
Setelah Pengangakatan selesai sikap Renza berubah drastis yaitu sangat dingin, seakan bisa membekukan es yang mencair, tak ada pembicaraan kepada Arinka yang ada hanyalah tatapan mengerikan, sungguh lelaki yang tak bisa ditebak.
Hari ini adalah jadwal Pindahnya Arinka dan Renza kerumah baru mereka, Setelah pesta Pengangkatan Ceo baru itu Renza menjadi semakin sibuk bahkan untuk mengurus pindah rumah saja Renza tak bisa, tetapi tenang saja ada Deni yang siap membantu 24 jam non stop seperti IGD saja. (terlalu lebay author ngakak)
"Sebenarnya aku tak yakin Pak renza sangat mencintai Giska, dari sorot matanya aku melihat dirinya menyembunyikan sebuah perasaan sayang tapi dia berusaha menutupinya kepada Arinka. Dassar sikeras kepala dan sipolos," guman Deni pelan.
Deni membeli semua keperluan pindahan, semua furniture sudah diantar kerumah baru tersebut, lemari pakaian yang sudah terisi pakaian juga sudah dipindahkan keruang ganti pakaian, alat olahraga Renza dan masih banyak lagi dan membuat mereka semua sibuk berbedah.
"Nyonya anda sebaiknya duduk dan melihat saja, apabila ada yang kurang silahkan beritahu aku, jangan repot mengurusnya, anda hanya harus mengurus keperluan Pak Renza bukan rumah ini, rumah tugasnya orang-orang itu." sambil menunjuk dua orang yang berdiri di depan pintu dan didapur.
Rasanya panggilan Nyonya itu msih terlalu kaku ditelingaku, aku masih belum menyadari jika aku telah menjadi nyonya dirumah ini, sungguh permainan takdir yang mengerikan.
"iya, Nyonya. ini semua tugas kami, Nyonya istirahat saja,"Â ucap Bi Ami sambil menyodorkan teh hangat lalu kembali berjalan kearah dapur.
"Tapi saya sudah terbiasa juga melakukan tugas seperti ini, saya juga sudah bilang saya orang kampung, urusan mengurus rumah saya sudah biasa, dan sekali lagi jangan sungkan."
"Tetapi sekarang Anda adalah Nyonya disini, maka bersikaplah seperti Nyonya yang sepantasnya, jangan terlihat menggelikan didepan Pak Renza karena beliau tak akan suka."
Orang ini seperti orang yang berbeda, mirip sekali seperti majikannya, malam itu dia terlihat seperti orang yang hangat, tapi disaat jam bekerja dia seperti berubah 180 derajat, apa ini yang dinamakan gila kerja atau profesional.
"Mmm... baiklah aku mengerti, ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan padamu, ini sangat penting."
"Jika sesuatu yang tak mendesak, mohon maaf aku tak punya banyak waktu, karena aku harus kembali kekantor."
"Kau seperti orang yang berbeda saja, apa benar malam itu sungguh kamu, jangan terlalu kasar padaku, aku juga paham kau bekerja, maaf sudah mengganggu waktu anda."
Wanita polos ini sungguh membuatku iba saja.
"Baiklah, Anda ingin bicara apa, Nyonya?"
Berjalan menuju kursi di taman, dan segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
"Apa benar Giska itu hamil?"
Wajah deni seketika medadak pias mendengar ucapan Arinka yang tiba-tiba itu, ia berusaha tenang.
Untung aku tidak sedang minum, bisa-bisa aku mati tersedak karena kaget, Kenapa juga wanita ini menanyakan tentang kehamilan Giska, tapi ini kegawatan, Bagaimana ini? Dia tau darimana? Apa dia menguping pembicaraan kami sewaktu dikamar?
"Kenapa kau tak menjawab, aku memang menguping pembicaraan kalian, tapi Giska juga yang memberi tahu sendiri, aku kira itu hanya ancaman tapi sepertinya itu nyata." berbicara lirih.
__ADS_1
Dasar wanita licik, dia benar-benar berniat menghancurkan pernikahan Pak Renza dan Arinka rupanya, wanita ular tunggu saja sampai semuanya terbukti, kau akan merasakan akibatnya, tak akan aku biarkan, dari awal kemunculannya aku sudah tidak suka.
"Maaf, Nyonya masih belum bisa dipastikan, sebaiknya anda jangan khawatir dulu."
"Aku tak khawatir, sempat terbesit dipikiranku mungkin itu adalah cara agar kami bisa berpisah dengan kemunculan seorang anak, tapi aku memikirkan reputasinya, Tuan Renza baru saja menjadi ceo."
Benar-benar wanita yang sangat baik.
