
Deni benar-benar dilema dengan semua ucapan Risa. Suara Risa masih terngiang di telinga saat mengucapkan sumpah. Sudah berapa kali Risa menyumpahinya. Padahal, tanpa disumpahi pun Deni memang sudah menyukai Mawar.
Setelah pulang dari pantai, malamnya Deni benar-benar di buat sulit tidur. Ranjangnya sangat berantakan saat ia teringat ucapan Risa. Deni mulai menendang-nendang apapun yang berada di atas ranjangnya.
Deni menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kemudian, ia juga menyandarkan kepalanya seraya memejamkan matanya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana?
Sesekali ia memandangi ponsel yang berada di atas nakas. Perasaannya ingin mengatakan bahwa ia sangat menyesal sudah mengatakan bahwa Risa harus melupakannya. Tapi keinginannya bertentangan dengan perasaannya. Ke egoisnya selalu saja mendominasi isi kepalanya.
Deni membenturkan kepalanya pelan di atas ranjang itu. Ia benar-benar ingin mengatakan bahwa ia menyukai Mawar. Mawar clarisya yang tidak pernah ia sangka adalah satu orang berbeda dengan dua nama.
"Kenapa Mawar itu harus Risa, sih? Aku sudah berekspektasi kalau Mawar itu orang yang kalem dan lembut. Bukan seperti Risa yang pecicilan dan menyebalkan. Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi ribet begini, sih?"
Deni terus memandangi ponselnya. Tak lama ponselnya menyala. Terlihat sebuah panggilan dari Milka. Deni ragu-ragu menjawabnya. Setelah di pikir-pikir, mungkin sebaiknya ia harus berusaha melupakan walaupun sebenarnya sulit.
Deni akan berusaha menghindar dari Risa, bagaimana pun caranya. Deni menjawab panggilan Milka. Kemudian, mereka mengobrol. Milka mengajak Deni bertemu di sebuah Bar. Karena perasaannya sedang suntuk dan bosan, Deni menyetujuinya.
Setelah berkemas dan mengganti pakaiannya, Deni mengambil kunci mobilnya. Langkahnya terhenti ketika melewati cermin besar. Deni melihat penampilannya di cermin itu dan berbicara sendiri di depan cermin.
"Aku harus melupakan Mawar. Lagi pula gengsi dong kalau aku sampai termakan sumpah Risa. Aku harus berusaha terlihat biasa saja nantinya. Bagiku Risa itu berbeda dengan Mawar."
Deni keluar dari kamarnya. Ema sedang duduk menonton televisi sambil memakan kerupuk. Ema memanggil Deni dan menyuruhnya duduk menonton televisi.
"Kau sudah rapi? mau kemana lagi?" tanya Ema.
"Aku ingin bertemu temanku."
"Bertemu pacarnya kapan?" ucap Ema datar.
"Nanti."
Deni berpamitan kepada Ema. Tak lupa Deni mencium tangan Ema.
"Hati-hati di jalan."
Deni mengangguk pelan kemudian melajukan kendaraannya. Tak butuh lama bagi Deni untuk sampai kesana. Disana Milka sudah menunggu dengan setelan rok pendek dan kemeja kebesaran. Benar-benar style yang modis.
Baik Milka maupun Risa style nya sama-sama modis dan kekinian. Rupa dan paras sama cantiknya. Hanya saja, Milka lebih ke elegan sedangkan Risa lebih ke sederhana.
Deni celingukan menatap setiap sudut bar. Bola matanya memutar mencari sosok wanita yang akan ditemuinya. Matanya tertuju pada seorang wanita yang dicarinya. Wanita itu sedang duduk memegang segelas minuman seraya memainkan ponselnya.
"Sudah lama?" tanya Deni.
"Belum lama juga, sih." jawab Milka.
"Ada apa mengajakku kesini?"
"Tidak ada yang khusus, sih. Hanya sudah lama saja kita tidak berbincang!"
