Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 104 : Periksa kandungan


__ADS_3

"Kalian disini juga?" ucap Renza menatap lekat.


Lelaki itu berjalan menghampiri Renza dan Arinka yang sedang berpegangan tangan. Tak kalah, dua orng di depan mereka itu juga segera bergandengan tangan.


"Apa kabar, Ren?" tanya lelaki itu.


"Kabar baik, Jefran," sahut Renza.


"Kalian mau konsultasi atau periksa kandungan?" Tanya Jefran.


"Haha ... ini pribadi, kenapa aku harus menjawab?" sahut Renza sarkas.


"Apa kabar?" tanya Sinta menatap Renza lekat.


"Ya, beginilah. Aku baik-baik saja dan sangat bahagia."


"Kami akan menikah sebentar lagi," ucap Sinta.


"Hmm ... kabar yang bagus. Ayo sayang kita masuk duluan," ucap Renza menggenggam lembut tangan Arinka.


"Duluan, ya." Arinka menganggukkan kepala menoleh kearah Jefran dan Sinta.


Renza dan Arinka berjalan menuju ruang dokter kandungan Nadila. Mereka duduk di kursi tunggu. Di belakang kursi mereka ternyata ada Jefran dan Sinta yang duduk sejajar.


"Mereka mau bertemu Dokter Nadila juga sepertinya?" bisik Arinka di telinga Renza. Renza mendapat bisikan itu tersenyum geli menatap Arinka.


"Ishh, ini benar-benar geli," ucap Renza tertawa.


"Aku menanyakan hal lain, kenapa malah tidak nyambung, sih?"


"Biarkan saja mereka, aku tidak ingin mengurusi mereka."


"Namanya juga wanita, tidak bisa tidak penasaran sedikitpun." Arinka terkekeh.


"Nanti tanyakan padanya langsung," ucap Renza tertawa menutup mulutnya.


"Iiihh, mana mungkin. Aneh saja."


"Ya sudah, kalau begitu diam saja."


"Huh!" Arinka mendengkus sebal.


"Cup ... cup ... jangan ngambek, dong, sayang."


"Biarin lah, ngeselin ..."


"Iihh, makin menggemaskan, ya?"


"Huh!"


Tak lama terdengar suara panggilan dari dalam yang memanggil nama Arinka. Arinka berdiri dan menoleh melihat Sinta dan Jefran saling duduk berdampingan, lalu ia tersenyum. Sinta ikut tersenyum sekilas. Jefran terus memperhatikan Arinka.


"Hei," panggil Sinta menyadarkan Jefran.


"Ya, sayang. Kenapa?" tanya Jefran


"Kamu masih menyukai Arinka?"


"Mana mungkin. Aku hanya menyukaimu sekarang. Itu dulu hanya masa lalu."


"Iyakah?"


"Hmm ... buktinya sudah ada 'kan?"


"Iya, aku percaya, sayang. Tapi aku jarang melihat Renza memakai pakaian warna terang begitu, dia suka warna gelap."


"Kamu paling tahukah tentang Renza? Aku jadi cemburu."


"Jangan cemburu. Maaf, ya."


Renza dan Arinka sudah masuk kedalam ruangan Dr. Nadila.


"Selamat siang, Nyonya dan Tuan Renaldi. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Dr. Nadila.


"Kami ingin konsultasi masalah kandungan. Kemarin istri saya pernah keguguran. Oleh karena itu, kami ingin mengetahui kandungannya."


"Anda suami yang siaga, anda beruntung Nyonya," ucap Dr. Nadila.


"Pastinya, aku sangat mencintai istriku. Semoga kami juga bisa cepat mendapatkan keturunan."


"Semoga secepatnya, ya, Pak.


Ny. Renzaldi Bisa berbaring dulu di sana?"


Arinka berjalan menuruti Dr. Nadila dan naik ke ranjang pasien. Dr. Nadila berjalan menghampiri Arinka dan memeriksanya. Setelah beberapa saat, Arinka di beri wadah untung menampung urine.

