Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 80 Terbuka


__ADS_3

Rion dan Neyza saling memandang. Apa yang barusan dijelaskan oleh Pak Ginrey adalah sebuah bom waktu yang tiba-tiba meledak diantara ketenangan hidup mereka. Ogi sedang menenangkan Regina yang tak kalah terkejut. Ia tak pernah menyangka permintaan Pak Ginrey kepadanya adalah sebuah ranjau besar untuknya yang sewaktu-waktu bisa saja meledak. Dan inilah waktunya. Baik Rion dan Regina punya perasaan yang bercampur aduk. Bersama mencoba menenangkan diri diantara mereka berempat. Suasana ruangan itu nampak sunyi untuk beberapa saat.


"Kok lu bisa Terima permintaan bokap gue?" tanya Rion memecah keheningan. "Bokap lu sama bokap gue ada acara makan malam. Ada gue saat itu. Mereka lagi memutuskan untuk kasih tongkat pimpinan perusahaan kepada anak-anak mereka. Yang pasti lu dan gue ada dalam circle pembicaraan mereka saat itu. Dalam perusahaan bokap gue, dua tahun lalu, gue juga ditimpa ujian yang kalah bikin meras keringat dan air mata. Hampir aja gue jatuh. Hidup gue juga gak karuan. Ternyata gue baru tahu, susahnya mempertahankan perusahaan gak semudah itu. Bakal ada pasang surut yang bikin kita mikir. Bahkan bisa jadi monster kalo cara kita gak tepat. Dan pada akhirnya bokap lh minta tolong gue buat uji perusahaan lu. Awalnya gue menolak, lah. Tapi bokap lu maksa. Dan gue juga banyak belajar bahwa jadi kompetitor emang kudu struggle. Kita gak bisa asal kerja dengan jatuhin orang lain. Dan jadi antagonis itu gak enak. Lu bisa bold kata-kata gue."


Rion tercengang. "Lu ada motivasi lain gak selain hal itu?" kejar Rion. "Hmm, apa ya? Gak ada. Gue cuma takut pertemanan kita jadi runyam dan gak enakan setelah kejadian ini. Gue minta maaf. Atas nama pribadi dan semua orang yang terlibat. Dan gue mau tanggung jawab untuk balikin nama usaha lu yang terlanjur buruk di mata publik," Regina menyakinkan. "Gue Terima kasih. Mungkin beda urusan kalo bukan karena bokap gue. Mungkin hubungan pertemanan kita jadi makin keruh. By the way, makasih buat Ogi yang udah kasih waktu. Mungkin kalo gak ada jeda yang lu pakai tadi bisa-bisa Regina kita bawa duluan ke kantor Polisi," Rion menjelaskan. Ogi tersenyum. "Gpp, kita berteman. Wajar kalo ada salah paham. Niat bokap lu baik kok. Mungkin caranya aja yang bikin syok. Pesan gue. Jangan marah sama bokap lu. Dia mau lu lebih kuat bertahan dengan situasi yang ada. Kita di sini bisa jadi support system lu," tegas Ogi.

__ADS_1


Neyza memegang tangan Rion. "Kita tuntasin salah paham kita di sini. Kita mulai lagi pertemanan kita dari awal lagi," Regina tersenyum. Neyza dan Ogi pun juga tersenyum. Neyza menghampiri Regina dan memeluknya. "Gak nyangka. Dapat teman baru dari cerita ini. Aku minta maaf sama kamu, Regina. Aku sempat punya perasangka buruk tentang kamu," kata Neyza. Regina membalas pelukan Neyza. "No, aku yang dari awal bersikap dingin sama kamu. Aku yang minta maaf. Hmm, boleh gak aku minta sesuatu dari kamu?" tanya Regina. "Apa itu?" Neyza memberikan ruang. "Aku lebih biasa lu gue sama temen. Hahahaha..." Nehza tertawa. "Jangan diubah. Jangan ikutin gaya bahasaku, Regina. Aku seneng kalo kamu gak mengubah apapun. Kayak sama Ogi atau Rion," Rion memeluk Ogi. "Makasih, Bro. Gak nyangka bisa ketemu di situasi kayak gini. Tapi gue yakin pertemanan ini awet sampai seterusnya. Dugaan gue sebagai teman Regina gak meleset. Dia gak sedingin itu sama gue," Rion tertawa. "Gue juga gak nyangka sampai seberani ini ngomong diantara kalian dan Polisi tadi. Keder juga sebenarnya gue. Kaki gue sempet lemes di awal tadi. Untung sepatu gue agak mahalan dikit," Ogi tertawa karena penjelasan konyolnya. "Ngaco aja nih, orang," Regina memukul pundak Ogi.