Deni duduk di kursi bar yang lumayan tinggi itu. Deni duduk dan memesan segelas minuman untuk menemani mereka mengobrol nantinya. Mereka berbicara dengan suara agak keras karena musik yang lumayan keras di dalam bar.
"Martini, please!" ucap Deni.
Pelayan bar itu dengan sigap menuangkan minuman dan meraciknya, lalu memberikannya kepada Deni.
"Kau ingin berbincang apa?"
"Yah, banyak hal."
"Kau meminum bir?" tanya Deni.
"Hmm ... sedikit!"
"Itu tidak baik. Jika kau mabuk bagaimana?"
"Ada kau yang mengantar pulang 'kan?"
"Haha, kau ini!"
"Kenapa kau belum punya pacar sampai sekarang?" tanya Milka.
"Ya karena memang belum ada yg cocok sih."
"Wanita di sekelilingmu banyak, tinggal pilih saja 'kan?"
"Tidak segampang itu lah."
"Kau ini tidak peka, ya? maksudku ada aku di sini? kenapa tidak mencoba berpacaran denganku?"
"Pacaran denganmu? haha."
"Kenapa tertawa? aku serius!"
__ADS_1
"Yang benar saja kau ini. Wanita itu harus jaim sedikit lah."
"Kau terlalu kuno. Zaman sekarang wanita juga harus maju. Apa salahnya jika menyatakan perasaan terlebih dahulu!"
"Jadi kau serius berkata begitu?"
"Iya. Bagaimana? apa kau tertarik?"
"Haha ... benar-benar tak di duga. Jangan-jangan kau sudah mabuk, ya?"
"Tidak. Aku masih normal. Sudah Aku bilang? aku memang menyukaimu sejak lama 'kan?"
"Aku harus jawab apa? aku belum siap untuk pembicaraan seperti ini?"
"Apa kau menyukai wanita yang bersama kita hari itu. Wanita yang penampilannya juga keren dan kekinian itu?"
"Risa maksudmu?"
"Nah, iya! kau menyukainya, ya?"
"Ti-tidak."
"Kenapa harus gugup jika tidak suka?"
"Aku tidak gugup, kok."
Deni menyeruput minuman di depannya seraya memutar kursi. Pikirannya menerawang jauh memikirkan banyak hal. Deni benar-benar dilema. Satu sisi ini seperti kesempatan yang bagus karena cinta pertamanya menyukainya, tapi disisi lain hatinya seperti menginginkan hal lain.
Apa boleh mempermainkan hal semacam ini. Aku memang menyukai Milka dulunya karena ia cinta pertamaku. Di sisi lain yang tak bisa aku pungkiri, aku sudah menyukai Mawar. Tapi, Mawar itu Risa? Apa aku harus mencoba menjalin hubungan dengan Milka?
"Hei ... kau melamun?" ucap Milka seraya menepuk bahu Deni.
"Eh, tidak!"
"Bagaimana? apa kau mau mencobanya?"
"Ini sangat konyol bagiku. Aku seperti wanita saja, haaha."
"Tidak masalah bagiku. Jika jalani saja pelan-pelan. Jika seandainya kita cocok setelah menjalin hubungan, kita lanjutkan. Jika tidak, ya kita akhiri."
Benar-benar tawaran yang menggiurkan. Deni benar-benar dilema dengan keadaan ini.
"Berpikirlah. Sekarang jam 9. Nanti jam 10 akan aku tanyakan kembali."
"Huh! benar-benar menggelikan."
"Hahaa." Milka tertawa seraya memegang gelas minumannya. Kemudian ia meminumnya dengan gaya elegan.
"Apa kau pernah menyukaiku?" tanya Milka.
"Tidak tahu!" jawab Deni berbohong dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Lagi-lagi Milka tertawa. Milka memainkan ponselnya kemudian Milka mengambil selfie. Deni tersenyum tipis saat Milka mengajaknya berselfie. Deni sebenarnya enggan berselfie seperti itu. Tapi jika menolak mungkin akan menyakiti Milka.
