Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 36 Beda


__ADS_3

Tito tergeletak dengan luka di lengan kanannya. Ia terjatuh dan merintih kesakitan. Hani berteriak. Polisi dan Detektif tadi masuk melalui pintu penghubung kamar, sedangkan Polisi yang tadi sudah ada di Lobi juga turut masuk mendengar suara tembakan. Tangisan anak Hani menggelegar karena terkejut dengan keributan yang ada.


Hani: "Tito.. Titoo..."


Polisi: "Telepon ambulans. Pak Rion, kami telah memanggil rekan yang lain untuk mengurus ini. Bapak dan Ibu dimohon ke kantor untuk memberikan penjelasan."


Rion: "Saya segera ke sana sekarang, Pak."


Neyza yang hanya melihat Tito nampak tak percaya. Tito yang selama ini ia kenal menjadi orang yang baik dan terpandang, rupanya membawa sebuah misi penting yang jauh dari kata baik. Neyza sempat menitikkan air mata. "Kamu orang baik, To. Harusnya gak kayak gini." Rion berada di dalam mobil bersama Neyza. Mereka hanya terdiam. Suara arahan dari GPS mobil untuk mengarahkan mereka ke kantor Polisi adalah satu-satunya suara yang terdengar di dalam mobil.


Rion: "Lu gak papa, nek?" Rion melirik Neyza.


Neyza: "Syok," jawabnya singkat.


Rion: "Apalagi gue. Setahun lalu Hani adalah istri gue. Dan ternyata gue ditipu dengan elegan begini. Bakat banget dia sama keluarganya jadi penjahat bareng-bareng."


Neyza: "Tito juga orang baik. Gak pernah putus kebaikannya. Yang bikin aku sebel karena dia bantuin Hani buat hancurin keluargaku."


Rion: "Ya udah, Nek. Semoga cepat kelar masalah ini."


Neyza hanya menatap ke luar jendela.


Tiga jam lebih Rion dan Neyza berada di kantor Polisi. Akhirnya mereka dipersilahkan pulang. Nasib Hani dan Tito akan ditentukan setelah Tito keluar dari rumah sakit.


Rion: "Yuk, pulang. Gue anter."


Neyza: "Gak usah. Weni sudah datang jemput."


Rion: "Oh, gitu. Yaudah gue balik ke Hotel dulu. Makasih ya, Nek."


Neyza tak membalas salam perpisahan Rion. Ia malah mempercepat langkahnya menuju mobil. Weni menyambutnya dengan penasaran.


Weni: "Kamu gak papa, Ney?"


Neyza hanya menutup matanya. Menyandarkan tubuhnya ke kursi seakan-akan penat panjang hari ini. Malam ini mungkin ia tak bisa tidur. Berita besar nampaknya sudah akan terpublish. Baik ke keluarga Neyza, Rion, keluarga Tito dan Hani. Semua terkuak hanya dalam semalam. Makan malam yang harusnya menjadi waktu yang menyenangkan, malah berubah menjadi kejadian fatal. Neyza menghela napas panjang. Ia merasa bersyukur bahwa masalah ini akan segera berakhir. "Kita gak pulang dulu, yuk? Keliling kota aja," Weni mengangguk menuruti keinginan Neyza. Sepanjang perjalanan Neyza menceritakan semua yang terjadi hingga Weni terkejut. Cerita ini masih segar dalam ingatan Neyza hingga merasa harus membaginya dengan Weni. Sedangkan sahabatnya itu dengan sabar mendengarkan dengan penuh penasaran.


Keesokan paginya, Weni dan Neyza sedang menghabiskan sarapan mereka. Sebuah pesan masuk ke ponsel Neyza.


Rion: "Lu di Hotel mana? Gue samperin, ya? Ada yang mau gue omongin."


Neyza tak bereksprepsi.

__ADS_1


Weni: "Rion?"


Neyza mengangguk.


Weni: "Kamu boleh reject dia, Ney. Kalo kamu memang belum siap. Tapi tak memberikan jawaban bukan hal yang bijak."


Neyza: "Dia mau ketemu. Gak tahu mau omongin apa."


Weni: "Kamu masih suka sama dia?"


Neyza: "Harusnya nggak."


Weni: "Kalo gitu kamu pikirin baik-baik. Mau membuka diri sama dia atau hempaskan semua. Tanya hati kamu."


