
Arinka dan Renza tertawa cekikikan di dalam mobil. Renza tak henti-hentinya tertawa teringst ekspresi wajah Deni yang masam saat Renza memberikan kamera kepadanya.
"Aku benar-benar lucu melihat wajah Deni seperti itu. Dia pasti memakiku dalam hatinya dengan kasar." Renza tertawa keras.
"Haha, wajah Risa terlihat biasa saja. Apa Risa tidak menyukai Deni?"
"Pasti suka, mereka hanya saling malu dan kemudian malu-maluin." Renza tertawa lucu.
"Mimom belum yakin."
Setelah berbicara seperti itu. Beberapa saat saat mereka mampir membeli minuman, mobil yang dilajukan Deni melewati mereka.
"Apa Mimom penasaran dengan Deni dan Risa?"
"Iya, penasaran. Kenapa?"
"Ayo kita ikuti mereka. Pak Ahmad, ikuti mereka! Jangan sampai kehilangan jejak."
"Baik, Pak."
"Mereka kemana, ya?"
"Kita lihat saja nanti, sayang."
Mobil Renza mengikuti Deni. Arinka dan Renza saling menatap dan tersenyum saat mobil yang di kemudikan Deni berhenti di daerah danau.
Renza dan Arinka memperhatikan Deni dan Risa yang sudah turun dan berjalan ke arah Danau. Setelah mereka menjauh, Renza dan Arinka turun megikuti Deni dan Risa diam-diam.
"Kita seperti spy saja," ucap Renza tertawa menutup mulutnya.
"Haha, seperti kurang kerjaan saja," jawab Arinka.
"Kan ini demi rasa penasarannya, Mimom."
"Iya, sih." Arinka nyengir kuda.
"Lihat! Mereka duduk di tepian danau seperti yang kita lakukan beberapa waktu lalu."
"Ehm ... Ah, jadi lucu," ujar Arinka.
"Lucu kenapa?"
"Mereka sangat canggung, lihat saja tingkahnya."
"Iya, eh ... Risa terjatuh."
"Iya, astaga kasihan."
"Uwuu ... Mereka romantis sekali. Risa jatuhnya diatas tubuh Deni, kita seperti menonton adegan drama saja." Renza terkekeh.
"Kita seperti nonton film romance versi nyata." Arinka tertawa menutup mulutnya.
"Istriku pintar bicara, ya, sekarang." ucap Renza seraya mengecup hidung Arinka.
"Issh, ini tempat umum."
"Tidak apa-apa. Kita kan suami-istri sah."
"Iyain dah."
"Lihat mereka sudah mau pulang. Sepertinya Risa menangis?"
"Awas saja Deni itu, bisa-bisanya dia membuat wanita menangis."
"Deni kok diam, astaga Deni itu gengsian sekali, sih!"
"Lihat saja, jika Deni tidak berlari memgejar Risa, dia akan menyesalinya nanti."
"Nah-nah ... Deni berlari mengejar Risa."
"Mereka bertengkar," ujar Arinka.
"Hah, mereka benar-benar gengsi."
Renza dan Arinka saling bertatap saat dan melebarkan mata saat mendengar ucapan yang tidak seharusnya mereka dengar. Kemudian, Arinka dan Renza tertawa. Sambil merangkul bahu Arinka, Renza mengecup pipi Arinka.
"Nah benar, 'kan? Deni menyukai Risa."
"Iya ... astaga! Akhirnya Deni mengucapkannya. So sweet sekali." Arinka tertawa geli.
"Mereka berdua menggelikan, tapi rencana kita berhasil."
"Ehm ... Pipom memeng hebat."
"Siapa dulu, suaminya Arinka."
"Iya, suamiku yang tampan," ucap Arinka seraya mengecup pipi Renza manja.
"Uwuu ... Pipom dapat kecupan. Terima kasih, sayangku."
***
Deni terdiam dan tercengang saat kata-kata yang sangat berat ia ucapkan dan akui itu, tiba-tiba saja keluar dengan sangat enteng dari mulutnya.
Risa melongo menatap Deni. Sesaat mereka berdua mematung dan salah tingkah setelah mengakui perasaan masing-masing.
"Aa-aku serius," ucap Deni terbata-bata.
"Serius? Kau benar menyukaiku?" Wajah Risa mendadak menjadi bersemu merah.
"Iya ... aku menyukaimu saat kau menjadi Mawar."
"Jadi kau hanya menyukaiku sebagai Mawar?"
Risa berjalan dan dengan sigap Deni menarik tangannya. Risa menoleh dan terperanjat. Risa melirik ke arah tangan yang Deni pegang. Seketika, Deni melepaskan tangan itu buru-buru. "Maaf" ucapnya dengan dengan lirih.
Risa tersenyum mendengar ucapan Deni. "Kau bisa juga minta maaf?"
