Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 51 Tinggal berdua


__ADS_3

Heri sudah duduk di ruang tamu. Neyza dan Rion juga duduk bersama.


Rion: "Ada yang bisa gue bantu? Lu sama sapa kesini?"


Heri: "Gue sendirian. Gue mau minta maaf sama Lu dan istri lu."


Rion: "Sayang ini Heri, adiknya Hani."


Neyza hanya mengangguk.


Heri mengambil napas untuk berbicara panjang lebar.


Heri: "Gue emang gak ngerti apa-apa tentang persengkokolan keluarga gue karena gue di luar negeri selama setahun buat pilihin diri dari kecelakaan. Gue datang karena dapat kabar kalo Hani nikah sama lu. Gue baru datang dari bandara saat lu juga datang ke rumah waktu itu."


Rion dan Neyza menyaksikan dengan seksama.


Heri: "Gue juga tahu kalo Hani hamil. Nyokap bilang itu sama pacarnya. Dia gak mention Tito atau nama lu, Rion. Dan pada saat lu datang. Gue pikir emang itu anak lu. Sampai akhir gue tahu waktu kejadian gede Hani kabur dan ada peti jenazah. Gue disuruh nyokap diam karena ada masalah penting yang harus diselesaikan. Gue juga gak yakin kenapa mereka sampe harus bikin drama kayak gini."


Rion: "Jadi bener lu gak ngerti sama sekali?"


Heri: "Nyokap sama Hani pasti tahu kalo gue bisa aja paling kontra dengan hal-hal licik kayak gini. Dan gue sengaja disuruh di luar negeri selama setahun itu untuk membiarkan mereka rencanain ini semua."


Neyza: "Terus tahu kalo Hani lahiran gimana?"


Heri: "Gue tahu waktu gue mau balik lagi kuliah S2 di Malaysia. Gue ditelepon bokap kalo Hani udah lahiran. Gue seneng-seneng aja. Karena gue pikir itu udah jalan mereka kayak gitu. Tapi gue kaget waktu mereka masuk penjara. Gue langsung hubungi pengacara. Dan ke kantor polisi untuk tahu apa yang terjadi. Dan gue ketemu teman lu, Bili."


Rion terkejut.


Heri: "Dia udah cerita semuanya. Sekali lagi gue disini mewakili keluarga gue. Dengan drama apapun yang mereka buat. Gue minta maaf."


Heri perlahan menerima telepon ia berdiri dan segera keluar. Kemudian ia masuk lagi.


Rion: "Ada kabar dari keluarga lu?"


Heri: "Bukan keluarga inti. Tapi dari Tante Gue. Semenjak Bokap Nyokap dan Haniasuk penjara. Lalita, anak Hani, sendirian. Babu sitter dan asisten rumah tangga pada resign. Keluarga pada ngucilin gue dan lainnya. Jadilah Lalita sama gue. Tadi ini gue titipin bentar ke Tante gue. Gue sedikit maksa. Gak mungkin gue bawa dia ke sini. Tante gue mau pergi. Jadi gue harus balik."


Rion: "Kuliah lu gimana?"


Heri: "Gue cuti setahun buat jagain Lalita dulu. Gak tahu lagi ke depannya."


Rion: "Gue minta nomor telepon lu."


Heri segera memberikan nomor teleponnya kepada Rion.


Heri pamit, berdiri dan menyalami Rion. "Lu orang baik, Rion. Keluarga gue yang jahat." Rion menepuk pundak Heri. Secepatnya Heri pergi untuk menemui Lalita.


Neyza dan Rion duduk di ruang tamu. Mereka dian. Entah apa yang dipikirkan.


Rion: "Cuma seorang doang di keluarganya yang hatinya bersih."


Neyza: "Hus. Gak boleh gitu. Smeua orang ada sisi baik dan buruk. Kamu gak bisa generalisasi semua orang dengan dominan sifatnya."

__ADS_1


Rion: "Jadi lu mikirnya gitu?"


Neyza: "Gak. Aku mikir anaknya Hani. Heri jadi jagain. Rumah sebesar itu dia yang rawatin. Susah banget."


Rion: "Jangan bikin ide yang gak-gak, ya?"


Neyza: "Aku mikir aja kalo Heri gak kuliah, dia gak bisa nolongin keluarganya. Dia harus cari istri buat ngerawat Lalita."


Rion: "Kabarnya rumah besar itu disita. Semua aset keluarga juga."


