
Suasana rumah yang sepi mendadak menjadi penuh canda dan tawa. Yang tadinya diselimuti perasaan muram, malah sudah berubah menjadi cerah, secerah langit sore dengan warna jingga yang begitu mempesona.
Arinka dan Renza tersenyum geli melihat pemandangan didepan matanya. Yah, dua anak manusia yang tadinya terus canggung, sekarang sudah normal kembali. Malah, pemandangan yang mereka lihat itu menjadi sedikit berlebihan.
Renza dan Arinka kembali duduk di didekat meja. Kemudian, Deni dan Risa juga menghampiri meja tersebut. Wajah Risa sudah sangat sumringah, berbeda dengan saat mereka bertemu sebelumnya.
"Ciyee, yang sudah baikan." Arinka tertawa menutup mulutnya.
"Iya, Kak. Ternyata salah paham," ujar Risa tersenyum malu.
"Kamu juga, sih, Den. Kenapa juga harus pergi disaat yang tidak tepat? Aku sampai berpikir buruk juga, kenapa bisa seorang Deni yang pintar itu mendadak ceroboh?" ucap Arinka sambil memasukkan ice cream kemulutnya. Renza yang mendengar ucapan Arinka tersenyum kecil.
"Iya, maaf. Lain kali aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi," sahut Deni dengan nada tegas.
"Kalau diulangi berarti kau bodoh! Kau mempermalukanku sebagai atasan," kata Renza tertawa.
"Yang benar saja, ini tak ada sangkut pautnya sama urusan pekerjaan."
Seketika mereka semua tertawa dengan bahagia. Suara candaan memenuhi seisi taman itu.
"Orang hamil itu seperti ini, ya? Banyak sekali makanannya?" tanya Risa.
"Tidak juga, sebenarnya kakak hanya iseng, asal bilang saja tadi. Tapi, sepertinya suamiku itu suami siaga." Arinka tersenyum menatap Renza.
"Harus lah, aku ingin yang terbaik untuk istri dan anakku nanti. Aku menyayangi mereka. Kau juga harus begitu kelak, Deni." Renza terrtawa.
"Aku." menunjuk dirinya sendiri. "Ya, jika sudah menikah, aku akan berusaha menjadi suami idaman." Deni tertawa lucu. Risa yang mendengar tersenyum malu.
"Hari sudah sore, sebentar lagi gelap. Aku pamit mau pulang," ucap Risa.
"Aku juga pamit pulang." Deni mengikuti ucapan Risa.
"Ya, aku tahu kalian akan pulang bersama," sahut Renza.
"Hati-hati dijalan, ya," ucap Arinka.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, kak."
Risa dan Deni berjalan keluar menuju pintu, Arinka dan Renza mengikuti mereka. Deni membukakan pintu untuk Risa dan kemudian Risa naik dan memasangkan sabuk pengaman. Risa melambaikan tangan dan Deni menyalakan klakson. Mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah Renza dan Arinka.
Renza dan Arinka berjalan menuju ke ruang keluarga. Renza merebahkan diri di sofa. Sepertinya, ia sangat lelah. Arinka duduk disampingnya dan tersenyum sambil memegang tangannya.
"Ada apa, sayangku?" tanya Renza masih dalam posisi menyandarkan kepalanya.
"Tidak ada. Sini Mimom bukakan jasnya." Arinka segera membuka jas itu. Renza menurut dan kemudian ia menyandarkan kepalanya kembali setelah jas itu dibuka.
"Mimom sudah mandi?" tanya Renza.
"Belum." Arinka nyengir kuda.
"Ayo mandi bersama." Renza tertawa, ia bangkit dari sofa dan tanpa aba-aba menggendong Arinka ala bridal menaiki tangga. Arinka hanya tersenyum melihat wajah Renza ketika menggendongnya.
"Kenapa menatap seperti itu?" tanya Renza disela-sela menaiki tangga.
"Kagum saja. Ternyata seorang Renza aslinya seperti ini. Aku pikir dulu ia adalah orang yang sangat kasar dan sombong."
__ADS_1
"Yah, dulu karena tidak saling mengenal, jadinya pipom seperti itu. Maafkan pipom." Nada bicara Renza memelas.
"Mimom tidak bermaksud menyinggung kisah lama. Mimom hanya tak menyangka saja bahwa sebenarnya pipom ini benar-benar orang yang lembut."
Setelah sampai keatas, Renza membaringkan Arinka pelan diatas ranjang. Dengan intens Renza menatap wajah Arinka lalu mengecup bibirnya lembut.
"Tetaplah menjadi istriku yang perhatian dan penuh cinta ini, I love you." bisik Renza ditelinga Arinka.