Deni menatap dengan sangat tajam dan berwajah datar. Risa menjadi kaku dan menundukkan pandangannya. "Aku hanya becanda? Sorry."
Terdengar suara Deni tertawa. tapi kemudian tertahan karena ia segera menutup mulutnya.
"Kenapa tertawa? Kau mengerjaiku lagi? Kau sebenarnya tidak menyukaiku 'kan? ucap Risa mulai merasa malu.
"Tidak ... bukan begitu, ucapanku serius! Apa kau mau mendengarkan lebih banyak? Ayo cari tempat duduk. Aku lelah berdiri terus."
"Astaga, lelaki ini masih saja menyebalkan!"
__ADS_1
"Memang sudah sifatku menyebalkan." ucap Deni seraya berjalan menuju bangku di bawah pohon yang tidak jauh dari Renza dan Arinka bersembunyi.
"Tapi herannya aku menyukai lelaki menyebalkan ini. Hatiku memang sangat aneh," gumam Risa pelan.
Deni sudah duduk dan Risa masih berjalan pelan menuju bangku itu. Terlihat Deni senyum sangat manis. Pertama kali Deni tersenyum seperti itu di depan Risa. Matanya terlihat tulus. Tanpa terasa jantung Risa berdebar kuat. Langkah kakinya terhenti.
Kenapa ini? Kenapa dia terlihat manis saat senyum seperti itu. Apakah aku sebucin itu kepada Dinosaurus?
"Kau kenapa?" Deni membuyarkan pikiran Risa. Dengan cepat Risa duduk di sebelah Deni.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mempercayai ucapanmu."
"Ucapan yang mana? yang Aku menyukai ...- Wah! aku benar-benar sudah tidak canggung lagi."
"Aku tidak yakin, jangan-jangan kau hanya mempermainkanku!"
"Tidak, aku sebenarnya sangat menyukaimu saat kau menjadi Mawar. Aku sudah pernah menebakmu saat dipantai. Jika Mawar itu adalah Risa bagaimana? Aku berusaha dengan kuat melupakanmu. Tapi semakin aku berusaha malah perasaan ini semakin kuat. Setiap aku melihatmu dan tanpa sengaja bertemu. jantungku berdebar cepat. Aku menutupi kegugupanku dengan terlihat menyebalkan di depanmu."
Risa tersenyum mendengar ucapan Deni yang berbicara begitu fasihnya tanpa terhenti sedikitpun. Risa berusaha mempercayai semua kata-kata Deni itu dan mencernanya dengan baik.
"Kau bilang kau tadi sedikit menyukaiku?" tanya Deni menatap dengan puppy eyes.
"Apa-apaan mata itu? Kau ini bisa sajs membuatku tertawa geli." Risa tertawa terbahak dan Deni menatapnya tanpa berkedip.
"Ternyata kau seperti ini, jika sangat dekat kau sangat manis."
"Apaan sih?" Risa tersipu malu.
"Jawab pertanyaanku tadi?"
"Eh iya ... aku lupa. Aku juga sedikit menyukai Dinosaurus saat kita sering berbalas pesan dan teleponan malam-malam. Aku malu menyebutnya, aku merasa kehilangan kita tidak saling berkirim pesan. Jadi kita ini saling menyukai, bukan begitu?"
"Kau bilang kau pernah menyukai. Dan artinya sekarang kau tidak menyukaiku lagi, 'kan?" ucap Deni lirih.
"Masih, sedikit." Risa malu-malu.
"Kalau begitu mulai hari ini kita harus bersikap akur," ucap Deni tersenyum.
"Apa menyukai dan mencintai itu beda?"
"Mmm ... berbeda."
Astaga, jadi aku jangan kegeeran dulu. Suka belum tentu cinta, 'kan?
"Jadi jika kita saling menyukai, disebut apa?"
"Aku tidak tahu!" ucap Deni singkat.
Dua manusia ini masih bingung dengan kata-katanya sendiri. Cinta dan Suka itu memang berbeda. Tapi pada dasarnya jika orang itu menyukai pasti lambat laun akan saling mencintai.
"Baiklah, mulai hari ini kita berteman baik, ya?" ucap Risa.
Karena masih bingung dengan ucapan Risa, Deni hanya meng-iyakan ucapan tersebut.
Mungkin harus saling mengenal dan pergi bersama, jika nantinya aku benar-benar yakin, aku akan menyatakan cintaku. Dan mungkin saja Risa belum siap sekarang. Lagi pula ada Milka yang akan aku urus dulu.
"Mmm ... ayo mencoba berteman baik," jawab Deni.
"Iya," ujar Risa sedikit kecewa.
Sementara itu, Arinka dan Renza berusaha menahan tawa mendengar dua orang yang tak jauh didepan mereka saling mengungkapkan kekeliruan.
