
"Ikhlas?" Maliq spontan bertanya sebuah kata yang barusan dilontarkan oleh Rui. Maliq memang mengakui bahwa ia telah lama mengenal Lalita. Namun ia masih belum berterus terang tentang kabar yang tentang kedekatannya terhadap Lalita.
Rui tak menampik, ia tak punya hak untuk mengorek lebih dalam hubungan Kakaknya dan sang Kakak seniornya itu. "Oh, nggak, Kak. Maksud aku libas aja," Maliq semakin tidak mengerti perkataan Rui. "Hmm, jangan sakiti Kak Lalita, ya. Dia Kakakku satu-satunya. Kak. Udah, ya. Aku gak mau bahas lagi. Gak enak jadinya," Raut wajahnya Maliq berubah. Ada rasa sedikit penyesalan yang nampak jelas.
Mobil Maliq telah sampai di depan rumah Rui. Ia pun segera pamit untuk pulang. Rui masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang gontai. "Hai, sayang!" sapa Neyza saat Rui terlihat berjalan masuk ke ruang keluarga. Anak perempuan itu hanya tersenyum simpul dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya di lantai dua. Neyza hanya bertanya-tanya namun kembali sibuk mengurus beberapa dokumen yang ada di pangkuannya.
Rui melempar tasnya. Menenggelamkan dirinya saat ini dengan situasi hati yang sangat kacau.
Vi, kenapa sih, aku masih terus kepikiran Kak Maliq?
Pesan itu sengaja ia kirimkan kepada Levi dengan cepat. Sahabatnya itu langsung membalas pesannya itu dengan menelepon Rui.
Levi: "Kenapa emangnya?"
Rui: "Tadi aku sama Kak Lalita belanja. Terus ketemu sama Kak Maliq. Mereka ngobrol dan... Ah, entahlah. Random pikiranku."
__ADS_1
Rui seperti enggan berkomentar banyak namun ia ingin sekali meluapkan kesedihannya itu kepada Levi. Sahabatnya itu memahami. Rui mulai menaruh hati pada Maliq. Dan ketika sebuah analisis lengkap dari Rui terhadap sang Kakak tentang kedekatannya dengan Maliq merupakan sebuah jawaban yang sangat cepat uang ia dapatkan. Tak bisa ia bayangkan Rui harus mengakhiri harapan hatinya kepada Maliq. Dan Levi mulai kasihan terhadap Rui. Gadis ini sepertinya baru saja merasakan bagaimana bunga-bunga cinta kerap tumbuh berkembang saat bertemu dengan Maliq.
"Rumit, sih. Tapi kamu harus bangkit. Laki-laki gak cuma Kak Maliq aja. Banyak pria baik di luar sana yang nungguin cewek baik kayak kamu," Levi berpendapat. Ia tak sampai hati sebenarnya untuk membuat Ru berhenti menyukai Maliq. Tapi, hati memang tak bisa dipaksa. Baik suka atau pun tidak. Ia akan datang dan perego sendiri. Cinta itu akan memilih pemilihnya sendiri. Tentang siapa yang ia sukai. Dengan alasan apa pun baik yang logis atau pun di luar nalar pikiran manusia. Cinta itu menungangi kasih sayang. Menaungi banyak harapan.
Rui menutup telepon Levi. Ia sekarang duduk memeluk kedua lututnya. Tertunduk sedih dengan jawaban akhir yang akan ia ambil.
Berhenti berharap.
Rui menangis. Tak tersedu. Ia simpan rapat-rapat cerita itu. Dari siapa pun kecuali Levi. Sang Kakak tak boleh tahu. Apalagi Mamanya. Neyza sangat peka terhadap perasaan Lalita dan Rui. Mereka seperti kutub utara dan selatan. Selalu berkaitan.
Keesokan harinya, Rui menelusuri jalan di kampus. Rui sengaja mengubah penampilannya lebih feminin. Dengan baju berwarna peach, rok di bawah lutut dan scarf di tas gantung menambah kecantikan dan keanggunan Rui. Jadwal hari ini tak berlangsung lama. Ia menuju ke kelas untuk menunggu Levi seperti biasanya. "Rui!" Ia menoleh. Maliq tepat berada di belakangnya. Pria itu lebih terkejut dengan penampilan Rui yang semakin cantik. Ia hampir tak berbicara karena masih tak percaya dengan perubahan Rui.
