Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 82 : Romansa Deni dan Risa


__ADS_3

Sepeninggalan Arinka dan Renza itu, dua manusia yang saling gengsi itu masih terpaku. Deni yang biasanya sangat jago dalam hal mengelak, kali ini dibuat skakmat oleh Renza. Deni benar-benar tidak tahu harus menjelaskan apa kepada wanita yang tengah menatapnya itu. Mata wanita ini menuntut penjelasan dari lelaki di depannya.


Risa meremas jarinya seraya memainkan kukunya. Ia sangat penasaran dengan semua foto yang diambil oleh Deni. Risa ingin bertanya tetapi lidahnya kelu. Wanita yang biasanya banyak bicara ini mendadak diam.


Suasana benar-benar canggung dan hening. Padahal suara kendaraan yang hilir mudik lalu terdengar sangat berisik. Jika ada jangkrik mungkin jangkrik itu akan berbunyi "Krik ... krik." di dekat mereka.


Aku harus bilang apa? Ya Tuhan, kenapa pak Renza harus seperti ini sih? Arggghh!


"Coba jelaskan, kenapa kau memotretku begitu banyak?" Risa akhirnya memberanikan diri bersuara.


Deni masih diam saja. Wajahnya benar-benar terlihat kebingungan. Ia menoleh ketika Risa akhirnya bersuara. Tangannya menjadi bergetar.


Padahal menyangkut perusahaan walau sebesar apapun masalahnya, aku bisa menghadapi. Tentang hati, kenapa jadi begitu sulit, sih?


"Apa kau mulai terkena sumpahku?" Tanya Risa menatap Deni lekat.


"Sumpah?" Deni pura-pura melupakan sumpah yang berkali-kali di ucapkan Risa.


"Jangan pura-pura lupa! Aku tahu kau tidak bodoh."


"Huh!" Deni menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar, "Itu bukan sumpah, tetapi kutukan!"


"Kutukan?"


"Iya."


"Jadi?" tanya Risa.


"Jadi apa?"


"Jelaskan! Kenapa ada banyak fotoku? Dan kenapa pak Renza tahu tentang kita di media sosial? Jangan-jangan kau yang bermulut besar?"


"Tidak, aku juga tidak tahu." Melirik sinis.


"Jangan-jangan kau benaran menyukaiku, ya?"


"Siapa yang menyukaimu?"


"Ya ... kamu, ayo jelaskan?"


"Tidak disini. Ayo pergi ke taman!"


"Ayo!"


Deni berjalan menuju mobilnya, sedangkan Risa pergi ke tepi jalan untuk menahan laju taksi. Deni heran melihat Risa dan memanggilnya, "Alien!"


Risa menoleh dan menaikkan alisnya sebelah. Deni tertawa menatap Risa yang menoleh karena panggilannya.


"Kenapa memanggilku? Kenapa tertawa?"


"Memangnya namamu Alien? Lagipula kau mau kemana? Sini masuk ke dalam mobil. Tujuan kita sama, kenapa harus pergi terpisah?"


"Bukan, aku Risa." jawabnya ketus.


Risa berjalan mendekat menuju mobil Deni dan berdiri tetap di hadapan Deni sangat dekat. Seketika jantung Deni berdebar sangat cepat.


"Biasanya kau selalu menolak mengajakku? Yah, aku tahu diri dong!"


"Menjauh atau masuk. Kenapa kau menjadi sangat dekat seperti ini, sih?"


"Jika jauh, bagaimana bisa masuk? Mulai lagi kelakuan anehmu itu!"


"Ya kan tidak berdiri tepat di depanku juga. Aku iilfeel melihatmu!"


"Illfeel kau bilang? Yang ada aku illfeel melihatmu, banyak drama!"


"Sudah, kau mau naik atau tidak?"


Risa membuka pintu mobil bagian belakang. Deni dengan cepat mencegahnya dan berkata, "Hei, kau mau menjadikanku supir pribadi, ya?"


"Nanti kau iilfeel melihatku. Nanti kau risih juga," ucap Risa datar.


"Pindah! Sini duduk di depan."


"Benar-benar menyebalkan!" Desis Risa sambil membuka pintu mobil.


