
"Dok, bayinya tidak menangis," ujar seorang perawat kepada Dokter Mela. Dokter Mela dengan sigap memberikan pertolongan pertama kepada bayi Neyza. Rion mendengar jelas perkataan itu. Namun bisikan perawat tadi tidak serta merta membuat ia memberitahu Neyza yang baru saja mengalami kehabisan tenaga. Ia mendekap Neyza yang sedang dirawat oleh beberapa perawat. Neyza menutup mata. Seakan menanti bayi yang akan ia dekap untuk pertama kalinya.
Satu menit terasa lama menurut Rion. Ia melihat perawat dan Dokter Mela memberikan segala upaya. "Sebentar, ya, sayang. Bayinya masih dibersihkan kayaknya," Rion mencium kening Neyza. Matanya berkaca-kaca. "Tuhan, tolong. Beri kami kesempatan hidup dan melihatnya tumbuh berkembang," batin Rion memanjatkan doa. Jantungnya memacu cepat. Ia tidak tahu bagaimana menempatkan dirinya saat ini. Kasihan melihat Neyza yang sedang berusaha memulihkan fisiknya yang sungguh sangat-sangat kelelahan.
"Oeeeeeek"
Suara tangisan itu pecah. Rion membiarkan ari matanya mengalir begitu saja. Tak peduli apakah itu terlihat jelas oleh Neyza. Beberapa menit yang lalu ia seperti dalam timbangan. Menanti kabar apakah bayi ini tetap 'diam' selamanya atau memberi kesempatan kepada Neyza dan Rion merawatnya dengan penuh cinta kasih.
"Selamat. Anak kalian perempuan. Sehat," ujar Dokter Mela beberapa menit setelah bayi itu mengeluarkan suara dan dibersihkan oleh perawat. Seorang perawat membawa bayi itu kedalam pelukan Neyza. "Ini, bu. Bayinya. Cantik seperti Ibunya," perawat itu menghibur Neyza dan membuang segala kepanikan yang terjadi barusan. "Halo, sayang. Terima kasih sudah berjuang sama Mama dan Papa," Neyza memegang pipi kecil bayi itu yang memerah.
Rion hanya memegang kain yang menutupi bayinya. Ia tak berani memegang kulit dan mencium anaknya. "Gak mau dicium?" kata Neyza. "Gak. Aku belum mandi. Nanti aja," kata Rion. Dokter Mela mengajarkan beberapa langkah untuk Neyza dalam memberikan asi saat baru saja melahirkan. Sedangkan Rion mempunyai 'kelas' kilat dalam membantu Neyza melewati hati-harinya sebagai seorang Ibu.
__ADS_1
Butuh adaptasi yang cukup lama. Bayi itu kini mulai merasakan sari pati yang sangat bermanfaat yang diberikan sang Mama. Neyza sesekali bertanya, sesekali kesakitan, namun ia dengan teliti berusaha menikmati peran barunya sebagai seorang Ibu.
Beberapa jam kemudian, saat Bayi tengah tertidur di box bayi rumah sakit, berjejer dengan tempat tidur Neyza yang juga tak kalah lelah tengah tertidur. Rion melihat dua perempuan yang sangat ia cintai. Ia tatap lagi wajah Neyza yang terlelap.
Ney, waktu pertama kali ketemu di rumah kontrakan. Waktu kamu protes cara kerjaku memaku. Gak nyangka kalo orang yang sering jadi target keusilanku jadi perempuan paling penting dan hidupku saat ini. Setahun lamanya kamu simpan rapat sakit hati. Walau ujung-ujungnya ngambek kalo ketemu aku. Gak sebanding dengan apa yang kamu lakukan tadi. Maaf. Belum bisa menjadi yang terbaik. Makasih.
Batin Rion memuncah kebahagiaan. Memori yang lalu kerap hadir di pikirannya. Ingatannya seperti tak ingin menolak sebuah takdir yang konyol. Dapat membawa dirinya dan Neyza ke sebuah kehidupan yang baru. Seorang putri kecil yang akan menjadi bagian dari keluarga kecil mereka. Dan Lalita, anak yang tak pernah mereka lupakan. Selalu menjadi sejarah manis untuk keduanya.