Kenyataannya, perasaan adalah hal yang paling sulit untuk dirahasiakan. Seperti Milka yang berterus terang tentang perasaannya kepada Deni.
Milka menatap terarah kepada Deni, Deni menjadi sedikit canggung dan salah tingkah tapi dengan santainya ia masih meminum martininya.
Milka terus menatap dengan ekspresi senyuman di wajahnya. Deni walaupun canggung berusaha menutupinya dengan tegas.
Milka meletakkan ponselnya diatas meja, begitu pula dengan Deni. Tanpa sengaja, mereka memegang ponsel yang sama diatas meja itu. Sentuhan antar kulit yang terjadi akhirnya menyadarkan Deni. Gerakannya terlihat canggung ketika melepaskan tangan dari Milka. "Sorry," ucap Deni lirih. Dengan cepat, Deni memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Tanpa terasa waktu sudah jam 10 malam. Milka sudah menanyakan tentang pernyatan perasaannya tadi kepada Deni. Terlalu bingung harus menjawab apa. Deni menggerakkan kepalanya, menunjukkan anggukan kaku.
"Jadi aku diterima?" tanya Milka.
"Apa?"
Deni merasa ia telah salah mengangguk. Padahal itu hanya anggukan kaku yang spontan.
"Terima kasih, mulai hari ini kau harus mencoba menjadi pacar terbaik bagiku."
Ya ampun, bagaimana ini? aku sudah menerimanya? benar-benar gila. Huh!
Deni hanya tersenyum masam. Ia ingin mengatakan bahwa itu salah paham tapi Milka sudah terlihat sangat bahagia.
"Pelan-pelan saja, aku yakin walaupun kau belum menyukaiku, nanti perasaan sayang akan muncul dengan sendirinya?"
Mungkin dengan begini, sumpah Risa tidak akan pernah terwujud.
"Jika seandainya kita memang tidak bisa cocok. Maaf kalau suatu hari kita akan berpisah? Apa kau ingin ada perpisahan atau pertemanan selamanya?"
__ADS_1
"Aku sudah memilih, aku akan menjadi pacarmu. Jika memang kita tidak bisa bertahan suatu hari nanti, tetaplah menjadi teman. Maaf, karena aku egois."
"Aku tidak ingin menutupi apapun darimu. Sebelumnya kau harus tahu, bahwa aku sebenarnya sudah menyukai wanita lain!"
"Aku sudah menduganya, tadi saat aku bertanya kau terlihat gugup. Tak masalah, karena kita sudah memulainya, sebaiknya kita coba saja. Asal mati jangan di coba, karena jika sudah mati mana bisa hidup kembali?" Milka terkekeh, lelucon recehnya itu mampu membuat seulas senyum dibibir Deni.
Milka dan Deni benar-benar mencoba menjadi sepasang kekasih. Milka terus tersenyum menatap wajah Deni. Sedangkan Deni benar-benar kaku. Tanpa ia sangka, malam ini ia melepas status jomblo nya dan memulai memainkan peran menjadi seorang kekasih yang baik.
"Jangan terlalu kaku, kita coba saja dulu." ucap Milka.
"Jika suatu hari kau tersakiti, apa kau siap?" tanya Deni.
"Karena aku sudah berani jatuh cinta, maka aku sudah siap dengan konsekuensinya."
"Huh, baiklah."
****
Arinka dan Renza masih duduk di balkon atas. Setelah Arinka keguguran, Arinka sudah tidur kembali ke kamar atas. Sekarang, Arinka sedang menyandarkan kepalanya ke bahu Renza. Dengan lembut Renza mengelus rambut Arinka dan mengecup keningnya.
"Kita belum beruntung ya soal anak," ujar Arinka.
"Tidak apa, ini hanya sementara kok, sayang. Percayalah nanti kita akan memiliki anak."
"Hemm .... "
"Apa ingin aku buatkan sekarang?" ucap Renza menyerigai licik.
