Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 10 : Sarapan


__ADS_3

Pagi ini, Arinka bangun sangat awal, dia berusaha belajar menjadi istri yang baik, walaupun ini seperti kebohongan yang entah kapan akan berakhir.


Arinka melirik Renza yang masih asyik terbuai dialam mimpi, dipandanginya lekat-lekat wajah itu sungguh sangat tampan diluar semua tingkah lakunya.


Apakah lelaki ini sungguh takdirku? Gumamnya.


Arinka segera turun mengerjakan urusan rumah, dan juga ia ingin membuat sarapan untuk Renza dan Nek Murti, Arinka membuat nasi goreng yang entah Renza akan menyukai buatannya apa tidak, begitu pikirnya.


"Nyonya kenapa repot-repot berada didapur, ini pekerjaan kami silahkan Nyonya duduk dan menunggu saja di meja makan?"


"Aku ingin membuat nasi goreng, tolong biarkan aku membuat sarapan kali ini untuk suamiku."


Bicara apa aku, apa aku mengharapkan Eenza menjadi suami selayaknya suami asli, sadar arin dia tak menyukaimu, tapi setidaknya aku ingin berusaha.


"Baiklah, setidaknya biarkan saya membantu anda Nyonya."


"Iya, aku sangat berterima kasih."


"Ah jangan berterima kasih Nyonya, ini memang tugas kami, Nyonya benar-benar sangat baik."


"Selamat pagi" ucap Nek Murti.


"Selamat pagi juga, Nek."


"Kenapa berada didapur sepagi ini, ayo kesini biarkan mereka membuat sarapan seperti biasanya."


"Tapi Nek, aku hanya ingin menghidangkan sarapan pertama sewaktu tinggal disini, kalau sudah pindah mungkin akan jarang, Nek."


"Iya sudah, hati-hati jangan sampai terluka, ya?"


"Baik, Nek. Oh ya, Nek, Arin boleh tanya makanan dan minuman kesukaan Renza apa, ya, Nek? Arin ingin tau agar bisa belajar membuatnya."


"Nenek senang Arin bertanya seperti itu, Renza suka minum jus jeruk dan makanan kesukaannya ialah : sop ayam."


"Ahh, terima kasih, Nek."


"Kenal lebih dekat Renza dengan sabar, perlahan lahan dia pasti akan sepenuhnya membuka hati dan mencintaimu."

__ADS_1


"Iya, Nek." jawab Arinka sambil menganggukan kepalanya.


Aku ingin percaya tapi aku tak yakin karena setiap hari kekesalan diwajahnya semakin nampak terlihat, apakah benar pepatah yang mengatakan kesabaran pasti akan membuahkan hasil manis itu benar adanya. Entahlah.


"Selamat pagi, cuaca hari ini sangat cerah."


Arinka serentak menoleh bersamaan dengan Nek Murti, ternyata yang datang adalah Deni, "Astaga dia giat sekali masih pagi sudah sampai sedangkan Tuannya saja masih mimpi indah dikamar," gumam Arinka.


"Selamat pagi Deni," jawab Nek Murti dengan senyuman Arinka pun mengikuti.


Deni segera beranjak naik ketangga, berjalan cepat kearah kamar Renza, ternyata itu adalah aktifitas rutin dipagi hari membangunkan Bos nya.


Astaga! apa aku gila, untung saja Arinka sudah di bawah, aku seharusnya menghentikan aktifitas ini setelah Pak Renza mempunyai istri, tapi bagi Pak Renza kan Arinka bukan istri malah lebih ke pesuruh.


Deni membuka pintu kamar itu dengan pelan, dilihatnya Renza tak ada lagi ditempat tidur ternyata Renza sudah bangun dan mandi.


"Rin, kau harus terbiasa dengan Deni, karena Deni itu orang yang paling dekat dengan Renza, dia adalah teman sekaligus partner kerja dan orang kepercayaannya, Nenek tau renza itu orang yang dingin, Nenek juga tahu pasti Renza sangat menjengkelkan bagimu, tapi satu hal yang Nenek tahu, Renza itu anak yang baik dan hangat sebenarnya, hanya kau harus bersabar lebih banyak menghadapinya, Rin."


"Iya, Nek, Arin akan mencoba menjadi wanita paling sabar dan paling mengerti dia."


Nenek percaya kamu lah orang yang akan mengubah Renza menjadi pribadi yang hangat kembali.


