Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 92 Sambut atau tinggalkan


__ADS_3

Lisa pulang dengan meninggalkan Bili di cafe tersebut. Mereka rupanya sedang berada dalam kekikukan yang tak terduga.


Sesampainya di rumah. Lisa masuk ke rumah dan mendapati Lalita dan Rui bermain di ruang keluarga. "Aunti dataaaang!" kata Lisa dengan semangat. Rui dan Lalita melihat Lisa dan berdiri memeluknya. Aura kebahagiaan mereka terpancar di wajah keduanya. Neyza baru saja mengambil cokelat hangat dari dapur. Ia pun nampak sangat gembira dengan kedatangan Lisa. "Kok bisa dadakan gini? Aku pikir baru bulan depan?" Lisa memeluk Neyza. "Iya, nih. Dari kampus disuruh balik cepat. Kak Rion mana?" Neyza menunjuk lantai atas. Lisa duduk bersama Neyza menemani Rui dan Lalita.


"Kak, tadi sebelum pulang aku take away. Terus ketemu Kak Bili sama perempuan. Udah punya pacar, ya?" tanya Lisa. Neyza tidak terkejut dengan pertanyaan Lisa. Namun ia penasaran Bili pergi bersama siapa. Neyza menggeleng. "Kayaknya dia belum punya pacar. Kenapa? Lisa cemburu?" Lisa meminum minuman yang ia beli tadi. Ia menolak mentah-mentah. "Aku suka kok sama Kak Bili. Tapi kalo untuk dijadikan tambatan hati. I don't know," jawab Lisa dengan santai. Neyza meminum seteguk cokelat yang ia bawa. Ia memaklumi bagaimana Lisa menjawab hal demikian. Lisa telah banyak terbantu oleh Bili. Semenjak di Jepang pun Lisa juga sering ditemani Bili. Kadang Bili suka menggodanya. Hal-hal kecil mungkin. Tapi itu membuat yang lain merasa mereka punya hubungan yang spesial.


Ketika mereka berbincang-bincang, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Lisa. Mukanya berubah seketika. Ia seperti tak tertarik dengan pesan yang baru saja ia baca. "Kenapa, Lisa?" Neyza menangkap aura yang berbeda dari Lisa. Neyza memegang pundaknya. "Ada satu cowok yang aku gak begitu kenal. Tapi dia ngotot banget mau jadi pacar aku. Barusan aja, nih. Dia kirim pesan kalo udah di Jakarta minta dikabari," Lisa jadi sebal. Neyza menjawab dengan tegas bahwa pesan-pesan dari orang yang tidak ia kenal lebih baik diabaikan saja. "Kalo gak sengaja ketemu, biasa aja. Kalo bisa cari teman. Jangan sendiri," nasihat Neyza. Lisa mengangguk.


Neyza menuju kamarnya ketika Rion baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya duduk di tepi ranjang dengan wajah yang sedikit berpikir. Rion tentu saja menangkap sinyal yang gak baik dari wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" tanyanya.


Neyza menghela napas. Seakan-akan ingin mengeluarkan keluh kesahnya. Ia bercerita tentang kedatangan Lisa yang mengejutkan. Rion tentu saja ikut terkejut dan bergembira. Ia juga bercerita tentang bagaimana Lisa bertanya tentang Bili dan juga seseorang yang sedikit mengganggunya. "Itu yang bikin muka kamu sebel sekarang?" Neyza menggeleng.


Neyza menatap mata Rion. "Kamu tahu? Ada seorang klien besar. Sebulan yang lalu ia datang ke kantor dan berencana untuk menandatangani surat perjanjian di ruanganku. Seperti biasanya, aku bersikap biasa saja. Nunggu ada hal lain sebelum acara penandatanganan itu terjadi. Neyza kembali menutup mata dan membuka mata seraya memalingkan mukanya. Sebal dan marah yang ia simpan agar keluar dari dirinya.


