
Rui terkejut karena Maliq tiba-tiba ada di sebelahnya. ia tak menyangka perkataannya tadi rupanya didengar oleh Maliq. "Ha? Emang aku ngomong apa, ya?" tanya Rui. Maliq nampak santai sehingga ia duduk tak jauh di dekat Rui. Perempuan itu nampak salah tingkah karena kehadiran Maliq. Ia berharap Levi datang untuk mengajaknya masuk ke dalam kelas. Namun sahabatnya itu masih belum nampak.
"Kamu ada kelas?" tanya Maliq. Rui mengangguk. Keduanya diam. Seperti berusaha menahan malu dan mencoba beribu logika agar pertemuan kali ini tidak menjadikan mereka pertemuan patung belaka. "Kamu suka baca?" tanya Maliq. Rui kembali mengangguk. Maliq pun bertanya tentang bacaan apa yang sedang dibaca Rui. Dengan alasan buku itu, membuat suasana kian mencair. Rui menceritakan betapa ia sangat tertarik dengan novel. Fiksi fantasi dan teenlit menjadi sebuah hobi yang ia isi kalau tak ada jadwal perkuliahan. Ia sering ke perpustakaan kota bersama Levi atau bersama Lalita. "Ada yang sekarang aku cari. Buku kedua karya Steven Parker. Yang judulnya Rhytm. Aku suka banget," Maliq memandang dinding di depannya. "Ah, aku punya buku itu. Kamu mau pinjam?" Rui memandang Maliq dengan senang. "Serius kakak punya?" Rui penasaran. Maliq mengangguk. "Aku cari dulu, ya. Udah lama banget tamatin itu," Rui pun segera minta ijin untuk meminjam buku itu. Maliq pun sengaja meminta nomor telepon Rui agar dapat mengabari buku yang ia cari itu.
*********
Maliq POV
Aku tak sengaja melihat gadis itu memasuki pintu kampus. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin mengikutinya. Namun ketika aku berbelok ke lorong gedung E, sosoknya hilang seperti angin. Cepat sekali. Akhirnya aku kembali pada rencana awal. Masuk kuliah dan menemui sahabatku, Lukas. Aku mendapati sebuah pesan dari Lukas bahwa aku akan menemuinya di kelas. Para mahasiswa sepertinya banyak yang sedang dalam perkuliahan. Namun yang menarik kali ini adalah Rui, gadis yang belakangan seperti iklan di televisi menghiasi layar kaca.
Ya, ia tiba-tiba menjadi peran utama dalam hidupku beberapa akhir ini. Aku sengaja ingin menyapanya. Namun ia keasyikan memandangi bunga-bunga di sebelah tempat duduknya. Ia seperti gadis pada umumnya. Tapi yang makin membuatku aneh, ia malah berbicara sendiri bahkan keluar sebuah ketegasan untuk tidak mendekatinya.
Aku, kah?
Aku menanyainya secara spontan. Aku melihat wajahnya yang terkejut. Kulihat pipinya semburat warna merah muda menyala. Riasan alami yang tiba-tiba menghiasi wajahnya. Menawan. Aku hampir dibuat terlena oleh wajahnya. Oh, tidak. Aku pikir, dengan keluguannya saat sedang sendiri. Aku bisa mendapatkan sedikit hiburan saat ia terkejut akan perkataannya sendiri.
Kami berdua diam. Aku sengaja duduk tak jauh darinya. Sambil menunggu waktu Lukas untuk keluar dari kelas di lantai ini juga. Aku memutar otak untuk membuat sebuah pembicaraan yang tak terlihat konyol. Pastinya. Menjaga wibawa seorang pria memang butuh ilmu. Hanya saja. Aku takut ia yang malah tak enak hati.
Aha, buku!
__ADS_1
Aku bertanya padanya perihal buku bacaan yang ia suka. Bila ia tidak suka, maka aku akan bertanya makanan apa yang sering ia makan. Mungkin terlihat basa-basi. Tapi menurutku aku akan terlihat tak tahu malu bila hanya membiarkannya bertanya-tanya untuk apa aku kemari. Paling tidak, ada alasan untuk lebih mengenal teman.
Oh, aku baru tahu ia adalah penggemar fiksi fantasi. Hal yang sepertinya tak sama sepertiku. Dan ketika ia mengatakan akan mencari sekuel novel yang ia sukai, kenapa aku langsung mengatakan bahwa aku mempunyai buku itu dan fatalnya, aku sudah tahu keseluruhan isi bukunya.
