
Petang itu, Rion dan Tante Manda membawa Neyza ke sebuah klinik untuk mengobati luka-lukanya. Beberapa pasien sedang mengantri. Rion tengah mengisi data Neyza sedangkan Tante Manda sedang menemani Neyza. "Sekarang masih sakit?" tanyanya. "Masih, Tante. Oh iya, tadi kok tiba-tiba Tante ada di jalan itu?" Tante Manda menyandarkan punggungnya. "Tante khawatir sama kamu, Neyza. Tiap ada yang pergi sendiri, Tante pasti mulai panik. Karena dulu, anak Tante yang pertama, Puan, gak kembali setelah pergi ke sebuah toko roti," Neyza menatap Tante Neyza. "Maksudnya gak kembali?" Tante Manda berusaha menceritakan sebuah kenangan pahit itu pada Neyza. "Ia diculik dan dibunuh. "Astaga!" Neyza hanya diam mendengarkan. "Sudah lama. Sekitar sebelas tahun yang lalu. Saat dia masih di sekolah menengah pertama. Kami sempat tinggal di Thailand. Karena saat itu ramai ada kasus penculikan remaja.
Neyza memegang punggung Tante Manda. " Maaf, Tante. Jadi cerita sedih gini," Tante Manda sedikit mengangkat kepalanya. "Gak papa, Ney. Makanya kemarin itu Tante buntuti kamu. Takut ada apa-apa. Waktu kamu mau diserang pemabuk itu, Tante ingat wajah Puan," Tante Manda mengeluarkan air mata. Neyza dengan cepat merangkul Tante Manda. "Udahan, dong, Tante. Jadi sedih, kan? Ayo, semangat lagi!" Tante Manda mengusap air matanya. "Hei, ada apa ini pake acara nangis? Uda disuruh masuk, yuk."
Satu jam kemudian Neyza sudah selesai diperiksa dan segera pergi. "Kita cari tempat makan dulu, ya? Kita belum makan malam," kata Rion. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah restoran Indonesia yang ada di Tokyo. "Kangen Nasi uduk. Yuk." Ketiganya duduk bersama.
Makanan yang mereka pesan telah datang. Rion segera melahap Nasi uduk yang ia ada di depannya. Ponsel Rion berdering. "Halo, Heri. Gimana kabar lu? Sori gue gak sempat hubungi lu. Masih sibuk rapat di Jepang. Ini Lalita gue ajak juga. Aman," Rion berbicara dengan Heri. Sementara Neyza mulai memakan makanan yang ia rindu semenjak ada di Jepang.
"Ney," kata Tante Manda. Neyza melihat Tante Manda. "Maaf, ya? Tante kira Lalita itu anak kalian. Tante tanya sama Mbak yang di apartemen. Mereka cerita detailnya seperti apa. Gak nyangka kalian punya hati yang besar banget," Tante Manda merasa menyesal. "Tante, gak papa. Neyza yang malahan minta maaf gak bisa kontrol emosi waktu ada di dekat Tante. Semoga hubungan kita semakin lebih baik lagi, ya?" Tante Manda menepuk pundak Neyza dan mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.
__ADS_1
Sampailah mereka di rumah. Semua sudah akan beranjak tidur. Untuk sementara Lalita tidur bersama para asisten agar Neyza bisa memulihkan kesehatannya. "Rion," kata Neyza. "Iya," jawabnya. "Kalo Ta sudah dia tahun beneran mau dikasih ke Heri?" Rion mengangguk yakin. "Mungkin bisa lebih. Heri kan harus cari kerja dulu." Neyza berbaring dengan pandangan yang jauh. "Kalo aku kangen dia gimana, ya?" Rion merangkul istrinya itu. "Kita bisa jenguk Ta kapan aja kamu mau." Neyza duduk. "Aku gak tahu lagi gimana jadinya kalo aku gak bisa lihat Ta. Aku terlanjur sayang sama dia." Rion memegang pundak Neyza. Berusaha meyakini sesuatu yang Neyza mungkin lupa. "Ney, sayang, ingat. Janji kita di awal waktu saat Heri tiba-tiba muncul di rumah kita. Kita punya misi menolong Lalita. Bukan karena siapa-siapa. Lalita bukan anak kita, sayang. Jangan berharap hal di luar kuasa kita." Neyza mulai sedih.
