Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 45 Curhat


__ADS_3

Weni dan Bili mengantar Bili dan Neyza ke tempat mereka makan. Keluarga dan beberapa teman hadir untuk memberikan mereka selamat. Acara ramah tamah ini hanya akan berakhir saat jam makan berakhir. Sedangkan resepsi akan dilaksanakan nanti malam.


Beberapa pelayan memberikan makanan pembuka di meja Rion dan Neyza. Neyza masih dengan wajah yang sama. Rion melirik Neyza. "Senyuman.Nqnti fotonya kelihatan jutek. Mau lu kelihatan jelek? Dilihat besok pas tua nanti nyesel, lho." Neyza memakan salad sayur yang ada di depannya. Rion tersenyum dan terus menyapa para tamu yang memberikan senyum untuknya. Sesekali Weni dan Bili menawarkan bantuan kepada kedua mempelai. Mereka duduk tak jauh dari meja pengantin.


Satu jam kemudian, acara makan bersama telah selesai. Para tamu pulang dan beberapa keluarga tengah kembali ke hotel tempat mereka menginap. Seorang fotografer mendekati Rion dan Neyza.


Fotografer: "Para Mas, Mbak. Kami akan melakukan sesi terakhir di akad nikah ini. Foto post wedding di kamar pengantin."


Rion: "Ayo!"


Neyza: "Hei, No!"


Rion: "Maaf, ya. Istri saya lagi PMS. Kalian tunggu di kamar saja, ya. Saya mau gendong istri saya dulu.".


Neyza langsung berdiri dan berjalan ke kamarnya.


Rion hanya terkekeh melihat tingkah Neyza yang takut bila ia akan digendong oleh Rion. Kini mereka sudah sampai di kamar pengantin. Fotografer dan dua asistennya sedang melihat view yang akan mereka pakai. Lalu setelah itu Rion sudah tiba dengan Neyza. Asisten fotografer mengarahkan mereka pada sebuah sudut ruangan.


Fotografer: "Saya akan bikin foto ini menjadi siluet. Tolong mbak Neyza memeluk pinggang mas Rion."


Neyza: "Ha? Aduh, mas. Gak biasa."


Rion: "Nanti juga biasa, sini tanganmu." Rion menarik tangan Neyza dan menaruhnya di pinggang.


Fotografer: "Hmm, atau begini saja. Agak jauhan saja sambil. tersenyum, ya?"


Neyza dengan secepat kilat menjauh dari Rion. Sedangkan Rion tiba-tiba menyunggingkan bibirnya.


Satu


Dua


Tiga


...



Foto cepat itu ditunjukkan pada Rion dan Neyza. Rion senang dengan hasil foto itu. Sedangkan Neyza tanpa ekspresi hanya melihatnya saja. Beberapa foto sudah dilakukan dan fotografer bersama timnya pamit untuk persiapan resepsi di sebuah gedung.


Neyza menghela napasnya. Pintu ditutup oleh fotografer. Neyza terkejut. Rion berlari ke arah pintu karena Neyza sudah akan mengambil ancang-ancang untuk segera keluar kamar.


Rion: "Lu mau keluar, ya?"


Neyza: "Iya.Kenapa emang?"

__ADS_1


Rion: "Lu pasti capek. Ganti baju dulu, gih. Gak gerah lu pake kain sepanjang itu?"


Neyza: "Eh iya juga. Capek juga. (membuka kain penutup kepalanya. Sadar bahwa Rion melihatnya) Ngapain lihat-lihat? Keluar. "


Rion: "Iya iya gue keluar. Jangan lama-lama. Gue juga mau ganti baju."


Neyza: "Ini kan kamarku. Baju kamu gak ada di sini."


Rion tersenyum dan berjalan ke arah lemari. Ia membukanya dan menunjukkan kemenangan telak bahwa baju-bajunya ada di lemari besar Neyza.


Neyza: "Lho, siapa yang naruh sini?"


Rion: "Bukan masalah siapa yang naruh. Tapi kamar lu, sekarang jadi kamar gue juga."


Rion keluar kamar. Neyza memegang jantungnya.Ia terduduk merasakan jantungnya yang semakin cepat dan keras terdengar. Neyza mencubiy dirinya sendiri. "Aaaaw," Rion tiba-tiba masuk ke dalam kamar lagi. "Kenapa? kenapa lu teriak? ada tikus?" tanyanya. Neyza menjadi malu karena ketahuan tak terjadi apa-apa.


