Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 110 : Antar pulang


__ADS_3

"Denista!"


Panggil seseorang dari kejauhan. Sang empunya nama menghentikan langkahnya. Dengan ragu-ragu, ia menoleh. Risa memperlihatkan bagian bibir yang tertarik saat melihat siapa yang berseru.


"Dina!" sahut Deni dengan mata membulat.


Dina menghampiri dan berjalan cepat kearah sepasang kekasih itu. "Kenapa kaget begitu menatapku?" tanya Dina tertawa.


"Kaget saja, kamu kan kemarin bilang liburan, apa sudah pulang?" Deni menerka-nerka.


"Ga jadi pergi, ditunda dulu."


"Mau liburan kemana?"celetuk Risa.


"Aku mau kerumah nenek, sih."


"Owh," jawab Risa singkat sambil menyunggingkan bibirnya tipis.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Aku ingin keperkumpulan." Dina tertawa.


"Pasti perkumpulan sesama anak kpop 'kan?" ucap Deni menarik napas kasar. "Sudah kuduga pasti benar."


"Haha, sudah tahu. Harusnya tidak bertanya." Dina cekikikan.


"Seru kayaknya," ucap Risa menatap Dina lekat.


"Seru, dong. Aku banyak bertemu teman baru disana."


"Apa kau tertarik juga?" tanya Deni menaikkan alis sebelah menatap Risa.


"Tertarik!" jawab Risa tertawa riang. Helaan napas kasar terdengar dari mulut Deni, "Huh!" sambil berjalan memasuki tempat martabak itu. Risa tertawa melihat tingkah Deni yang menurutnya itu sangat menggemaskan. Sedangkan Dina mengerucutkan bibirnya. Ia tahu sepupunya itu sangat tidak suka dengan kpop.


"Padahal kamu suka kpop, Deni masih suka kamu 'kan?"


Pertanyaan yang dilontarkan Dina itu membuat Risa kebingungan. Apa hubungan kedua kalimat itu. Risa masih memikirkannya.


"Maksudnya?" Risa memberanikan diri bertanya.


"Tidak apa-apa, sih. Ya sudah ... aku pergi dulu, ya? See you next time."


Risa melongo melihat Dina meninggalkannya dengan senyuman. Risa masih kebingungan dengan kata-kata Dina. Padahal tidak sulit menerka maksud Dina, hanya saja akhir-akhir ini Risa seperti orang lambat saja.


"Kpop dan suka?" Risa bergumam pelan sambil duduk dibangku sebelah Deni.


" Ada apa?" tanya Deni tersenyum. "Dina, sudah pergi?"


"Heumm ... sudah, barusan."


"Kamu kenapa?" Deni menatap Risa lekat.


"Tidak ada, sih. Aku hanya bingung sedikit."


"Bingung kenapa? Ada yang tidak beres?" Deni terlihat sedikit panik dengan raut wajah Risa. Ia jadi takut kalau saja membuat kesalahan lagi kepada Risa padahal baru saja berbaikan.


"Dina bilang, Suka kpop terus Deni masih suka? Begitu, sih, ucapannya tadi."


"Ish, jangan dipikirkan. Tidak penting juga."


"Tapi aku penasaran, maksudnya apa, sih?"


"Begini-" Baru saja Deni ingin menjelaskan, tiba-tiba mas pembuat martabak itu mengantarkan pesanan martabaknya. Deni dengan segera membayarnya.


"Ayo kita pulang!" ajak Deni dengan kode kepalanya menoleh kemobil.

__ADS_1


"Hemm, baiklah."


Deni membukakan pintu mobil untuk Risa. Risa segera masuk dan duduk sambil memakaikan sabuk pengaman. Diperjalanan mereka hanya saling tersenyum. Risa menggerakkan tangannya untuk menyetel musik didalam mobil demi mengusir rasa canggung mereka.


"Kamu suka lagu apa?" tanya Risa sambil menggerakkan kakinya mengikuti alunan musik edm.


"Lagu apa aja, sih. Tapi lebih suka lagu pop aja."


"Contoh judul lagunya?'


"Coba dengerin lagunya Lewis Capaldi yang berjudul some body to loved."


"Hmm, ya aku tahu, aku juga suka."


"Nah, lagu itu enak didengar 'kan?"


"Liriknya juga bagus."


"Iya." Deni tersenyum sambil melirik Risa.


"Kalo lagu kpop ada kah yang Dino suka?"


"Kpop? Haha ..." Tawa Deni meledak mengisi seisi mobil.


"Kenapa tertawa?" tanya Risa memandang Deni dengan mengernyitkan alis sebelah.


"Tidak ada, tidak suka."


"Dino tidak suka lagu kpop, padahal aku suka loh. Aku ingin bergabung bersama Dina diperkumpulan fans."


