Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 19 Kita gak apa-apa


__ADS_3

Manji dihampiri ibunya yang kebetulan melewati jalan yang mereka lewati. Neyza yang menyadari hal itu langsung berinisiatif membantu Rion mengejar pencuri itu. Dan beberapa warga yang juga melihat situasi tersebut saling memanggil dan ikut mengejar.


Rion mengejar pencuri itu melewati gang kecil. Melewati beberapa rumah dan orang-orang yang sedang lalu lalang. Rion hampir kehilangan pencuri itu karena ia melompati sebuah pagar tembok. Ia sedikit terpeleset jalan yang licin karena berlumut. Rion sudah berlari jauh dan ia tak melihat pencuri itu. Ia sekarang berada di ujung jalan. Tak ada jalan lain. Ia sekarang berada di jalan buntu. Situasinya sangat gelap. Ia hanya melihat sebuah lampu yang nampak redup. Di sekitarnya banyak kayu palet berantakan. Rupanya jalan ini sengaja untuk menumpuk kayu-kayu yang tak dipakai lagi.


Rion melihat sekitar. Mungkin pencuri tadi sudah lari. Ia tadi hampir kehilangan jejaknya pria tadi. Tapi ia menyadari bahwa jalan ini mungkin tak dilewati. Rion memasrahkan ponselnya yang hilang. Toh ia bisa membeli lagi. Semua file penting sudah tersambung pada email. Ponsel itu terkunci otomatis. Ia bisa menelepon pihak bank untuk memblokir akun mobile banknya. Ia kembali berjalan. Ia akan menuju ke rumah kontrakannya.


Bruuuk.


Badan Rion tumbang. Pencuri tersebut ternyata bersembunyi di gelapnya tempat itu. Ia membawa sebuah kayu panjang dan memukul pundak Rion saat ia tidak melihatnya. Rion tersungkur. Ia lalu mencoba berdiri, sebuah hantaman kayu tadi mengenai kakinya. Rion sedikit merintih. Ia tahu bahwa dengan begitu Rion tidak bisa bangun dan mengejarnya. Sang pencuri ingin melayangkan lagi pukulan kayunya. Dan saat itu ia berniat untuk memukul kepala Rion agar ia tidak sadar. Jejaknya jelas hilang karena tak mungkin dikenali oleh Rion. Kayu itu dibuatnya naik ke atas. Dengan ancang-ancang yang kuat sebentar lagi Rion tak bisa menghindar.


"Aaaaaaargh", suara pencuri itu jelas-jelas terdengar sangat kuat. Seseorang yang tidak begitu jelas di mata Rion nampaknya berada di pihak Rion. Orang itu lalu berjalan mendekati sorot lampu. "Neyza," Kata Rion. Pencuri tersebut kesakitan karena sebuah tendangan kuat Neyza. Kini ia bangkit dengan penuh amarah. Seorang perempuan tak mungkin mampu membuatnya menyerah. Hati kecil pencuri itu membuatnya ingin menghabisi Neyza. Seketika ia berlari ke arah Neyza dengan sebuah pukulan di tangannya. Dengan sigap Neyza hanya menyerongkan badannya sedikit sehingga pukulan itu tak mengenainya. Tangan Neyza lalu memang tangan pencuri dan kakinya menyilang seakan-akan hendak menjegal pencuri tersebut. Berhasil. Pencuri tersebut terjatuh. Neyza pun masih mawas dengan pria tersebut. Ia mendekati Rion. Selangkah demi selangkah. Pencuri tadi lalu bangkit dan membawa kayu disebelahnya. Ia lalu mengayunkan kayu tersebut ke arah Neyza dan akhirnya Neyza memahami gerak gerik pencuri itu kemudian menghindar. Neyza pun menendang paha dan menjatuhkan kembali sangat pencuri itu. Kini, pencuri tersebut kesakitan. Ia hanya tersungkur sambil memegang pahanya. Tak lama suara ramai menghampiri mereka. Seorang satpam dan beberapa orang terlihat mendapati mereka. Mereka tahu bagaimana kejadian awal dari Manji yang berteriak. Lalu mereka mencoba mencari keberadaan Neyza, Rion dan pencuri tadi.


