
Rui sedari tadi duduk di pinggir kolam. Ia hanya melihat bayangan matahari yang masih terlihat ujung sinarnya. Pagi itu, ia hanya bebaringan dengan menunggu sarapan yang masih dimasak oleh para asisten rumahnya.
Sudah hampir tiga puluh menit ia dengan posisi itu. Rion melihat anak semata wayangnya saat ia membuka tirai kamarnya. Ia lalu turun ke bawah menuju kemana Rui berada. Ia pun melakukan pemanasan, berlari keliling kolam renang lalu sedikit yoga. Sebuah meditasi ringan ini ia lakukan setiap pagi. Namun pagi ini nampak berbeda. Rui menemani paginya.
"Kok diam aja, sayang. Masih ngantuk?" tanya Rion. "Gak, Pa," Rui menjawab singkat. Rion telah selesai berolahraga pagi. Kini ia tengah duduk di sebelah Rui. Sebuah koran hari ini yang baru saja di antar oleh petugas loper koran. "Pa. Dulu Papa sama Mama ketemunya gimana, sih?" Rion belum menjawab pertanyaan Rui. Ia masih asyik melihat headline koran di halaman depan.
"Hmm, gak sengaja ketemunya," kata Rion. Rui lalu melihat Papanya itu. Tatapannya sekarang tertuju pada Rion. Sebuah sinyal untuk mendengarkan cerita lebih lanjut. Rion tahu gelagat sang anak. Ia lalu melipat koran itu dan menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Neyza.
Rui mendengarkan cerita itu dengan tenang. Ia tersenyum. Dan kadang tertawa. Kedua orang tuanya melewati hal-hal konyol dan menarik. Juga tak dilewati Rion cerita tentang penculikan Neyza di sebuah gudang. Rui terkejut. Tak menyangka keduanya menjalani hari-hari yang tak biasa.
"Kok bisa Papa suka sama Mama?" Rui penasaran. "Hahaha, kamu kayak wartawan aja, sayang. Ya, jatuh cinta itu kan anugerah. Kita mungkin bisa memilih. Tapi takdir jatuh cinta adalah sebuah takdir. Hati yang akan memilihnya sendiri. Kita gak bisa menolak kalo hati sudah menambatkan hatinya. Papa dulu suka banget usilin Mama kamu. Ujung-ujungnya Papa suka," Rion mengenang kisahnya bersama Neyza.
__ADS_1
Rui merasa senang mendengarkan cerita ini. "Papa. Cowok itu gimana sih kalo suka sama cewek?" Rion sedikit terkejut dengan pertanyaan Rui. "Hmm, menurut Papa kayaknya kalo dia mulai menyempatkan waktu untuk bersama orang yang dia suka. Hal-hal kecil selalu jadi hal istimewa. Moment berharga yang gak boleh dilewatkan. Kayak Papa dulu. Gak sadar kalo akhirnya Papa juga suka sama Mama. Tiap kali gak bikin jengkel Mama ya gimana gitu rasanya. Ada yang hilang. Mungkin kayak gitu. Kenapa, sayang? Ada yang suka sama Rui?" Rion menebak.
Rui hanya menggelengkan kepalanya. Ia mempertegas sang Papa bahwa ia hanya sedikit penasaran. Walau pun jauh di lubuk hatinya. Rui hendak menyinkronkan peta hati Papa sebagai laki-laki dengan Maliq.
Ah, kenapa aku jadi penasaran sama sikap dia yang jelas-jelas udah sama Kak Lalita?
Neyza membawa senampan sarapan untuk dimakan bersama Rion dan Rui. Dengan senyumnya yang menawan, Neyza duduk di sebelah Rui. "Seru amat ini ceritanya. Ngomongin apaan?" Rion menaruh telunjuk di kedua bibirnya. Rui hanya menjawab dengan senyuman. Ketiganya lalu menikmati makan pagi bersama.
Rui dan Lalita sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka memang sengaja meluangkan waktu saat berakhir pekan. Mereka pergi ke toko perangkat rumah untuk membeli beberapa hiasan dinding atau meja untuk kamar mereka.