__ADS_1


Arinka menurut dan masuk ke toilet. Sembari menunggu, Renza bertanya tentang kehamilan dan menceritakan kondisi istrinya yang pernah keguguran. Dr. Nadila menjawab dengan penuh penjelasan.


"Oh ya, Dok. Dokter hanya spesialis kandungan 'kan?"


"Iya, ada apa?"


"Tidak, hanya bertanya saja, sih."


"Ya, baiklah. Jika ada yang ingin ditanyakan jangan sungkan-sungkan."


"Iya, Dokter."


Beberapa saat kemudian, Arinka sudah keluar dengan tube urine yang di pegangnya. Perawat disana dengan sigap mengambil tube itu dari tangan Arinka. Mereka menunggu beberapa menit sambil berbincang-bincang tentang kandungan.


Tak lama hasilnya keluar. Dan benar-benar seperti mimpi. Arinka dinyatakan hamil dan usia kandungannya 3 minggu. Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Dr. Nadila, Renza bangkit dari duduknya sambil berteriak memeluk Arinka.


"Ya Tuhan, keajaiban apa ini? Mereka bilang istriku akan lama mendapatkan kehamilan lagi. Nyatanya sekarang ia positif hamil. Aku benar-benar bersyukur."


"Wahh, Pak Renzaldi benar-benar suami siaga yang sayang istri. Selamat, ya."


"Ya Tuhan, terima kasih," ucap Arinka dengan mata berkaca-kaca.


"Beruntungnya kalian, proses kehamilan ini terjadi dengan cepat," ucap Dr. Nadila menjulurkan tangannya untuk menjabat. Renza dengan segera melepas pelukannya dan menjabat tangan Dr. Nadila.


"Kami benar-benar bersyukur atas kehamilan ini."


"Bersyukurlah kepada Tuhan," ucap Dr. Nadila.


"Iya, benar-benar suatu keajaiban," sahut Renza.


"Kalian bisa kembali dihari yang sudah ditentukan di dalam buku ini," ucap Dr. Nadila.


"Baiklah, terima kasih."


Renza dan Arinka keluar dari ruangan. Terdengar suara panggilan dari ruangan menyebut nama Sinta. Arinka mengerutkan keningnya. Jefran dan Sinta berjalan masuk menuju ruangan. Sedangkan Renza dan Arinka sudah keluar. Mata mereka berempat saling bertemu dan bersitatap.


"Kalian sudah selesai?" tanya Jefran.


"Kebetulan sudah," sahut Renza datar.


"Apa kamu sudah mengandung?" tanya Sinta menatap Arinka. Arinka tersenyum dan mengangguk.


"Selamat," ucap Jefran tersenyum lebar menatap lekat wajah Renza.


"Hmm ... terima kasih."


"Silahkan," sahut Renza dan Arinka serentak.


Didalam mobil. Renza benar-benar sangat bahagia. Ia tak henti menciumi tangan Arinka dan memandangi wajah istri kesayangannya itu.


"Aku masih tidak percaya. Ya Tuhan, aku benar-benar bahagia. Mimom mau apa? Mimom harus hati-hati, ya? Jangan sampai hal pertama terulang kembali."


"Ya, mimom akan berhati-hati."


"Sebenarnya waktu mimom keguguran itu, dokter bilang bahwa mimom akan sulit mengandung. Jika mengandung akan membutuhkan waktu lama. Ini kado terindah dihari anniversary kita."


"Anniversary?" tanya Arinka.


"Heumm, Apa mimom sudah lupa?"


"Astaga, iya. Mimom lupa besok anniversary 1 tahun kita."


"Ya, Pipom sudah menyuruh Deni mereservasi tempat."


"Rayakan secara sederhana saja," ucap Arinka.


"Tapi pipom mau memanjakan istri tercintaku ini."


"Mimom selalu dimanjakan setiap hari, selalu bahagia. Terima kasih sayangku."


"Sama-sama, sayangku."


"Apakah hamil itu berbeda-beda?" celetuk Renza.


"Misalnya?" tanya Arinka.


"Mimom tidak mual-mual, tidak ngidam kah?"