Rion keluar dan memanggil seseorang. Seorang asisten rumah tangga datang dan membantu Neyza untuk membuka gaun pengantinnya. Lima belas menit kemudian, Neyza sudah selesai memakai baju yang nyaman. Rion masuk kembali ke kamar pengantin.


Rion masuk dan mengambil beberapa baju. Ia masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Setelah ia keluar. Neyza duduk di sofa. Rion yang sudah rapi memandang Neyza.


Rion: "Gue pikir mau hindari gue. Masih di situ."


Neyza: "Aku mau nyelesain semua, ya. Duduk!"


Rion: "Gak. Bilang yang bagus. Gue sekarang orang yang penting buat lu. Lu kan orang pinter. Kudu ngomong yang baik sama suami. Karena gue juga ngelakuin hal yang sama."


Neyza: "Fine. Rion. Sini duduk sama aku."


Rion senang mendengar perkataan Neyza dan mulai duduk di sebelah Neyza.


Neyza: "Kenapa ada pernikahan ini?" Mata Neyza memandang mata Rion dalam-dalam.


Rion: "Hmm. Ini keadaan gue ya. Gini, Nek. Seinget gue dulu ada pembicaraan antara Mama Papa dan gue. Katanya gue mau dikenalin sama anak temannya. Terus tahu-tahu berapa hari kemudian Mama Papa gue bilang gak usah dikenalin langsung nikah aja."


Neyza: "Kamu tahu, gak kalo itu aku?!"


Rion: "Gak, lah. Mana gue tahu kalo itu lu."


Neyza: "Lanjutin."


Rion: "Ya akhirnya gue bilang sama Mama Papa. Gue nolak, lah. Masa gue gak bisa nyari jodoh sendiri. Cuma mereka trauma kalo gue dapat kayak Hani lagi. At least mereka tahu keluarga calon gue. Saat itu."


Neyza: "Ada yang lain?"


Rion: "Gue juga ada beban moral, Nek. Lu tagu sendiri. Pernikahan sama Hani jadi benda abuat keluarga gue. Dan lu tahu sendiri kan gue hanya jadi alat buat ngerusak keluarga lu."

__ADS_1


Neyza: "Hooop, bentaran. Kenapa Hani bisa tahu keluarga aku terus manfaatin kamu?"


Rion:"Jelas, lah. Bokap gue kan mantan bos. Dan dia butuh cuan banyak buat hancurin keluarga lu. Dia kayaknya tahu kalo gue kenal lu dari rumah kontrakan kita yang deketan."


Neyza: "Terus ngapain kamu tinggal di kontrakan itu?"


Rion: "Kalo gue karena ada perlu sama tugas kampus. Makanya gue ngontrak dekat rumah Bili. Lha lu ngapain? uda enak-enak rumah besar gini pake acara pindah."


Neyza: "Aku dibully sama anak kampus. Hmm, gak semua. Beberapa. Mereka condong lihat Papa yang berlebih hartanya. Mereka gak terima."


Rion: "Itu iri namanya."


Neyza: "Apaan yang bikin iri?"


Rion: "Ya ku cantik, lah."


Neyza: "Jangan muji."


Rion: "Eh, lu emang cantik ngapain gue bohong sama istri sendiri. Ih, cuma lu kayaknya dipuji cantik tapi gak mau. Aneh."


Neyza: "Ih, aku gak mau dipuji sama kamu, ah. Terus ini gimana nih?"


Rion: "Gue belum denger alasan lu ya. Lu tahu pernikahan kek mana?"


Neyza: "Aku bilang kalo aku mau dijodohin sama Mama. Terserah mau dijodohin sama sapa aja. Yang penting Mama yang tahu."


Rion: "Lu harusnya tahu kalo itu gue."


Neyza: "Gak sempat, Rion. Aku sibuk."


Rion: "Paling lu tahu kalo itu gue tapi lu biarin aja. Lu seneng."


Neyza mendadak mendorong Rion dan ia tak dapat mengimbangi berat badannya sendiri. Neyza malah jatuh di dada Rion. Tangan Rion memeluk Neyza.


Rion: "Nha, gini, kan akur. Enak mau ngapa-ngapain."


Neyza bangkit dan mencubit Rion.


"Aaaaw... Sakit, Nek," kata Rion.


Neyza: "Kayaknya kita musti nanya Mama deh, kenapa kok kita bisa dijodohin gini?"


Rion: "Ah enakan peluk-pelukan tadi, ah."


Neyza melempar bantal ke muka Rion dan pergi ke luar kamar.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2