
"Aku yang suka sama kamu,"
Rui termenung hingga pikirannya membuat cerita tersendiri. Maliq masih membuka menu untuk ia makan siang ini. Pelayan itu datang lagi dan mencatat apa yang mereka pesan. "Jadi gimana hari-harimu di rumah sakit?" Rui melihat Maliq. Ia tak perlu berpikir lama untuk menjawab. Ia nampak senang dengan pekerjaannya sebagai Dokter Ahli Bedah. Walau pun masih tergolong Baru, namun ia begitu banyak belajar. Ia sangat sering berkunjung ke salah satu Dosen yang juga termasuk Dokter Ahli Bedah senior. Selain menimba ilmu, ia juga kerap berdiskusi tentang kehidupan. Memperkaya wawasannya terhadap perasaan.
Sedangkan Maliq, adalah Dokter Spesialis Syaraf. Kegiatan keduanya kini memang sangat sibuk dalam merawat pasien. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian sehingga mereka dapat segera menyembuhkan banyak orang.
"Sabtu besok aku mau datang ke rumah Lalita," Rui reflek memandang Maliq. Akhirnya yang dikatakan Lalita ada benarnya. "Ngelamar?" Rui tersenyum sambil menahan getir perasaanya. Maliq hampir tak menjawab. "Kamu datang juga, ya?"
Apa? Aku datang? Gila. Gak semudah itu aku bisa melihat kamu sama Kak Lalita. Aku mau nenangin hatiku dulu. :(
Rui nampak segan untuk menjawab. "Jadi? Aku jemput kamu, deh," kata Maliq. Rui tak mampu menjawab tidak. Akhirnya ia mengangguk dengan kepala berisi penuh rasa keberatan.
__ADS_1
Makan siang itu telah selesai. Setelah berbincang cukup lama mengenai progres pekerjaan mereka dan hal tentang rumah sakit, mereka kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaan. Rui segera pamit dan menjalankan mobilnya. Sedangkan Maliq menyusul setelahnya.
Dalam perjalanan, kepala Rui sedikit pusing. Maagnya sepertinya kambuh karena pikiran yang berlebih. Ia tahu, hitungan hari menuju sabtu membuatnya sedikit tidak nyaman. Setelah kembali ke rumah sakit. Ia berjalan menuju ruangannga. "Dokter Rui!" ia lalu menoleh. "Dokter Manji!" ia segera menemui seniornya itu. "Tadi saya ninggalin kotakan kue di ruanganmu. Yang besar untuk orang rumah, ya? Yang kecil bisa kamu makan sekarang. Kamu gak lagi diet, kan?" Rui tersenyum sambil menggeleng. "Tadi saya dapat banyak dari pasien saya yang sembuh. Kebetulan dia juragan toko kue yang terkenal. Jadinya tadi kayaknya satu mobil dia bawa buat dibagi-bagi sama perawat," Rui terkejut dengan cerita Manji.
"Dokter, kata Papa. Dokter suka pergi ke daerah-daerah yang susah pengobatan, ya? Ada rencana lagi, gak? Saya mau ikut," kata Rui menawarkan diri. Manji sempat berpikir untuk mengingat jadwal yang ada. "Ada. Akhir minggu ini. Mau ikut?" Jadwal itu sama dengan jadwal yang diberikan Maliq untuk menemaninya ke rumah Lalita. Namun hanya berbeda waktu. Rui penasaran dengan cerita sang Papa mengenai aksi sosial Manji. Dan dengan sukarela ia ingin mendapatkan pengalaman baru dalam ilmu kedokteran itu untuk lebih dekat dengan masyarakat yang tidak mampu.
