
Di sebuah cafe, Renza dan Arinka sudah duduk di meja dekat dengan jendela. Cafe itu begitu asri, karena disekitarnya banyak pepohonan yang rindang. Renza sengaja membawa Arinka ke cafe itu karena Renza sangat tahu bahwa Arinka menyukai tempat yang berhubungan dengan alam dan pepohonan.
"Wah, tempat ini sangat indah, udaranya segar dan sejuk."
"Kau suka 'kan sayang?"
"Suka sekali, terima kasih." seraya memperlihatkan senyum paling manis.
"Uncchh ... manis sekali, sih!" ucap Renza memegang dagu Arinka.
Seorang pelayan datang membawakan daftar menu. Renza membukanya dan melihat apapun yang akan ia pesan. Arinka melongo menatap nama makanannya, terdengar sangat asing. Bahkan untuk mengucapkannya saja sulit bagi Arinka.
"Aku tidak tahu apapun nama makanan disini?" ucap Arinka seraya bangkit dan berkata pelan.
"Tidak apa, aku yang akan memesankan yang paling enak disini." seraya tersenyum manis. Arinka manggut-manggut malu.
"Aku benar-benar sangat kampungan 'kan?" ucap Arinka lirih.
"Jangan berkata begitu, aku tidak suka."
"Tapi kenyataannya begitu, istri seorang Ceo tidak tahu nama makanan, pasti bikin malu."
"Aku akan marah jika kau begini terus, jangan berbicara begitu!"
Arinka mencoba tersenyum walaupun masih sangat kaku. Ia sadar betul dengan dirinya bahwa ia memang sangat kampungan. Renza memperhatikan Arinka seraya memegang tangan Arinka kemudian mengelus-elus nya lembut.
Renza mengeluarkan ponselnya seraya tersenyum memanjakan diri disamping arinka. Kepalanya ia sandarkan di bahu Arinka.
"Mom, ayo kita selfie! kita belum pernah selfie, aku ingin memakainya nanti sebagai walpaper."
Arinka hanya tersenyum. Renza mulai mengambil gambar berulang kali. Mereka melakukan banyak pose dan salah satunya Renza mencium pipi Arinka. Arinka tersenyum tersipu malu.
Seraya menunggu makanan, Arinka memainkan ponsel Renza melihat hasil foto selfie mereka. Ini pertama kalinya Arinka memainkan ponsel Renza. Banyak foto-foto kenarsisannya, salah satunya foto Renza tersenyum dengan jari berbentuk Peace. Arinka tertawa menatapnya, sangat lucu dan menggemaskan.
"Kenapa tertawa?"
"Coba lihat foto ini? Ya ampun sangat menggemaskan." ucap Arinka keceplosan seraya menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Tidak mau mengakui, ya? Aku ini benar-benar tampan dan menggemaskan tahu!"
"Iyaaa ...." ucap Arinka masih tertawa lucu.
Beberapa menit kemudian, minuman yang mereka pesan sudah datang. Arinka memperhatikannya, warnanya sangat cantik berwarna warni seperti pelangi.
"Minuman ini sangat cantik?"
"Iya, tapi tetap masih cantikkan istriku." Seraya mengedipkan matanya.
"Idih, genit."
"Biarin."
Mereka berdua tertawa bersama. Setelah puas tertawa Arinka merasa ingin buang air kecil. Ia permisi pergi ke toilet kepada Renza, saking takutnya Renza ingin menemaninya ke toilet. Tapi Arinka mencegahnya. Nantinya Arinka terlihat sangat manja atau Renza yang terlihat konyol.
Renza menunggu sambil memainkan ponselnya. Ia mengirim pesan kepada Deni bahwa Deni harus makan siang yang teratur jangan sampai terlambat. Walaupun Renza sering berselisih paham atau adu mulut, mereka sangat kompak sudah lebih dari partner kerja, bisa dibilang Deni itu seperti teman dan saudara. Deni adalah satu-satunya orang yang mengerti Renza.
Tiba-tiba, datang dua orang wanita duduk tak jauh dari meja Renza dan Arinka. Renza tidak memperhatikannya. Wanita itu melirik kearah Renza dan berjalan menghampiri Renza seraya menepuk punggungnya.
"Renza!"
Renza menoleh seraya menatap wanita itu dan kemudian wanita itu menatap dirinya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Sinta ...
Renza tidak mengerti kenapa dari sekian banyak manusia yang mungkin ditemuinya, ia malah mendapatkan kesempatan untuk bertemu Sinta ditempat seperti ini. Bukankah orang bijak pernah berkata kalau hanya ada satu persen dalam seratus persen bagi kita untuk bertemu dengan orang yang tidak ingin kita temui?