Neyza: "Aku gak tahu jawbannya, Wen."


Weni: "Berarti kamu masih berharap Rion juga terima hati kamu."


Neyza: "Ha? Nggak"


Weni: "Neyza. Aku sudah jadi sahabatmu bukan setahun dua tahun."


Neyza menarik napas dalam-dalam. "Ya udah, aku temui dia. Kita lihat mau dia apa."


Rion: "Polisi sudah telusuri kalo mereka memang punya upaya hancurin Bokap lu. Selama ini Bokap Hani emang gak suka sama Bokap lu sejak lama. Lu gak pernah tahu?"


Neyza menggeleng. "Lebih baik gak tahu. Kalo tahu udah lama dia habis."


Rion: "Oia lu kan jago bela diri, ya?"


Neyza: "Bukan masalah itu. Tapi karena lebih mudah melacak musuh yang kelihatan daripada yang sembunyi-sembunyi."


Rion: "Iya juga, sih."


Neyza: "Sekarang rencana kamu apa? Aku uda kasih detailnya semua ke Polisi dan tim pengacara dari Jakarta juga sudah datang barusan. Aku udah gak ada urusan lagi."


Rion: "Sama gue belum selesai, Nek. Lu balik kapan?"


Neyza: "Gak tahu."


Rion: "Kok lu jadi beda ya setahun ini?

__ADS_1


Neyza: "Kamu yang banyak berubah. Jadi kayak..."


Rion: "Iya gue cukur nih demi lu."


Neyza: "Aku gak minta apa-apa dari penampilan kamu, Rion."


Rion: "Ada satu yang bikin gue penasaran waktu gue tahu lu bagi-bagi hadiah ke tetangga waktu pamit dan hilang kayak ditelan bumi. Lu kenapa? Masalah Bokap lu?"


Neyza: "Iya"


Rion: "Tapi kenapa nomornya gak aktif dan gue susah hubungi lu? Gue ada salah gak sih sama lu, Nek?"


Neyza: "Gak ada. Emang aku pingin punya kehidupan baru aja."


Rion: "Kita juga baru kenal. Masa lu mau lupain gue sama Bili juga?"


Neyza: "Kita ketemuan cuma mau bahas ini aja?" Neyza mengelak.


Rion: "Gak. Gue kan cuma penasaran."


Neyza: "Rion. Aku pergi dulu, ya?" Neyza berdiri untuk segera pulang meninggalkan Rion.


Rion hanya diam. Neyza berjalan disampingnya. Tangan Rion memegang tangan Neyza. Ia lalu berdiri. Menatap mata Neyza. "Gue bakal ada dimana pun lu berada. Jangan menghindar dari gue, Neyza."


Neyza terkejut mendengar perkataan Rion. Namun ia menahan semuanya. "Kamu hati-hati di jalan." Neyza melepaskan tangan Rion dan segera pergi meninggalkan Rion. Pria itu hanya bingung melihat Neyza yang nampak berbeda sejak pertama kali bertemu setelah sekian lama menghilang. Rion sadar, ada yang berubah dari Neyza.


Neyza menelepon Weni untuk segera pergi ke Bandara, "Aku udah pesen tiket. Mau lihat perkembangan kasus ini di Jakarta sama Mama sama Papa. Yuk buruan. Aku uda beli tiket. tiga jam lagi peswatnya take off. Weni dengan cepat merespon perkataan sahabatnya dan segera merapikan barang bawaannya dan segera pergi ke Bandara. Weni dan Neyza sudah berada di ruang tunggu. Mereka sedang menunggu panggilan untuk segera naik ke dalam pesawat. "Yakin kamu sama keputusan ini?" tanya Weni. "Aku harap gak ketemu lagi sama Rion,"  ucap Neyza pelan.


Weni: "Aku gak yakin."


Neyza: "Kenapa nggak?"


Weni: "Kalo takdir bikin kalian malah jadi satu. Kamu gak punya kekuatan apa-apa buat nolak dia."


[Panggilan untuk segera memasuki pesawat]


Neyza duduk bersama Weni di dua tempat duduk di kelas bisnis. Para penumpang lain juga mulai masuk.


"Lho, balik Jakarta juga?" seseorang berkata.


"Rion!"

__ADS_1


 


 


__ADS_2