"Lho, kok kamu sedih?" tanya Rion. "Tiap kali Heri telepon kamu. Jantung aku kayak mau copot. Jangan-nangan dia mau bilang bawa Lalita sama dia," Rion mencium pipi Neyza. "Hei, dia pamannya. Itu tanggung jawab dia, kan? Kenapa kamu yang jadi gak karuan gini? Oke aku paham. Kamu sayang sama Lalita. Tapi Lalita gak selamanya sama kita. Dia punya penanggung jawab langsung dari darah Mamanya. Pamannya, Heri, tahan perasaan kamu, ya?" Neyza hanya diam. "Aku coba."
Beberapa hari kemudian, keluarga kecil itu tengah melakukan liburan di salah satu tempat wisata di Jepang. Tante Manda, para asisten rumah tangga, Rion, Neyza dan Lalita pergi bersama. Sebuah taman bunga sakura yang kebetulan sedang mekar di saat itu menjadi sebuah pemandangan dan liburan indah untuk mereka.
"Ta, Lalita sudah haus lagi? Minggu depan sudah makan lho, sayang. Mama masakin yang enak-enak buat Ta, ya?" Lalita hanya tersenyum sambil bermain boneka miliknya yang ia pegang. Rion membuka keranjang yang berisi makanan yang mereka bawa. "Waa, sushi. Beli dimana?" Neyza mencubit Rion. "Ih, kamu gak tahu perempuan di apartemen semuanya bisa masak. Enak aja main bilang beli dimana. Ini Tante Manda yang masak, lho." Rion tak menggubris perkataan istrinya. "Iya iya, nyonya. Gitu aja pake marah. Nanti bunga sakuranya rontok gara-gara aura jahat, lho," Rion meledek Neyza. Semua orang tertawa.
Ting tong.
__ADS_1
Mama itu, seseorang datang ke apartemen Rion. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk. Tante Manda menyambutnya dengan senang. "Mama. Aku telpon dari tadi Mama kemana aja, sih?" Lisa memeluk Tante Manda. "Oh ya? Oh.. Hape Mama silent, Lisa. Maaf. Ayo ke kamar dulu. Kamu harus mandi dan ganti baju. Mama sudah masakin Jajjangmyon kesukaan kamu. "Cepat," Tante Manda mendorong Lisa untuk segera masuk ke kamar.
Tiga puluh menit kemudian, Rion dan Neyza yang sudah menidurkan Lalita keluar kamar untuk makan malam. Tante Manda dan Lisa juga berjalan menuju ruang makan. "Lisa! Ya ampun, kamu sudah besar. Kak Rion jadi kaget," Lisa menyunggingkan bibirnya. "Halah, bilang aja gak pernah hubungi Lisa lagi. Gaya udah nikah jadi lupa sama sepupunya," Tante Manda tersenyum. "Heh, gak boleh bilang begitu. Kakakku kan sibuk banget. Jadi banyak yang diurusi. Kamu lagian ngapain sih kayak anak kecil. Main marah-marah gak jelas begitu?" Neyza tersenyum. "Eh, ini Kakak Ipar kamu. Neyza. Ney, ini anak Tante Lisa," Lisa menatap lekat wajah Neyza. Ia hanya diam. Walau mengangguk dan membalas jabatan tangan Neyza, Lisa masih terus menatap wajah Neyza.
Neyza merasa tak enak pada Lisa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan. Setelah makan malam selesai, Rion menuju ruang kerja. Tante Manda membantu para asisten untuk membersihkan meja makan. Neyza berjalan menuju ruang tenga. Namun tangan Lisa menarik Neyza dan membawanya ke kamar Tante Manda.
Lisa mempersilahkan Neyza duduk di sofa kamar itu. Lisa mengambil tas ranselnya. Ia sibuk mencari ponsel yang ia simpan. Tak lama kemudian ia memberikan ponselnya kepada Neyza.
"Apaaa?"
__ADS_1
Neyza terkejut bukan main.