
Mentari pagi sudah bersinar, burung-burung berkicauan bersahutan, embun menetes membasahi tanah.
Arinka bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kolam renang. Renza membuka matanya perlahan, tangannya meraba-raba di ranjang itu. Renza bergegas bangkit dari kasurnya dan berteriak memanggil nama Arinka.
Bi Ami yang sedang memasakkan sarapan tidak tahu menahu tentang Arinka. Saat itu keadaan masih sangat pagi. Renza berjalan ke arah taman sembari melirik ke kiri dan ke kanan. Tapi Arinka tidak ada di ayunan. Padahal ayunan adalah tempat favoritnya.
Renza mulai panik, tapi terdengar suara cipratan air di dalam kolam. Renza berjalan pelan menuju kolam itu. Alhasil, Renza menemukan Arinka yang sedang memainkan kakinya di dalam kolam.
"Sayang, kenapa sepagi ini sudah berada di kolam? Airnya masih sangat dingin, ayo naik!"
"Uweek!"
"Kenapa? mual lagi?"
"Mmm..." Arinka bergegas berjalan.
Renza memanggil Bi Ami untuk membawakan handuk. Bi Ami bergegas berlari menghantarkan handuk untuk Arinka. Padahal, tubuh Arinka tidak basah, hanya kakinya saja yang ia celupkan.
Arinka masuk ke kamar mandi, kemudian setelah beberapa saat, ia keluar dan sudah berpakaian rapi. Setelah Arinka mandi, Renza naik ke kamarnya, ia juga bergegas mandi.
Seperti biasa, Renza menggunakan setelas jas, kali ini setelan jas nya berwarna navy. Tak lupa, Renza menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Renza turun sudah memakai pakaian lengkap dan menenteng tas kantornya. Kemudian, Renza duduk di meja makan berhadapan dengan Arinka. Arinka bangkit dari kursinya dan mendekati Renza seraya membetulkan dasinya. Renza tersenyum manis sembari mengelus pipi Arinka.
Tiba-tiba, Arinka merasa mual.
"Uwek!"
"Kenapa? mual lagi?"
"Mmm .... " Arinka berlari menuju wastafel, Kemudian Renza mendekatinya. Tak lama, ia mual kembali.
"Apa kita ke dokter saja?" tanya Renza.
"Tidak perlu, aku tahu penyebabnya, tapi maaf pipom jangan marah."
"Uweek!"
"Apa? Kenapa pipom harus marah?"
"Sepertinya Mimom tidak suka bau tubuh pipom!"
"Hah, apa itu benar?"
"Mmm... jika pipom mendekat, Mimom langsung bereaksi."
Renza memajukan dua langkahnya kearah Arinka. Alhasil, Arinka merasa mual kembali. Kemudian, Renza berjalan ke arah meja makan dan meminta Bi Ami mengawasi Arinka.
"Bi, Apa benar wanita hamil bisa sensitif terhadap bau suami sendiri? benar-benar aneh!"
"Ya begitulah, Wanita hamil itu memang sedikit aneh, Tuan."
"Jadi, aku tidak bisa mendekati istriku? ini semacam hukuman."
Arinka memilih sarapan di sofa sambil nonton televisi. Bi Ami membawakan sarapan beserta buah dan susu hamil. Arinka tidak mendekat, karena ia benar-benar tidak suka bau tubuh Renza.
Beberapa saat kemudian, Deni datang dan masuk kedalam rumah. Deni menyapa Arinka dan duduk bersamaan di sofa.
"Bagaimana keadaan Ny. Arinka hari ini?"
"Baik kok, seperti yang terlihat."
"Dimana pak Renza?"
"Dia sedang sarapan di meja makan."
"Nyonya kenapa sarapan disini sendirian?"
"Aku tidak suka bau Renza, bau tubuhnya membuatku mual."
"Apa? benarkah begitu?" Deni tertawa lucu.
Renza berjalan mendekati Deni, kemudian ia ingin berpamitan berangkat ke kantor, biasanya Arinka mencium tangan Renza sebelum berangkat kerja. Renza mendekat ingin mengecup keningnya. Belum saja benar-benar sampai, Arinka sudah mual melihatnya.
"fftttt." Deni tertawa menutup mulutnya.
"Kenapa kau tertawa?" ucap Renza memelototkan matanya.
"Aku benar-benar tidak suka bau tubuhnya." ucap Arinka.
"Jadi, pipom pergi saja tanpa cium tangan dan kecupan?"
"Mmm, aku benar-benar membenci bau mu."
Dengan langkah gontai, Renza berjalan masuk kedalam mobil. Sedangkan Deni tersenyum lucu melihat mereka berdua. Hati kecilnya tergelitik, Deni ingin tertawa tapi pasti akan kena masalah nantinya.