"Hmm tak akan terjadi apa-apa, kami selalu cepat mengurus hal seperti itu." tersenyum tipis.
Arinka berbicara lagi melanjutkan pembicaraannya.
"Di malam pernikahan, aku pernah berkata kepada Giska, bahwa aku sangat berterima kasih, jika kami bisa bercerai. tetapi, itu sungguh kata-kata yang aku sesali karena ucapan itu keluar disaat aku sangat emosi, aku menyesal saat itu aku tak bisa bersabar sedikit saja, karena mereka sangat keterlaluan, dan jika aku ingin membuka hati untuk Tuan Renza sekarang apakah aku siap?" Ucap Arinka lirih.
Kenapa aku yang merasa takut jika dia membuka hati akan lebih banyak rasa sakit yang didapatnya kelak.
"Jika belum siap sebaiknya jangan, biarkan cinta datang sendirinya bersama dengan waktu yang kalian habiskan."
"Apakah akan ada cinta untukku? Apalagi jika itu benar anaknya Tuan Renza, sebaiknya aku kubur dalam-dalam harapan ini, supaya tak ada kesakitan nantinya dilain hari."
"Bagaimana jika itu memang anaknya Pak Renza? Apa yang akan anda lakukan?"
Aku yakin Arinka pasti sudah mulai menyukai Renza hanya saja dia berusaha menata hatinya tertahan karena tak ingin menambah rasa sakit.
"Maaf, Deni. aku jadi curhat padahal jelas-jelas anda mempunyai banyak pekerjaan yang menunggu."
"Ternyata anda sadar Nyonya, hampir saja saya mengatakan bahwa saya bukan tempat berkeluh kesah, melainkan orang yang sibuk dengan pekerjaan, haha."
"Maaf sekali lagi," ucap Arinka lirih.
"Untuk kali ini tidak apa, kalau lain hari mungkin aku akan sedikit marah, jika tak ada perihal lagi aku akan memeriksa semua barang baru tadi, aku permisi."
"Baiklah, ayo kita teruskan pekerjaan kita."
"Nyonya, sebaiknya anda disini saja duduk sambil menikmati suasana perpohonan dan bunga biar pikiran anda lebih fresh."
Deni bergegas memeriksa perabot pindahan karena dia harus kembali kekantor mengurus banyak hal lainnya.
Dreet... drett...
__ADS_1
Suara getar ponsel deni semakin sering, diangkatnya telpon tersebut.
"Bagaimana? apa kau sudah menemukan identitas lelaki itu? hmm... baguslah."
Deni mematikan ponselnya, setelah memeriksa dan yakin sudah beres dia bergegas kembali kekantor.
Â
Arinka memasak makan malam dengan dibantu oleh Bi Ami, dia memasak sop ayam kesukaan Renza, Arinka ingin berusaha menjadi sosok istri yang melayani suaminya walaupun palsu, ini adalah masakan pertama Arinka dirumah barunya.
Renza datang dengan raut wajah letih, Renza berjalan menuju kamar, dengan sigap Arinka memasak air panas untuk suaminya mandi.
"Nyonya masak air untuk apa?" tanya Bi Ami.
"Untuk mandi Tuan, Bi."
"Ya ampun, Nyonya, sekarang tak perlu repot, dikamar mandi sudah tersedia air hangat, tinggal di panaskan saja praktis tinggal di colok."
"Hmm... benarkah? astaga aku se-kuper itu, aku benar-benar tidak tahu, Bi." Arinka terkekeh.
Arinka masuk kekamar menunggu Renza keluar dari kamar mandi sambil duduk disofa, Arinka berniat ingin mengajak Renza makan bersama dirumah baru ini.
Aku sudah tau jawabannya pasti tidak, tapi aku akan bertanya dulu.
Setelah selesai mandi, Renza keluar kamar seperti biasa hanya menggunakan handuk dibagian bawah saja, Renza terkejut melihat Arinka dikamar
Astaga lagi-lagi seperti ini adegan mandi, handuk semacam adegan yang terus menerus berulang.
"Hey... kampung."
Arinka tak menjawab, lalu Renza mendekati Arinka pelan, ternyata istrinya itu sudah tertidur sebelum makan malam, dipandanginya wajah Arinka lekat dn tersenyum tipis.
Kau sangat cantik walaupun kampungan, kadang aku juga kasian karena ucapanku yang kasar, maaf.
Bersambung...
Sop ayam tinggallah sop ayam, orangnya sudah ketiduran 😂 ga jadi deh makan bersama.
Jangan lupa tekan like jika selesai membaca, dan jangan lupa vote sebanyak-banyak nya, tinggalkan Comment, tapi yang sopan ya.
__ADS_1
Salam sayang, Luv u 💋