Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 79 Jelaskan!


__ADS_3

"Jahat, gimana?" tanya Ogi yang terkejut dengan omongan Regina. "Hmm, gak. Gue jahat sama lu. Dulu. Gue sempat nolak lu, kan?" Ogi tersenyum. "Gue lupa. Bukan gue kalo, Regina. Mungkin si Badrul atau Samad. Yang jelas gue suka sama si.. " Regina mencubit lengan Ogi. "Si Regina," Ogi menjawab dengan lesu karena malu. "Udah, ah. Lewat. Kita tungguin makanan dulu," kata Ogi. Regina pun tersenyum.


Rion pulang ke rumah setelah bertemu dengan Dias. Neyza menyambutnya dengan senyuman lebar. "Eh, sayang. Senyumnya maksimal amat. Ada berita baik?" kata Rion. "Iya. Tebak?" tanya Neyza. "Rui bisa salto? Ta udah bisa masak nasi goreng? Kamu hamil lagi?" Neyza menggeleng dengan gembira. "Regina. Kita kayaknya udah cukup bukti untuk bisa bawa dia ke tanah hukum," Rion menjadi penasaran. Ia lalu duduk di sofa ruang tengah bersama Neyza. "Surat-surat yang ia pernah tunjukin ke kamu tentang peralihan modal perusahaan itu ternyata palsu. Aku udah cek ke sekretaris kamu dan detail kapan Regina datang. Dia catat semua dari buku tamu. Pengacaraku juga sempat ke cek perihal sah atau gak surat itu. Administrasi perusahaan dia sempat diminta tolong untuk lihat nomor surat yang dimaksud. Ternyata gak ada dalam list mereka," Rion semakin heran. "Ada berapa surat, sih?" Neyza menunjukkan angka 4 pada jarinya. "Ya udah, kalo udah cukup bukti, kita langsung ke kantornya sama polisi," Neyza menahan Rion. "Tunggu, satu lagi. Tentang laki-laki yang dia temui di kampus Lisa itu juga ternyata suruhan Lisa. Mereka sengaja ketemu di kampus biar gak ada yang curiga," Rion mengangguk. "Segitunya, ya?" Neyza memegang pundak Rion. "Sabar, ya. Sedikit lagi kita akhiri semua ini sama Regina," Rion menatap Neyza. "Apalah aku tanpamu, sayang?" Neyza menutup muka Rion dengan telapak tangannya. "Mulai deh gombalnya. Ayo, ditunggu Rui sama Ta di atas," Rion lalu memeluk Neyza dan bersama ke kamar anak-anak mereka.


Keesokan harinya, setelah memberikan cukup bukti bahwa semua yang dilakukan Regina hanyalah sebuah permainan bisnis belaka, Rion, Neyza dan Bili segera menuju ke kantor Polisi untuk melaporkan sebuah tindak pidana terhadap Regina. Setelah selesai, mereka bersama-sama menuju ke kantor Regina.

__ADS_1


Memasuki gedung perusahaan Regina tidaklah sulit. Dengan berbekal surat panggilan Polisi dan beberapa bukti yang dipegang Bili, langkah mereka ringan untuk menjerat Regina yang terkenal dingin itu ke jeruji besi.


Tok tok tok.


Seorang sekretaris Regina masuk ke dalam ruang kerja Regina. "Bu, ada yang mau bertemu. Banyak orang," Regina mengerutkan alisnya. "Wartawan? Bilang saja saya sibuk," sekretaris tadi terlihat gugup. "Tapi mereka datang dengan surat panggilan Polisi," Regina terkejut. "Ha? Apa? Telepon Pengacara. Suruh mereka masuk". Pintu itu terbuka dan secara pelan-pelan mereka masuk ke dalam ruangan Regina. " Ada perlu apa anda datang kemari?" Regina berdiri dan memberikan sambutan dingin. "Untuk mempertanggungjawabkan apa sudah anda lakukan terhadap perusahaan kami," Rion membalas sambutan Regina dengan wajah yang dingin pula. Regina menahan diri untuk tetap tenang. "Apa yang sudah saya lakukan? Hanya karena tawaran kerja sama? Ini aneh," jawab Regina. "Karena alasan dibalik itu semua. Ancaman anda terhadap perusahaan kami dengan menunjukkan surat-surat peralihan investor merupakan sebuah pemalsuan untuk membuat kami mau tak mau menerima tawaran anda. Dan yang lebih mengejutkan. Ada sabotase tentang berpura-pura menjadi pelanggan yang merusak citra salah satu usaha perusahaan kami," Regina terdiam. Keringatnya satu persatu mulai turun dari dahinya. Kakinya seakan-akan lemas.