"Nyonya Arinka itu benar-benar sangat istimewa. aku salut!"
"Kenapa?" tanya Renza.
"Dia tahu cara membalas kebencian orang di masa lalunya. walaupun ini tidak di rencanakan." Deni terkekeh.
"Sialan kau Deni!"
"Jelas saja, bahkan baby didalam perutnya tahu bahwa ayahnya pernah menyakiti ibunya."
"Ahh, benar, aku sangat sedih, ini seperti pembalasan bagiku."
"Tenang saja, ini bersifat sementara kok, Pak."
"Tapi, sampai kapan aku akan berjauhan dari nya? tidak boleh mendekat apalagi menyentuhnya?"
"Sabar saja dulu, Pak!"
Sesampainya di kantor, Renza benar-benar bersikap uring-uringan. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan, padahal baru satu hari di acuhkan, bagaimana jika berbulan-bulan, bisa mati kurus nantinya.
Hari ini Renza akan memimpin rapat. Perusahaan Fariq company akan membuka anak cabang di singapura. Hampir saja fokus Renza terpecah gara-gara teringat istrinya. Ia dengan cepat fokus kembali kepada pembahasan awal.
Setelah selesai rapat, Renza bertanya tentang kehamilan kepada semua staf yang ikut rapat. Karena ia merasa tak percaya akan hal dianggapnya konyol itu. Deni yang mendengarnya tersenyum geli.
"Apakah benar, ibu hamil bisa membenci bau tubuh suaminya?"
__ADS_1
"Sebagian memang ada yang yang seperti itu, bahkan bau makanan yang terlalu amis saja ibu hamil tidak suka." jawab salah seorang staf di ruang rapat itu.
"Masalahnya aku bukan makanan! Huh, terserahlah!"
Renza keluar dari ruang rapat dengan perasaan kesal. Deni mengekorinya seraya tersenyum terus-menerus.
Makan siang pun Renza terlihat sangat tidak berselera, ia terus saja kesal ketika teringat ucapan Arinka yang membenci bau tubuhnya.
"Padahal waktu bulan madu, dia bilang dia sangat suka wangi tubuhku?"
"Masalahnya sekarang kan berbeda, Pak. Ny. Arinka sedang berbadan dua."
"Iya sih, semua nya pasti akan baik-baik saja."
"Baru saja di bilang benci, apa kabar hati Ny. Arinka dulunya saat pak Renza yang terus menerus bersikap menyebalkan kepadanya."
Deg!
"Ucapanmu memang benar Den, tapi kenapa aku tidak terima jika kau terus menerus mengungkit, kau mau tendang."
"Hehe, maaf, Pak."
"Kau benar-benar menyebalkan, sana pergi dari hadapanku."
Mending kabur ah, dari pada kena semprot.
Deni duduk di sofa, tangannya sibuk memainkan ponsel. Milka mengiriminya pesan dan menanyakan apakah jadwal malam ini kosong atau tidak.
Deg!
Deni langsung teringat bahwa malam ini ia akan pergi menghadiri pesta ulang tahun mantan pacar Risa. Gerakan nya jadi salah tingkah. Berapa kali ia mengerjapkan kaki dan menghentakan sepatunya ke lantai.
"Bagaimana aku bisa menghubunginya? Apa aku harus menjemputnya? wanita itu benar-benar membuatku illfeel."
Deni membalas pesan Milka dan mengatakan bahwa ia sudah mempunyai acara malam ini. Balasan Milka hanya sebuah emoticon sedih.
Sore ini mereka pulang sudah pukul 5. Di perjalanan Renza meminta Deni untuk mampir ke toko kue dan juga toko bunga.
Renza membeli kue dan coklat untuk istrinya dan tidak lupa membelikan sebuket bunga mawar. Renza berpikir Arinka pasti ngambek kepadanya karena sudah hampir 2 minggu Renza tidak membelikan Arinka bunga.
"Pasti jika di belikan kue dan bunga, istriku tidak akan ngambek lagi?"
Deni hanya tersenyum memperhatikan dari kaca spion depan. Deni enggan memberi komentar. Karena Deni tahu jika ia berkomentar akan terjadi adu mulut.
Sesampainya di rumah, Arinka sedang menonton televisi. Renza masuk membawakan bunga dan kue, sedangkan Deni masuk membawakan tas kantor Renza.
"Sayang, aku bawa kue dan bunga?" ucap Renza seraya berjalan ke arah Arinka.
"Benarkah? letakkan di situ saja, jangan mendekat."
"Kenapa? bukannya sudah seharian aku tidak di rumah, pasti bau tubuhku sudah berbeda." Renza berjalan mendekati Arinka dan duduk di sebelahnya.
