Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 46 Malam Nanti


__ADS_3

Neyza dan Rion turun bersama untuk berkumpul dengan keluarga Neyza. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk acara resepsi di malam hari. Semua mata memandang kedua mempelai yang baru saja menjadi suami istri.


Om Hendra: “Suami Istri ini kompak banget. Turun barengan, bajunya sama. Semoga langgeng sampai Nenek Kakek, ya.”


Rion: “Aamiin, Om. Terima kasih.”


Neyza: “Kamu udah kenal sama Om Hendra?”


Rion: “Udah dong, Sayang. Tadi waktu mau akad kan kenalan dulu sama beberapa keluarga kamu.” Neyza menyipitkan matanya. Tanda bahwa panggilan Rion yang mengejutkan itu adalah sebuah ‘masalah besar’. Rion tersenyum tanpa menghiraukan Neyza. Mama baru datang bersama beberapa kerabat.


Mama: “Ney, Rion. Sini, sayang. Mama mau kenalin sama teman Mama.” Rion dan Neyza segera menuju ke arah Mama. Tiga orang perempuan paruh baya menjabat tangan kedua mempelai itu.


Tante Balqis: “Selamat, ya. Semoga menjadi pasangan yang kekal.”


Tante Gunawan: “Selamat Neyza dan Rion. Mohon maaf Tante gak bisa datang di resepsi nanti. Mau balik ke surabaya.”


Tante Rubi: “Selamat, ya.”


Neyza dan Rion tersenyum dan berbincang-bincang dengan beberapa kerabat dan keluarga. Tak berapa lama, jam menunjukkan pukul satu siang. Rion merasakan perutnya lapar. Ia akan bangkit untuk mengambil makanan. Ia  melihat Neyza masih berbincang dengan beberapa sepupunya.


Rion: “Sayang, makan siang dulu, yuk. Bentar lagi mau dimake-up.”

__ADS_1


Sepupu Neyza nampak menggoda Neyza. “Ciee, itu lho. Dulu makan sendiri Cuma diingetin Tante. Sekarang udah ada alarm, lho,” ujar seorang kakak sepupunya. “Uuuy, tayang. Aku tangeeen,” ujar adik sepupunya yang tak kalah jahil pada  Neyza. Neyza mengerucutkan bibirnya yang merah. “Awas ya kalian. Resepsi nanti gak dapat makanan.”


Neyza berjalan ke arah Rion dan memukul perutnya. Rion pura-pura kesakitan. Sedangkan Mama yang melihat tingkah Neyza tiba-tiba berteriak untuk memarahi anaknya. “Neyzaaaa, jangan pakai bela diri sama suami kamu. Dosa.” Rion menahan tawanya dan membuat tanda tidak mengapa pada mertuanya itu.


Neyza berjalan ke meja makan untuk mengambil makanan. Ia mengambil piring kecil untuk mengambil beberapa pasta dan salad sayur. Rion menukar piring yang Neyza bawa dengan  piring yang lebih besar. “Makan nasi atau lontong,” katanya serius. “Aku lagi gak lapar ya, Rion,” jawabnya. “Nek, lu kan udah gede, nih. Hari ini bakal jadi hari paling sibuk di sepanjang hidup lu. Dan lu kudu punya bnayak energi. Lu tahu kan baju pengantin lu itu


beratnya separuh badan lu?”, Rion menggoda. “Apaaaa? Kamu pikir berat badanku 60?” ucap Neyza setengah marah. “Salah, ih,” jawab Neyza cepat. “Emang berapa?”  Rion penadsaran. “61,” muka Neyza masam. Rion tertawa sambil mengambil makanan di piringnya. “Tapi kalo itu masih proporsional berati lu sehat, kan? Masalah berat badan itu gak masalah selama lu sehat.” Neyza mengikuti Rion untuk mengambil makanan. “Nah gitu, ya. Lu harus punya banyak energi biar kuat malam nanti.” Neyza melirik Rion dengan tatapan yang tajam. “Apaan malam nati? Jangan aneh-aneh kamu, ya?” ancam Neyza. “Lha, emangnya lu gak ngerti acara nanti malam padet banget?” Rion berkilah. Neyza tak menjawab kata Rion. Ia malah asyik menambah banyak makanan ke dalam piringnya. “Gitu katanya masih kenyang. Padahal aslinya gentong,” Rion berbicara lirih agar tak didengar Neyza. “Aku dengar, ya?” Rion dan Neyza selesai makan dan segera kembali ke kamar mereka. Sebentar lagi


para perias akan datang dan membuat Neyza dan Rion menjadi raja dan ratu semalam.


