Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 93 : Shopping


__ADS_3

Arinka dan Renza sudah sampai di depan pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Setelah turun, Renza segera menggandeng tangan Arinka dan tersenyum menatapnya.


"Beli apa saja yang ingin di beli, jangan menahannya."


"Wah, aku akan membeli seluruh isi di toko nanti," ucap Arinka terkekeh.


"Silahkan," ucap Renza tertawa. "Bagiamana jika kapan-kapan kita mengajak Deni dan Risa," ucap Renza.


"Boleh, aku suka jika ada Risa." jawab Arinka.


Arinka dan Renza saling menggenggam tangan mereka dengan erat. Mereka berjalan sambil melirik kiri kanan. Mata Renza terfokus dengan sebuah toko perhiasan yang sangat besar.


"Mimom, ayo kita kita masuk toko perhiasan itu," ajak Renza menarik gandengan tangan Arinka.


"Toko perhiasan?"


"Iya masuk, kita lihat-lihat dulu."


"Hemm, ya sudah."


Seorang wanita menyapa dengan pakaian kemeja putih dan rok hitam pendek rapi dengan rambut disanggul dan tersenyum ramah. "Ada yang bisa di bantu?" katanya.


Renza membalas tersenyum dan menatap perhiasan yang begitu banyak tersusun di etalase kaca.


"Coba yang ini," tunjuk Renza dan tersenyum menatap Arinka.


"Sebentar, ya, Pak."


"Kalung?" ucap Arinka.


"Iya, kita beli kalung baru. Yang ini bagaimana?" tanya Renza.


"Ini sangat cocok di leher Nyonya. Liontin mewah yang sangat cantik," ucap wanita bersanggul itu.


Renza mengambilnya dari tangan wanita itu dan memasangkannya ke leher Arinka. Benar-benar sangat cocok dan cantik berada di leher putih Arinka.


"Aku ambil ini satu set," ucap Renza menunjuk kalung yang sudah terpesang di leher Arinka.


"Iya baiklah, Pak. Mohon melakukan pembayaran sebesar yang tertera di kertas ini."


Renza mengeluarkan kartu vip gold nya dan memberikannya kepada wanita bersanggul itu. Arinka melongo mulutnya berbentuk hurup O ketika Renza mengeluarkan kartu goldnya.


"Kenapa?" tanya Renza.


"Hanya iseng saja terkejut," jawab Arinka tertawa.


"Menggemaskan sekali, sih." Renza mencubit pipi Arinka pelan. Wanita bersanggul itu tersenyum melihat tingkah mereka.


"Kalian ini pasangan menikah, 'kan?" tanya wanita sanggul.


"Iya, tentu aja dia istriku." sambil merangkul pundak Arinka.


"Kalian baru menikah, ya?"


"Tidak. Sebentar lagi kami anniversary"


"Wah, aku pikir kalian baru saja menikah."


"Apa terlihat begitu." Arinka menambahkan.


"Iya. Kalian benar-benar pasangan serasi. Semoga kalian langgeng," ucap wanita bersanggul.


"Terima kasih," jawab Arinka tersenyum menyipitkan matanya.


"Ini kartu anda dan ini perhiasannya. Terima kasih, semoga hari anda menyenangkan."


"Iya, terima kasih kembali," jawab Renza sembari mengambil kartu dan perhiasannya.


Mereka keluar dari toko perhiasan sambil bergandengan tangan. Mereka berdua berjalan ke sebuah cafe.


"Mimom, ayo kita makan dulu. Pipom lapar," ujar Renza menoleh dan mengusap rambut Arinka.


"Hmm ... Mimom juga lapar, sih."


Renza dan Arinka masuk, kemudian duduk di dekat replika pohon sakura besar. Arinka melirik pohon sakura besar itu dan melongo.


"Pip, pohon ini bagus sekali. Ini asli, 'kah?"


"Ini palsu, mimom. Pohon ini hanya replika."


"Hehe ... mimom kan tidak tahu." Arinka nyengir kuda.


"Uwuu, setiap hari mimom ini selalu menggemaskan."


"Benarkah? Gombal."


"Tidak lah. Bagiku istriku itu selalu menjadi nomor satu dan paling menggemaskan.


"Uwuuu ... mimom terharu." Arinka memperlihatkan tatapan puppy eyes.


"Ah, seperti tersihir melihat tatapan itu. Benar-benar paling menggemaskan."


Seorang pelayan datang ketika mereka asyik tertawa. Pelayan itu ramah menyapa mereka. Renza menyebutkan makanan di pesannya, Begitupun Arinka.


"Coba perlihatkan tatapan puppy eyes tadi. Pipom ingin memotretnya."


"Tidak, tadi itu kan tidak sengaja," ucap Arinka.


Renza tak peduli dengan pose Arinka, dia tetap saja memotret Arinka sebanyak mungkin. Dari mulai Arinka tertawa, sampai Arinka marah karena Renza tak berhenti memotret.