__ADS_1


"Rion, Neyza. Mungkin kalian terkejut karena tiba-tiba gue datang ke sini. Gak sengaja emang. Karena gue memang ada perlu sama Regina. Maksud gue. Kalian ini saling kenal. Apa harus melibatkan Polisi dulu? Apa gak bisa kita lakukan secara kekeluargaan?" Ogi memberikan sebuah masukan. "Maunya juga gitu, Ogi. Tapi ini udah keterlaluan. Gak mudah buat perushaan kita terima fitnah dia begitu aja. Itu tindakan kriminal," Rion menjelaskan. "Dan dia gak suka sama aku. Cara ngomongnya juga out of profesional. Itu bentuk yang merugikan dia dan orang lain," Ogi memberikan sinyal dengan kedua telapak tangannya. Berusaha menahan amarah kedua temannya itu. "Gue tahu lu berdua sekarang dalam keadaan yang kacau dan waktu yang mendesak kalian buat lakuin ini semua. Pasti lu berdua akan bilang. Ini waktunya dan harus. Dan gue bukan ingin berada di pihak mana pun. Tapi karena kalian udah saling tahu, gimana kalo kita yang dengerin langsung dari Regina. Apa betul yang dituduhin sama lu?" semua mata memandang Regina.


"Hmm, gue... " suaranya parau dan bergetar. Emosinya hampir meluap. "Rion!" suara berat itu nampak familiar. Mereka melihat ke arah pintu, ke arah sumber suara yang tiba-tiba hadir di dalam percakapan mereka," Rion melebarkan matanya. Begitu pun Neyza yang tak kalah terkejut. "Papa!" kata Rion. Pak Ginrey masuk dengan senyum mengembang. Berdiri di tengah-tengah Regina dan Rion. "Semua. Bisa kita duduk sebentar," suara sang Papa menangkan. Rion dan Neyza saling memandang. Seperti kode pertanyaan 'ada apa' terpatri dalam pikiran mereka. "Jadi begini. Kekacauan yang terjadi di perusahaan kita sebenarnya adalah sebuah ujian buat Rion. Papa sengaja menghubungi Regina. Untuk membantu Papa menguji seberapa besar kamu bisa memimpin perusahaan. Salah satu usaha restoran kita memang berada dalam krisis karena lahannya akan berdampingan dengan pembangunan pabrik-pabrik. Usaha kamu untuk membawa usaha itu ke salah satu Mall adalah tindakan yang bagus. Dan memang, Regina Papa minta tolong menjadi kompetitor buat kamu agar Papa bisa melihat seberapa besar struggle kamu. Dan sampai sejauh ini kamu bisa melacak separuh dari yang Papa berikan merupakan hal yang bagus. Untuk itu, Papa diberitahu oleh Regina sesaat setelah kalian datang dengan pesan singkat SOS. Papa langsung kemari menetralkan semuanya. Pengacara Papa akan mengurus semuanya. Kalian bisa bekerja seperti biasa. Papa minta maaf untuk kegaduhan ini. Intinya Papa ingin kamu banyak belajar. Dan kamu melewati dengan sabar. Itu karena menantu Papa yang baik hati selalu mendukung kamu," Pak Ginrey menjelaskan.


Rion, Neyza, dan Ogi masih tidak percaya. Kaki mereka seakan di atas angin.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2