Tapi kenapa Renza malah bertemu dengan wanita yang sangat tidak disukainya ini?
"Sudah lama sekali?" ucap wanita itu seraya duduk menarik kursi. Renza hanya terdiam tak bersuara menahan emosinya.
"Bagaimana kabarmu? apa yang kau lakukan disini seorang diri?"
Bagaimanapun, jika berurusan mantan pasti kita akan merasa gugup, pasalnya mantan adalah orang yang pernah kita cintai, pernah mengisi relung hati dan bahkan dulu sering mengucapkan kata-kata cinta.
"Sayangnya aku tidak sendiri, aku bersama istriku!" ucap Renza tersenyum sinis.
"Oh ya, kau sudah punya istri? aku pikir kau akan menungguku." seraya tersenyum manis.
"Kau pikir kau siapa, Huh?" Pekik Renza.
"Aku mantanmu, apa kau pura-pura melupakanku? Apa kau ingat, dulu kau sangat mencintaiku?"
"Jangan bermimpi! itu hanya masa lalu, kau bersama Jefran saat itu, kau menduakanku. Setelah kau bosan kepada Jefran kau kembali memohon padaku dulu ingin kembali. Kau sangat tahu aku dan Jefran itu dulu berteman dekat. Dasar wanita tak tahu malu!"
"Aku tidak pernah mencintai Jefran, aku hanya mencintaimu dulu?"
"Kenapa kau seperti ini? pergi sana! kau merusak mood ku!"
Arinka keluar dari toilet. Ia bercermin dan melihat make up yang ia kenakan tadi apakah masih menempel sempurna. Arinka baru belajar menggunakan make up dan itupun hanya makeup tipis dan sederhana.
Tiba-tiba, langkah Arinka terhenti. Ia melihat seorang wanita duduk disamping kursi suaminya. Arinka tidak berpikiran negatif. Ia pikir itu adalah kenalan Renza atau rekan kantornya.
__ADS_1
Arinka memperhatikan penampilan wanita itu, sangat modern. Wanita itu mengenakan mini dress berwarna hitam yang melekat ditubuhnya dan menggunakan
heels yang cukup tinggi.
Arinka mendekat dan terdengar suara seperti perdebatan. Arinka mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba ada seseorang wanita yang memanggilnya dari meja yang tidak jauh dari meja tempat Arinka dan Renza makan, "Kak Arin!"
Arinka sekejap menoleh ke arah suara yang memanggil namanya itu. Ia tersenyum manis menatap wanita itu.
"Risa!"
Arinka menghampiri Risa dengan senyuman manis dibibirnya.
"Kau sendiri?" tanya Arinka.
"Tidak, aku bersama sepupuku, kebetulan sepupuku baru pulang dari luar negeri." Risa menjelaskan.
Arinka hanya ber-O ria.
"Kak Arin bersama siapa?"
"Aku bersama suamiku."
"Ya sudah, nanti suami kakak menunggu. Aku sebenarnya sangat ingin mengobrol lebih lama sama Kak Arin."
"Bagaimana kalau kita makan bersama?" ajak Arinka.
"Tapi aku bersama sepupuku, tidak enak nantinya."
"Iya ya, jika kau ada waktu kabari saja kakak."
"Oke, Baiklah. Bye ... bye ...."
Arinka berjalan seraya tersenyum kepada Renza. Namun Renza tidak memperhatikan. Wajahnya terlihat sangat marah. Sejenak hening tidak ada pembicaraan sama sekali. Arinka merasakan aura dingin yang sama sekali tidak bersahabat.
"Sayang!" panggil Renza, sekejap raut wajahnya berubah, ia tersenyum.
Renza, kau telah berurusan dengannya dimasa lalu, jangan hiraukan dia, dia hanya masa lalu pahit yang tidak berarti apa-apa.
"Apa ini istrimu?" ucap Sinta tersenyum ramah.
"Ya, dia istriku, belahan jiwaku dan kesayanganku."
Arinka tersipu malu mendengar perkataan Renza. Tapi Sinta hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Renza seraya menjulurkan tangannya kepada Arinka.
"Saya Arinka." ucap Arinka tersenyum manis.
"Saya Sinta, senang berkenalan denganmu!" ucap Sinta tersenyum tak kalah manis.
Sinta! bukannya Sinta itu mantannya Renza. Astaga! wanita ini benar-benar cantik, wajar saja Renza susah move on.