__ADS_1


"Hentikan, Pip. Beberapa melihat kita. Mimom jadi malu."


"Kenapa harus malu? Yang memotret suami sendiri."


"Ya sudah terserah." Arinka merajuk.


"Cup ... cup ... Jangan ngambek, jelek tahu."


"Memang sudah jelek." Arinka mencebikkan bibirnya.


"Tidak, dong." Renza segera merangkul Arinka.


"Jangan begitu, ini kan tempat umum."


"Biarkan saja. Kita suami istri, kok. Bukan pasangan mesum, haha."


"Isshh ... Pipom ini aneh-aneh saja ucapannya." Arinka tertawa geli.


"Nah, 'kan? Akhirnya mimom tertawa juga."


"Yayaya ...."


"Nanti kita ke photobox, ya? Kita foto di sana."


"Hemm ... terserah Pipom saja."


Beberapa saat kemudian, pelayan membawakan pesanan makanan mereka. Arinka dan Renza yang sedang tertawa seketika menghentikan tawanya. Pelayan itu tersenyum dan mengatakan, "Selamat menikmati."


Renza dan Arinka tersenyum seraya mengucapkan terima kasih bersamaan. Tak berlama-lama mereka segera melahap makanan di atas meja itu. Renza sesekali menyuapi Arinka. Arinka membuka mulut dengan malu-malu. Beberapa orang yang lewat menatap heran melihat kemesraan mereka berdua dan ada beberapa lagi bertindak acuh.


Arinka memasukkan makanan dengan pelan ke mulutnya. Sesekali Renza menjahilinya sembari mencubit pipi Arinka. Kemudian, Arinka menghentikan kunyahannya dan menatap lekat kepada Renza.


"Maaf," ucap Renza tertawa.


"Makan saja dulu, nanti main-main lagi." Arinka cemberut.


"Iya ... Maaf, Tuan putriku."


"Tuan puteri, astaga!"


"Kenapa? Apa terlalu lucu didengar."


"Iya, jangan keras-keras didengar orang, Haha ...."


"Ternyata malu didengar orang." Renza tertawa.


Ketika Renza dan Arinka sedang asyik tertawa, datanglah dua orang yang sangat familiar bagi mereka berdua. Dua orang itu saling menggenggam tangan masing-masing. Arinka tersenyum tipis saat dua orang itu berhenti di hadapan meja mereka.


"Hei, Ren ...," sapa lelaki itu.


"Jefran!" jawab Renza.


"Hai, Arinka," ucap Jefran.


"Hai, Ren," sapa Sinta. Renza hanya mengangkat alisnya sebelah. Renza masih kesal dan tidak suka menatap dua orang dihadapannya itu.


"Kebetulan sekali kita bertemu, boleh bergabung?" tanya Jefran.


"Ehm ... kami sudah selesai," ucap Arinka menyambar ucapan Jefran.


"Iya, kami sudah mau pergi." Renza beranjak. "Ayo sayang," katanya.


Jefran menahan tangan Renza, dengan cepat Renza menepisnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu. Bagaimana jika kalian duduk dahulu."


"Aku tahu kalian ingin mengatakan akan menikah. Ya sudah menikah saja. Tidak perlu memberitahuku," kata Renza seraya menggenggam tangan Arinka.


"Kau sudah tahu? Ah, aku lupa kau Renza. Kau bisa tau dan berbuat apa saja, 'kan?"


"Karena kau sudah tahu, aku akan permisi." Renza acuh.


"Jangan lupa datang, aku akan memberikan surat undangan pada Risa," ungkap Sinta.


"Aku tidak bisa berjanji." Renza melangkah dan menarik tangan Arinka. Mereka berdua berjalan ke kasir dan membayar. Setelah itu mereka berdua keluar.


Renza menunjuk photobox yang ada di sudut. Renza segera menarik tangan Arinka. Arinka tersentak menatap punggung Renza. Renza menoleh dan tertawa, sontak Arinka juga tertawa.


Mereka berdua masuk ke dalam photobox itu. Arinka tertawa canggung. Ia bingung karena baru pertama kalinya. Renza menekan tombol di photobox itu, sedangkan Arinka hanya mengernyit.


"Ayo berfose," ucap Renza.


Arinka berfose canggung. Renza memegang pipi Arinka dan tertawa. Jadilah fose dengan sembarang gaya. Mereka tertawa setelah foto itu keluar. Hampir setengah jam mereka berada di dalam photobox itu dan akhirnya keluar. Alhasil, sekalinya keluar mereka sangat berkeringat.


"Huahh, sangat panas," ucap Arinka sambil mengibaskan rambutnya dengan tangan.


"Sini pipom kipasin." Renza mengangkat kedua tangannya seraya mengibas-ibaskan tangannya.


"Ahh, makasih sayang." Arinka tersenyum mengedipkan matanya sebelah.


"Genit, ya, istriku ini. Sini peluk."


"Mana bisa main peluk-peluk di tempat ramai."


