
Risa mengakhiri panggilan dan bergegas mengganti pakaiannya. Ia benar-benar sedang dalam kegelisahan. Satu-satunya orang yang bisa ia ajak curhat adalah Arinka.
Arinka selalu mengerti maksud dan arah ceritanya. Arinka juga selalu memberikan solusi yang baik baginya.
Risa mengambil tasnya dan memasukkan ponsel kedalam tasnya. Risa ini type wanita yang modis. Apapun yang dikenakannya selalu pas dan cocok di tubuhnya. Tak heran jika ia bisa membuat wanita lain merasa iri.
Deni dan Risa itu sangat cocok. Bisa dibilang pasangan idaman lah. Tinggi mereka hampir tak berjauhan. Warna kulit mereka mendekati dan mereka sama-sama cantik dn tampan. Deni lebih cool sedangkan Risa lebih ke Hot. Hot dalam artian bisa bergaul dengan siapa saja, tidak jutek.
Kali ini, Risa memilih menggunakan taksi. Ia tidak ingin mengendarai mobil sendiri karena pikirannya yang sedang kacau. Risa merasa kesal kepada Deni yang tidak peka sama sekali bahwa ia sedang minta perhatian.
Apa karena Deni belum pernah pacaran jadi Deni perlu di dikte. Begitu isi pikiran Risa. Tapi Emosinya mengalahkan semuanya. Deni tidak pandai membujuk Risa, sedangkan Risa menolak untuk dibujuk. Benar-benar jadi sebuah kesalahpahaman yang rumit.
Dalam perjalanan, Risa terus memandangi ponselnya. Ia melihat chat dari Deni dan membacanya. Kemudian, ia mengelus dada sendiri. "Aku yang egois, apa Deni sih yang terlalu polos? Huh! Benar-benar rumit," katanya.
Beberapa lama dalam perjalanan, Risa menatap keluar jendela. Ia mengingat kejadian di cafe, giginya ia gertakkan saking emosinya ia ditinggal sendiri disana. Keterusan melihat keluar jendela, Risa ingat ingin membelikan Arinka buah tangan.
"Pak, berhenti sebentar. Aku mau membeli pizza."
"Baik, Nona."
Supir taksi itu segera menghentikan mobilnya. Risa keluar dan masuk kedalam toko pizza itu. Risa tau Arinka sangat jarang makan pizza. Oleh karena itu, Risa ingin membelikannya untuk makan bersama.
"Hemm ...." Deham seorang lelaki. Risa menoleh dan mengernyitkan dahinya.
"Emm, kamu yang di toko buku itu kah?"
"Iya, kamu ingat aku, wah! sebuah kehormatan."
"Bagaimana aku bisa lupa secepat itu, kan kamu yang memberi buku gratis. Aku tidak bisa secepat itu melupakan kebaikan orang lain."
"Bagus dong kalau gitu, lain kali traktir aku jika ingin berterima kasih."
"Haha, kau ini aneh. Kau yang membelikanku buku, sekarang malah minta terima kasih atas buku itu. Kau tidak ikhlas, ya? Apa kau sengaja membuat orang lain merasa harus berterima kasih?"
"Wait ... kenapa ngegas begini, sih?"
"Jelas saja, tiba-tiba minta traktir segala."
"Itu kan becandaan, jika tidak mau, ya sudah. Jika bertemu sekali lagi, aku anggap ini takdir."
"Hey, kamu ini benar-benar membuat orang tak enak hati."
"Namaku Adrian." Lelaki itu tertawa cengengesan.
"Sudah tahu, Ishh ..."
"Jangan kesal gitu, nanti jatuh cinta."
"Astaga, aku sudah punya pacar."
"Hanya pacar juga 'kan? Bukan suami?"
"Calon suami."
"Baru calon. Jika kita bertemu sekali lagi, aku anggap takdir, jadi biarkan aku mendekatimu."
"Terserah kau saja," ucap Risa meninggalkan Adrian sambil membawa pizza ditangannya.
"Sampai berjumpa lagi," ucap Adrian melambaikan tangan.
Risa berjalan meninggalkan tempat itu. Ia masa bodo kepada lelaki yang melambaikan tangan kepadanya. Pikirannya berkecamuk tentang Deni. Ia benar-benar menyukai Deni tapi masih kesal dengan kelakuannya.
Risa masuk kedalam taksi dan dengan cepat taksi itu melaju meninggalkan toko pizza menuju rumah Arinka.
Di rumah kediaman Renza ...
