Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 15 Pilihan Sulit


__ADS_3

"Hani..", lisan dan batinnya berkata bersamaan. Rion tak percaya dengan foto yang ia lihat. Perempuan itu adalah seseorang yang ia banyak menaruh hati dan cintanya tertolak.


Neyza : " Dari ekspresimu, kamu kenal. Aku cuma mau mastiin, Rion. Aku gak akan menyakiti cewek ini. Tapi setidaknya bila mungkin kasus ini berkembang, info ini bisa sampai ke pihak yang lebih berwenang untuk dipanggil sebagai saksi."


Rion : "Namanya Hani." Wajahnya sendu.


Neyza : "Aku harap dia orang baik."


Rion menghela napas panjang. "Rencana lu apa, nek?"


Neyza : "Mantau. Sejauh mana Hani bantu Papanya. Tim pengacara juga Detektif sudah simpan beberapa bukti."


Neyza menghabiskan makanannya. Sementara Rion berpikir keras melawan hatinya yang masih belum menerima kenyataan bahwa Hani ikut terseret dalam kasus besar seperti ini. Hani adalah perempuan baik yang ia kenal sejak 2 tahun terakhir. Dia juga bukan orang yang tak terpandang. Mengapa ia dan Ayahnya malah menjadi sorotan besar? Rion masih mencerna namun tak berhasil membuatnya merasa puas.


Neyza : "Rion. Makasih infonya."


Rion tak menjawab. Ia lalu berdiri dan pamit kepada Neyza untuk segera kembali ke rumah.


Rion : "Gue balik, nek. Makasih makanannya."


Neyza menjawab seadanya sambil membersihkan makanan yang ada di karpet. Weni masuk ke dalam rumah. Tahu bahwa Rion sudah tidak ada di rumah Neyza. Bili pun mengikuti Rion yang masuk ke rumah.


Bili yang melihat sahabatnya sedang terdiam nampak bertanya-tanya. "Bre, kok diem? Diomelin Neyza?." Yang ditanya hanya menghela napas. "Tadi nenek cerita kalo ada orang sama anaknya ikutan main di kasus Papanya Neyza. Informan sudah cari tahu dan lu tahu sapa anaknya, bre? Hani. Yang kemarin gue tembak di restoran terus ditolak mentah-mentah. Gimana gak syok gue? Gak nyangka. Gue masih belum menerima kalo ini nyata. Ini mimpi gak sih?"


Bili : "Gue bantu tabok, ya?"


Rion memegang pipi kanannya yang masih nampak melamun.


Bili : "Gue paham. Dan sekarang posisi lu sulit menurut gue, bre. Lu awalnya bantu Neyza. Niatan lu kuat karena lu kasihan emang pingin bantu. Tapi kenyataan pahitnya, Hani ikut dalam masalah ini. Andai kata nih, bre. Andai aja. Hani ikut jadi tersangka terus naik jadi terdakwa. Lu juga wajib kasihan sama dia. Gue gak ngerti lu sekarang dihadapin dua pilihan atau gak. Tapi saran gue. Ikutin kata hati."


Rion : "Nha itu. Jago lu baca perasaan gue. Ini yang tadi gue mikir. Jadinya gimana ini? Jadi bantu Neyza apa gak? Bisa aja gue mundur toh Neyza gak tahu gue bantu dia dari Pak Handika dan timnya yang jitu. Tapi gue juga kasihan sama Neyza. Walau nyebelin, dia patut dibantu."


Bili : "Alasan lu apa bantu Neyza. Lu gak kenal juga sama dia. Diomelin mulu."


Rion : "Mungkin gue pingin diomelin terus sama dia."

__ADS_1


Bili : "Nha fix lu mulai nada perhatian sama dia."


Rion : "Kalo gue suka sama dia ngapain gue nembak Hani, siomay kuah."


Bili : "Iya juga ya. Kenapa gue gak mikir gitu?"


Rion : "Kalo lu mau bantu orang, minimal jangan nunggu lu suka sama dia. Ikhlas, big bre."


Bili : "Tapi nih ya. Tapi. Andai lu suka juga sama Neyza gue setuju-setuju aja."


Rion : "Maksud lu, kipas angin kosmoz?", tanya Rion penasaran.


Bili : "Lu berdua udah megang dunia. Baik. Gue ngerti lu. Lu bukan orang kaya barusan aja yang suka hamburin uang dan pingin dunia tahu kalo lu mentereng. Lu tamvan, Neyza cantik maksimal. Keturunan kalian bibit unggul manusia yang selama ini diidamkan hooman kayak gue dan yang lainnya."


