
Sepulang dari rumah Arinka, perasaan kesal menyelimuti dada wanita yang sedang mengemudi mobil berwarna putih itu.
"Cih! romantis sekali mereka. Kenapa Jefran tak seromantis itu kepadaku. Untung saja aku hamil, kalau tidak dia pasti tidak akan mau menikahiku," gumam Sinta bermonolog.
Sesampainya di rumah, ia turun dari mobil dan berjalan menghempaskan diri keatas sofa. "Aku muak menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Arghh ... aku masih mencintai Renza," pekik Sinta sambil mengacak rambutnya.
Sinta berjalan ke dapur dan menuangkan air minum didalam gelas, lalu meneguknya sampai habis. Kemudian, wanita itu berjalan ke kamar nya untuk mengambil ponsel yang sedari tadi sedang di isi daya. Dicabutnya kabel itu dari ponselnya, lalu ia berbaring telentang di atas kasur sambil memainkan ponsel ditangannya.
"Sialan! Jefran tak memberi kabar sedikitpun. Jefran berbeda sekali dengan Renza yang sangat mencintai istrinya. Padahal harusnya aku yang dicintainya, bukan Arinka." Geram, tangan Sinta mengepal kuat dan tanpa pikir panjang ia melemparkan ponselnya ke lantai. Alhasil, ponsel itu jatuh dengan sempurna. Untung saja lemparannya tidak kuat. Tidak sampai merusak layar ponselnya.
"Aku ingin diperhatikan seperti Arinka. Kenapa Jefran tidak peka? Sekedar mengirim pesan dan menanyakan aku sudah makan apa belum saja sangat berat baginya. Apa aku harus sakit dulu baru dia bisa perhatian." Wanita itu terisak dalam diam. Matanya fokus memandang langit-langit kamarnya. Tanpa terasa buliran bening membasahi pipinya.
Wanita itu haus akan perhatian. Baik dari suami pertamanya dulu, ia selalu saja kurang perhatian. Oleh karena itu, Sinta memilih bercerai. Lagipula ia memang tak pernah mencintai suami pertamanya dan pernikahannya dahulu tidak mendapatkan buah hati.
Sifat Sinta seperti ini membuat beberapa orang terdekat membencinya. Baik Risa sepupunya sendiri kurang suka dengan tingkah dan ucapannya. Bagi Risa, Sinta ini adalah wanita matre yang tidak mau berteman dengan sembarang orang. Gaya hidup glamournya membuat teman-temannya kurang respect.
Sinta bangkit dari kasur nya, berjongkok mengambil ponsel yang tergeletak di lantai kemudian keluar kamar. Sinta berteriak memanggil pembantu rumah tangga nya dengan nada marah. Dengan cepat Sri - pembantunya itu menghampirinya.
"Bi, buatkan jus mangga," titah Sinta dengan lantang.
"Baik, Nya. Nyonya tidak makan?" tanya Bibi Sri.
"Tidak! Aku hanya ingin jus mangga. Cepat buatkan, jangan banyak tanya." Tanpa berkata lagi bi Sri berbalik dan bergegas ke dapur dengan cepat. Lagi-lagi, Sinta selalu melampiaskan kemarahannya kepada orang yang tidak tahu apa-apa.
Sinta memegang ponselnya, menggeser layar, kemudian terhenti menekan nama kontak dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya. Beberapa saat, terdengar suara dari dalam benda pipih itu.
"Ada apa, Kak?" tanya seseorang dari dalam ponsel itu. Yah, seseorang yang ditelepon Sinta adalah Risa.
"Aku pindah di kawasan kompleks Arinka. Mampir kesini, bawakan aku makanan. Jangan hanya baik dengan orang lain, aku sepupumu. Masih ingat itu 'kan?"
"Eh ... iya, Kak. Kenapa juga Kak Sinta berkata begitu. Kakak sedang marah?" tanya Risa.
"Tidak, kenapa juga harus marah? Cepat kesini!"