Arinka menelan saliva dengan payah mendengar ucapan Renza yang sangat kasar. Ia teringat saat ia pernah dibentak seperti itu, berada diposisi itu. Hatinya kembali sakit mengingatnya.
"Maaf aku bicara kasar ya Mimom sayang." seraya mengelus tangan Arinka.
"Aku mantannya Renza, apa kau tahu?"
"Yah, aku sudah tahu." jawab Arinka tersenyum.
"Jadi kau sudah bercerita padanya, Wah! apa kau tahu jika Renza sudah mencintai, dia akan menjadi sangat terobsesi. sama sepertiku dulu."
"Kau pikir kau siapa? Huh, memuakkan! Ayo kita pergi!" ucap Renza seraya menarik tangan Arinka.
Setelah membayar, mereka keluar dari cafe itu dan pergi menggunakan motornya. Mereka bahkan belum makan sama sekali. Arinka tidak berbicara apapun selama di atas motor. Sesekali Renza memegang tangan Arinka seraya mengelusnya.
Apa dia masih belum bisa melupakan Sinta? wajahnya sangat kesal.
Renza pergi membawa Arinka ke kantornya. Sesampainya disana, mereka turun dan Renza menggenggam tangan Arinka dengan kuat. Renza belum banyak bicara, ia sepertinya masih menenangkan hatinya. Ia masih terkejut dengan pertemuannya tadi.
Renza masuk kedalam ruangan kantornya. Kemudian ia duduk di kursi kebesarannya sedang Arinka duduk disofa. Renza sudah melupakan bahwa dirinya belum makan sama sekali dan ia pun melupakan bahwa orang yang ia sayangi belum makan juga.
Deni masuk kedalam ruangan. Deni terlihat heran akan tingkah mereka berdua, biasanya mereka selalu sayang-sayangan. Arinka sengaja diam saja tak bersuara.
"Nyonya, anda disini?" ucap Deni.
"Iya, kebetulan tadi dari cafe."
Deni duduk di sofa melempar kode kepada Arinka seraya menaikan bahunya dan matanya melirik Renza.
Arinka menjawab spontan karena ia juga sangat cemburu.
"Dia bertemu Sinta, makanya dia galau." ucap Arinka memasang wajah datar.
"Siapa? aku tidak galau kok? hanya sedikit lelah karena sudah lama tidak naik motor."
Deni keluar dari ruangan itu. Deni tahu suasana diruangan itu sedang panas. Pasti akan ada keributan nantinya.
"Maaf, aku hanya terkejut saja tiba-tiba bertemu dia disana? orang yang tidak pernah aku harapakan untuk aku temui."
"Kau masih menyukainya?" ucap Arinka sudah memperlihatkan wajah kesal.
"Tidak, dia tidak pernah ada dihatiku lagi, dia sudah aku kubur jauh didasar tanah, hanya saja aku masih terkejut dia tiba-tiba datang seperti itu. aku benar-benar mwmbencinya."
__ADS_1
"Oh begitu." Arinka menjawab dengan jawaban singkat.
"Apakah kau marah?" ucap Renza bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa disamping Arinka. Ia mengelus rambut panjang Arinka yang sedikit kusut setelah naik motor tadi.
"Tidak, aku tidak marah!"
"Kau seperti marah? cup... cup... sayang." ucap Renza seraya memeluk tubuh Arinka.
Dia bahkan tidak ingat aku belum makan sama sekali. jadi cintanya selama ini hanya dimulut saja.
Arinka bangkit dari sofa dan berdiri, "Aku ingin pulang, aku ingin tidur. Tolong panggilkan Deni."
"Kau ingin tidur? Ya sudah, selamat istirahat mimom."
Deni masuk kedalam ruangan, Renza berkata agar Deni mengantar Istrinya kerumah jangan mampir kemana pun.
Renza mendekati Arinka ingin mengecup keningnya, tapi Arinka menghindar dan segera keluar.
Renza mengejar Arinka keluar, kemudian ia memeluknya didepan Deni dan mengecup keningnya.
"Hati-hati dijalan ya mimom sayang."
"Mmm ... " jawab Arinka singkat.
Mulai lagi mesra-mesranya didepanku, huh!
***
Di dalam mobil, Deni menyetir dengan santai. Deni memperhatikan Arinka dari kaca spion depannya. Wajah Arinka terlihat sedih. Arinka terus menatap keluar jendela mobil menatap lalu lintas yang padat.
"Nyonya, apakah kalian sedang marahan?" ucap Deni memberanikan diri bertanya.