"Iya, sih. Mungkin belum. Tapi Mimom harap tidak geli sama bau pipom."


"Heum, ya. Pipom juga sedih jika sampai seperti itu lagi. Pipom ingin berada di samping mimom setiap hari."


"Uwuuw ... suami yang baik."


Mobil itu melaju kencang meninggalkan halaman parkir praktek kandungan Dr. Nadila.

__ADS_1


Sementara itu, Deni yang ingin makan siang berdiri terpaku memainkan ponsel sambil menggeser layar ponselnya. Ia tersenyum dan meletakkan ponselnya di telinga. Yah, lelaki itu sedang menelepon kekasihnya.


"Halo."


"Hola," sahut Risa.


"Sudah makan siang, kah?"


"Kebetulan belum, ada apa? Mau makan siang sama-sama kah?"


"Heum, kok tahu?"


"Nebak aja, sih."


"Aku jemput, ya?" ucap Deni.


"Oke, di tunggu. Hati-hati di jalan."


"Siap."


Setelah telepon dimatikan, Deni bergegas masuk kedalam mobil. Begitupula dengan Risa. Ia mulai sibuk mencari baju apa yang akan ia kenakan.


Risa mulai memoles wajahnya, menyisir rambutnya dan memakai pakaian yang pas, tidak mencolok dan tidak terlalu wah. Senyumnya melebar saat menatap cermin. Tubuhnya berputar-putar saat memakai celana jeans hw dan crop top serut warna ungu.


"Ini saja, kalau berpakaian berlebihan nantinya akan sedikit aneh, sih," ucap Risa bermonolog sendiri.


Setelah menambahkan liptint merah di bibirnya. Ia menyeprotkan parfum kesayangan di tubuhnya.


"Risa!" panggil seseorang dari luar kamar.


"Ya, Ma, ada apa?" sahut Risa berjalan keluar dari kamarnya.


"Diluar ada Deni, kalian mau kemana?"


"Makan siang, Ma."


"Papa bilang, Papa mau bertemu Deni nanti," ucap Mira.


"Wah, benarkah? Aku jadi dag dig dug."


"Dasar! Padahal suka," ejek Mira mencubit pipi Risa.


"Suka kenapa?" Risa nyengir kuda.


"Papa akan bertanya serius mengenai hubungan kalian."


"Wih, bakalan seru."


"Astaga, ini anak benar-benar sudah mau menikah, kah?"


"Ya kan jodohnya sudah ada, Ma."


"Iya, sih. Sudah cepat sana Deni sudah menunggu."


Risa berjalan menuju teras. Deni sedang duduk memainkan ponselnya. Risa tersenyum sumringah menatap Deni. Sebaliknya Deni pun begitu. Pasangan yang benar-benar sedang kasmaran.


"Sudah lama?" tanya Risa.


"Tidak juga," sahut Deni.


"Uwuuu ... tampannya," ucap Risa tersenyum.


"Ahh, benarkah? Aku jadi malu. Alien juga cantik hari ini?"


"Ahh, aku jadi malu juga."


"Ehem ..." ucap Mira berdeham diantara Deni dan Risa. Sontak Deni langsung bangkit dan menjulurkan tangan. Mira dengan cepat menyambut uluran tangan Deni. Deni mencium tangan Mira dengan rasa hormat.


"Kalian belum pergi? Kapan mau makan siang?"


"Iya, Ma. Ini sudah mau pergi."


"Kami pamit, ya, Bu," ucap Deni.


"Iya, hati-hati di jalan."


Deni membuka pintu mobil untuk Risa. Kemudian, Risa masuk kedalam mobil dan memakai sabuk pengaman. Tak lama, mobil itu melaju kencang menuju restauran yang akan mereka tuju.


**Bersambung...


Hola readers, ya ampun author beneran kesel. Udah capek nulis malah hilang ga kena save. Makanya author telambat up 😭


Btw, jangan lupa like dan komentar juga ya.


Jaga kesehatan selalu.

__ADS_1


Athor sayang kalian 😘😘**


__ADS_2