"Kau yang menyebalkan!"


"Aku benar-benar berharap kau jatuh cinta, supaya kau tahu cara bicara manis!"


Deni terdiam mendengar ucapan Risa. Deni bukannya tidak bisa bersikap manis. Deni bersikap menyebalkan begitu itu hanya kamuflase untuk menyembunyikan perasaannya dan salah tingkah.


Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil terasa membosankan bagi Risa. Mereka berdua terlihat canggung. Risa masih kesal karena cara bicara Deni tadi sehingga ia hanya diam saja.


"Puter musik, dong."

__ADS_1


Risa langsung bergerak hendak memutar tape mobil. Karena lebih lambat sedetik dari Risa, bukannya menyentuh tombol tape, tangan Deni malah menyentuh punggung tangan Risa. Dengan cepat Risa dan Deni menyentak tangan masing-masing setelah sentuhan tersebut.


Deni segera memutar tape itu. Mereka berdua terlihat gugup saat bersentuhan tangan tadi. Suasana menjadi sedikit mencair setelah musik di putar. Tanpa sadar Risa bernyanyi mengikuti musik yang ia dengar.


Deni melirik sekilas ke arah Risa yang bernyanyi seperti bergumam itu. Kemudian, Deni tersenyum menatap kedepan dengan fokus.


Tak lama, Deni mengajak Risa ke sebuah danau yang pernah Arinka dan Renza kunjungi. Daerah danau itu sangat sejuk dan romantis. Saat ini, di sana sangat sepi karena bukan hari libur. Hanya beberapa orang yang datang ke sana dan bisa dihitung dengan jari.


Deni dan Risa turun dari mobil. Risa belum pernah ke tempat ini. Benar-benar sangat sejuk dan asri. Tempat itu sangat bersih bebas dari sampah, hanya terihat daun-daun dari pohon yang jatuh berserakan di tanah.


Kenapa dia mengajakku ke tempat seperti ini? Aku sangat gugup.


"Ayo duduk di sana, di tepi danau!" Ajak Deni.


Risa hanya menurut dan berjalan berdampingan mensejajarkan langkah. Mereka sampai di tepi danau.


"Tidak ada tempat duduk!" Risa kebingungan.


"Duduk di rumput saja, lebih seru."


"Hah! Seperti bukan Deni saja berkata seperti ini."


"Jika bukan aku siapa lagi?"


Risa terkekeh dan duduk di atas rumput. Disampingnya banyak daun-daun berserakan. Daun-daun itu terjatuh tertiup angin dan berjatuhan. Hingga ada satu daun yang mendarat diatas kepala Risa.


Deni melihat daun diatas kepala Risa. Tangan Deni refleks menyentuh rambut Risa yang membuatnya mendadak membeku. Risa terkejut dan bingung.


Apa-apaan si Deni, dia mengelus rambutku?


Setidaknya pertanyaan itulah yang menyerang otak Risa bertubi-tubi.


"Ada daun di rambutmu."


Risa buru-buru menutup mulutnya saat Risa menunjukkan daun kering yang baru ia ambil. Dalam hati Risa bersyukur karena belum meneriaki Deni begini, "Jangan cari kesempatan denganku!" Penjelasan tentang daun di rambut akan membuatnya betul-betul malu kalau sja ia sudah menuduh Deni. Kesannya Risa kepedean.


"Oh, eh, iya ... thanks, ya." Risa tampak salah tingkah. Setelah meremas daun di tangan, Risa membuang daun itu dan menoleh kearah lain.


Deni berubah menomalkan sikap. Sepertinya memang akan ada fenomena benci jadi cinta sebentar lagi.


Risa bangkit dari duduknya dan berdiri memegang batu kecil ditangannya. Ia berdiri sangat dekat dengan tepian danau. Sambil melempar batu, Risa merasa perasaannya mulai aneh kepada Deni. Jantungnya bedebar kencang mendapat perlakuan dari Deni.


Deni masih duduk bersila di rerumputan sambil memandang punggung Risa. Risa terus melempar batu kerikil kecil dan tanpa sadar kakinya tergelincir.


Bruugh!


"Huahh ... hampir saja aku tercebur, aku sangat takut."


