Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 52 : Malam panjang


__ADS_3

Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika dua orang saling membalas perasaan cinta dan berjanji saling melengkapi satu lain.


💗💗💗


Sepulangnya dari Taman, Renza masih terus menatap Arinka dengan tatapan penuh cinta. Jika orang lain yang melihatnya, mungkin Renza bisa dibilang tidak waras.


Di rumah, Arinka segera mandi. Ia sebenarnya sangat sulit menggunakan pakaian seperti itu. Saat ditaman ia berjalan dengan susah.


Beberapa menit berlalu, Arinka sudah menggunakan piyama. Sedangkan Renza masih bersandar disofa. Pakaiannya sedikit berantakan. Letak dasinya tidak lagi sejajar dan rambutnya menjadi acak-acakan. Renza menyandarkan Kepalanya di sofa itu, kakinya lurus menyentuh lantai. Entah mengapa Renza terlihat sangat tampan jika seperti itu. Pesonanya semakin kuat. Arinka yang memandangnya tersenyum malu.


Renza tersadar dan duduk normal di atas sofa, ia memperhatikan Arinka yang sudah duduk didepan cermin hiasnya. Arinka masih membersihkan sisa makeup yang menempel diwajahnya. Walaupun sudah mandi ia tetap masih menggunakan cleanser dan terakhir ia menggunakan pelembab.


Arinka tidak terlalu suka memakai skincare yang ribet dan berlayer. Walaupun terbilang memakai kosmetik dan perawatan murah, wajah Arinka tetap cantik dan bersih jauh dari jerawat.


Renza tersenyum menatap istrinya itu yang sedang bercermin. Renza berjalan dan menghampirinya. Ia ingin memeluk Arinka dari belakang, tetapi ia sadar bahwa ia belum mandi. Renza masuk kekamar mandi dengan membuka kemeja putihnya didepan Arinka.


Arinka menelan saliva dengan payah. Ia berusaha terlihat biasa saja. Walaupun sudah suami istri, Arinka masih saja tercengang menatap dada kotak suaminya itu.


"Aku mandi, ya? Tunggu, jangan keluar dari kamar," ucap Renza menyerigai licik."


Apa lagi ini, minta jatah lagi.


Arinka keluar dari kamar, menghampiri Bi Ami yang sedang menyiapkan makan malam. Arinka membantunya seraya mengobrol santai.


"Bi Ami, Arinka mau tanya? Bi Ami ini punya anak, tidak?"


"Punya, Nya. kebetulan sudah menikah juga."


"Jadi, Bi Ami hanya punya anak satu, ya?"


"Dua, yang bungsu satunya wanita tapi sudah bercerai."


"Hmm, kasian sekali."


"Iya, tapi di tidak punya anak."


Arinka masih asyik mengobrol, tiba-tiba Renza turun dengan wajah cemberut. Arinka tertawa menatapnya. Ia sudah tahu bahwa Renza akan marah jika keinginannya tidak didengarkan.


"Bi, bawakan aku orange jus ya, dan letakkan di balkon."


"Biar aku saja yang membawakan nanti, Bi. Aku naik keatas dulu memanggilnya makan."


Arinka naik keatas, ia berjalan menaiki anak tangga itu. Renza tersenyum, ia tahu pasti Arinka akan mengejarnya jika ia cemberut. Renza bersembunyi dibalik pintu kamar.


Arinka membuka pintu kamar pelan, ia melihat kedalam kamar mencari sosok keberadaan Renza. Bola matanya memutar mengabsen setiap sudut ruangan.


Tiba-tiba, Arinka sangat terkejut saat tubuhnya dipeluk dari seseorang dari belakang dan orang itu mencium pipinya.


"Kena juga umpannya?" ucap Renza tersenyum nakal.


"Umpan apa?" tanya Arinka bingung.


"Aku tahu kau akan mengejar, jika aku cemberut seperti tadi?"


"Dasar licik!"


"Siapa yang licik?" seraya menciumi leher Arinka.


Sebuah perasaan yang sangat kuat, degupan jantung mulai berpacu kencang. Gejolak rasa yang tak bisa dielakkan telah menjalar keseluruh tubuh mereka berdua.


Renza mengangkat tubuh istri tercintanya itu dan membaringkannya di atas ranjang King size nya. Renza terus menyentuh dan menciumi Arinka. Arinka mencoba menolak ciuman itu, menolak sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan Renza, tapi nihil.