"Mau makan apa?" tanya Rui. Lalita masih melihat-lihat stand makanan yang nampak tak begitu ramai sehingga makanan akan cepat tersaji setelah memesan. "Rice bowl teriyaki kayaknya enak. Kamu mau makan apa?" Rui pun masih mencari pencerahan. "Ya udah, aku pesenin buat Kakak ya. Nanti aku pesan kalo ada yang suka," kata Rui. Lalita pun mencari tempat duduk.
__ADS_1
Rui tengah memesan makanan dan membawa makanan Lalita. Setelah selesai ia lalu membawa dua makanan dalam satu nampan. Mencari keberadaan Lalita yang tengah menunggunya. Dari jauh ia sudah menemukan tempat duduk Lalita. Namun nampaknya Lalita sedang ditemani oleh seseorang. Rui menajamkan matanya sekilas. Ia bergumam. Apa ia tak salah lihat? Itu... Maliq? Dari kejauhan ia memfokuskan matanya beberapa kali agar ia bisa memastikan Lalita bersama orang yang ia kenal di kampus. Keduanya tertawa. Walau tidak jelas, sepertinya keduanya menikmati waktu bersama. Lutut Rui lemas. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya.
Move on dong, Rui. Mau sampai kapan?
Ia pun mencoba menenangkan diri. Berusaha mengontrol semua anggota tubuhnya. Dengan langkah percaya diri. Ia memberanikan diri untuk berjalan ke arah Lalita dan Maliq. Rui menaruh nampan itu di atas meja. Ia lalu duduk di sebelah Maliq. "Kak Maliq. Kok disini? Kenal sama Kak Lalita?" Maliq mengangguk. Ia pun berusaha agar bisa mencairkan suasana antara dirinya dan Rui. Pertemuan yang tak direncanakan ini menjadi sebuah pertemuan pertama yang membuatnya menjadi susah untuk beradaptasi. Lalita pamit menuju ke toilet. Tinggallah Rui dan Maliq berdua.
Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat. Maliq dan Rui menjadi bingung untuk memulai pembicaraan. "Hmm, Rui," Maliq mengawali kata-kata. Rui melihatnya. "Ayo dimakan. Keburu dingin," kata Maliq. Rui yang canggung langsung mengambil sendok dan memakan Nasi Kung Pao yang ada di depannya. Rui memakan cepat makan siangnya. Ia lalu meneguk sebotol air mineral. Maliq menunggunya. Lalita masih belum kembali dari toilet. "Kak Maliq sama Kak Lalita.. " Maliq tidak terkejut. "Ah, iya," Rui hanya mengangguk. "Udah lama kenal sama Kak Lalita?" Maliq mengangguk lagi. "Hampir setahun ini. Terus dia.. " Lalita datang dan tersenyum. Ia lalu mengambil tas yang ada di sebelah Rui. "Rui. Kakak barusan di telepon dosen buat bantu-bantu di kampus. Ada ujian besok. Maliq. Minta tolong habisin makananku, ya?" Lalita segera berjalan. "Eh, Maliq. Titip adikku, ya. Aku bawa mobil. Rui sama Maliq, ya. Dia baik, kok. Hihi.. " Rui dan Maliq hampir hilang kata-kata. Mereka pun akhirnya duduk bersama.
Rui mempersilahkan Maliq untuk memakan makan siang sang Kakak. Setelah selesai, mereka pun segera pergi ke tempat parkir. Rui berjalan di depan Maliq. Ia bingung bila berjalan bersama Maliq. Tanpa sadar, Rui melamun hingga ia berjalan di lajur mobil. Sebuah mobil berjalan ke arah Rui. Namun Maliq akhirnya menariknya agar tidak terkena mobil tersebut.
"Lho, eh. Aduh. Maaf, Kak. Aku ngelamun," Maliq melepaskan tangannya dengan cepat. Ia pun meminta maaf kepada Rui. Mereka pun sudah berada dalam mobil. Keduanya nampak canggung hingga lupa bagaimana mereka berinteraksi. "Rui. Novelnya. Lusa, ya?" tanyanya. Rui mengangguk. "Iya, Kak. Maaf merepotkan. Hmm, mengenai aku sama Lalita," Maliq nampaknya masih tak enak hati dengan Rui mengenai kedekatannya dengan Lalita.
__ADS_1
"Eh, gpp, Kak. Aku udah ikhlas."
(bersambung)