Arinka naik keatas menuju kamarnya, Arinka ingat bahwa ada Deni dikamar itu, entah sedang apa dia didalam, Arinka berhenti dan menunggu diluar pintu, Arinka sekilas mendengar percakapan Renza dan Deni samar-samar.


"Apakah orang suruhanmu sudah mendapatkan informasi tentang Giska? Apa benar dia hamil?"


Deg... deg...


Suara jantung Arinka mendadak berpacu keras mendengar tentang kehamilan Giska, Arinka sempat melupakan ucapan Giska hari itu, Arinka pikir itu hanya sebuah ancaman bagi dirinya, Arinka dengan penasaran mencoba mendengar kepanjangan pembicaraan mereka lagi.


"Sepertinya ada yang tidak beres Pak, aku mendapat info bahwa Giska sering bertemu lelaki lain di luar rumahnya selain bertemu dengan Pak Renza."


"Apaa!? Kurang ajar sekali dia, apa dia mau memperdayaku, Hah! tak tau diuntung seperti yang sudah-sudah, wanita-wanita ini hanya menginginkan uangku saja, padahal aku tulus mencintainya."


Giska berselingkuh, apakah benar ini semua, lantas kalau hamil apa benar anaknya Renza..., batin Arinka sambil terus menguping.


Deni menepuk punggung Renza tanda Deni iba kepada Renza.

__ADS_1


"Aku harus apa Pak? Apa aku harus membereskannya?"


"Jangan, aku masih mengasihaninya, aku ingin lebih banyak bukti."


Ternyata Renza sangat mencintai Giska, beruntungnya Giska tak seperti aku.


"Baiklah, Pak." Deni beranjak dari duduknya dan mendekatkan diri kepada Renza seraya berbisik, "Kenapa tak belajar mencintai Arinka saja, Arinka juga tidak buruk wajahnya cantik."


"Kau, mau dipecat? Dia bukan type ku tahu!"


Memang benar dia cantik apalagi dihari pernikahan, tubuh polosnya juga masih terngiang dikepalaku saat dia terpeleset sungguh itu sangat lucu,ahh sadar kenapa denganku ini, aku sudah bilang tak mencintainya.


Seketika wajah Deni nanar melihat airmuka Renza yang merah padam, Dengan cepat Deni meminta maaf, padahal bukan hanya karena marah tapi juga lucu teringat tubuh polos Arinka saat jatuh, hampir saja Renza senyum sendiri dengan cepat renza mengubah raut wajahnya menjadi seperti semula.


"Lihat penampilannya yang kampungan itu, setiap hari hanya menggunakan rok ngembang saja, bikin mata sakit saja. hari ini dia akan pergi juga ke acara pelantikan jabatan Ceo bikin aku malu saja."


"Jika di belikan pakaian mahal dan ditata kesalon mungkin akan berubah," ucap Deni pelan hampir tak terdengar tapi Arinka mendengar.


Segitu malunya dia mengakuiku sebagai istrinya, ya aku ini memang kampungan luar dan dalam, aku sangat sadar diri, aku ingin berubah menjadi wanita yang disukainya apakah bisa dan layak jika aku memakai pakaian mahal dan merawat diri kesalon.


Setelah mendengar semua pembicaraan Deni dan Renza, Arinka mengetok pintu kamar, pura-pura baru sampai padahal dia sudah lama menguping.


"Nenek menyuruh kebawah, sarapan sudah siap Tuan Renza."


Panggilannya Tuan, bukan suami atau sayang. ada-ada saja mereka ini..., gumam Deni dalam hati.


Renza menatap sinis kepada Arinka, dan Deni tersenyum seraya menjawab, "Iya nyonya terima kasih, kami akan turun sebentar lagi."


Renza hampir tak pernah berbicara kepada Arinka, bahkan untuk menjawab saja Renza sangat malas, entah karena perasaan benci sudah sangat besar mungkin, atau juga jaga hati, takut suatu waktu ia akan menyukainya.


Ah Tuhan, ternyata mencintai tidak sesederhana itu.


Arinka sangat sabar kepada Renza walaupun dengan semua kata-kata menyakitkannya Renza, Arinka tetap tak mengambil hati, tetapi bila Renza terus menerus menyakitnya seperti yang sudah-sudah, Akankah sabar itu hilang? Yah, setiap orang mempunyai tingkat kesabaran yang berbeda batasnya.


Bersambung...


jangan lupa Vote dan coment nya yah 😘

__ADS_1


jika sudah selesai membaca, jangan lupa beri like ya 💋 jangan jadi pembaca gelap tanpa menghargai penulis.


Salam sayang, Luv u 😘


__ADS_2