
Maliq. Nama yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. Yang sebenarnya tidak ingin ia dengar untuk selamanya. Namun mengapa saat Lalita menyebutkan namanya hatinya sedikit goyah? Paling tidak, ada sedikit rasa penasaran episode apalagi yang dialami pria baik hati itu.
"Kak Maliq kenapa emangnya, Kak?"
Lalita sedikit berpikir. "Kayaknya dia mau ke rumah." Rui tak terkejut. Bom waktu itu akhirnya hampir berada di angka nol untuk meledakkan diri. Sesuai dugaan Rui. Lambat laun, Maliq akan datang ke rumah untuk meminang Lalita.
"Di rumah Kakak?" Lalita mengangguk. Hari besar untuk Lalita akan datang. Dan juga untuk Rui. Lalita tak banyak bercerita. Rui hanya duduk sambil membuka beberapa bungkus makanan kecil yang ada di depannya. Raganya duduk bersama Lalita. Namun sepertinya ruhnya bergentayangan entah kemana. Ia bahkan melewatkan banyak kalimat yang sudah dilontarkan Lalita. Ketika Lalita selesai berbicara. Barulah Rui sadar, sedari tadi ia hanya melamunkan sesuatu yang ia sendiri tak tahu mana pastinya.
Mereka berdua Hendra tidur setelah membereskan kamar dan membersihkan diri. Lalita dengan cepat terlelap. Ia seperti manusia bantal yang kerap tertidur walah hanya memegangnga saja. Namun Rui. Sepertinya akan terjaga lagi.
Udah, dong. Gimana bisa move on. Bentar lagi Kak Maliq jadi iparku. Masa iya aku masih naruh harapan sama dia? Stop!
Pikiran Rui seperti bergulat sendiri dengan dirinya. Walau sudah bertahun-tahun melewati hari tanpa ada situasi dimana ia sedikit beralih pada teman pria yang lain agar ia sanggup melupakan Maliq. Namun kenyataannya, ia malah masih saja memikirkan Maliq. Tatapannya, senyumnya bahkan suaranya pun masih terekam jelas di memori Rui.
__ADS_1
Hari ini adalah ujung pekan dimana seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama di rumah Neyza. Weni dan Bili juga kerap hadir. Ogi dan Regina pun tak dapat melewatkan kesempatan ini. "Bre, gue kemarin ketemu orang yang lama banget kita gak ketemu. Gue sengaja ajak dia kesini. Lu harusnya masih ingat dia," kata Bili kepada Rion. Setelah mengangkat telepon dari seseorang, Bili keluar menuju halaman menyambut tamunya tersebut.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam. Rion mengambut tamu Bili tersebut. Ia sama sekali tak mengenal siapa orang itu. Namun Bili yang berjalan sambil merangkul pemuda itu nampak sumringah. "Lu gak kenal?" kata Bili. Rion menggeleng. Semua orang yang hadir tersebut melihat apa yang terjadi. "Kalo ada satu anak yang rese banget waktu di rumah kontrakan lu. Dan suka bantuin lu usilin Neyza. Sudah pasti dia.. " Rion lalu membelalakkan matanya.
"Dokter Manji!" Rui baru saja turun dari kamarnya dan menyadari teman seprofesinya itu ada di rumahnya. Rion dan Bili merasa aneh dengan keduanya. "Tunggu, kalian kenal?" Rui dan Manji mengangguk. Rion lalu menarik Manji dan memeluknya.
"Adik gue ini. Eh, mana istri Manji? Gak dibawa?" Manji hanya menyeringai. "Jomlo, Kak," Rion semakin memeluknya. "Ayo cepat nikah keburu tua," canda Rion. Bili bercerita bagaimana pertemuannya dengan Manji. Saat ia memeriksakan sang Ibu ke rumah sakit, Ibunya ditangani oleh Dokter Manji. Bili sempat curiga karena tak asing dengan nama tersebut. Namun nampaknya Bili mendesak dirinya untuk seger bertanya perihal hal tersebut. Jelaslah. Ketika Manji bercerita tentang masa kecilnya. Bili girang bukan main. Ia merasa seperti bertemu keluarga yang telah lama hilang. Ia lalu bertukar nomor telepon agar dapat membawa Manji kepada Rion.