 (Di kamar)


 Neyza membuka lemarinya. Rion hanya duduk di sofa sambil menonton televisi. Rion melirik aktivitas Neyza.


Neyza: “Ngapain kamu lihatin aku?”


 Rion: “Kalo butuh bantuan bilang, ya?”


Neyza: “Banyak mbak-mbak di sini. Minta tolong mereka aja.”


 Rion: “Tapi mereka gak bisa nolongin pas lu lagi ada bahaya kayak diculik waktu itu, kan?”

__ADS_1


 Neyza: “....”


 Rion: “Gue bercanda, Nek. Sekarang kan kita udah jadi suami istri, ada baiknya kalo komunikasi kita lebih baik daripada kayak gini.”


 Neyza diam. Akal pikirannya berbicara. Ia sadar bahwa ‘kesewotan’ yang ia lakukan semata-mata untuk menutupi bagaimana ia masih menyimpan perasaannya pada Rion. Ia tak memungkiri  bahwa di satu sisi ia sungguh sangat senang dengan pernikahan ini. Ia tak perlu mengutarakan isi hatinya pada Rion. Lelaki itu telah menjadi miliknya. Selamanya. Namun, ia masih malu untuk menunjukkan sisi kasih sayangnya untuk Rion. Ia sudah terlanjur


menjadi ‘antagonis’ terhadap Rion. Walau sebenarnya Rion juga merasa ada yang aneh terhadap Neyza, tapi ia rela karena Neyza adalah istriny saat ini. Dan Rion mengakui bahwa itu adalah sebuah balasan atas apa yang ia


lakukan terhadap Neyza saat menjadi tetangganya dulu. Ia super jahil sampai Neyza benar-benar murka padanya. Toh pada saatnya Neyza memerlukan bantuannya. Ia ada untuk Neyza bagaimana pun caranya. Rion melihat


ponselnya. Ia ingin mengisi energi untuk malam resepsi. Ia tak sadar sampai akhirnya ia tertidur pulas di sofa kamar.


 “Rion..Rion..”


Suara lembut itu membangunkannya. Ia membuka matanya. Seorang perempuan cantik dengan balutan gaun putih membuat ia merasa asing. “Gue masuk surga, nih?” tanyanya sambil berusaha menyadarkan dirinya secara penuh. Neyza sudah berada di depannya lengkap dengan gaun dan make up yang membuat ia sangat cantik. “Tidur kamu


kelamaan. Cepat mandi sama ganti baju. Periasnya nunggu,” ucap Neyza dengan buru-buru. Rion berdiri hendak berjalan ke kamar mandi. Namun ia melihat Neyza yang sedang duduk. Rion sedikit berlari dan mencium pipi  Neyza kemudian ia berlari ke kamar mandi. Neyza yang tak sempat melawan dan berkata apa-apa hanya terdiam.


Pipinya memerah, lebih merah dari warna blush on yang ia pakai. Rion di kamar mandi memegang dadanya. Ia pun merasakan jantungnya tak karuan. Tingkahnya membuat Neyza juga ‘sedikit’ menikmati indahnya perhatian Rion.


Tiga puluh menit berlalu, Rion turun dari kamarnya dan bersiap untuk pergi menuju ke gedung resepsi. Neyza sudah berada di bawah ditemani Weni dan Bili. Rion memakai jas pengantin yang membuatnya sangat tampan. Hampir semua mata tertuju padanya. Mama yang berjalan dari perpustakaan rumah menghampiri Rion dan memberikannya sebuah pelukan. “Anakku ini tampan sekali. Malam ini pria paling memukau cuma Rion,” kata Mama. “Wah, besok udah gak kece dong, Ma?” tanya Rion menggoda mertuanya. Mama hanya tertawa sambil berlalu. Bili menemui Rion dan memeluknya. “Mai brader. Selamat, ya! Gue seneng banget. Gue bahagia buat lu sama Neyza. Plis panggil dia dengan panggilan romantis,” pinta Bili. Rion tersenyum sambil menepuk pundak Bili.

__ADS_1


“Lu bakal lihat betapa magicalnya aura gue. Perhatiin!”


“Sayang!”


__ADS_2