
Hani menyiapkan makan malam bersama Lalita. Heri baru saja pulang dari olahraga bersama teman-teman kantornya. Lalita nampak sibuk mempersiapkan alat makan, namun bola matanya sering melihat Hani. Penasaran dengan segala tindak tanduk sang Mama yang lama tak sempat ia jumpai.
"Ma, mama sekolah sama kerja, ya?" tanya Lalita penasaran. Hani sedikit terkejut dengan pertanyaan Lalita. Kata-kata nya seperti peluru yang melesat tajam hingga ia tak bisa mengelak. "Iya," jawabnya singkat. Ia sebenarnya tak ingin berbohong. Karena ia merasa tak tega dengan Lalita. Namun di satu sisi, Hani merasa takut untuk berterus terang. Batinnya masih belum siap apabila Lalita malah berbalik membencinya.
"Mama sekolah apa, sih?" tanyanya beruntun. Hani sekali lagi hampir menghentikan segala persiapan makan malam. "Hmm, banyak yang mama pelajari. Terutama tentang kehidupan. Management waktu, kesenian, bahkan hal kecil seperti tata boga juga," Lalita menaruh rasa penasaran kepada Hani.
Hani lalu mempercepat gerakannya agar dapat lepas dari pertanyaan Lalita. Ia betul-betul belum siap dengan apa pun. Hani lalu membawa makanan yang sudah matang ke meja makan. Mereka bertiga makan bersama. Heri dan Hani sesekali berbincang tentang pekerjaan Heri. Lalita hanya mendengarkan saja kedua orang tua itu. Namun pada akhirnya ia mengambil alih pembicaraan dengan pertanyaan tentang Hani. Heri pun tak tinggal diam. Ia juga turut membantu Hani menjawab pertanyaan Lalita walau sebenarnya Lalita ingin Hani yang menjawabnya.
"Kalo aku kuliah, aku gak mau kerja dan sekolah kayak Mama lakuin kemarin. Lama banget," kata Lalita yang membuat Hani menjadi semakin merasa bersalah.
Setelah makan malam, Hani memeluk Lalita dan mengantarnya ke kamar. Kamar mereka berdampingan. Lalita naik ke atas tempat tidurnya. Hani masih berada di kamarnya. Ia duduk di sebelah Lalita. Namun anak semata wayangnya itu masih enggan untuk tidur.
__ADS_1
"Kamu senang ada di sini, Ta?" tanya Hani. Lalita mengangguk. "Kalo Lalita mau, kamu boleh tidur di rumah Mama Neyza kapan pun kamu rindu. Mama gak akan melarang. Mama Neyza yang sudah membesarkan Lalita. Pengganti Mama saat Mama gak ada. Maafin Mama ya, Nak?" pinta Hani. Lalita terdiam. Ia melemparkan senyum kepada sang Mama.
Lalita memegang tangan Hani. Hani yang akan beranjak untuk keluar terpaksa berdiam sementara di samping Lalita. "Ma. Lalita tahu Mama menghabiskan bertahun-tahun di penjara," Hani memegang dadanya. Air matanya sesaat lagi akan keluar. Ia nampak sangat terpukul karena Lalita mengetahui apa yang ia simpan. Apakah Neyza? Atau Rion? Bagaimana mungkin Lalita tahu?
"Apa?" kata Hani sedikit tidak bisa menahan emosional dirinya. "Bukan Mama Neyza atau Papa Rion. Sejak umur sepuluh tahun, aku mulai penasaran dengan Mama. Kenapa bertahun-tahun lamanya Mama gak pernah pulang. Kita hanya bersambung di panggilan video saja. Tante Weni yang biasanya menghubungi Lalita di ponsel Mama Neyza. Dan suatu hari... " Hani semakin menatap lekat mata Lalita. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku gak sengaja buka pesan Mama Neyza ke Tante Weni. Isinya apa Mama bisa segera dibebaskan lebih cepat dari masa tahanan," Hani memegang dadanya. Bergemuruh rasanya di dalam sana. Ia tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya. Terjadi juga apa yang ditakutkannya.