"Guys. Nanti malam kalian ada waktu? Ke rumah, ya? Aku masakin makan malam. Kita dinner bareng," kata Neyza. "Waaaa, gue suka makan makan," kata Regina. "Ah, lu, mah. Emang rakus orangnya dari dulu. Gentong perut lu," Regina memasang muka cemberut. "Enak aja. Gue on diet ya. Sekarang udah kurusan. Tapi nafsu makan gue tetep," Rion menggelengkan kepalanya. Tanda tak setuju. "Badan lu ya segitu-segitu aja. Makanya makannya banyak. Gue gak janji dia cuma habis satu piring. Sayang, masak yang banyak buat dia teman spesial kita," Neyza mengangguk. "Request apa kalian? Biar gak zonk aku masaknya," Regina berpikir keras. "Gue suka bakmie goreng," Ogi tertawa kencang. "Yaaa, gue pikir sosialita kayak lu senengnya pasta atau makanan mewah gitu. Simpel amat. Tapi gue salut. Itu baru Indonesia," kata Ogi. "Idih, Bakmie itu enak tahu," Regina melotot ke arah Ogi.


Neyza dan Rion segera pamit untuk kembali ke Kantor Polisi dan menyelesaikan perkara yang ada. Ogi masih berada di ruang kerja Regina. "Gi, makasih banget tadi mau datang. Gue gak tahu lagi kayak apa kalo gak ada lu," kata Regina. "Sama-sama. Lu berarti punya hutang sama gue," Regina terkejut. "Pamrih, lu. Padahal gue baru sadar kalo gue kayaknya bakal butuh lu lebih lama lagi?" Ogi mengangkat kedua alisnya. Penasaran. "Berapa lama emang?" tanya Ogi. "Seumur hidup gue," Ogi hanya dibiarkan tertegun dengan perkataan Regina.

__ADS_1


Malam itu, Neyza telah menyiapkan berbagai makanan. Bili dan Lisa turut membantu. "Gue pikir itu mak Lampir beneran jahat. Ternyata baik hati," tukas Bili. "Eh, jangan gitu, dong. Dia emang baik. Namanya Regina. Jangan Mak Lampir, ih. Jahat kamu, Bili," bela Neyza. "Iya, nih. Jangan suka sematin nama aneh ke orang lain," Bili memandang Lisa dengan tajam. "Tuh, kan. Entar aku punya nama lain, lagi," Bili membuat tanda X dengan dua jari telunjuknya.


Ting tong.


Suara bel berbunyi. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. Ogi dan Regina telah datang. Mereka akan bersiap untuk menyantap makan malam. "Regina, Ogi. Ini Bili, sekretaris pribadi Rion. Ini Lisa sepupu Rion. Ini Lalita dan Rui. Anak-anak kami," Regina tersenyum dan langsung menuju Lalita dan Rui. "Ya, gue dicuekin," kata Bili. "Makanya jangan manggil Mak Lampir," Regina menggendong Rui. "Apa? Mak Lampir. Oh, iya, gue pernah ketemu Bili di ruangan Rion. Maaf ya, Bili. Gue sebenarnya orang baik hati dan tidak sombong. Kemarin cuma akting aja," Bili. tersenyum. "Maaf juga kasih nama Mak Lampir. Gemes juga," Rion tertawa. "Lu, nih. Eh, Regina udah cocok tuh," kata Rion. "Ha? Apaan? Sama gue? Yaaa... combalingan, ya?" semua orang terdiam menatap Ogi.

__ADS_1


"Gue... bilang Regina cocok gendong anak gue, Gi," kata Rion dengan seribu pertanyaan.


(bersambung)


__ADS_2