"Ishh, mulai lagi mesumnya."
"Tapi kita memang sudah lama tidak melakukannya. Semenjak kau hamil, aku bahkan tidak bisa menyentuhmu."
"Maaf, sayang." Arinka tertawa.
Arinka dan Renza menatap bulan yang sudah benar-benar bulat diatas sana. Cahaya nya sangat terang hingga menembus celah-celah jendela kamar.
"Pemandangan yang indah!" ucap Arinka.
"Iya, bintang bertaburan di langit. dan salah satu bintangnya ada di sini, bintang yang paling bersinar." ucap Renza seraya menatap wajah mungil Arinka. Seketika, Renza mengecup bibir ranum Arinka dengan lembut.
Arinka tersenyum setelah Renza melepaskan kecupan bibirnya. Kemudian, Renza mencium Arinka lagi dan berbisik di atas bibir wanita itu, "Aku benar-benar mencintaimu."
Perlahan, Renza menarik tubuh Arinka hingga duduk dipangkuannya. "Apa kau masih mencintaiku?"
Arinka memajukan tubuhnya, sementar tangannya mengelus rambut hitam legam milik Renza lalu ia berbisik lembut di telinganya, "Sangat, aku sangat mencintaimu, suamiku!"
Renza tersenyum, "Aku sangat bahagia mendengarnya, istriku."
Kemudian Renza perlahan-lahan mendekatkan kepala Arinka kearahnya, mencium bibir Arinka dan menjilat permukaaan bibir Arinka seraya berbisik pelan. "Aku sangat merindukan tubuh ini."
"Jadi kau hanya merindukan tubuhku saja?"
"Aku ubah kalimatku kalau begitu, aku merindukan dirimu," jelas Renza sementara mata cokelatnya berkilat nakal. "Puas?"
"Aku suka pernyataan yang ini."
Lalu Arinka mencium bibir Renza, membalas perlakuan pria itu dan kini ia berusaha menggoda Renza dengan menggigit kecil bibirnya. "Pria penggoda yang rindu akan tubuhku? aku suka kata-kata itu ... "
Renza tersenyum nakal mendengar pernyataan Arinka. "Kau benar-benar menggodaku sekarang?" Renza membalas menggigit kecil bibir Arinka.
Dan ketika Arinka menghentikan ciumannya. Renza menggeram dan menarik Arinka merapat pasadanya sebelum mengecupnya kembali. "Jangan menggodaku seperti ini, kau membangunkan srigala yang lapar."
Kemudian Renza berbisik parau, "Aku menginginkan lebih, Mimom ... "
Arinka hendak bangkit dari pangkuan Renza namun ditahan oleh Renza dengan melepas kancing piyama Arinka dengan gerakan cepat. Kemudian, Renza mengangkat Arinka ala bridal dan membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang king size nya.
Renza memulai pekerjaannya kembali. Membuat seisi kamar di isi oleh desahan manja mereka berdua. Gejolak rasa cinta membara yang telah tertahan lumayan lama itu akhirnya tersalurkan. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi dua insan yang saling merindukan satu sama lain. Dua orang yang saling memadu kasih dan menikmati indahnya madu asmara.
***Bersambung...
Hai Readers, Fansnya Deni untuk sementara Deni berpacaran dulu ya. Deni akan merasakan dilema yang besar nantinya dalam sebuah hubungan yang setengah hati. Untuk Arinka, secepatnya nanti akan ada berita baik lagi, kan sekarang mereka lagi proses 😂
By the way, jangan lupa like jika sudah selesai membaca, vote dan komentar kalian aku tunggu.
Oh ya, Author menulis cerita baru yang berjudul "Fake Love" mampir ya, kasih komen dan jempol kalian, sementara baru author update 1 episode ya.
Semoga Readers Arinka berkenan mampir. Sambil menunggu Arinka update, ye kan? 😂😂
Salam sayang dari ku buat Readers semua...
Luv u all 💋😘***
__ADS_1