"Tidak, hanya saja aku sedang berpikir."
"Berpikir apa? Berpikir tentang Sinta?"
"Berpikir tentang Renza, apa dia masih mencintai Sinta?"
"Tidak, Nyonya. Pak Renza hanya mencintai Nyonya Arinka seorang diri, mungkin dia sangat terkejut karena Sinta itu orang yang paling tidak ingin ditemuinya lagi. Pak Renza sangat membencinya."
"Tapi dia melupakanku, aku bahkan belum makan disana? gara-gara Sinta aku harus kelaparan."
"Ya ampun, Pak Renza pasti sangat terkejut sekali bertemu dia, makanya dia sampai lupa Ny. Arinka, jangan marah padanya Nyonya, Pak Renza itu benar-benar membencinya, Jika Pak Renza ingat bahwa Nyonya belum makan pasti Pak Renza akan segera meminta maaf."
"Kau pasti membelanya, karena kau adalah bawahannya. Padahal dia sangat menyebalkan hari ini."
"Tidak Nyonya, bukan begitu. Sinta itu sangat menyakitinya, saat Pak Renza sedang cintanya ia pergi bersama Jefran, dan kemudian setelah perusahan pak Renza maju ia ingin kembali. Benar-benar wanita murahan." ucap Deni memperlihatkan wajah kesal.
"Aku sudah dengar, tapi aku hanya heran saja dia melupakan aku yang belum makan sama sekali."
Tak lama kemudian, terdengar dering ponsel dari tas Arinka. Arinka segera merogoh tas itu dan melihat tulisan Pipom calling.
"Aku malas menjawabnya." ucap Arinka.
"Siapa?"
"Tuanmu."
Tak berselang berapa menit, Renza menelpon Deni. Deni menjawabnya segera. Deni tahu pasti Renza sudah ingat bahwa istrinya belum makan.
"Deni, kau sudah sampai?"
"Belum, Ada apa?"
"Kenapa Arinka tidak menjawab telponku, aku melupakan istriku, dia belum makan sama sekali, aku sangat bersalah, aku membenci diriku sendiri karena lupa bahwa kesayanganku belum makan sama sekali." Deni mengeraskan suara ponselnya agar Arinka bisa mendengarnya, jika Renza dan Arinka bertengkar suasana di kantor pasti akan sangat berbeda.
"Apa dia ada di mobil, berikan ponselmu padanya? aku tahu dia pasti marah dan kesal, bisa-bisanya aku melupakan istri yang paling aku cintai, aku pantas di maki, aku pantas dimarahi. Bantu aku Deni, aku sangat menyanyanginya."
Deni memberikan ponsel itu kepada Arinka, tapi tak ada sambutan dari Arinka. Arinka tidak ingin menerima telpon dari Renza, hatinya masih sangat kesal.
"Maaf, Nyonya tidak ingin bicara, Pak."
"Tidak apa-apa, ini memang salahku, sekarang bawa ia makan ke restauran. Belikan ia makanan yang sangat enak. Sampaikan kepadanya bahwa aku hanya mencintainya, percayalah."
Setelah itu sambungan dimatikan. Deni bertanya kepada Arinka ingin makan dimana. Arinka menggeleng, ia tidak ingin makan. Deni mencoba menyebutkan batagor, siapa tahu Arinka ingin membelinya, tapi nihil Arinka hanya menggelengkan kepalanya. Arinka hanya ingin pulang kerumah.
Deni tak bisa berbuat apa-apa lagi, Deni hanya bisa mengantarnya sampai dirumah dengan selamat.
Jika menyangkut hati wanita pasti akan rumit... gumam Deni dalam hati.
Deni membukakan pintu, kemudian Arinka turun dan Deni mengikutinya. Arinka langsung naik keatas tanpa berbicara.
Aku mengerti, dia pasti kesal dan cemburu. Kenapa juga Renza sampai melupakan tentang makan siangnya tadi hanya gara-gara Sinta, aku juga tahu Renza pasti syok melihat Sinta tapi bagaimana ini? Aku terlalu pusing memikirkan mereka.
Deni berjalan kedapur mencari Bi Ami. Deni ingin Bi Ami memasak makanan kesukaan Arinka. Kemudian Deni kembali lagi kekantor.
Bersambung...
Hay Readers, saatnya part cemburu dan salah paham ya 😁😁
Jika sudah selesai membaca jangan lupa tekan likenya. dan jangan lupa vote dan comment sebanyak mungkin ya sayang...
__ADS_1
Salam sayang dariku buat pembaca semua 💋💋
Luv u All 😘😘😘