"Kok bisa kenal, sih?" Rui bertanya di sela-sela percakapan mereka. "Terus Rui kenal dimana sama Manji?" tanya Neyza. "Ma, Dokter Manji itu Dokter senior Rui di rumah sakit," Neyza terkejut. "Ma? Dokter Rui ini.." ia hampir saja tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Iya, Rui anak Kak Rion," jawab Rion dengan lembut. Manji hanya tersenyum. Rui duduk di sebelah Neyza dan mendengarkan sejarah kebersamaan mereka hingga detik yang mengejutkan ini. Rui hanya berusaha mendengarkan dan ikut berbahagia atas berkumpulnya kembali para tetangga ini.
Lalita baru saja datang dan ikut bergabung dengan lainnya. "Ma, Pa. Aku bawa dua teman," kata Lalita diikuti senyum Rion. Kedua pria itu berada di belakang Lalita dan memperkenalkan diri. "Ma, Pa. Ini Maliq. Ini Dikta," Rui terkejut. Jantungnya tak karuan juga.
Hari ini?
__ADS_1
Rui berpikir terlalu cepat Lalita membawa Maliq ke rumahnya. Namun ia cepat-cepat membuat dirinya semakin tenang. Kehadiran Maliq harusnya tak membuatnya semakin terganggu. "Dokter Maliq!" kata Manji. Maliq pun terlihat terkejut dengan sapaan Manji tersebut. "Kalian kenal?" kata Neyza. "Kami pernah satu rumah sakit. Sebelum Dokter Manji pindah," Neyza mengangguk. Mereka pun membaur untuk saling berbicara. Rui menarik diri. Mengambil tempat di sudut ruangan untuk menghindari Maliq. Pikirannya kacau.
Ia mengambil sepiring kecil puding moka kesukannya. Ia lalu berjalan menuju teras di belakang rumah yang menghadap ke kolam renang. Ia tengah duduk dan memeriksakan ponselnya. Membuat ia seperti berada dalam kesibukannya sebagai Dokter. Licik memang untuk menghindari hal tersebut.
Ia ingin sekali mengajak Levi. Namun sepertinya tidak mungkin. Bisa jadi Levi datang saat acara sudah selesai. "Sendirian?" Rui nampak terkejut. Ia tak sadar sedari tadi ada yang memperhatikannya. Rui menoleh kepada seseorang itu. Manji berdiri di sebelahnya. Rui lalu menutup ponselnya. Mereka berdua terdiam sejenak. Nampaknya seperti tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. "Hmm, Dokter. Masalah parkiran," Manji tersenyum mendengar permintaan maaf Rui. "Udah selesai, kok. Saya kan gak marah-marah sama Dokter Rui," itu adalah cara Rui untuk mencairkan suasana. "Dokter dulu kenal sama Mama Papa, ya?" Manji mengangguk dan mulai menceritakan bagaimana ia dan Rion serta bertemu dalam sebuah lingkungan sederhana. "Kak Rion orang paling baik. Saya sering sekali diajakin makan atau beli makanan. Waktu pernikahan Mama Papa kamu, Kak Rion dan Kak Neyza malah kasih kita hadiah. Aneh, kan?" Manji tertawa mengenang kebaikan Neyza dan Rion.
Rui nampak senang dengan cerita Manji. Ia jadi tidak segan untuk berbicara dengannya. "Saya punya beberapa foto kita yang sempat diambil di hape Kak Rion dulu. Sengaja saya minta untuk dicetak buat kenang-kenangan. Kapan-kapan saya tunjukin, ya?" Rui kali ini yang tertawa. Berbicara dengan Manji ternyata menyenangkan.
"Seru sekali. " suara Maliq nampak berada di tengah pembicaraan Manji dan Rui. Manji menoleh ke arah Maliq. "Halo, Dokter. Baru dua minggu kita tidak bertemu, ya?" Maliq tersenyum lebar. Senang dengan keberadaan Manji. Rion sengaja memanggil Manji. Ia lalu meninggalkan Maliq dan Rui.
Apalagi ini?
(bersambung)
__ADS_1