"Dok, saya ingin ikut. Tapi akhir minggu saya masih harus ke rumah Kak Lalita karena ada perlu. Apa saya boleh menyusul?" Rui mengejar kata boleh dari Manji. "Lalita? Ah, yang diceritakan Kak Rion kemarin. Apa mau jemput di rumah Lalita saja? Biasanya saya pergi jam 10.30. Kebetulan tempatnya gak jauh." Rui menggeleng. "Gpp. Lahan parkirnya terbatas. Gak enak kalo bawa mobil banyak. Kasihan. Lahan itu biasanya buat anak-anak bermain. Kalo kamu bawa mobil lagi, kemungkinan mereka gak bisa main," terang Manji.
Sore itu ia pulang. Berpapasan dengan Manji. Lalu mereka menuju parkiran bersama. Saat menuruni tangga menuju parkiran tas Manji jatuh karena tersangkut di ujung pegangan tangga. Beberapa buku catatan dan ponselnya jatuh. Rui membantunya untuk memungut barang-barang yang jatuh. Ia lalu menemukan sebuah foto. Seorang perempuan cantik. Ia lalu memberikannya kepada Manji dan beberapa barang lainnya. "Ah, foto ini. Ini istri saya, Rui. Sudah meninggal tiga tahun lalu saat melahirkan anak kami," Rui nampak sedih. "Anak Dokter?" Manji terdiam. "Anak saya juga menyusul Ibunya beberapa jam setelahnya karena kelainan jantung. Rui nampak tak bisa berbuat apa-apa. Sang Papa tidak menceritakan bagian ini kepadanya. Manji dikenal baik oleh orang tuanya. Dan mungkin sang Papa telah tahu kondisi Manji saat ini.
" Maaf Dokter. Saya gak bermaksud. Tapi saya turut berduka," Manji tersenyum. "Sudah lewat. Saya yakin itu yang terbaik. Hei, Rui. Kita gak perlu formal-formal amat, ya. Saya dan keluarga kamu juga bagian dari saya. Jadi jangan serius amat. Santai aja," tegas Manji. Rui yang tak kalah terkejut karena melihat perubahan sikap Manji dengan cepat.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Rui benar-benar merasa tak enak hati ketika mendengar cerita Manji. Pantas saja. Sewaktu ia bilang masih single pada Rion, Rui berpikir bahwa Manji bukan seorang Duda. Takdir sebercanda ini. Yang terlihat bahagia nampaknya menyimpan banyak kenangan manis dan menyedihkan. Rui memang belum terlalu dekat dengan Manji. Namun ia layak untuk dibesarkan hatinya. Seperti kata Manji tadi, mereka sudah menjadi keluarga untuk Manji. Seingat Rui, terakhir saat ia berbincang dengan Manji, bahwa kesulitan apa pun yang ia hadapi, ia masih bisa bertahan karena orang-orang yang ia sayangi. Rekan tenaga medis di rumah sakit pun sangat senang membantunya bangkit dari kesedihan saat itu.
Ah, bertahan karena masih berharap pada satu manusia yang masih hidup aku pikir adalah masalah yang besar. Nampaknya pembuktian cinta tak semudah itu. Masih berat situasi Dokter Manji daripada cerita menyeku.
Rui merasa tersadar karena cerita Manji. Ia lalu berpikir selama perjalanan pulang. Ia harus memutuskan perasaannya dengan tegas. Bahwa hidup bukan hanya masalah masa depan, Cita-cita dan bagaimana harus bertahan. Melainkan bagaimana kita bisa bersikap untuk menerima dan menolak. Rui sadar, ia masih terus belajar. Dan akhir pekan ini, ia harus menghadapinya dengan lantang. Harapan untuk bisa melanjutkan kehidupan dengan pola pikir terbaik yang ia punya. Mungkin, berada di tempat yang gak biasa ia datangi nanti bersama Manji, merupakan chapter baru dalam kehidupannya menjadi seorang Dokter. Kehidupannya tak hanya berputar masalah hati dan seorang laki-laki.
Menyenangkan. Rui kembali tersenyum dengan sebuah harapan. Ia merasa kegiatannya akan membuahkan hasil cemerlang.
Ia berhenti saat lampu merah menyala. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.
"Hai, Rui. Makan malam hari ini?"
__ADS_1
(bersambung)