Mereka segera menangkap pencuri itu. Dua orang pria bertubuh besar membopong Rion untuk segera keluar dari tempat itu. Neyza meminta tolong untuk dipanggilkan taksi dan segera membawa Rion ke rumah sakit. Tak berselang lama. Rion dan Neyza berada di UGD sebuah rumah sakit. Rion diperiksa oleh perawat sedangkan Neyza sedang mengisi kelengkapan formulir rawat inap Rion. "Kalo ada kelas VIP. Saya mau Rion dirawat di kamar yang lebih besar." Petugas pencatat administrasi segera mencari kamar inap untuk pasien baru tersebut. Selang 1 jam, Rion segera dipindahkan ke ruangan tempat ia beristirahat.


Malam itu sudah pukul 9.37. Rion dibawa oleh dua perawat. Setelah masuk ia duduk di tempat tidur. Para petugas memberitahu fasilitas yang ia dapatkan. Mulai dari sofa tamu, tempat tidur penunggu, makanan untuk penunggu, kamar mandi dalam dan air hangat. Ia juga melihat ada bunga cantik yang menghiasi kamar itu.



Kamar yang tak biasa tentunya. "Mas. Untuk makanan penunggu tidak usah dikirim karena ada kiriman dari rumah." Perawat tersebut mengangguk lalu meninggalkan Rion. Bersamaan dengan itu Neyza pun masuk ke ruangan Rion. Ia segera masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan segera keluar. Neyza mendekati tempat tidur penunggu dan merebahkan badannya.


Rion : "Gila lu, nek. Tadi itu bahaya."


Neyza : "Apanya?" Neyza pura-pura tidak tahu.


Rion : "Tapi kalo gak ada lu. Gue bisa lebih parah dari ini. Makasih."


Neyza : "Hem...", Neyza berusaha menutup mata.

__ADS_1


Rion : "Gue jadi takut sama lu. Bisa-bisa gue dihabisin gara-gara sering usil sama lu."


Neyza : "Apaan sih? Aku capek tahu. Kamu gak istirahat?"


Rion : "Dapat duit darimana lu sampek ruangan gue kelas atas banget? Jangan ngutang lho." Rion mencoba tak tahu juga. Ia tahu Neyza mampu membayar seluruh gedung rumah sakit ini bila mau.


Neyza : "Cerewet ah."


Rion : "Gue berhutang sama lu. Ingetin gue."


Neyza : "Impas. Martabak tadi aku bayar sama ini." Neyza lalu menutup mata dan tertidur saking lelahnya.


Rion hanya tersenyum simpul. Ia melihat banyak hal baik dalam diri Neyza. Kini ia tahu Neyza tidak hanya besar di keluarga berada. Ia satu dari sekian orang yang ia temui. Ia berbeda.


Rion : "Lu baik, sayangnya.... Iler lu banyak. Hiiiih...", Rion melihat air yang keluar dari mulut Neyza yang Tertidur pulas.


Pagi hari, pukul 8.00 Neyza bangun dengan keadaan yang bugar. Ia baru sadar bahwa ia di rumah sakit. Ia lalu ke kamar mandi dan keluar. Ia lalu mencari keberadaan Rion. Rion duduk di tempat tidur sambil melihat televisi.


Neyza : "Kamu uda makan?"


Rion : "Uda dari tadi. Nho lu yang gantian makan."


Neyza lalu menoleh ke arah meja di dekat sofa. Sebuah tempat makan yang masih tertutup menantinya dengan sebotol jus yang nampaknya masih baru dikirim.



Neyza : "Ini makanan rumah sakit? Kok cantik?"

__ADS_1


Rion : "Itu makanan katering gue. Gue bilang kirim ke sini buat lu. Gak usah protes cepet di makan."


Neyza : "Oooh.. Iya udah bayar soalnya. Aku makan dulu deh." Neyza lalu memakan makanan yang disiapkan untuknya.


Rion : "Gue udah hubungi Bili sama Weni bawa baju kita. Lu nanti bisa pulang sama Weni. Biar gue sama Bili aja."


Neyza : "Heem." Neyza menggerutu sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Tak berapa lama, Weni dan Bili datang bersamaan. Mereka lalu menemui Rion.


Bili : "Lu gpp, bre?"


Rion : "Tumben perhatian."


Bili : "Duh gimana ceritanya sih?"


Rion berusaha menceritakan detail kejadian yang dialaminya. Sedangkan Weni duduk di sebelah Neyza.


Weni : "Habis ini ganti baju ya."


Neyza mengangguk. Sebuah pesan masuk.


Bu Dewi : "Mbak Neyza. Ini pagi tadi rumah mbak Neyza pintunya kebuka. Terus ibu masuk ke dalam. Rumahnya berantakan. Maling kayaknya."


Deg.


"Bukan. Bukan Maling." Batin Neyza.

__ADS_1


__ADS_2