"Iya, nanti aku masih ada yang harus dikerjakan sekarang."
"Jika kau tidak datang hari ini, aku pecat kau jadi sepupu."
"Haha ..." Terdengar suara tawa Risa dari dalam telepon itu.
"Aku sedang serius," ucap Sinta.
"Memangnya bisa, ya, memutuskan persaudaraan? Aku juga kalau bisa memilih, aku tidak mau menjadi saudara orang sombong sepertimu, Kak." Risa tertawa lagi.
Sinta menjadi panas mendengar ucapan Risa. Padahal, Risa hanya bercanda. "Kamu mulai banyak bicara, ya, semenjak berteman dengan Arinka? Aku tunggu pokoknya." katanya dengan sedikit bentakan.
"Lah? Kenapa jadi bawa-bawa Kak Arin? Justru Kak Arin itu baik, Kak."
"Ahh ... sudah ... sudah ... Dari tadi kau hanya membanggakan dia. Aku menjadi muak. Sudahlah, aku tunggu dan jangan lupa membawakan makanan." Dengan cekatan Sinta segera menekan tombol merah dilayar sebelum Risa berbicara apapun.
__ADS_1
"Arggghh! Semua orang sangat menyukai Arinka. Apa keunggulannya dibanding aku. Jefran juga menyukai Arinka. Wanita lugu itu benar-benar mempunyai daya tarik yang luar biasa. Huh!" gerutu Sinta sambil menepuk-nepuk sofa yang ia duduki.
Beberapa menit kemudian, Bi Sri membawakan jus mangga sesuai titah Sinta. Bi Sri meletakkan diatas meja dengan hati-hati. Beliau tahu bahwa majikannya itu sedang dalam kondisi mood yang kurang baik.
Tanpa basa-basi, Sinta langsung meminumnya. Sambil menenggak minumannya, ponselnya berdering. Dengan cepat, tangannya menekan tombol hijau. Yah, itu dari Jefran. Ternyata Jefran masih perhatian kepadanya. Begitu gumamnya dalam hati.
"Ada apa, sayang?" jawab Sinta lemah-lembut.
"Kamu menelepon Risa, ya? Menyuruhnya membawakan makanan?" tanya Jefran.
"Hmm ... iya, kenapa?"
"Kamu mau makan apa? Risa sampai marah, dikira tak ada makanan dirumah."
"Astaga, dasar Risa! Menyebalkan sekali wanita itu."
"Dia jujur, bukan menyebalkan." Jefran terkekeh dari dalam telepon itu.
"Iya dia memang selalu jujur, tapi agak bodoh juga," sahut Sinta tertawa.
"Ya sudah, tunggu saja Risa. Nanti dia kesana. Aku pulang agak malam."
"Hmm ... baiklah."
Sambungan telepon itu terputus. Risa berdesis kesal. Pasalnya Jefran tak menanyakan ia sedang apa? apakah dia sudah makan apa belum? Benar-benar diluar dugaannya. Lelaki itu sama sekali tak perhatian seperti Renza. Emosinya mulai meluap-luap kembali. Hampir saja ia membanting ponselnya lagi. Tetapi ia urungkan setelah melihat Bi Sri. Ia tak ingin terlihat emosional sekali didepan bi Sri. Ia masih harus jaga imeg nya agar Bi Sri tak mengadu kepada Jefran tentang dirinya.
Wanita itu menyandarkan kepalanya ke sofa. Mata nya memandang langit-langit ruangan itu. Pikirannya buyar melayang entah kemana. Lama menyandarkan diri di sofa membuatnya mengantuk dan akhirnya tertidur.
Risa duduk menghilangkan kaki diatas sofa itu. Sesekali ia melirik Sinta yang tertidur dengan nyenyak disana.
"Benar-benar wanita yang kesepian," kata Risa bermonolog.