Arinka sudah selesai mandi. Ia turun ke bawah menuju dapur. Arinka menyuruh Bi Ami untuk membuatkan makanan.
"Bi, nanti Risa datang berkunjung. Bisa tolong bibi buatkan makanan dan camilan, ya?"
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Arinka berjalan kembali dan duduk di meja makan. Ia menuangkan air putih dalam gelas lalu meminumnya. Sambil mengusap layar ponselnya, Arinka melihat-lihat media sosialnya.
Arinka tersenyum saat membuka facebook milik suaminya. Disana banyak sekali update foto Arinka. Renza hanya mengaupload foto Arinka dengan fose tersenyum dengan caption menggemaskan.
"Dasar Pipom, kenapa upload foto aku terus. Malah captionnya manis-manis semua. Uwuuw ... terharu," ucap Arinka bermonolog sendiri.
Bi Ami yang mendengar ucapan Arinka hanya tersenyum sambil memotong buah.
Tak lama terdengar suara langkah kaki. Dan kemudian, terdengar ucapan salam dari luar. Bi Ami segera berlari keluar mengeceknya. Arinka tertawa, padahal itu Risa. Risa bisa masuk sendiri karena sudah sering datang, jadi Risa tak canggung lagi.
"Eh, Non Risa!" ucap Bi Ami.
"Iya, Kak Arin mana?"
"Ada di dalam, silahkan masuk."
"Baiklah," sahut Risa tersenyum sambil berjalan membawa box pizza. "Kak Arin!" seru Risa.
"Hei, ternyata sudah sampai," ucap Risa tersenyum.
"Sudah, dong," sahut Risa seraya meletakkan box pizza di atas meja makan.
"Bawa apalagi ini? Setiap kesini selalu repot-repot."
"Ini pizza," ucap Risa sambil membuka boxnya.
"Wah, kebetulan sekali aku sedang ingin makan pizza. Tadi juga menyuruh Pipom membeli pizza."
"Iyakah? Sudah keduluan aku, dong."
"Hmm, iya." Arinka tertawa.
"Kakak seperti orang ngidam saja," ucap Risa.
"Ngidam tidak, ya?" Arinka terkekeh.
"Jangan-jangan! Kakak benar-benar hamil?" Tanya Risa ragu.
"Woah! Selamat ya, kak. Aku benar-benar bahagia mendengarnya." Risa melompat kegirangan.
"Iya, kami juga sangat bahagia." Arinka tertawa lucu melihat tingkah Risa.
"Aku bersyukur, kakak bisa hamil lagi secepat ini. Benar-benar sebuah anugrah."
"Iya, aku juga sangat bersyukur. Semoga dedek bayi nya sehat sampai lahir nanti, ya."
"Amin."
Risa memegang tangan Arinka dan mengelusnya. Arinka menatap Risa dan kemudian tertawa terbahak.
"Kenapa ini? Ayo cerita?"
"Ishh ... aku sedang kesal kepada Deni."
"Kesal kenapa? Mau cerita disini apa disana? Di taman?"
"Disana aja kali, ya. Di taman. Biar lebih nyaman sambil memandang bunga-bunga."
"Ayo!" Arinka beranjak bangkit dari kursi. Risa mengikuti dan membawa box pizza. Mereka berjalan menuju taman belakang dekat kolam renang. Tempat itu sangat favorite bagi Arinka.
"Ahh, aku suka disini, tempat yang nyaman dan udara yang fresh." Risa duduk dan meletakkan box pizza itu diatas meja.
"Heum ... lumayan untuk mengurangi setres. Melihat pepohonan dan bunga jadi goodmood," sahut Arinka.
"Iya, kak. Kalau lagi banyak pikiran memang sebaiknya berjalan-jalan ke taman atau ke pantai melihat laut. Laut juga membuat tenang hati. Melihat air begerak-gerak seperti itu sangat terhibur ditambah angin sepoi."
"Iya, aku juga suka ke pantai. Suka sekali melihat laut. Kapan-kapan kita ke pantai bersama lagi, ya?"
"Oke, kak."
"Baiklah, ayo cerita yang mengganjal hatimu itu?"
__ADS_1
"Begini, kak. Hari itu aku makan siang bersama Deni. Kami cerita-cerita sih masalah cinta pertama. Ternyata cinta pertama Deni itu adalah Milka. Aku rada syok sih. Malah Deni berceritanya menggebu-gebu. Aku cemburu. Aneh, ya, kak. Pantaskah hal yang seperti itu dicemburui?"