Rion : "Kayak emak-emak ghibah sama tetangga lu ya. Analisis lu kebangetan. Udah ah. Gue gak mikir itu dulu. Gue masih bingung. Yuk beli kopi."


Bili : "Woke bre. Kopi Janji sehidup semati ya. Ada promo."


Rion : "Heh.. beli kopi sachetan. Habis di dapur. Hemat napa sih, lu? Yuk cus."


Bili dan Rion keluar ke sebuah warung.


Weni : "Ada kabar baru?"


Neyza : "Laporannya dicabut oleh pelapor."


Weni : "Dicabut? Kok bisa?"


Neyza : "Aneh emang. Yang penting sekarang bisa kembali lagi."


Weni : "Aku gak pingin merusak kebahagiaanmu kali ini, Ney. Cuma ini aneh banget. Laporin penipuan yang nilainya fantastis, tapi tiba-tiba hilang gitu aja? Yakin gak ada apa-apa?"


Neyza mengerutkan dahinya. Ia juga setuju dengan pendapat Weni. Kali ini ia tidak boleh lengah. Neyza menutup matanya. Lelah rasanya hari ini. Namun ada sebersit jalan keluar yang semakin besar, rasanya.


Rion dan Bili menuju kampus. Sebuah tugas besar dari dosen pembimbingnya menanti. Rion menuju ruang dosen dan menemui Bu Sari, wakil Dekan yang juga menjadi dosen pembimbingnya.

__ADS_1


Bu Sari : "Rion, Judul skripsimu saya rasa lebih baik bila dibandingkan dengan ekonomi menengah ke atas. Hanya sebagai pembanding saja. Tapi kalo kamu gak mau. Ya sudah fokus ke usaha kecil saja."


Rion : "Baiknya Bu Sari saja. Saya usahakan kedua pendapat tadi kalo memang baik untuk dipelajari."


Bu Sari : "PT. Ganda Merdeka sedang berkembang saat ini. Wilayah jangkauan propertinya juga luas. Saya malah ingin kamu ke sana untuk sekalian magang."


Rion : "PT. Ganda Merdeka sepertinya saya punya kenalan, Bu. Apa saya coba kesana saja?"


Bu Sari : "Surat bisa dari kampus. Reputasi kampus di PT. Ganda Merdeka sangat bagus. Jadi kemungkinan kamu bisa dipertimbangkan dengan cepat."


Rion tersentak. Pikirannya tiba-tiba mendatangkan sebuah ide. Ia baru sadar bahwa PT. Ganda Merdeka adalah salah satu usaha milik Ayah Hani. Ia pun sengaja memutuskan ke sana bukan karena urusan materi skripsi saja. Tapi ia juga ingin tahu mengenai hubungannya dengan kasus Papa Neyza. Ia yakin pasti ada hubungan antaranya.


Rion pamit dan keluar menuju kantin kampus tempat Bili menunggu. Rion masih memesan makanan di sebuah tempat makan. Ia masih mencari keberadaan Bili. Ia lalu terdiam. Matanya menemukan Bili sedang duduk. Namun yang membuat ia terkejut adalah seorang perempuan yang duduk bersama Bili. "Hani.", batinnya.


Rion lalu membawa makanan yang ia pesan ke meja tempat Hani dan Bili duduk. " Hani. Tumben ke kantin. Sama siapa?", Rion memulai sapaan agar tak menjadi kaku dan ketahuan.


Hani : "Hai, Rion. Iya kebetulan lewat Kantin. Mau beli minum. Ketemu Bili."


Rion : "Gimana skripsi?"


Hani : "Buntu nih. Masih belum maju sidang proposal. Belum dapat ide judul juga."


Rion : "Ini juga lagi disuruh magang lagi sama Bu Sari buat laporan keuangan usaha besar."


Bili : "Lha.. ruwet nih dengernya. Dimana emang, bre?", sahut Bili.


Rion : " PT. Ganda Merdeka."


Hani : "Looh. Kantor Ayahku."


Rion : "Eh. Masak sih? Bukannya PT. Terunggul Jaya?"


Hani : "Yang Ganda Merdeka itu kan yang properti."


Rion : "Waaa, bisa nanya-nanya kamu dong, Hani."

__ADS_1


Hani : "Coba nanti aku hubungin Kak Jeremi. Dia bisa bantu kamu selesaiin laporan yang kamu butuhin."


Rion tersenyum. Ia tahu ada sesuatu yang besar menantinya.


__ADS_2