
Lalita duduk bersama Neyza dan Rion. Rui baru saja datang. Ia lalu merangkul Neyza dan Rion. Dan melihat Lalita lagi, tentu saja membuat Rui menjadi sangat senang.
Kini mereka makan siang bersama setelah berhari-hari tak bertemu.
"Kuliahnya gimana, sayang?" Tanya Neyza. Lalita menceritakan betapa ia sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa. Ia tak butuh banyak adaptasi karena ia termasuk orang yang sangat cepat membaur. Rui memandangi wajah Lalita. Penuh haru dengan cerita sang kakak.
Kalo cowok tadi itu siapa, ya? Pacar kakak atau? Mau nanya kok sungkan, ya?
"Kalo Rui gimana?" Tanya Rion. Rui sedikit tersentak karena beberapa waktu lalu ia sempat melamunkan seorang pria yang sepertinya mirip dengan sosok Maliq. "Ya, Papa. Tiap hari tugas. Tapi seru, sih. Ada Levi sama temen-temen lainnya yang saling bantu," Kata Rui.
Mata Neyza nampak memandang kedua gadis muda yang ada di depannya. "Kalo cowok?"
Nha, Mama you got me.
Rui pura-pura terkejut. Lalu mengalihkan pandangannya ke bulu menu. Sedangkan Lalita nampak tenang. "Ya gitu, Ma. Ada yang nyebelin, ada yang nyaman banget kalo diajak ngobrol, ada juga yang dingin kayak kulkas," Rui mengangguk. "Rui kenapa?" Kata Rion. Rui hanya terkekeh. Menjawab kesamaan teman-teman pria yang ia temui di kampus. Namun Neyza menyimpulkan bahwa teman pria yang dimaksud adalah seorang laki-laki spesial.
Lalita dan Rui sama-sama terbatuk. Mata Rion membesar. Apa kedua gadis ini telah masuk ke fase yang ia takuti? "Tunggu, nona-nona. Maaf memutus pembicaraan kalian. kayaknya kita harus makan dulu biar kenyang terus kembali ke aktivitas kita seperti biasa, oke? No boys during conversation," Lampu merah sudah dinyalakan oleh Rion. Namun Neyza membuat satu tanda bahwa mereka akan membicarakannya dengan rahasia saat Rion tak ada bersama mereka.
Rion dan Neyza tengah mengangkat ponsel mereka di sela-sela makan siang. Rui membisikkan sesuatu kepada Lalita sehingga membuat kakak perempuannya itu harus menutup mulutnya. "Kakak tadi dianter cowok, ya?" Rui lalu tersenyum memenangi sang Kakak.
Lalita menggeleng. Sembari memberikan jawaban kepada Rui bahwa ia akan bercerita bila sudah siap pada waktunya. Neyza dan Rion telah selesai makan siang mereka. Mereka hendak kembali ke kantor masing-masing karena urusan kantor. Rui dan Lalita juga mengikuti kedua orang tuanya untuk kembali lagi ke kampus mereka.
__ADS_1
Rui membawa mobilnya menuju kampus kembali. Ia memarkir mobilnya dengan pelan. Ketika hendak keluar mobil, sebuah mobil juga tengah memarkir di sebelah mobilnya. Rui menunggu mobil tersebut terparkir dengan benar baru ia akan keluar dari mobilnya.
Rui lalu keluar mobil, menentang tasnya. Ia lalu kembali ke kelasnya dan mencari keberadaan Levi, sahabatnya itu. Ia melihat Levi duduk dengan perasaan murung. Rui mendekatinya. Memberikan sebuah kue keju kesukaannya. "Kenapa kamu? Gagal?" Levi mengangguk dengan ekspresi ingin menangis. Rui hanya mengelus pundak Levi. "Cowok banyak. Dia gak pantes buat kamu yang baik hati," Rui menyuapi kue keju ke mulut Levi.
Setelah perkuliahan selesai, Rui segera kembali ke mobilnya untuk pulang. Setelah sampai di depan mobil ia mencari kunci mobil di dalam tasnya.
Gawat.
Kunci mobilnya hilang. Ia yakin tadi sewaktu keluar mobil ia segera mengunci dan memasukkannya ke dalam tas. Tapi ia berusaha mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tasnya. Tak ada satu pun barang yang ia cari.
