
Rion berada di sebuah kantor pengacara. Dalam sebuah ruangan seorang pengacara kondang. Ia duduk bersama Bili.
Seseorang masuk menemui Rion dan seorang lagi yang membawa 3 cangkir kopi. Seorang pria paruh baya itu membawa beberapa map yang sepertinya berisi berkas penting. Ia lalu duduk di depan Rion dan Bili.
Namanya Handika Subroto. Salah satu tim pengacara keluarga Rion. Yang mengurusi masalah hukum usaha keluarga Rion.
"Jadi gini, Rion. Nama yang tadi kamu sebutin itu bukan orang sembarangan. Dia salah satu pria sukses dan terkaya di kota ini. Dan masuk 100 besar orang yang berpengaruh dalam usaha properti. Kaget juga kenapa beliau terseret kasus penipuan. Padahal selama hampir 25 tahun ia mengelola usahanya dengan sangat baik. Beliau salah satu pengusaha yang sangat amanah dan jujur. Bahkan yang saya tahu, tanah yang disengketakan itu malah dulu rencananya akan dibuat pemukiman masyarakat miskin. Ia menjual. Properti dengan harga yang jauh lebih murah. Bayangkan satu rumah di jaman sekarang bisa dijual hanya 5 juta. Itu dedikasinya terhadap negara ini. Ia mencari banyak donatur dari relasi usahanya dan sebagian besar dana ia ambil dari keuntungan usaha properti dan batu bara. Rasa-rasanya tidak mungkin ia tidak punya musuh. Lebih dari itu, pasti ada yang tidak suka dengan alasan pribadi yang sangat mungkin menjatuhkan dirinya."
Rion terdiam. Ia seperti ingin menganga terhadap kenyataan yang baru disampaikan Pak Handika. "Gila. Anak konglomerat si nenek. " Bili yang mendengarkan penjelasan Pak Handika tidak berkomentar. "Bre, ini kita lagi ngomongin sapa, sih?" Bili menyenggol lengan Rion. Rion hanya menggelengkan kepalanya. "Lu kok telat banget sih? Gitu kok masuk kampus elit gak pake tes."
Pak Handika : "Saya coba hubungi beberapa pihak kepolisian. Mereka biasanya tahu sepak terjang para pengusaha. Kalo boleh tahu, Rion ada hubungan dengan Pak Yuda?"
Rion : "Ah, gak. Pak. Saya malah gak kenal sama Pak Yuda. Tapi anaknya sahabat saya. Tadi waktu ketemu agak panik. Penasaran makanya mau tanya kasus bapaknya kayak apa. Pak Handika bisa bantu keluarga Pak Yuda kan?"
Pak Handika : "Untuk bisa menyelami lebih dalam jelas mereka punya tim pengacara yang sangat handal. Tapi bila membantu mencari bagaimana dan siapa yang berada di balik itu semua, kami upayakan sebaik mungkin. Kamu tenang aja.Nanti saya atau yang lain akan mengabari perkembangannya."
Rion mengangguk. Ia jadi merasa sedikit tenang karena bisa membantu Neyza dan keluarganya. Ini kali pertama ia melakukan hal yang sangat serius untuk seseorang. Rasa penasaran lah yang membawa ia untuk mengetahui bagaimana kehidupan Neyza yang sebenarnya. Ia makin dibuat bertanya. Neyza dan keluarganya bukan orang-orang yang biasa. Tapi mengapa Neyza tinggal di sebuah kontrakan kecil yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan mewahnya?
Seminggu berlalu. Rion dan Bili yang sedang berada di rumah Rion sedang duduk terdiam.
Bili : "Seminggu ini Neyza gak pulang ya?"
Rion : "Jelas dia lagi hibur Mamanya. Gue jadi penasaran sama kehidupannya. Kenapa dia tinggal di tempat kayak gini?"
Bili : "Apa bedanya dia sama elu, bre?"
Rion : "Ya gue kan ada misi akademis. Lha dia? Perempuan yang di rumah uda siap supir. Tinggal telunjuk yang mau ke arah mana tinggal berangkat. Mau makan tinggal bilang, uda kayak katering tiap hari. Baju tinggal dipake wangi. Duit gak kurang. Mau beli satu kota juga dia mampu. Ngapain dia di sini?"
Bili memegang dagunya. "Iya juga, bre. "
Rion : "Pasti ada satu dua hal yang bisa bikin dia melangkah sejauh ini. Kalo bapaknya bangkrut juga gak mungkin. Kata Pak Handika, dia baik-baik aja. Usahanya lancar. Malah berkembang pesat."
Bili : "Atau dia bosen sama kehidupannya."
Rion : "Ah, ini bisa jadi."
__ADS_1
Bili : "Coba lihat dandanannya. Kasual mulu. Gak pake dempul uda cantik."