"Risa, hal seperti itu dalam hubungan wajar. Aku saja kadang suka cemburu kepada Renza. Tapi sebaiknya jangan berlarut-larut."
"Iya, sih, kak. Tapi Deni itu tidak peka. Padahal aku sudah diam saja. Dia tidak bisa peka kalau aku ngambek."
"Deni itu kan orangnya kaku. Ini pertama kalinya dia pacaran 'kan?" tanya Arinka.
"Iya, tapi aku tidak mempermasalahkannya, malah aku sebelnya si Deni itu ninggalin aku, kak."
"Ninggalin gimana?" tanya Risa bingung.
"Yah, dia ninggalin aku. Saat makan aku tidak tersenyum, aku sengaja hanya menatap ponselku. Tak lama setelah itu, ia pergi tanpa pamit." Risa kesal, matanya berkaca-kaca.
"Deni pergi begitu saja, tanpa pamit? Kenapa dia jadi bodoh begitu?" Arinka ikut kesal.
"Iya, aku menatapnya pergi tanpa menoleh kearahku. Astaga, aku benar-benar seperti dicampakan." Risa mulai terisak. "Apa salah jika ngambek seperti itu? Yah, salah. Tapi kenapa harus pergi tanpa pamit?"
"Ishh, aku juga kesal, sih. Orang sepintar Deni, bisa juga jadi seperti itu. Biasanya dia penuh logika dan hati-hati. Mungkinkah ini hanya salah paham?"
"Salah paham gimana, kak?"
"Ya, mungkin saja dia bercanda atau apa gitu?"
"Jika Deni bercanda, ini sangat keterlaluan. Kenapa juga ia tidak pamit kalau benar-benar tidak suka melihat tingkahku. Kenapa harus meninggalkanku, sih? Aku sangat malu juga disana. Untung saja tidak ada yang mengenaliku."
"Iya, yah ... jika Deni bercanda benar-benar tidak masuk akal. Kalau kakak diposisi kamu juga pasti akan menerka-nerka."
"Kadang pacaran juga sulit. Tak selamanya selalu manis terus."
"Iya, dalam rumah tangga juga seperti itu. Bertengkar adalah hal yang wajar. Hanya saja jangan sampai ada orang ketiga yang jadi perusak hubungan. Itu akan sangat sulit untuk diterima. Kakak sudah merasakannya."
"Hmm, kak Arin sudah sepantasnya bahagia. Jangan lagi ada masalah yang menimpa kakak."
"Semoga saja, amiiin ...."
Bi Ami datang membawakan minuman dan camilan. Arinka dann Risa berterima kasih. Lalu, Bi Ami berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Kak, makan pizzanya. Nanti keburu dingin."
Arinka dan Risa tertawa-tawa saat mengambil pizza masing-masing sepotong. Risa sedikit lega karena sudah bercerita kepada Arinka tentang perasaannya yang mengganjal itu.
"Jadi, bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"
"Entahlah! Aku yang minta maaf duluan apa aku harus menunggu Deni. Misalkan aku yang minta maaf duluan, aku tidak mau. Kan itu kesalahannya."
"Iya, sih. Tapi kalau kalian menghindar terus masalahnya tidak akan selesai. Lebih baik dibicarakan dulu."
"Iya, sih, kak. Tapi aku maunya dia dulu yang bicara dan minta maaf. Dia minta bertemu, sih tapi aku lagi kesel sekarang."
"Nanti kalau sudah tidak emosi, sebaiknya bertemu. Bicarakan apa yang membuat kalian tidak nyaman, supaya hubungan kalian bisa awet."
"Iya, kak. Aku juga tidak ingin menjadi berlarut-larut. Aku benar-benar menyukainya."
"Nah 'kan? Kalau suka sebaiknya segera berbaikan. Lagipula kalian masih baru juga pacaran, kenapa sudah berantem?" Arinka terkekeh.
"Karena sama-sama egois kali, ya? Sepihak ingin menjelaskan, dipihak lain ingin menghindar dulu."
"Iya, sih. Kalau masalah hati selalu seperti ini."
"Aku ngerasa plong udah cerita sama kakak. Semoga cepat membaik, deh, hubungan kami ini."
"Iya, pokonya harus berusaha, ya."
Kemudian, setelah percakapan itu mereka asyik makan dan mengobrol banyak hal.
***Bersambung...
Jangan lupa like ya, kasih komentar kalian juga.
Jangan lupa jaga kesehatan.
__ADS_1
Aku sayang kalian readersku 😘😘***