"Kamu.. " Rui hanya diam saja. Tak mengerti maksud Maliq. "Kak!" Rui mencoba menyadarkan Maliq yang masih terdiam. Ia lalu tersadar karena panggilan Rui. "Ini, novelnya," Maliq menyodorkan sebuah novel yang ia janjikan. Rui mengambilnya. Ia merasa senang. Matanya berbinar walau hanya membaca sampul depan buku itu. "Aku pinjam ya, Kak?" Maliq mengangguk. "Harus dibalikin kapan ini?" kata Rui. Maliq tersenyum. "Gak usah. Buat kamu aja," Rui merasa tidak enak. Ia hendak memberikan uang pengganti harga buku itu. Namun Maliq bersikeras untuk menolaknya. Ia beralasan bahwa buku itu sudah tidak ada yang membaca. Sehingga Rui dapat mengadopsinya. Maliq pamit untuk meninggalkan Rui. Namun baru dua langkah ia lalu berbalik melihat Rui. Gadis itu segera sadar bahwa Maliq sedang memperhatikannya. Ia lalu membuat sebuah tanda tanya dari raut wajahnya.
"Aku mau barter suatu saat. Bukan uang. Lihat kebutuhan," Maliq menunggu jawaban Rui. Ia pun segera menunduk dan Maliq segera berpaling dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Biasanya kode kayak gini biar bisa tanya-tanya tentang Kak Lalita. Kesukaan, hobi, warna keberuntungan.
Levi dan Rui bertemu dan meraka mengikuti perkuliahan hari itu dengan baik. Keduanya tengah duduk di kantin. Sebuah pesan masuk ke telepon genggam Rui.
"Rui. Ketemu Maliq, gak?"
Rui dengan cepat membalas pertanyaan Lalita. "Iya, Kak. Tadi. Kenapa?" balasnya. Rui bertanya-tanya ada apa gerangan Lalita mencari Maliq? "Kalo ketemu tolong bilangin dicari aku, ya?" Rui membalas untuk bersedia mengabari Lalita. Gayung bersambut. Rui melihat Maliq menuju ke kantin. Ia segera berjalan menemui Maliq. Pria itu nampak terkaget saat Rui tiba-tiba berjalan ke arahnya. "Eh, kenapa? Aku pikir mau labrak," Rui tertawa karena respon Maliq yang konyol. "Sori, Kak. Barusan ada pesan dari Kak Lalita. Nyari Kak Maliq. Kayaknya penting," Maliq pun mengangguk dan segera menghubungi Lalita. Sementara Rui merasakan gejolak yang luar biasa menahan banyak godaan dan rasa pedih.
Malam itu, Lalita sedang berada di rumah Neyza. Mereka akan makan malam bersama. Seperti biasa, Lalita memang sengaja berjalan di rumah Neyza. Saat makan malam selesai. Lalita hendak menyampaikan sesuatu kepada semua keluarga.
"Ma, Pa. Kira-kira Mama Papa bisa ijinin Lalita menikah umur berapa?" Rion dan Neyza terkejut. Teh kayu manis yang baru saja diminum oleh Rion hampir saja kembali masuk ke cangkir. Neyza juga gak kalah terkejut dengan pertanyaan Lalita. Dan Rui? Kita bisa menebak ia masih bertengkar dengan hatinya. Ada yang diperebutkan antara membiarkan dan patah hati teramat dalam.
"Menurut Papa. Berapa pun umur kamu. Yang penting kamu sudah cukup desa untuk mandiri secara keputusan dan tingkah laku. Go on. Papa kasih kamu ijin," kata Rion. Sementara Neyza, "Hmm, kalo Mama, ya, Ta. Walau pun ada standar kayak gitu. Mama pinginnya sih kamu selesaiin dulu kuliah kamu. Baru deh kamu menikah. Tapi, dengan seleksi calon yang ketat dari 2 Mama dan 2 Papa, ya?" Lalita nampak keheranan. Jawaban keduanya hampir sama seperti Hani dan Tito katakan. Sementata ketiganya sedang berargumen tentang pernikahan, ada satu orang yang rasanya ingin berlari meninggalkan meja makan itu.
Hati Rui kembali diuji.
__ADS_1
(bersambung)