Pintu kamar VVIP itu terbuka. Seseorang datang dengan senyum yang khas. Bili. Sahabat sekaligus tangan kanan Rion dalam memimpin perusahaannya. Bili lalu memeluk Rion. Sama-sama menitikkan air matanya. "Gue seneng, Bre. Gak nyangka. Lu yang celometan kalo di kampus ama gue. Bisa beranak pinak," Bili menghapus air matanya. "Sssst, jangan kenceng suara lu kayak suara kapal mau berangkat. Dieman dikit napa? Eh, btw. Makasih lu datang. Gue memang butuh lu," kata Rion. "Kenapa? Gue disuruh beli apa? Nasi uduk? Nasi padang? Lu udah makan, belum?" Rion menahan tawanya. "Lu, nih. Bisa aja bikin gue ketawa. Gak. Gue gak bawa baju. Entar tolong ambilin baju gue di kantor, ya? Kan deket noh, rumah sakit sama kantor," Bili menutup hidungnya. "Pantes waktu gue peluk lu kayak ada terasi nempel di badan lu. Apek banget. Hih," Rion menyeringai.
"Udah, reuninya? Bantuin aku ke kamar mandi," Rion dan Bili melihat Neyza dengan mata yang bulat dan besar seperti sudah bangun beberapa waktu yang lalu. "Lho, sayang. Kapan bangun?" tanya Rion. "Sejak Bili peluk kamu dan kalian tangis-tangisan kayak nonton film Drama," mata Neyza menyipit. "Ayo ayo. Bili emang gangguin istirahat kamu, ya? Kasihan," Bili menaikkan bibir atasnya. "Ih, dasar lu berdua, ye. Senengnya nyalah-nyalahin orang. Gue ke kantor dulu ambil baju. Lu mau nitip makan apa? Gue sekalian beliin," Rion memapah Neyza ke kamar mandi. "Lu tahu kesukaan gue, tong," teriak Rion diakhiri pukulan kecil Neyza. "Ssst, anaknya nanti bangun."
__ADS_1
Keesokan harinya mereka mereka telah pulang ke rumah. Kamar bayi itu nampak sangat ramai dengan hiasan yang lucu dan menarik. Sedari tadi, Lalita sangat suka berada di dekat adiknya. "Ta, sayang sama bayinya?" Neyza datang dan duduk di sofa. Seorang baby sitter yang baru saja bekerja membawa bayi Neyza ke dekapannya untuk diberikan asi. Lalita berjalan mendekati Neyza. "Ma, cun dek," ucapnya terbata. "Ta mau cium adek? Boleh," Ia mendekatkan bayi itu kepada Lalita. "Ney, sudah dapat nama anak kamu?" Weni muncul dari pintu kamar dan masuk dengan berbagai macam kado. "Ta sayaaaaang. Tante bawain kado buat kamu sama adek," Lalita berlari dan memeluk Weni. "Repot aja kamu, Wen," Weni menggendong Lalita. "Gak lah. Anak aku juga berdua ini," Neyza tersenyum sambil memberikan asi kepada anaknya. "Namanya, Rui," ucap Neyza sambil mengelus kepala bayi itu. "Cantik namanya. Aku gak gendong dulu kali, ya. Aku dari kantor. Belum mandi," Neyza mengangguk. "Mandi sana. Baju kamu masih ada di lemari kamar tamu," Weni tersenyum lebar mendengar informasi itu. "Aaah, bener. Ta, tante mandi dulu ya, sayang. Biar bisa gendong adek Rui. Habis itu kita main, ya?" Weni turun ke kamar tamu yang biasa ia tempati saat Neyza masih belum menikah.
Neyza melihat ponselnya. Sebuah pesan dari Heri.
Heri [+6068896****] : Kak Neyza. Selamat ya buat kelahiran anak pertamanya. Aku bawa kabar gembira juga. Sepertinya Tesis aku bisa maju lima bulan lagi. Dan bonusnya, aku kemarin coba terima tawaran dosenku buat kerja di perusahaan minyak punya dia. Jadi aku bisa pulang ke Indonesia sebentar sebelum masuk kerja."
Neyza tak membalas pesan Heri. Matanya mencari Lalita yang bermain tak jauh dari tempatnya duduk. Matanya mulai basah. Menggenang dan turun dengan bebas ke pipinya.
Kalo Heri sudah lulus dan dapat pekerjaan, berarti Lalita.
(bersambung)
__ADS_1