Refleks, Risa langsung memeluk Deni yang berjongkok membantunya. Terkejut menerima pelukan itu tiba-tiba, Deni jatuh terlentang di atas rumput. Dan, Risa tidak sengaja ada diatasnya.


Untuk beberapa saat keduanya hanya diam merasakan gemuruh panik yang tadi memenuhi rongga dada mereka, akhirnya lenyap begitu saja bagaikan tersapu angin. Namun, detak jantung Deni yang begitu cepat membuat Deni tersadar ia harus menjauhkan diri. Sempat melebarkan mata, Risa langsung melepaskan pelukan dan segera berdiri.


"AAAAA! Kau cari kesempatan, ya!"


Tuduhan itu malah membuat Deni ingin melempar Risa ke dalam danau. "Sial! Kau yang memelukku." bentaknya. Deni sudah merubah posisi menjadi duduk.


Risa berhenti menjerit. Ia malu sendiri mendengar tuduhannya kepada Deni. Risa tersadar bahwa ia yang memeluknya. Tapi itu tidak disengaja karena panik.


"Jangan terlalu tepi, jika kau tercebur aku akan membiarkanmu di sana!"


"Benar-benar kejam."


Saat menunduk, Deni terperanjat melihat kaki Risa tergores dan berdarah. Dengan sekali sentak, ia menarik Risa untuk duduk. "Astaga, kakimu tergores dan berdarah. Ayo kita pulang biar segera diobati."


"Tidak apa, hanya luka kecil seperti ini."


"Kau ini ceroboh! Belum lama lututmu terluka saat jatuh dari sepeda, sekarang kakimu tergores. Kau sangat suka, ya, terluka?"


"Tidak lah." desis Risa.


"Lain kali hati-hati dan jangan sampai terluka."


Mulut Risa melongo lebar mendengar ucapan Deni. Deni benar-benar seperti sosok lain. Risa menjadi merinding. Jangan-jangan lelaki itu sedang kerasukan atau Risa yang berhalusinasi karena sikap Deni yang sangat berbeda itu.


Mereka duduk kembali diatas rumput. Kali ini sudah agak jauh dari tepi danau. Mereka duduk di bawah pohon besar yang sangat rindang.


"Jelaskan? Kenapa kau memotretku?" ucap Risa.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Karena aku juga belum yakin."


"Belum yakin? Tentang apa?"


"Nanti saja aku beri tahu."


"Aku ingin kau menjelaskan kepadaku, kenapa malah menjadi main rahasiaan begini, sih?"

__ADS_1


"Foto itu aku memotretnya tidak sengaja. Karena kau banyak merusak pemandanganku. Saat aku memotret pantai, kau ada di sana. Saat aku memotret pasir, kau juga ada disana."


"Hah? Coba aku lihat kameramu? Aku benar-benar tidak percaya."


"Itu barang pribadi. Mana bisa kau meminjamnya. Lagipula akan aku hapus."


"Aku hanya ingin melihat fotoku! Kau juga kan memotret ku tanpa sepengetahuanku? Hapus saja, Itu namanya penguntit."


"Penguntit? Atas dasar apa aku dibilang penguntit?"


"Kau memotretku, itu penguntitan."


"Haha ...." Deni tertawa terbahak.


"Kau tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Penguntitan itu adalah jenis gangguan, yaitu tindakan membuat kontak tidak pantas dan berulang-ulang dengan Anda yang tidak Anda balas atau inginkan. Penguntitan mungkin dilakukan secara pribadi, yaitu bila seseorang mengikuti Anda, memata-matai Anda, atau mendekati Anda di rumah atau tempat kerja. Kau mengerti?"


"Iya ... aku mengerti."


"Jangan asal bicara makanya."


Sejenak mereka berdua terdiam. Deni memandang kearah danau yang berwarna kehijauan itu. Risa menjulurkan kakinya dan memainkan ponselnya.


Untung saja Risa tidak banyak bertanya hal lain. Apakah ia lupa tentang tadi? Biarkan saja. Aku tetap aman.


Deni diam-diam melirik Risa yang sedang tersenyum menatap layar ponselnya. "Manis." ucapnya.