Rion : "Ada yang aneh emang. Curiga gue."
Bili : "Lu sekarang mulai penasaran ya sama Neyza?"
Rion : "Telanjur. Penasaran banget."
Bili : "Lu suka ya?"
Rion : "Dibilangin judes tuh anak. Mana suka gue."
Bili : "Karma lu. Gue mundur seribu langkah nih."
Rion : "Iya bener itu. Hilang aja lu sekalian. Jangan deketin dia."
Bili : "Ya kan. Mulai kayak dulu udah kayak pujangga gak laku. Kemana-mana ngomongnya. Usah ah. Ayuk cari makan. Laper gue. Warung sebelah uda ada mangut patin tuh. Warung Jawa."
Rion : "Wah.. Ya ayok mas Bili. Budalkan."
Rion dan Bili seperti mati kaku. Tak punya ekspresi. Barusan saja mereka sedang membicarakan Neyza. Sekarang sudah muncul di hadapan mereka.
Neyza : "Heh.. Ngapain diem? Disapa kek."
Bili dan Rion masih belum bergeming.
Neyza : "Kalian habis lihat hantu apa gimana? Neyza menggerakkan tangannya ke depan mata Rion dan Bili."
Bili yang berkedip seketika membalas cepat pertanyaan Neyza.
Bili : "Nggak kok. Cuma mungkin sama-sama sebab perut kita. Belum makan. Ini mau ke warung."
Neyza : "Jam segini kok belum makan. Sini ke rumah makan rame-rame. Aku bawa makanan banyak nih."
Rion dan Bili melebarkan bola mata. Hal yang jarang sekali terjadi.
__ADS_1
Rion, Neyza, Bili dan Seni sudah berada di ruang tamu Neyza. Neyza, Weni dan Rion duduk di ruang tamu. Sedangkan Bili duduk di ujung ruang dekat teras.
Rion : "Tumben, nek. Manggil kita buat makan. Habis jadian?"
Bili : "Ulang tahun ya, Ney?"
Neyza : "Kasih makanan kok ada alasan. Pada cerewet semua, ya. Sana habisin."
Rion : "Lha lu judes banget. Sekalinya baik kan jadi curiga kesambet apaan?"
Neyza : "Udah ah. Gak penting. Yang penting makanan gak kebuang."
Rion menatap Bili. Keduanya nampak tak puas dengan jawaban Neyza. Weni yang lebih dulu menyelesaikan makanan berdiri terlebih dahulu. Ia menuju keluar untuk membuang beberapa kotak makanan. Setelah keluar, ia menuju ke depan rumah Rion. Ia pun memberikan kode pada Bili yang kebetulan melihat Weni. Mengerti dengan sinyal Weni yang sepertinya harus membiarkan Neyza dan Rion dalam sebuah waktu. Bili pun beranjak pergi tanpa disadari oleh Rion dan Neyza.
3 Menit berlalu, Neyza dan Rion nampaknya sadar bahwa Weni dan Bili tak kembali. Neyza masih menghabiskan makanan ringan. Sedangkan Rion baru saja menghabiskan makanannya.
Rion : "Ada yang mau lu omongin?"
Neyza : "Ada. Kamu kenal anak-anak kampusmu gak?"
Rion menghela napas panjang. Pertanyaan yang sangat tidak penting menurut Rion.
Neyza : "Aku mau cari orang. Yang ada hubungannya dengan kasus Papa. "
Rion : "Ha? Maksudnya?"
Neyza : "Weni udah cerita semua. Dia bilang semua sama kamu, kan? Perkembangan kasus sudah mengarah ke beberapa orang. Salah satunya rekayasa Ayah dan Anaknya. Yang berbelit. Anak perempuannya ternyata pernah menjadi sekretaris salah satu investor dan memberikan kertas yang salah pada Papa. Kertas pertama perjanjian yang benar. Lalu saat Papa lengah dan ingin menanda-tangani, ia malah memberikan kertas yang salah yang jelas-jelas menjatuhkan nama Papa. Para tim pengacara Papa sedang membuntuti salah satu kolega yang menjebaknya. Sedangkan aku bertugas untuk mencari anak perempuannya."
Rion menyimak penjelasan Neyza.
Neyza : "Aku sudah dapat informasinya. Kampusnya, rumahnya, bahkan keluarga besarnya. Kampusnya sepertinya sama denganmu. Aku tahu waktu ngobrol sama Bili. Mungkin kamu kenal. Aku cuma pingin tahu. Itu aja."
Neyza lalu menyerahkan ponselnya kepada Rion. Sebuah foto seorang perempuan cantik. Rion terkejut bukan main. Ia hampir tersedak.
"Ha.. Hani.", ucapnya lirih.
__ADS_1