Suara Renza terdengar menggoda membuat Arinka tidak mampu menatap wajah pria itu. Jemari tangannya terulur memegang dagu mungil Arinka dan memaksa wanita itu untuk menatapnya. Sejenak yang dilakukan Arinka adalah menatap mata coklat yang mampu membuat seluruh tubuhnya mendesir.


Renza membiarkan hidung mereka bersentuhan, dan berbisik, "Aku menginginkanmu!" sebelum akhirnya memagut bibir Arinka lembut.


Arinka sempat kewalahan mengimbangi ciuman Renza yang menggebu itu. Satu tangannya memegang dagu Arinka. Sementara tangannya yang lain diletakkan pada sisi tubuh Arinka seolah memeluk wanita itu erat.


Lidah mereka masih saling bertaut, perlahan-lahan masuk dan mengabsen giginya, mengecal dan memberikan kecupan ringan dibibir Arinka.


Renza membuka kancing piyama Arinka. Kulit putih mulus Arinka bagian dada mulai terlihat. Dengan sedikit kasar Renza membuka semua pakaian yang menempel pada tubuh Arinka. Saat itu lampu terang benderang. Renza terdiam menatap tubuh sintal istrinya yang sangat menggoda.


Arinka menatap Renza malu-malu, saat Renza memperhatikan tubuh Arinka layaknya singa jantan yang kelaparan. Tangannya mulai bereaksi menjelajahi setiap inci tubuh Arinka dan menciumnya tanpa melewatkan satu bagianpun. Tubuh Arinka seolah menerima remasan pria itu dan membuat tubuhnya seolah tersengat aliran listrik disekujur tubuhnya. Terdengar rintihan kecil yang lolos dari mulut Arinka, membuat Renza semakin bergairah.


Renza tersenyum puas mendengar desahan kecil yang lolos dari bibir mungilnya Arinka. Arinka terus menggeliat. Renza membuka semua pakaian yang menempel pada tubuhnya. Kembali, Renza menciumi leher dan sekujur tubuh Arinka dan meninggalkan jejak kepemilikan hampir disetiap tubuh Arinka.

__ADS_1


"Aku akan bermain dengan lembut," ucap Renza dengan nafas tersenggal.


Renza memulai penyatuannya, Arinka menggigit bibir bawahnya. Kali ini Arinka sudah bisa merasakan kenikmatan bercinta tanpa rasa sakit lagi. Untuk kesekian kalinya desahan dan rintihan kecil lolos dari mulut Arinka.


Kamar itu terasa panas ditengah-tengah pendingin yng menyala, sekarang ruangan yang tadinya sunyi mendadak dipenuhi dengan suara erangan dan desahan penuh kenikmatan yang keluar dari bibir mereka.


Renza tersenyum kecil dan mencium bibir Arinka lagi, lalu ia berbisik lembut, "Akhirnya kamu menikmatinya, sayang." seraya menatap wajah Arinka. Renza meremas bagian dada dan menyerigai ketika Arinka menutup matanya sambil mendesah lagi.


Permainan itu cukup lama, tak lama terdengar erangan dari mereka berdua. Renza merasa dirinya adalah seorang raja yang mampu menundukkan ratunya.


Setelah merasa cukup, Renza membaringkan diri diatas ranjangnya. Keringatnya bercucuran seperti habis berlari maraton. Dengan lembut Renza mengecup kening Arinka dan berkata, "Terima kasih."


Renza mengambil selimut untuk menutupi tubuh Arinka. Arinka akan beranjang memakai bajunya, ia akan membersihkan diri. Arinka turun dari ranjang itu, dengan sigap Renza menarik tangannya lagi dan berkata, "Aku masih menginginkannya."


Arinka mentap Arinka dengan tatapan tak percaya, ia hampir saja menolak karena tubuhnya sudah lemas. Dan seolah mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh Arinka, Renza langsung berkata, "Sekali lagi, Please."


Perlahan Renza mengangkat tubuh Arinka dan berjalan kesofa dan meletakkan tubuhnya disana. Renza berjalan mematikan lampu dikamarnya itu. Ia tahu mungkin Arinka akan malu jika ia terus memperhatikan tubuh indahnya.


Aku benar-benar ketagihan, aku tidak bisa lepas darinya. ini seperti candu bagiku.