"Ternyata bukan cinta," bisik Arinka.
"Itu gengsi. Dari rasa suka itu pasti akan menjadi cinta. Mungkin Deni ingin mengenal Risa benar-benar dekat. Deni itu kan belum pernah pacaran."
"Iya yah, tapi ini permulaan yang bagus."
***
Deni dan Risa sudah berjalan menuju mobilnya. Deni memperhatikan mobil yang sangat familiar bagi dirinya.
Apa itu mobil Pak Renza?
"Tunggu sebentar ... Sepertinya ada yang tidak beres?"
"Kau mau kemana?"
"Itu seperti mobil pak Renza? aku benar-benar yakin."
Deni berjalan mendekat ke arah mobil itu. Benar saja terkaannya itu. Karena di dalam itu ada pak Ahmad yang sedang bersandar. Deni sangat hapal dengan mobil-mobil milik Renza.
Tok... tok...
Deni mengetuk jendela mobil itu. Pak Ahmad segera membukanya.
"Ada apa, pak Deni?" tanya pak Ahmad.
"Kenapa disini? Mana Pak Renza dan Ny. Arinka?"
"Nyonya dan Tuan tadi turun, mungkin sedang di sana?"
Hadeh! Mereka pasti mengikutiku. Dasar suami istri kepo...
"Jadi pak Renza dan Kak Arin ada disini juga? Kok bisa kebetulan, ya?"
"Ini bukan kebetulan, Alien. Ini direncanakan."
"Direncanakan?" Risa berpikir sejenak, "Jadi mereka sengaja mengikuti kita?"
"Nah ... itu tahu. Sudah pintar sekarang."
"Kenapa ucapan itu terasa canggung, ya?"
"Canggung?"
"Iya, karena kita selalu bertengkar dan saling salah paham makanya ini terdengar canggung."
"Apa aku terdengar lucu jika berkata baik dan sopan kepadamu?"
"Tidak-tidak, aku suka, kok."
"Suka? Terima kasih." Deni tersenyum manis.
"Ternyata kau bisa tersenyum manis seperti ini, ya?"
"Bisa, kau juga sangat manis jika tersenyum manis seperti ini?"
__ADS_1
Risa meremas jari tangannya karena salah tingkah. Pak Ahmad yang memperhatikan mereka berdua menggaruk-garuk kepalanya, padahal kepalanya tidak gatal sama sekali.
"Ah iya, aku sampai lupa sama Pak Renza dan Ny. Arinka. Kemana mereka sebenarnya? Jangan-jangan tadi mereka menguping pembicaraan kita."
"Ahh, jika benar aku sangat malu sekali sama Kak Arin." Risa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menghentakkan kakinya.
"Kau menggemaskan," gumam Deni pelan.
"Kau bicara apa?"
"Tidak ada."
"Aku pikir kau bicara denganku."
"Ayo kita cari Pak Renza dan istrinya. Aku ingin melihat di mana mereka bersembunyi sekarang."
Sementara itu, Arinka dan Renza duduk dibawah pohon yang tak jauh bangku yang deni duduki bersama Risa tadi. Renza dan Arinka masih bermanja-manja dan saling melempar ucapan sayang.
"Aman," ucap Arinka.
"Haha, ketauan juga tidak apa-apa, sayang."
"Ayo pergi dari sini," ajak Arinka.
Mereka berdua bangkit dari berjalan menuju mobil. Alangkah terkejutnya Arinka bahwa Risa dan Deni sudah berada tepat di depan jalan mereka. Renza yang sedang menatap Arinka manja tidak melihat bahwa dua orang di depannya itu sudah memasang senyum kecut.
Renza memasang wajah datar dan biasa saja.
"Deni, kalian di sini juga?"
"Kalian ini mengikuti kami, 'kan? Ngaku?"
"Mengikutimu? Hei ... coba kau pikir, yang pertama meninggalkan tempat kursus siapa?"
Deni berpikir sejenak sedangkan Arinka hanya tersenyum menatap Risa dan saling bertegur sapa.
"Iya, kalian duluan. Tapi bisa saja kan kalian mengikuti kami?"
"Kau pikir aku kurang kerjaan mengikutimu? Lebih baik aku di rumah bersama istriku, bersantai sambil menonton televisi."
Berarti pak Renza tidak mendengar 'kan? Ah syukurlah, aku lega. Aku malu jika dia sampai tahu bahwa aku berteriak menyukai Risa.
"Jadi, Bagaimana kalian?" tanya Arinka kepada Risa.
"Kami memutuskan tidak akan bertengkar lagi."
"Apa Deni menyatakan cinta?" tanya Arinka lagi.
Renza tersenyum mendengarkan ucapan istrinya itu. Deni menjadi salah tingkah, sedangkan Risa tetap dengan ekspresi bodohnya.