Lalita masih melanjutkan ceritanya. "Tapi yang bikin semua jadi magical adalah setiap hari, Mama Neyza selalu cerita kalo Mama adalah orang baik. Mama adalah orang yang paling gak bisa jauh dari aku. Dari situ, aku sadar, aku anak yang beruntung. Aku gak tahu apa yang terjadi sama Mama dan bagaimana aku bisa dirawat sama Mama dan Papa di rumah sana? Aku diberkati. Dari situ aku mulai menerima. Memang sedih rasanya tahu kenyataannya. Tapi, aku percaya Mama adalah orang baik. Jangan khawatir, Ma. Ta sayang sama Mama," Lalita memeluk Hani.
Hani tak mampu berdiam diri. Sambil menangis dan memeluk Lalita, Hani meminta maaf pada anak kesayangannya itu. "Mama bukan orang baik, Nak," kata Hani pilu. Lalita makin menguatkan pelukannya. "Mama gak perlu minta maaf. Lalita jelas yakin sekali pun Mama punya masa lalu, Mama bakal jadi orang yang baru lagi," Lalita memastikan Hani kembali bahwa ia mampu menerima Hani apa pun keadaannya.
__ADS_1
Mata Hani sembab. Berkali-kali ia mengusap air matanya agar kering. Namun nyatanya air mata itu seperti air mengalir yang gak habis untuk dikeluarkan. Hani menatap Lalita. "Maafin, Mama. Terima kasih karena sudah mengerti. Mama gak tahu ini seperti hukuman berat buat Mama. Masa lalu Mama yang kelam itu seperti titik yang gak bisa dihapus," katanya. Lalita tersenyum. Mengusap air kata yang tak kunjung berhenti.
"Please, Ma. Jangan nangis lagi. Lalita selamanya anak Mama dan Mama selamanya pahlawan buat Lalita. Kita mulai dari awal, ya?" Lalita memohon Hani pada sebuah pengharapan. Keduanya kini saling berpelukan. Dan kembali menjalani hari bersama sebagai Ibu dan Anak.
Beberapa minggu kemudian, Neyza mengundang Hani, Heri dan Lalita untuk makan siang bersama. Rumah Neyza penuh dengan orang-orang. Suasana di rumah itu sangat hangat. Setelah selesai makan. Hanu membantu Neyza untuk menaruh piring yang kotor ke dalam dapur. "Neyza, ada kabar. Entah ini baik atau buruk," kata Hani. Neyza yang sibuk menata piring kotor itu tetap menyimak perkataan Hani. "Lalita sudah tahu kalo selama ini aku di penjara," Neyza tiba-tiba menjadi patung. Menatap Hani yang juga tengah sibuk berjalan ke dapur.
Neyza lalu berlari ke dapur. Mengikuti Hani. Mereka akhirnya membuat sebuah waktu untuk berbicara. "Maksudnya?" Hani menceritakan apa yang telah disampaikan Lalita padanya saat malam menjelang tidur. Neyza tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Tentu saja, perkataan Hani seperti petir yang terjadi siang terik saat ini. Tenggorokan Neyza kering. Ia hampir tak dapat berkata-kata.
Lalita secara tak sengaja melintasi dapur. Ia sempat mendengar sedikit percakapan kedua Ibunya itu. Neyza dan Hani terkejut dengan kehadiran Lalita. Lalita lalu turut membaru dengan kedua perempuan paruh baya itu. Lalita kembali meyakinkan Neyza bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.
"Ma, tahu, gak? Andai kata aku tahu ini setelah aku dewasa, aku gak berani jamin aku bisa nerima masa lalu Mama Hani apa gak? Tapi aku bersyukur karena rasa penasaranku selalu terpengaruh cerita Mama kalo Mama Hani itu such a good woman. Makasih, Ma," kata Lalita sambil memeluk dua orang yang ia sayang.
__ADS_1
(bersambung)