Risa menoleh dengan tatapan heran. "Apanya yang manis?"


Deni gelagapan karena berbicara refleks. "Siapa yang menyebut manis? Kau salah dengar! Aku bilang amis."


"Amis?"


"Iya, kau amis." Deni tertawa lucu.


"Sialan! Umpat Risa, "Kau pikir aku ikan?"


"Sedikit. Makanya kau ingin menceburkan diri tadi ke danau." Deni terkekeh.


"Apa kau menyukaiku, Dinosaurus?" Risa menutup mulut dengan satu tangannya, "Ups."


"Eh ...." Deni menjadi salah tingkah. "Sudah aku bilang, aku tidak suka wanita seperti kau."


"Benarkah?" ucap Risa seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Deni. "Tatap aku seperti kata pak Renza."


Glek...


Deni menelan ludahnya dan mengedipkan matanya seraya menundukkan kepala.


"Kenapa? Kau tidak berani?"


"Berani." Deni memberanikan diri menatap Risa. Ia menarik napas kuat dan menghembuskannya kasar. "Aku tidak suka menatap wanita sepertimu ini."


"Ya sudah. Aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri lagi. Sudah cukup kau menyebutku wanita seperti ini. Memangnya aku wanita seperti apa? Hingga kau terus berkata kasar kepadaku." ucap Risa lirih. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Deni.


Apa aku keterlaluan? Aku bersikap seperti ini karena aku menyukaimu bodoh. Entah kenapa aku bisa menyukai wanita sepertimu yang sangat berbeda dari type idamanku. Apa aku masih bisa menahannya?


Deni bangkit dari duduknya dan mengikuti Risa. Risa meneteskan air matanya sambil terus berjalan. Deni melihat kaki Risa yang tergores tadi. Ia benar-benar iba. Deni berlari menghampiri Risa. Ia terkejut melihat Risa menangis. Deni memegang tangan Risa dan Risa pun menghentikan langkah kakinya.


"Kau menangis?"


"Tidak, aku tertawa."


"Jangan menangis," ucap Deni lirih.


"Sudah cukup, aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi tolong bersikap baiklah kepada wanita. Aku berharap kita tidak pernah bertemu lagi. Jika suatu hari kita bertemu anggap saja seperti tidak mengenal satu sama lain. Aku akan bersikap begitu juga kepadamu. Jadi sebisa mungkin menghindarlah jika kita tidak sengaja bertemu."


Risa pergi meninggalkan Deni, sedangkan Deni hanya mematung mendengar ucapan Risa. Buru-buru ia tersadar dan berlari mengejar Risa. Deni akan mengungkapkan perasaannya. Tapi ia teringat Milka, wanita yang sudah menjadi pacarnya itu. Langkahnya terhenti.


Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa? Aku takut menyakiti mereka berduanya nantinya. Tapi aku tidak ingin menyesal.


Langkah kakinya berlari mengejar Risa yang sudah semakin jauh. Deni berlari dengan cepat kemudian ia meraih menarik tangan Risa. Lagi-lagi Risa menghentikan langkahnya.


"Kenapa lagi? Karena ini terakhir kalinya kita bertemu, aku akan mengatakan bahwa aku pernah sedikit menyukaimu. Karena kau sudah mendengar lepaskan tanganku sekarang!" Kali ini Risa benar-benar serius dengan ucapannya. Mendengar pernyataan itu, Deni seperti mempunyai semangat baru. Tanpa sadar ia mengucapkan kata-kata yang sangat berat ia ucapkan itu.


"AKU JUGA MENYUKAIMU!" Deni berteriak memejamkan matanya. Risa melebarkan matanya melongo.


Apa aku tidak salah dengar?


Bersambung...


Yuhuuu, jangan lupa like dan komentar. Harap berkometar yang sopan ya Readers 😁


Chapter ini menceritakan Deni dan Risa dulu. Aku mana bisa menceritakan beberapa orang dalam satu chapter. Dan maaf jika hari ini tidak ada cerita Renza dan Arinka. Mereka tetap peran utama kok.

__ADS_1


Salam sayang dariku buat pembaca semua, luv u all 💋😘


__ADS_2