"Hah? Alien ingin ikut Dina? Jangan lah, Dina itu terlalu halu."


"Terlalu halu?" Lagi-lagi Risa mengernyit.


"Ish, Dino kok gitu sama sepupu sendiri."


"Ya, emang kenyataannya begitu, sih." Deni tertawa sambil menatap lurus kedepan dan fokus menyetir.


"Aku suka kpop, loh. Jadi Dino ga suka, ya?"


"Engga, kok. Aku suka banget sama Alien."


"Hmm, iyakah? Ga sedang berbohong 'kan?"


"Engga lah. Kenapa harus bohong?"


"Kali aja bohong." Risa memonyongkan bibirnya.


"Tidak, kok. Jangan ngmbek gitu ahh, jadi makin gemesin deh."


"Ishh, paling bisa deh."


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang melewati setiap jalan dan persimpangan. Tak lama, mobil itu berhenti didepan sebuah rumah. Yah, itu rumah Risa.


Risa bergegas membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Tak lupa, ia membawa martabak itu masuk kedalam rumah.


Mira berjalan sampai didepan pintu. Deni turun sesudah Risa. Risa tersenyum melihat Mira yang sudah memasang wajah paling ramah.


"Sore, Bu," ucap Deni seraya menundukkan kepala kehadapan Mira.


"Sore, Den. Mampir dulu," ajak Mira basa-basi.


"Tapi sudah mau magrib," sahut Deni.


"Gapapa, sih. Cuman sebentar doang," celetuk Risa.

__ADS_1


"Itu bawa martabak, kah?" tanya Mira.


"Hemm, iya kesukaan mama."


"Wah, Deni ya yang belikan. Kenapa repot-repot, sih?"


"Tidak apa-apa, kok." Deni tersenyum sambil duduk dikursi santai didepan teras rumah itu.


"Sana buatkan minum," titah Mira kepada Risa.


"Iya, mah." Risa berjalan masuk kedalam rumah sambil


Suasana sore itu sangat mendung. Cuaca yang memang mau hujan dan sudah akan magrib berpadu satu dilangit.


"Sepertinya ga lama lagi bakalan turun hujan?" ucap Mira.


Sepertinya ucapan Mira di dengar langit. Belum lama berkata seperti itu hujan turun sangat deras. Sehingga mereka yang berada diteras segera berhambur masuk kedalam rumah.


Mira mempersilahkan Deni masuk dan duduk di sofa ruang tamu didominasi warna hijau. Tepat disamping sofa ada sebuah bunga matahari besar yang sangat pas disudut ruangan.


"Wah, belum juga lama bicara seperti itu, hujan sudah turun," ucap Mira memecah suasana.


"Iya, seperti sebuah perintah, hujan langsung turun, lebat pula," sahut Deni.


"Hmm, kebetulan sekali." Mira tertawa kecil.


Risa datang membawakan secangkir teh hangat. Ia meletakkan dengan senyuman yang paling manis melebihi teh buatannya itu. Mira menyuruh bibi membawakan piring untuk martabak pembelian Risa dan Deni.


"Yah, akhirnya kamu belum bisa pulang."


"Iya," sahut Deni nyegir kuda.


"Ini makan dulu," ucap Mira.


Deni tertawa saat Mira menyebutkan makan sambil menunjuk martabak.


"Kenapa tertawa?" tanya Risa.


"Martabaknya kita yang beli, masa kita yang makan." Deni tersenyum cengengesan.


"Ya gapapa, ini kan banyak. Lagipula, bisa jadi teman minum teh, ya 'kan?"


"Iya, Bu."


Mereka berbincang-bincang lumayan lama. Sambil ngeteh dan memakan martabak. Sesekali Risa dan Deni saling melirik. Mira yang menyaksikannya tersenyum geli memandang dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.


"Ehemm." Deham Mira saat Deni dan Risa sibuk saling berpandang-pandangan. Deni menjadi salah tingkah dan segera meminta maaf.


"Hujan sudah lumayan reda, aku pulang dulu. sudah pukul 07.00 juga."


"Iya, hati-hati dijalan," ucap Risa.


Deni mencium tangan Mira untuk berpamitan. Sembari mencium tangan Mira berkata, "Besok malam kau bisa datang lagi. Papa Risa akan pulang. Beliau ingin menemuimu."


Deni tersenyum dan menjawab, "Dengan senang hati, aku pasti datang lagi."


Risa tersenyum malu mendengar ucapan Deni. Deni pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bibirnya terus tersenyum. Akhirnya hubungan mereka akan bertahap kejenjang serius.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen ya readers..


salam sayang dariku buat readers semua 😘


Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia 😁

__ADS_1


__ADS_2