"Menyukai dan Mencintai itu berbeda, 'kan?" Risa balik bertanya.
"Beda. Menyukai adalah ketika kamu sudah tertarik dan kagum sama seseorang, lama kelamaan kamu bisa suka sama orang tersebut. Bila rasa kagum itu terus bertambah setiap waktunya, maka lama kelamaan secara tidak sadar, rasa suka bisa bertumbuh juga. Mungkin awalnya kamu kagum karena sifatnya yang super pengertian. Kamu heran karena ternyata di dunia ini masih ada sosok yang bisa mengerti dirimu. Setiap hari ada saja yang membuatmu kagum, kamu membuka lapis demi lapis hal yang menarik tentang dirinya dan secara tidak sadar, kamu suka padanya. Kamu ingin dia jadi milikmu. Kadang rasa suka itu sifatnya egois karena secara tidak sadar, kita menuntut orang lain untuk tetap berlaku seperti yang telah dia lakukan sebelumnya. Melakukan hal-hal yang membuat kita suka padanya. Kadang di tahap suka ini, kamu merasa sudah mengenal orang itu sepenuhnya. Tapi pada kenyataannya, masih banyak βsisi lainβ dari orang itu yang belum kamu ketahui. Kenyataannya, banyak orang yang setelah tahu βsisi lainβ tersebut, mereka memutuskan untuk mundur dari medan pertempuran." ucap Renza menjelaskan. Deni, Arinka dan Risa melongo mendengar penjelasan Renza yang sangat panjang itu.
"Lalu, jika mencintai?" tanya Risa lagi.
"Cinta adalah kasta tertingi dari perasaan seseorang di dunia. Tidak ada yang lebih tinggi lagi dari kata C-I-N-T-A. Ketika kamu sudah bertemu cinta, kamu juga akan bertemu dengan yang namanya pengorbanan. Karena tidak ada cinta yang benar-benar nyata di dunia ini tanpa pengorbanan. Jangan langsung percaya ketika seseorang berkata 'Aku cinta padamu' karena kalau dia tidak menunjukkannya lewat tindakan nyata (sebuah pengorbanan), maka semuanya sia-sia," ucap Renza tersenyum.
"Sejak kapan Pak Renza jadi tahu tentang hal begini? Anda benar-benar pandai bicara?" Deni menggeleng-gelengkan kepala.
"Jika aku tidak pintar, aku tidak akan menjadi CEO perusahaan, Deni!"
"Hehe ... iya yah."
"Kau jadi bodoh gara-gara menyukai!" bentak Renza.
"Apa? Menyukai? Siapa yang menyukai?"
"Kau bilang pada Risa bahwa kau berteriak menyukainya tadi." Renza keceplosan bicara, "Uppss." ia menutup mulutnya.
"Hadeh, sia-sia," ucap Arinka.
"Nah kan ketahuan. Dasae suami-istri kepo," gerutu Deni pelan.
"Haha ... aku tahu kau memakiku dalam hatimu, bodo amat." Renza tertawa dan menarik tangan Arinka seraya menggenggamnya. "Karena aku sudah tahu kemunafikanmu, kami pulang dulu. Kalian berdua terus saja menjadi bodoh tapi jangan egois lagi." ia berlalu meninggalkan Deni dan Risa.
"Isshh, Dasar Pak Renza!"
"Aku memikirkan ucapan pak Renza."
"Aku juga. Nanti malam kau kemana? Bagaimana jika?"
"Jika apa?"
"Tidak ada, tidak jadi." Deni nyengir kuda.
"Ya sudah." Risa tersenyum manis menatap Deni.
Seketika jantung Deni berdegup kencang. Deni benar-benar terkejut menatap senyum manis itu.
Risa benar-benar manis. Aku sangat menyukainya. Mungkin aku benar-benar akan mencintainya.
Renza dan Arinka tertawa sambil bergandeng tangan. Mereka menertawakan dua orang yang menggerutu saat mereka pergi.
"Pipom keren. Penjelasannya benar-benar membuatku kagum."
"Senang rasanya di kagumi istri sendiri."
"Sudah seharusnya."
Pak Ahmad membuka pintu mobil. Mereka masuk ke dalam mobil. Kemudian Pak Ahmad melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dua orang yang menatapnya tadi juga pulang dengan rasa canggung dan bahagia.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan kasih komentar kalian ya readers π
Aku menunggu vote kalian sebanyak-banyaknya ya π
Tunggu terus kelanjutannya, karena cerita akan semakin menarik.
By the way.. Jika berkenan boleh la mampir ke novel temanku. Judulnya "My Enemy is My soulmate"
Salam sayang buat pecinta Arinka dan Renza β€
Salam sayang juga buat pecinta Deni dan Risa π
Luv u all ππ***
__ADS_1