Lampu mobilnya tiba-tiba menyala. Tanda seseorang sedang membuka mobilnya. Ia lalu melihat sekelilingnya. Tak ada orang. Bulu kuduknya berdiri. Sore itu memang lengang dan sepi. Ia bersiap untuk berlari. Rasa-rasanya tak ada cerita bahwa lahan parkir ini nampak misterius.
Rui sedikit berlari. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia lalu bersembunyi di dekat pohon. Ia berjongkok dan menutup mata.
Sebuah tangan mendekatinya. Berusaha berkomunikasi dengan cara yang tak biasa. Ia memegang pundak Rui.
"Jangan, dooooong. Aku manusia!" teriaknya hampir menangis. "Hei, aku juga manusia. Kamu kenapa lari?" Rui membuka matanya. Masih tak percaya. Ia lalu menoleh, bayang-bayang berupa manusia yang tertutup lampu sorot tempat parkir itu nampak menakutkan. Rui kembali menutup mata.
"Plis, dong. Kunti, pocong, Gondoruwo, apa kek. Plase, leave me! ," kakinya gemetar. Seseorang tertawa hampir terbahak. "Hei, aku Maliq. Enak aja main sebut setan satu-satu," Rui menelan ludahnya.
Apa? Kak Maliq? Aduh, gak salah dengar? Ini lebih menakutkan dari ketemu setan.
__ADS_1
Rui perlahan berdiri. Membersihkan celananya. Berusaha mengatur napas dan wajahnya sebelum memalingkan diri ke arah Maliq. "Nih kunci mobil kamu. Tadi jatuh
Aku manggil-manggil kamunya keburu pergi," kata Maliq. Rui sedikit penasaran. "Emang kaka dimana tadi?" Maliq mencoba membiarkan Rui menata dirinya agar mulai tenang. "Sebelah kamu," Rui mengangguk.
Rui mengambil kunci mobil dari tangan Maliq. Mereka akhirnya berjalan menuju mobil mereka yang bersebelahan. "Kamu takut hantu?" Maliq mencoba bertanya.
Tumben nih orang ada suara. Biasanya kayak es batu. Eh, tapi es batu kan lama-lama cair juga, ya.
Rui menghadap Maliq. Ia nampak tak setuju dengan pernyataan Maliq kalau dia sangat tak suka dengan hal-hal gaib yang ia sebutkan. "Aku cuma kaget aja," Maliq tersenyum. "Ya udah, aku anggap kunti dan lainnya tadi gak ada, ya?" Rui salah tingkah. Ia tertangkap basah memang takut dengan hal-hal tersebut. "Iya, sih. Aku takut,"
Maliq membuka pintu penumpang depan dan mempersilahkan Rui masuk. "Ayo kamu pulang sana," Rui keheranan. "Aku nyetir, Kak," Maliq tak bergeming. "Udah, aku aja yang antar," jawabnya. Rui semakin keheranan.
"Mobil Kak.." Rui bertanya. "Kuncinya aku titipin ke satpam. Ada yang mau pinjam mobilku nanti," Rui seperti tersihir pria dingin itu. Ia lalu masuk ke dalam mobil. Mereka berjalan menuju rumah Rui.
"Kakak angkatan berapa?" tanya Rui. Maliq menjawab bahwa ia angkatan yang sedikit berjarak jauh dari Rui. Gadis itu lantas mulai berani bertanya kepada Maliq. "Emang irit ya kalo ngomong?" Maliq tertawa. "Menurut kamu gitu, ya?" Rui mengangguk. Tentu saja Rui penasaran karena kasus pertama saat pertama kali mereka bertemu, lalu kejadian di depan kampus yang membuatnya hampir ditipu pria jahat, mengantarnya sampai di depan rumah dan pergi begitu saja.
"Aku," Maliq menjeda perkataannya. Rui masih menatapnya. "Aku trauma," Rui terkejut dengan jawaban Maliq. "Adik sepupuku pernah dalam kondisimu. Ia hampir dirampok. Tapi ia selamat, juga mobilnya," Rui mengangguk. Sebuah kejadian yang mungkin nampak mengejutkan untuk Maliq dan penyelamatannya kepada Rui memang pure karena pertolongan. Bukan karena hal yang lain.
"Hmm, kakak lagi deket sama perempuan, ya?"
Rui tak canggung bertanya.
__ADS_1
(bersambung)