Walau bagaimanapun kelakuan Sinta, ia tetaplah sepupunya. Hanya saja terkadang kelakuan Sinta sudah di lewat batas. Risa sangat tahu bahwa Sinta seperti ini karena kurangnya perhatian dan kasih sayang.
Sambil duduk, Risa memainkan ponselnya. Ia berselancar didunia maya. Lama sekali ia tidak memposting sesuatu diakun facebooknya. Kali ini, ia memposting makanan yang ia bawa itu. Kemudian, ia menandai postingan itu kepada Deni. Bibirnya tertarik keatas setelah menandai postingan itu. Ia yakin Deni pasti mendapat notifikasi darinya.
Benar sekali, tak lama Denj ikut berkomentar disana. Tak lupa pula menambahkan emoticon hati merah. Risa refleks tertawa membaca komentar itu membuat wanita yang tidur didepannya membuka mata dan langsung melirik sinis.
"Hehe ... maaf, membuat Kak Sinta terbangun," kata Risa terkekeh.
Sinta mengusap matanya pelan sambil menguap. "Hoaam ... Sudah lama?" katanya. Sambil tertawa Risa menjawab, "Barusan, Kak."
"Ga sengaja ketiduran. Duh ... sakit badan-badan jadinya."
"Kenapa juga ga tidur dikamar?" tanya Risa, tetapi tak menoleh kepada orang yang ditanyakan. Ia tetap sibuk mengeser layar ponselnya.
"Kebiasaan, kalau bertanya lihat orangnya, bukan malah liat hape, Dasar!"
"Kenapa, Kak. Dari telepon sampai rumah tetap aja kesal terus. Ada apa, sih?"
__ADS_1
"Kamu menelepon Jef, ya? Kenapa malah bilang aku mau minta dibawain makanan?"
"Aku pikir Kak Jef ga kasih makan Kakak? Haha ...."
"Sialan! Ember bener sih tuh mulut."
"Kan cuman becanda, Kak. Lagian Kak Jef kurang kerjaan amat malah bilang-bilang."
"Kan dia sayang sama Kakak."
"Iya udah tahu."
Sinta melirik paperbag bawaan Risa. Kemudian, mengambilnya. Ia melihat Risa membawakan kue sus kesukaannya. Tetapi paperbag itu isinya 2 macam kue.
"Donat? Aku tidak suka donat. Kenapa membelinya?"
"Oh, itu untuk Kak Arin. Kak Arin suka donat. Mumpung sudah kesini, sekalian saja beli. Nanti aku mau sekalian mampir."
"Segitu peduli nya kamu sama dia. Sebaik apa dia dibanding aku?" kata sinta yang berbicara dengan nada tinggi.
"Kak Arin itu baik, ga bisa dibanding-bandingkan. Dia orang yang paling baik yang pernah aku kenal."
"Huh! Sok nyanjung, padahal kamu belum tau aslinya saja."
"Asli apa?Aku sudah lama mengenalnya. Bicaranya selalu lembut dan sopan. Belum pernah aku mendengarnya membentak."
"Bela terus, males ah dengar nya."
"Astaga, Kak Sinta cemburu sama Kak Arin?"
"Cemburu? Mana ada? Lagipula untuk apa cemburu dengan wanita kampung seperti dia."
"Hadeh ... aku pulang saja jika Kak Sinta terus-menerus berbicara kasar seperti ini. Jangan jelek-jelekan Kak Arin, aku tidak suka."
"Terserah kau saja! Sana pulang. Aku juga malas melihatmu."
"Baiklah ... aku pulang. Benar-benar menyesal aku sudah datang kesini. Aku pergi!"
Risa bergegas bangkit dan mengambil paperbag yang berisi donat. Tanpa menoleh, ia segera pergi meninggalkan Sinta.
"Benar-benar menyebalkan!"
Bersambung...
Haii readers... jangan lupa like dan komen ya.. Kasih Saran apapun asal sopan.
Jaga kesehatan selalu readers..
Author sayang kalian semua..
__ADS_1
Luv u so much 🥰😘😘