"I love you too," sahut Arinka tersenyum manis.
Renza lalu mengelus perut Arinka dan menciumnya juga.
"Semoga kamu selalu sehat, ya, sayang di dalam perut momy. Daddy ga sabar nanti ingin berjumpa." Sambil terus mengelus perut Arinka. Arinka menatap Renza dengan mata berkaca-kaca.
"Yah, momy akan menjagamu dengan baik kali ini."
"Daddy juga akan menjagamu," ucap Renza masih mengelus perut rata Arinka.
"Ya sudah, katanya mau mandi tadi?" ucap Arinka.
"Hmm, yuk mandi," sahut Renza segera menggendong Arinka masuk kedalam kamar mandi dan mendudukkannya didalam bathup.
Mereka berdua berendam bersama di bathup sambil melepas penat. Sesekali mereka berdua saling menjahili. Dan aktivitas itu berlangsung hampir 1 jam.
***
Di dalam mobil, Risa dan Deni saling tersenyum. Sesekali Risa tersipu malu saat Deni meliriknya diam-diam. Suasana sedikit canggung setelah mereka berbaikan.
"Langsung pulang, apa mau mampir dulu?" Tanya Deni.
"Beli sesuatu buat mama kamu, gitu?" tanya Deni.
"Beli apa?" Risa menatap Deni lekat.
"Apa, ya?" sahut Deni.
"Ayolah, mampir di tempat martabak manis aja kalo gitu."
"Siap, Nyonya."
"Aihh, Nyonya?" Risa tertawa.
"Calon Nyonya Denista." Deni mengulum bibirnya.
"Uwu," sahut Risa tersenyum menutup mulutnya.
"Jadi ga sabar," ucap Deni pelan.
Risa melirik kearah Deni dan mengernyitkan dahinya. Risa mendengar ucapan Deni tapi pelan.
"Ga sabar kenapa?" tanya Risa.
"Kedengaran 'kah?"
"Huum, aku mendengarmu, Dino?" Risa tertawa.
__ADS_1
"Telinganya luar biasa sekali, ya?" Deni tertawa lucu.
"Iya dong." Risa tersipu malu.
Deni mengentikan mobilnya didepan ruko bertuliskan martabak manis. Risa membenarkan rambutnya sambil menyisirnya memakai jari. Tiba-tiba, Deni mendekat dan membukakan sabuk pengamannya.
Risa tersentak. Ia sekejap menahan napasnya dan menundukkan pandangan.
"Aa-aku bisa buka sendiri, kok," ucap Risa gagap.
"Gapapa, aku mau bantuin."
"Ahh, ini membuatku gugup," teriak Risa saat Deni menyentuh sabuk keselamatan itu dan dengan refleks ia mendorong tubuh Deni hingga terduduk.
"Aww!" Deni terbelalak.
"Astaga, maaf. Ini murni refleks. Aku tidak sengaja, Dinoku." Risa bergerak meraih tangan Deni, tapi badannya masih tersangkut sabuk pengaman hingga posisinya menjadi sedikit konyol dengan perut tertahan.
"Tidak apa-apa. Maaf, aku lancang tadi."
"Aku yang salah, aku minta maaf." Risa agak ketakutan. Wajahnya mendadak pias menatap Deni. Deni mendekat dan mengelus rambut Risa. Risa tiba-tiba tersentak kembali. "Tidak apa-apa, kok, sayang. Tidak sakit juga."
Risa menundukkan pandangan dan tersenyum malu mendengar kata-kata Deni.
"Aku sayang kamu." Risa sedikit berteriak. Deni tersenyum dan membalas. "Aku juga sayang kamu."
"Makasih sayang," sahut Risa.
"Sama-sama, sayangku."
"Ayo keluar, kita pesan martabaknya."
"Hmm, ayo!"sahut Deni.
Deni turun dari mobil masih dengan setelan kerja lengkap. Risa tersenyum melihat Deni yang masih rapi seperti itu. Sadar diperhatikan, Renza segera membuka jasnya dan menaruhnya didalam mobil.
"Kenapa dibuka?" tanya Risa mengernyitkan dahi.
"Terlalu formal,"sahut Renza tertawa.
"Gapapa tetap ganteng, kok."
Deni tersipu malu mendengar ucapan Risa. Risa tersenyum lucu menatap tingkah Deni yang berubah drastis.
Tiba-tiba, seseorang memanggil dengan suara nyaring. Risa dan Deni menoleh bersamaan.
"Denista!"
***Bersambung...
like dan komen ya Readersku..
salam sayang dariku untuk kalian semua..
luv u 💕***
__ADS_1