Neyza: "Terus Heri sama Lalita tinggal dimana?"


Rion menggelengkan kepalanya.


Rion: "Udah ayo siapin baju-baju. Malam aja kita ke kontrakan."


Rion dan Neyza berjalan ke kamar mereka.


....


....


....


Malam itu, Neyza dan Rion pergi ke kontrakan dengan diantar oleh supir rumah Neyza. Setelah mengantarnya, mobil dan supirnya tersebut kembali pulang. Rion dan Neyza kembali berada di rumah kontrakan Rion.


Rion: "Kamu mau makan apa? Bentar lagi Bili anter sepeda motor ke sini."


Rion: "Berubah!"


Neyza hanya terkekeh melihat suaminya yang betul-betul ingin mengubah dirinya.


Neyza: "Iya iya. Tapi lucu aja."


Rion: "Lagian biar sama lah. Masa kamu yang manggil lu gue juga."


Neyza: "Yaudah.Terserah kamu aja."


Rion: "Ini masak dulu apa beli makan aja?"


Neyza mengeluarkan semua bahan belanja yang baru sana mereka beli. Menata rapi di kulkas.


Neyza: "Kamu keburu lapar, gak? Kalo belum laper mending aku masakin aja."


Rion: "Masak, gih. Belum laper kok."


Neyza menggangguk. Sepuluh menit Neyza menyiapkan makanannya. Sembari memasak, ia berpikir. Sesuatu yang ia simpan dari semenjak kepulangan Heri tadi.


Neyza: "Rion."


Rion: "Heem."

__ADS_1


Neyza: "Andai kita bantu Heri nyelesaiin kuliahnya sampai dia dapat kerjaan dan bisa hiring babu sitter terus... "


Rion: "Aku juga mikir gitu. Mau ngomong sama kamu juga sungkan. Takut gak mau," Rion memutus kata-kata Neyza sambil berjalan ke dapur.


Neyza: "Paling gak. Saat keluar dari penjara, keluarganya gak luntang luntung. Bingung ke mana. Keluarga besar pada ngucilin. Mungkin dari tangan Heri mereka punya kehidupan yang layak dan lebih baik."


Rion: "Kenapa kamu mau nolongin mereka? Keluarga mereka kayak monster yang mau jatuhin keluarga kamu, kan?"


Neyza menaruh pisaunya. Ia menatap Rion. "Gak ada yang mau jadi pahlawan diantara kita, kan? Tapi setidaknya kita nunjukin ke diri sendiri kalo kita gak seperti mereka."


Rion mengangguk. "Kamu yakin?" Neyza tersenyum. "Aku yakin. Kamu?" Rion berpikir. "Ragu."


Neyza melanjutkan memasak. "Ya kalo ragu gak usah, sih. Toh hitung-hitung pahala sama latihan kalo punya anak nanti."


Rion memeluk Neyza. "Ah, enak ya ada lampu hijau gini." Neyza menolak pelukan Rion. "Awas pisaunya kemana-mana." Rion mundur dengan seribu langkah sambil terkekeh.


Rion: "Aku hubungi Heri, ya? Coba tawarin tadi."


Neyza: "Iya."


Tak berapa lama Neyza sudah siap dengan makanan yang sudah matang



Rion tersenyum lebar. "Waaaa.Istimewa sekali."


Neyza memulai untuk makan makanan di piringnya. Rion memegang tangan Neyza.


Rion: "Aku boleh yuyur?"


Neyza: "Jujur, ah."


Rion: "Iya itu."


Neyza: "Apaan?"


Rion: "Kenapa makin hari kadar persentase cinta aku sama kamu kok makin naik?"


Neyza: "Ih, gegara dibikinkan makanan doang?"


Rion: "Kata nasihat-nasihat gitu. Masakan itu salah satu penambah cinta, lho."


Neyza hanya mengeluarkan lidahnya. Tak percaya.


Rion: "Ya kan duit belanjanya jadi irit, Ney."


Neyza: "Jangan boros. Makanan dimasak sendiri lebih murah dan sehat."


Rion: "Iya, chef."


Rion dan Neyza segera menghabiskan makan malam mereka berdua. Sementara Rion menunggu pesannya dibalas oleh Heri.

__ADS_1


"Her, gue ada perlu sama lu. Kapan bisa ketemuan? Ajak Lalita sekalian."


__ADS_2