" Hei hei... Cerita sama aku, sayang," Rion meyakinkan Neyza bahwa ia bisa membantunya menyelesaikan masalahnya.


"Kok kamu gak cerita, sih?" protes Rion. Neyza menangkannya bahwa itu sudah selesai. Masalah itu sudah tidak menjadi perkara yang rumit lagi. Rion memeluk istrinya itu. Ia paham bahwa Neyza juga seorang pekerja. Ia adalah pimpinan. Namun bila ia dilecehkan begitu saja, itu sama saja menggali lubang besar untuk para bawahannya. Cara Neyza sudah tepat. Rion salut dengan keteguhan hatinya untuk banyak berkorban demi perusahaannya. Lebih baik melindungi harga diri dan kemuliaan para karyawan daripada menyerahkan kerja sama dengan orang yang tidak punya sopan santun seperti pria itu.

__ADS_1


"Aku gak sedih. Hanya. Kita punya anak perempuan. Aku takut kalo besok mereka ketemu orang yang gak bener. Aku takut mereka dalam keadaan yang sulit dan berbahaya. Aku takut gak bisa nolong mereka," Rion kembali memeluk Neyza. "Sayang. Kita ajarkan sejak dini bagaimana cara menjaga diri. Kita ajarkan yang mana sopan mana yang tidak. Kalo perlu kita ajarkan mereka bela diri kayak kamu? Gimana?" Neyza tersenyum. Ia masih terhanyut dengan kekhawatirannya terhadap Rui dan Lalita.


Keesokan harinya, Rion makan pagi bersama yang lainnya. Lisa memberikannya sebuah titipan dari sang Mama. Rion tersenyum mendapatkan sebuah paketan ginseng. Neyza juga mendapatkan beberapa Hanji, kertas tradisional Korea yang dibuat dari bahan alami dari serat muari. Keduanya senang. Rion memakan sesendok oat dan potongan buah yang dibuat Neyza. "Lisa. Aku mau nanya," Lisa mengangguk sambil memilih sarapan pagi yang ada di atas meja. "Kamu itu ada rasa gak sih sama Bili?" tanya Rion. Lisa tersedak hingga terbatuk. Neyza dengan sigap memberikan pertolongan agar Lisa kembali bisa bernapas. "Rion. Nanyanya kan bisa nanti," protes Neyza. Rion tersenyum karena merasa bersalah.


"Gpp gpp. Aku paham kok. Emang Kak Bili nanya ke Kakak?" Rion menggeleng. Lisa gak menampik ia jiga suka sosok Bili. Namun seperti yang ia rasakan sebelumnya ketika Neyza bertanya hal tentang Bili, ia juga tak bisa menjawab perasaan hatinya. Rion jadi tak enak hati. Pertanyaan singkat itu sebenernya mewakili rasa penasarannya saja. Karena ia melihat Bili sepertinya bingung antara memilih membuka hati pada Shena atau kah meneruskan kenyamanannya dengan Lisa.


"Gimana ya, Kak? Aku juga bingung. Kak Bili baik banget. Tapi," Rion menunggu jawaban Lisa. "Dia sama aku jauh banget umurnya," jawab Lisa singkat. Lisa memang baru saja masuk kuliah. Wajar bila ia masih ingin menghabiskan banyak hal dengan kuliah dan teman-temannya.


"Kakak setuju dengan itu. Maksudku, hal seperti sebuah hubungan itu bakal menganggu konsentrasi kamu dalam kedua hal penting ini. Aku takut kalo rasa suka kamu karena ada hutang besar sama Bili. Menurutku sebagai kakak sepupumu, lebih baik tidak berharap banyak pada Bili dan tidak perlu memberikan harapan padanya." Lisa mengangguk.

__ADS_1


Neyza sedikit menginjak kaki Rion saat mereka bersebelahan. Ia kau sedikit berbisik. "Kamu mau deketin Bili sama Shena?"


(bersambung)


__ADS_2