"Uweek!"
"Aku tidak bisa, bau tubuhmu aku sangat tidak suka. Perutku langsung terasa mual, maaf," ucap Arinka lirih.
Renza bergegas menjauhi Arinka, ia berpindah tempat duduk ke sofa lain, "Tidak apa-apa, mau gimana lagi."
"Iya, Nyonya."
Deni berjalan ke dapur dan meminta bi Ami membawakan piring dan sendok untuk Arinka. Bi Ami juga tidak lupa membawakan air minum.
Setelah piring itu berada di atas meja. Renza meminta persetujuan Arinka untuk memotong kue nya. Arinka mengganggukan kepala setuju.
Entah kenapa aku jadi suka melihat Deni dan tidak suka melihat suamiku, wanita hamil benar-benar aneh.
Renza memperhatikan Arinka yang sedang menyuap sesendok demi sesendok kue ke dalam mulutnya. Renza tersenyum menatapnya. Untuk sekarang Renza hanya bisa menatap tidak boleh mendekat sedikitpun.
Deni permisi pulang. Ia harus bergegas karena akan pergi ke pesta bersama Risa. Deni melajukan mobilnya lumayan kencang. Dalam hatinya ia ingin tidak datang, tapi jika ingkar Risa akan di permalukan, "Ingkar bukan sifatku."
Sesampainya di rumah, Deni bergegas masuk ke kamarnya. Ia langsung menuju kamar mandi. Tak berapa lama, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk di bagian bawahnya dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut basahnya.
Deni segera memilih pakaian dan membuka lemarinya. Kamar Deni yang tadinya rapi tampak sangat berantakan sore ini. Baju dan celama berhamburan di atas kasur sebab ulah dirinya sendiri. Sudah setengah jam setelah mandi, tapi tubuh Deni masih berbalut lilitan handuk yang menutupi area pinggul sampai lutut saja.
Deni sangat kebingungan memilih pakaian mana yang akan ia kenakan sama sekali belum pernah ia alami, pasalnya ini acara ulang tahun, jika memakai jas terlalu formal.
"Ck! Aku harus pakai baju apa, ya?" gumam Deni sambil bertolak pinggang. Ditatapnya lemari pakaian yang sudah hampir kosong itu dengan frustasi.
Mata Deni melebar saat ia berbalik dan melihat pemandangan diatas ranjangnya seperti kapal pecah. Deni menggaruk-garuk kepalanya lebih frustasi.
Angka yang ditunjukkan jam dinding membuat Deni lebih kalang kabut lagi: 18.30!
"Astaga, sudah jam segitu aja." Akhirnya, Deni memilih kemeja putih dan celana kain panjang. Lebih mirip setelan ke kantor hanya saja ia tidak menambahkan jas.
Segera Deni menyisir rambutnya dengan tatanan seperti biasanya. Kemudian ia mencari ponselnya di bawah tumpukan baju. Tak lupa ia memakai jam tangan dan menyemprotkan parfum.
"Bu, nanti bereskan kamarku, ya?" teriak Deni.
"Kau mau kemana, kau bahkan belum makan malam?"
"Aku ada urusan."
Deni pergi meninggalkan ibunya dan melajukan mobil, sedangkam Ema menarik nafas panjang melihat kamar Deni yang kekacauannya melebihi gempa bumi.
Deni sudah sampai di depan gerbang rumah Risa. Deni kebingungan, apakah ia akan masuk atau tidak? Deni mondar mandir di depan gerbang itu. Benar-benar sangat menyebalkan. beberapa kali Deni menggerutu dan memaki Risa karena tak kunjung keluar.
"Hey, sudah lama disini?" Tiba-tiba suara itu mengejutkan Deni.
"Sudah lama!"
"Ayo berangkat."
"Orang tuamu? kenapa tidak pamit dulu?"
"Mereka tidak di rumah."
"Baguslah."
"Aku pikir kau tidak akan datang," ucap Risa.
"Aku bukan orang yang ingkar janji. Itu payungmu, bawa pulang saja nanti, gara-gara payung sialan itu aku jadi ikutan ide gila ini."
__ADS_1
"Ini uangmu, uang dvd semalam." Risa menyelipkannya.
"Kenapa kau harus berdandan seperti ini, hanya mantan apa harus istimewa?"
"Ya jelas lah, aku ingin menunjukkan kalau aku baik-baik saja tanpa dia yang mengkhianatiku, buktinya aku sudah dapat pengganti yang baik dan tampan."
"Baik dan tampan? tapi sayang palsu."
"Ups, aku tarik ucapanku menyebutmu baik dan tampan."
"Terserah!"
