itu. "Ya pokoknya ada orang tua lu aja udah cukup. Semoga bisa kelar masalah," Shena diam. Ia mengatakan ada alternatif lain untuk menghentikan tunangannya itu. "Apa itu?" kata Bili. "Gue harus menikah tanpa dia tahu," semua orang terkejut. "Gila lu!" kata Bili. Shena menjabarkan bagaimana tunangannya itu memang akan berhenti bila Shena bersama pria lain karena ia tak mungkin lagi mendekati Shena.
"Lu pikir gampang cari pasangan? Ini bukan mau beli coklat lima ribuan, oi" kata Bili. "Tapi bisa juga. Kalo orang tua Shena gak setuju terus menggagalkan pertunangan mereka, kan bisa jadi laki-laki itu gak akan deketin dia lagi," Shena menyetujui perkataan Rion. "Emang lu udah punya calon?" Shena mengangguk. "Kalo dia mau, gue lanjut," Bili menggelengkan kepalanya. "Emang siapa? Ajak dia ke orang tua lu," Shena dengan tersenyum menjawab, "Kalo sama lu gimana?" Neyza dan Rion membesarkan matanya. Sedangkan Bili menepuk dahinya. "Lu gila atau gimana, sih? Gak jelas gini jadi orang," Shena mengerucutkan bibirnya. "Kan cuma buat formalitas aja. Kalo nyaman ya diterusin aja," kata Shena. "Terus kalo gak nyaman selesai pernikahannya? Emang lu masih bocah ya, Shena," Shena hanya tersenyum.
__ADS_1
Neyza menengahi keduanya. Sebuah masukan agar Shena berbicara dengan orang tuanya adalah sebuah awal yang baik. Bila pada masanya mereka harus menghentikan pertunangan ini, sejatinya Shena juga harus lebih menjaga diri. Namun Shena keburu memutus pembicaraan Neyza. "Bu, serius, deh. Kalo saya putusin dia. Selama saya belum ada yang punya, dia bakal kejar terus sampai ke ujung dunia. Saya gak nyaman, Bu."
Bili nampak kesal dengan pertimbangan Shena. Keputusan sepihak itu tidak masuk akal. Shena sepertinya hanya berpikir jalan yang lebih singkat agar terlepas dari tunangannya yang gila itu. Mata Bili mulai panas. Ia bahkan tak menyangka bahwa Shena akan melakukan hal itu. Walau hanya sebuah pendapat saja. Rion dan Neyza tersenyum melihat tingkah Bili dan Shena.
"Kalo lu gak mau. Pak Rion gak pingin punya istri lagi?"
Semua diam.
(bersambung)
__ADS_1