Untuk sejenak Renza menatap keindahan yang ada didepan matanya lagi. Sinar rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela, menyinari tubuh polos Arinka dan hal itu membuat gairah Renza kembali naik.


"Benar-benar indah," ucap Renza seraya berbisik.


Renza menginginkan istrinya itu, lagi dan lagi. Renza mulai memasuki Arinka dengan gerakan lambat yang menggoda, ia berbisik di telinga Arinka dengan suara parau, "Kau seperti candu, aku sangat ketagihan."


"He-heum ..." hanya kata itu yang terdengar dari bibir Arinka yang terbata-bata. ia tak mampu berbicara normal lagi.


Beberapa godaan dan sentuhan lembut dari Renza didaerah sensitive Arinka sehingga ia menjerit dengan kedua tangannya menggenggam dipinggiran sofa untuk menahan guncangan pada tubuhnya akibat permainan yang mereka lakukan.


Tidak puas dengan itu, Renza membalikkan tubuh Arinka hingga menyamping. ia menaikkan salah satu kaki Arinka ke bahunya. Ketika Arinka ingin berbicara dan memprotes, Renza langsung membungkam bibir itu dengan ciuman panjang.


"Dasar mesum..." gumam Arinka saat Renza menghentikan ciuman mereka.


"Aku hanya mesum padamu," ucap Renza. Peluhnya mulai menetes lagi. Ia terus menyatukan tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang lumayan cepat.


Tak lama kemudian Arinka menjerit untuk kesekian kalinya karena tingkat kenikmatan yang tak bisa ia tolerir. Dengan cepat ia menggigit bibirnya menghentikan jeritan yang lolos tanpa disengaja tadi.


Satu jam lebih Arinka merasa akan mati karena siksaan penuh kenikmatan yang diberikan oleh Renza. Kini tubuhnya sangat lemas, tidak ada tenaga yang tersisa untuk bangkit. Renza masih berada diatasnya dengan napas terengah-engah.


Renza mengangkat Arinka ke ranjang tidurnya. Mereka berdua sangat lelah setelah dua kali penyatuan itu.


Makan malam yang disiapkan Bi Ami menjadi sia-sia, mereka bahkan belum makan sama sekali. Setelah cukup lelah akhirnya mereka berdua tertidur saling berpelukkan.


Tepat pukul empat dini hari, Renza menggeliat dan meregangkan tubuhnya. Matanya terpaku pada sosok mungil disampingnya yang tengah bernapas lembut dan teratur. Jemarinya mengelus ringan puncak kepala wanita itu seraya membelainya dengan lembut.


Aku benar-benar menyukaimu sampai gila, Arinka.


Setelah menarik selimut itu, Renza turun dari tempat tidur dan memakai piyamanya dan keluar dari kamar. Ia membuka pintu balkon seraya menghirup udara segar. Terdengar suara perutnya, ia sangat lapar.


Renza menutup kembali pintu balkon itu, Ia berjalan ke dapur. Renza mencari apapun yang bisa ia makan. Ia melihat tidak ada makanan diatas meja. Ia membuka beberapa lemari didapur, ia menemukan coklat dan roti.


Renza membawa roti dan coklat itu ke ruang tengah. Ia menyalakan televisi. Kemudian ia menonton televisi dengan suara pelan. Setelah habis makan 1 potong roti, terdengar suara langkah kaki.


Renza mendongakkan kepalanya, ternyata Arinka yang sudah bangun. Renza tersenyum melihatnya dari bawah, matanya terus memandangi Arinka dengan tatapan cinta.


"Sudah bangun, Mimom sayang?"


"Hmm ... Aku lapar," ucap Arinka memegangi perutnya.


Arinka melirik roti dan coklat di atas meja.


"Apa kamu juga lapar, Pip?"


"Iya, hehe. Semalam kita lupa makan."


"Aku buatkan nasi goreng ya,?" seraya berjalan meninggalkan Renza dari ruang tengah. Ternyata, Renza mengikutinya dari belakang dan memeluknya dari belakang.


Arinka tersenyum dengan perlakuan Renza. Renza tak berhenti mencium puncak kepala Arinka seraya memeluk erat sambil berjalan. Renza mengikuti Arinka sampai kedapur.


"Aku akan mengambil nasi dulu, tidak mau melepaskan?"