Seketika keadaan di dalam mobil itu hening. Risa menyalakan lagu untuk mengusir rasa canggungnya.
"Oh ya, nanti kita harus berpegangan tangan, ya? Kita harus saling tersenyum, jangan seperti ini."
"Permintaanmu sangat banyak, dasar egois!"
"Karena sudah berperan, kita harus totalitas. Mana mungkin sampai disana kita marahan, kan tidak lucu."
"Yah, ngomong-ngomong dimana tempatnya?"
Risa menunjukkan alamat nya kepada Deni. Kemudian, Deni menyetir dengan lumayan deras.
Sesampainya di pesta, Deni dan Risa segera turun dari mobil.
"Ingat, ya. Perankan karakter pasangan yang baik dan selalu tersenyum, jangan lupa memujiku juga."
Sialan, aku benar-benar terjebak.
"Iya, bawel."
Risa menggandeng tangan Deni memasuki rumah mantan pacarnya itu.
Haduh, kok jadi aku yang deg-degan... gumam Risa pelan.
Di dalam rumah itu terlihat banyak tamu yang datang. Risa mengeratkan pegangannya saat ia melihat mantan pacarnya yang menggenggam erat wanita selingkuhanya saat itu.
"Hay, Risa mantanku, kau datang?" Lelaki itu melirik Deni dari atas sampai bawah. Dari postur tubuhnya, jelas sangat berbeda dengan Deni yang tinggi. Sedangkan lelaki itu hanya sampai mulut Deni.
"Ya, aku datang. Kenapa juga aku tidak datang, ya 'kan sayang?" ucap Risa melirik kearah Deni dan tersenyum manis.
"Iya, sayang." jawab Deni. Kata-kata itu sangat sulit keluar dari mulut Deni.
"Ini pacar baru mu?" tanya lelaki itu.
"Iya, mana mungkin dia supirku, yang benar saja. huh!"
"Aku tidak percaya, mana mungkin kau bisa mendapatkan pacar secepat ini, pasti ini hanya pacar bohongan saja 'kan? haha."
Apa ku bilang, kau datang hanya untuk mempermalukan dirimu saja. Dia mana percaya kalau aku pacarnya, baru saja putus langsung dapat pacar kan tidak mungkin.
"Dia beneran pacarku, namanya Deni. Kenapa juga kau tak percaya?"
"Haha, dia ingin menunjukkan pada kita bahwa ia tidak menyedihkan, padahal sebenarnya ia sangat menyedihkan," ucap wanita mantan pacar Risa sinis.
Sepertinya aku harus angkat bicara untuk membuatnya berhenti berkutik.
"Maaf, Kau lelaki mantan pacarnya pacarku, Sebenarnya kami sudah lama jadian."
"Sudah lama? jadi kau juga berselingkuh, Risa?"
"Iya, bisa di bilang begitu, pertama kali pacarku melihatmu dengan wanita ini, kami memutuskan untuk jadian. Lagi pula selingkuh dibalas selingkuh bukannya bagus, jadi nilainya imbang, ya 'kan sayang."
Risa menatap sekilas wajah Deni, Risa benar-benar tersihir akan pesona Deni seketika itu juga.
Kenapa Deni menjadi berbeda, wah dia membuat jantungku berpacu tak karuan.
"Huh! Tapi dihari kau memutuskan hubungan, kenapa kau menangis tersedu-sedu?"
"Itu hanya akting," jawab Risa.
"Iya, karena aku juga ada di restauran itu menemaninya."
"Kalian benar-benar sialan!" pekik mantan Risa.
"Kenapa kau marah, sayang," ucap wanita mantan Risa.
"Aku sebenarnya tidak ingin memutuskan Risa. Tapi karena sudah ketahuan bagaimana lagi."
"Kau serakah!"
Deni dan Risa meninggalkan pesta itu, setelah membuat kekacauan. Mantan Risa yang ber-ulang tahun bertengjar hebat. Deni dan Risa tersenyum dan saling memberikan highfive.
"Terima kasih, berkatmu aku sangat bahagia telah membalas lelaki brengsek itu."
"Ya, biasa saja."
"Aku belum makan malam, bagaimana kalau kita makan malam dulu?" ajak Risa.
"Mmm, aku juga sangat lapar."
**Bersambung...
Hay Readers.... 🖐🖐
Jangan lupa tekan likenya yah jika sudah selesai membaca.
Vote yang banyak biar Author makin semangat.
Yang belum Rate, please rate novel ini bintang lima.
Komentar kalian aku tunggu 😊
Ada yang minta visual Deni sama Risa, nanti ya..
Pasti author kasih kok, untuk sekarang belum bisa.
Salam sayang dari ku buat readers semua nya 💋
Luv u all 😘😘**
__ADS_1