"Bisa lah, kan kita pasangan suami istri." Renza nyengir kuda.


"Ishh ... nanti malam aja," bisik Arinka.


"Wahh! Pipom tunggu janji ini, ya."


"Tunggu saja sampai pagi, haha."

__ADS_1


"Lihat saja nanti." Renza mencolek dagu Arinka.


"Beli ice cream yuk," ajak Arinka.


"Ayo, kalau hanya ice cream segerobak aja sih gampang." Renza tertawa lucu sambil menutup mulutnya.


"Segerobak?"Arinka memalingkan wajahnya.


"Kenapa dengan wajah itu." Renza ingin memegang pipi Arinka. Namun, Arinka melangkah cepat meninggalkan Renza. Dua pasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan iri dengan kebahagian mereka.


"Apa yang kau lihat?" tanya Jefran kepada Sinta.


"Tidak ada."


"Apa kau masih menyukainya?"


"Hah, siapa?" Sinta terperanjat.


"Kamu masih menyukai Renza, 'kan?"


"Tidak, aku sudah melupakannya. Aku ingin bahagia sekarang."


"Kau juga pernah menyukai istrinya Renza,'kan?"


"Iya dulu, tapi dia sangat keukeh dengan pendiriannya, dia itu setia."


"Kadang aku berpikir memang sudah seharusnya Renza mendapatkan jodoh yang baik. Dia kan tersakiti dulunya gara-gara perbuatan kita."


"Iya, aku sekarang benar-benar sudah tidak ingin mengusik mereka, biarkan saja mereka bahagia dengan semestinya."


"Hm ... sudah cukup kita menyakitinya. Sekarang pun dia masih kesal dengan aku dan kamu, tapi lama-kelamaan akan segera membaik. Sepupuku bilang, istrinya Renza itu benar-benar baik dan pengertian."


"Sejauh yang aku kenal, memang Arinka sangat sopan dan lembut. Aku pikir dia dulunya belum mempunyai suami. Setelah tahu ia istrinya Renza, aku sangat syok."


"Haha ... kau ingin mendapatkannya? Sekarang kau masih mencintaiku?" tanya Jefran.


"Masih, aku mencintaimu. Oleh karena itu aku akan menikah denganmu. Dan mungkin kamu memang jodohku, meski harus menyakiti orang lain dulu."


"Hmm ... rahasia jodoh. Siapa yang tahu dengan jodoh, rezeki dan maut. Itu urusan Tuhan."


"Semoga pernikahan ini lancar nantinya. Amiin." Sinta mengaminkan dengan menutup kedua tangannya di wajah.


"Ayo makan!"


****


Arinka dan Renza duduk di bangku untuk menikmati ice cream cone cokelat yang bertabur meses.


"Makannya hati-hati, jangan sampai belepotan," ucap Renza sembari mengusap bibir Arinka dengan tangannya lembut.


"Pipom juga jangan belepotan, nanti kena jas."


"Iya sayang." Renza tersenyum sangat manis. "Setelah ini kita masuk toko sepatu, yuk?"


"Iya, habiskan ice cream dulu."


"Baikkah."


Setelah selesai dengan ice cream, mereka berjalan lagi bergandengan tangan. Renza masuk ke sebuah toko sepatu. Di sana surganya sepatu. Tersedia dari sepatu formal sampai sport.


"Pipom ingin membeli sepatu kerja baru," tanya Arinka.


"Jika ada yanh cocok, kita beli sepatu couple lagi, ya?"


"Haha, sepatu couple merah muda. Mau?"


"Issh, becandanya ini bikin gemes. Yang merah muda sekalipun jika dipakai bersama mimom, tak masalah. Lagi pula aku ini cocok memakai baju apa saja." Jiwa bucin dan narsis Renza mulai berjolak.


"Iyain aja lah." Arinka tertawa lucu.


"Kenapa Mimom tertawa?" mengernyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa, lucu saja."


"Ayo pilih, nanti kita pakai bersamaan."


"Aku bingung." Arinka menatap dengan tajam. Alhasil, ia memejamkan matanya.


"Kenapa ekspresinya begitu?"


"Sebanyak ini bagus semua. Haha ...."


"Beli semua," ucap Renza datar.


"Tidak, jangan. Buat apa? Kan sudah janji mau ke tempat panti asuhan untuk berbagi."


"Baiklah, kan hanya becanda saja." Renza terkekeh.


"Hmm, aku pilih dua pasang ya."


"Iya, pilih saja sayang."


Setelah bergelut dengan kesedihan, akhirnya hari ini mereka melakukan kegiatan menyenangkan. Senyum terus terpancar diwajah mereka masing-masing. Bepergian bersama memang solusi terbaik bagi pasangan yang baru saja bertengkar.


Bersambung...


Jangan lupa vote dan likenya 😊


Readers, tetap jaga kesehatan, ya.

__ADS_1


Salam sayang dari Aku buat pembaca semua.


I love u 💋


__ADS_2