
"Hai!" kata perempuan itu saat menyapa Rion yang sedang tertunduk lesu di kursi taman di sudut kota. Rion menatapnya dengan ragu. Perempuan muda itu awaknya tersenyum lalu mengubah ekspresi wajahnya. "Maaf. Aku pikir kamu orang yang saya cari," ia mengatakannya dengan bahasa Jepang yang tentu saja Rion mengerti. Rion hanya mengatakan maaf dengan bahasa perempuan itu dan kembali duduk untuk memikirkan cara mencari Neyza.
Kriiing.
Bunyi ponsel Rion terdengar sedikit keras. "Halo, ini gue Dias. Lu dimana?" sesaat setelah Rion mengangkat telepon. "Gue di.. " Rion masih berpikir untuk menjawab pertanyaan Dias. "Share lokasi lu. Gue ke sana." Dengan cepat Rion mengirimkan titik keberadaannya kepada Dias." Ia menarik napas panjang. Kemana Neyza saat ini? Banyak 'lubang' penyesalan yang semakin lama semakin banyak dan akan bertambah sebelum Neyza berada di hadapannya.
Tiga puluh menit kemudian Dias sudah berada di taman untuk menemui Rion. "Hai, Pak Bos. Kok lu di sini? Sendirian lagi," sapa Dias kepada Rion. "Eh, gue cari udara segar sekalian ke supermarket bentar," balas Rion agar Dias tak curiga. "Gue dengar lu udah nikah, ya? Kok gak undang gue?" tanya Dias. "Gue uda coba hubungi lu. Kalo lihat dari nomor barusan berarti gue gak punya nomor baru lu. Tapi gue kirim ke email lu," jawab Rion. "Wah, berarti masuk spam kali, ya? Sori ya, Bro. Gue jarang banget lihat spam." Keduanya berjalan menuju sebuah kedai Ramen," Dias melihat Rion. "Kalo gue gak salah. Muka lu kayak gini nandain kalo lu lagi ada sesuatu. Kenapa? Bagi ke gue."
__ADS_1
Rion memahami bahwa Dias bukan orang baru dalam lingkaran pertemanannya. Dua puluh tahun pertemanan mereka sudah menjadi bukti bagaimana hubungan Rion dan Dias selama ini. Mereka saling memahami. Saat sekolah, Rion sangat sering mengunjungi Dias bahkan menginap berhari-hari di rumah Dias saat liburan sekolah. Orang tua mereka saling mengenal. Untuk itulah mereka semakin dekat. Hingga akhirnya Dias harus pergi ke Kyoto. Kuliah di sana dan akhirnya memutuskan untuk membangun bisnis kuliner di Tokyo. Rion pernah mengunjungi Dias saat ia harus menjalani sebuah urusan bisnis orang tuanya, karena pekerjaan sang Papa mengharuskan tinggal di Jepang selama setahun, mau tak mau, Rion melakukan sekolah jarak jauh. Ia sempat bertemu dengan Dias. Rion juga aktif belajar bahasa Jepang. Saking intens nya, Dias memperkenalkan teman-teman Jepangnya kepada Rion. Dalam waktu delapan bulan saja, Rion mampu berbahasa Jepang dengan baik.
Dan semenjak ia kembali ke Indonesia, Rion hampir jarang menghubungi Dias karena urusan kampus dan pekerjaan. "Bro, kenapa lu?" kata Dias mengulangi perkataannya. "Gue... ", suara pintu kedai itu menandakan bahwa ada para pembeli yang masuk. " Dias!" Suara seorang perempuan mengejutkan Dias dan Rion yang akhirnya tak melanjutkan ceritanya kepada Dias. "Duduk duduk," Dias tersenyum kepada perempuan itu sementara Rion hanya diam. "Lho, masa lu gak kenal?" Rion terperangah. "Ha? Apanya yang kenal?" Rion bingung. "Lu sudah lupa sama Jana?" Rion terkejut. "Ha? Jana? Yang dulu gue suka minta gendong? Terus terakhir ketemu rambutnya kayak kaktus warna hijau?" Jana memasang muka jengkel. "Enak aja kaktus. Daripada lu dulu celana udah kayak gaun pengantin gede banget. Gini gini lu gue rawat waktu kecil. Sini gue jitak lu" Rion, Dias dan Jana tertawa bersama.
Jana adalah sahabat kecil Rion. Rumahnya tak jauh dari rumah Rion. Jana memang lebih tua empat tahun dari Rion. Namun Jana sudah seperti kakak bagi Rion. Ia juga mengenal Dias. Ia pindah ke Tokyo sejak lama. Namun semenjak pindah, sama halnya seperti Dias. Kesibukan membuat mereka dan Rion tak saling menghubungi."
"Kotak krem, bukan?" Jana mengangguk. Jantung Rion semakin berdetak kencang. Fix kali ini adalah salah Rion. Tak ada alasan lain. Rion segera berdiri dan hendak akan pergi meninggalkan Jana dan Dias. "Guys, serius tiba-tiba gue kepikiran istri gue. Bentar, ya? Gue lupa ada janji sama dia. Besok besok lu gue kabarin. Kita mesti ketemu lagi." Rion berlari meninggalkan dua sahabatnya itu. Ia berlari sampai energinya hampir habis.
__ADS_1
Ia segera masuk ke dalam apartemen. Lalita tengah bermain dengan kedua asisten rumah tangganya di sebuah kamar. Ia menuju ke ruang makan, rasa haus membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Suara pintu utama tertutup terdengar oleh Rion. Rion segera menghabiskan minumannya. Ia lalu pergi ke kamar di mana Lalita sedang bermain dengan para asisten rumah tangganya. "Lho, tadi siapa yang keluar?" Kedua asistennya itu hanya menggeleng. "Dari tadi di sini, Mas." Mata Rion melebar. Ia segera menuju ke luar pintu apartemen. Ia melihat sekilas seorang perempuan yang tengah terburu-buru berlari. Neyza? Insting Rion mulai mengejar seseorang itu. Ia menuju ke sebuah lift. Lift itu telah turun ke lantai 1. Ia pun berusaha untuk menuju lift yang masih kosong. Setelah turun di lobi gedung itu, ia melihat sosok tadi. Rion yakin bahwa ia melihat Neyza. Sebuah taksi tiba di depan pintu lobi dan membawa Neyza dan sebuah koper besar.
Rion berlari untuk mengejar taksi itu. Naas, taksi itu telah melaju dan meninggalkan gedung apartemen itu. Rion melihat sebuah taksi menurunkan penumpang di depan lobi. Ia pun langsung menaiki kendaraan itu untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Neyza. Taksi Rion terhambat kemacetan dalam kota. Walau terlihat jauh, namun ia berhasil mengikuti Neyza yang ternyata menuju ke bandara.
Rion mendapati taksi itu berhenti dan segera menurunkan penumpangnya dan sebuah koper besar. Rion yang masih ingat taksi dan perempuan yang mirip Neyza itu. Ia yakin. Itu Neyza. Ia berusaha mengikuti Neyza dugaannya semakin kuat.
Neyza akan meninggalkan Tokyo?
__ADS_1
(bersambung)