"Tidak," ucap Renza mengelengkan kepala, lalu mengikuti Arinka mengambil bahan-bahan membuat nasi goreng tanpa melepaskan pelukan.


Arinka mulai mengiris bumbu, memotong sayuran dan menyiapkan wajan. Renza masih saja menempel seperri perangko kepada Arinka. Ia terus tersenyum menatap istrinya itu.

__ADS_1


Arinka mulai menuangkan minyak didalam wajan, menumis bumbu, memasukkan semua bahan-bahannya.


"Hmm, baunya harum," ucap Renza seraya memiringkan wajahnya. Hembusan napasnya sangat kentara diwajah Arinka. Arinka hanya tersenyum.


"Aku semakin lapar!"


"Duduk, dan tunggu saja dikursi makan, ya?"


"Tidak, aku maunya seperti ini, Gemesnya istriku ini, sudah cantik, pinter masak lagi."


"Nyonya masak apa?" ucap Bi Ami bertanya sambil mengusap matanya. Bi Ami terkejut melihat pemandangan didepan matanya.


Renza segera melepaskan pelukan dan berjalan kekursi. Ia seperti orang yang kena pergok memeluk istri orang lain. Arinka sangat malu, wajahnya memerah bagai udang rebus. Bi Ami pun demikian, mereka bertiga mendadak canggung dan tidak bersuara.


Arinka mengisi nasi goreng itu keatas piring, lalu ia menyediakannya untuk Renza.


"Semalam kami ketiduran, Bi? Sampai lupa makan." ucap Arinka memecah suasan keheningan.


"Iya, makanya Bibi kemasi semua makanannya, Bibi juga mengemasinya sudah larut."


"Iya tidak apa-apa, Bi."


Arinka mengisi piring lagi dan membawanya ke meja makan. Ia duduk berhadapan dengan Renza. Renza tersenyum malu sambil mengunyah makanannya. Bi Ami mengisi air minum diatas meja itu lalu pergi kedapur paling belakang.


"Makan malam sekalian sarapan," ucap Arinka tertawa.


"Iya... romantis 'kan? Makan sekali saja biar tidak menambah berat badan, Tubuh mimom sudah bagus sekarang, sangat pas, tidak ada cacat dan noda."


Uhuk! Uhuk!


Arinka terbatuk mendengar ucapan Renza, Ia panik menoleh kesegala arah. Ia takut Bi Ami mendengarnya.


"Kenapa bicara begitu, sih? ini kan sedang makan? lagian di sini ada Bi Ami, aku takut Bi Ami mendengar."


"Huff, maaf," ucap Renza tersenyum nakal.


"Lain kali jangan membicarakan masalah pribadi di sembarang tempat, aku malu jika orang lain mendengar."


"Jadi membicarakannnya dimana? ayo bicara dikamar lagi?" ucap Renza menyerigai licik.


"Dasar mesum!"


"Kau sudah 2x menyebutku mesum, apa mau aku berbuat mesum disini?"


"Ya ampun, makan saja makananmu itu, makan yang banyak biar pikiranmu encer." Arinka terkekeh.


Renza menatap Arinka lekat seraya tersenyum jahil. Arinka salah tingkah dibuat suaminya itu. Makanan dipiring tidak ia habiskan. ia menaruhnya di dapur.


"Mumpung ini masih sangat pagi, ayo kita berolahraga." ucap Renza.


"Ah... aku lelah, tubuhku sangat capek."


"Ayolah, kita jalan santai saj sambil menikmati udara segar."


"Aku sangat suka, tapi aku benar-benar tidak bertenaga."


"Nanti jika capek, aku gendong."


"Ya sudah, sebentar lagi ya."


Renza mengambil sepatu couple pembelian Arinka. Ia memasangkan sepatu itu dikaki Arinka. Renza menggenggam tangan Arinka dengan erat.


"Ini olahraga pertama setelah kita menikah," ucap Renza.


Bersambung...


Jangan lupa Jika setelah baca tekan jempolnya ya 💋


dan jika selesai silahkan beri vote nya ya...


comment kalian aku tunggu, maaf aku tidak membalaa semuanya, tapi aku membaca semuanya kok.


jika ada saran silahkan tulis di comment ya 😂


Harus dengan kata-kata sopan 💋

__ADS_1


Salam sayng dariku buat Readers semua..


Luv u All 😘😘


__ADS_2