Aku hendak mengatakan kalau aku bukanlah pecinta buku. Aku pikir tadi sebuah awal mula sebuah candaan untuk memecah suasana. Namun sayangnya bibirku keluh luar biasa. Aku membiarkan diriku menjadi sedikit naif dan parahnya lagi. Aku menjanjikan untuk membawakan buku itu untuknya.
Ah, kenapa kau ini, Maliq?
Aku berharap bisa mengulur waktu dengan mengatakan bahwa aku akan mencari di rak-rak buku tempat Ayah menaruh koran di pojok ruang baca. Mengapa aku tak berpikir dulu sebelum berbicara?
Sepertinya sesaat lagi Lukas akan keluar kelas. Aku segera mengakhiri pembicaraan itu dengan Rui. Aku terus menatap tajam jalan ke arah kelas Lukas tanpa menunda langkah kakiku. Nanti sampai di ujung jalan itu, aku akan berhenti sebentar agar tak terlihat Rui.
*******
Rui berada dalam kelas bersama Levi. Sedari masuk tadi. Rui hanya diam saja. Pandangannya jauh ke depan. Matanya memperhatikan dosen, namun sepertinya ruhnya tak benar-benar ada dalam tubuhnya.
Kaki Levi sedikit menendang kaki Rui. Gadis cantik itu sedikit terkejut. Ia lalu melirik Levi. Sahabatnya itu lalu memberikan sebuah catatan kecil di sepucuk kertas.
Mikirin apa, sih? Penasaran aku. :p
__ADS_1
Rui tak membalas apa-apa. Ia mengabaikan Levi. Namun Levi tak kehilangan akal. Ia malah menulis lagi hal yang membuat Rui hampir memukulnya.
Jangan bohong kalo yang kamu pikirin itu Kak Maliq. :-*
Rui hanya diam. Menahan seribu cara agar senyum tipisnya tak terlihat oleh Levi. Bisa-bisa selama perkuliahan ia hanya jadi sasaran korban godaan Levi setiap bertemu dengan Maliq. Tidak saat ini, batin Rui. Ia tak mungkin menyukai orang yang kemungkinan sama seperti sang Kakak.
"Kamu kenapa, sih? Ini gak sekali dua kali lho kamu diem aja merhatiin Dosen. Yuyur.." Rui menatapnya dengan muka masam. "Jujur, Neng," Levi menutup mulutnya. Dan menunggu jawaban Rui. Levi sudah sangat curiga. Karena beberapa kali mereka bertemu sosok Maliq. Dan kapan lalu, secara tak sengaja Levi juga melihat Rui berbicara dengan Maliq di parkiran kampus.
Rui mengajak Levi ke sebuah taman kampus yang tak jauh dari kelas meraka tadi. Beberapa mahasiswa nampak mempercepat langkahnya karena hari sudah mulai sore.
"Kenapa sih aku gak bisa bohong sama kamu?" kata Rui mengawali. Levi dengan muka senang nampak bersiap mendengar cerita lengkap Rui. "Berapa hari ini aku tuh sering banget tiba-tiba kepikiran Kak Maliq," ia menunduk. Levi nampak tersenyum lebar. Pengakuan secara tak langsung dari Rui membuatnya senang. Setidaknya, itu mengobati kegagalannya pada beberapa pria yang ingin ia dekati beberapa bulan terakhir.
"Kenapa kamu suka?" Rui mengangkat kedua bahunya. Ia lalu menatap Levi. "Tapi tahu, gak? Kayaknya Kak Maliq itu kenal sama Kak Lalita. Dan gak tahu ceritanya berawal dari mana, Kak Lalita itu kayaknya suka sama Kak Maliq," Levi membesarkan bola matanya. Ia tak kalah terkejut dengan Rui saat ia pertama kali mendengar cerita pria yang sedang dekat dengannya.
Rui tersenyum simpul. Ia hanya merasa lega karena semua cerita sudah ia utarakan pada Levi. Sahabatnya itu hanya membesarkan hatinya agar tetap merasa tenang. Dan mempertegas diri apakah ia benar-benar menaruh hati pada Maliq atau hanya sekedar kagum.
Rui kembali berpikir. Maliq sama halnya teori perkuliahan yang rumit. Bahkan lebih susah karena melibatkan perasaan.
(bersambung)
__ADS_1