Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 25 : Masih berbelanja


__ADS_3

Belanjaan sebanyak ini mau diapakan sih?


"Hari ini kau masuk kerjanya pukul 11 saja, Deni akan minta izin ke Atasanmu?" ucap Renza santai.


Kenapa? memangnya kalian tau aku bekerja dimana? jangan-jangan selama ini aku selalu diawasi, iih merinding.


"Memangnya kenapa? aku baru saja kerja seminggu? apa kata teman-teman lain nantinya."


Renza pura-pura tidak mendengar ucapan Arinka dan berlalu memasuki toko sepatu, Arinka mematung di depan pintu tidak mau masuk, tetapi Deni mendorongnya masuk hampir saja Arinka jatuh. Arinka menatap Deni dengan tajam, Deni segera mengalihkan pandangan.


"Pilih sepatu dan sendal yang kau suka? kau hanya memakai sepatu itu-itu saja."


"Aku tidak mau, dan aku tidak ingin! sebaiknya kita pulang saja aku merasa tidak nyaman seperti ini."


Nyonya oh nyonya, diajak belanja kok ga mau.


"Lepas sepatunya, lihat ukuran kaki nya?" ucap Renza kepada Deni.


"Hey, kau mau apa?" Deni mendudukan Arinka dengan paksa dan membuka sepatunya.


"Kalian ini gila ya, kenapa selalu seenaknya sama orang rendahan." matanya hampir berkaca-kaca.


Baru kali ini ada seorang wanita yang tidak suka diajak shopping, biasanya wanita yang mendekatiku hanya mengincar uang saja. Apakah dia sungguh berbeda?


"Bungkus semua sepatu dan sendal terbaik disini ukuran 38" ucap Renza tegas.


Dia ini gila atau apa? mau buka toko sepatu atau apa? belanjaan tadi juga sudah sangat banyak. Mungkin dia rada tidak sehat hari ini.


Lagi-lagi Deni sibuk mengurus pembayaran, dan terlihat Deni berbincang, entah apa yang dikatakannya sambil tersenyum. Renza sudah keluar dan berjalan.


Kenapa aku seperti ini? kenapa juga aku harus sibuk-sibuk pergi membelinya, Deni bisa mengurusnya. Aku seperti minta perhatian dari Arinka. memegangi kepalanya sambil bergumam.


"Dia kenapa sih? benarkan ada yang tidak beres, lihat saja tingkahnya itu, astaga." Gumam Arinka.


"Kita mau kemana lagi,? sebaiknya kau pergi kerja saja."


"Kauu?? beraninya kau memerintahku?"


"Maaf, Tuan."


Arinka berjalan melihat tempat itu, ini pertama kalinya dia pergi kepusat perbelanjaan terbesar seperti ini, ia sangat asing tapi karena pergi dengan Renza, ia tidak mau terlihat kampungan dan merasa heran.


"Hey" teriak Renza membuat beberapa pasang menoleh termasuk Arinka.


"Ayo kesini, beli tas, cepat!"


Arinka berjalan memasuki toko tas yang super mewah, Arinka dibuat takjub dengan tas yang begitu banyak dan cantik.


"Yang terbaru." tanya Renza kepada pelayan toko. dengan sigap pelayan toko itu mengambil tas fashion terbaru.


"Bagus" jawab Renza. Arinka hanya berkeliling melihat-melihat dengan santai. kemudian ia duduk tak jauh dari renza duduk.


"Ini 17 juta, barang ini baru masuk kemarin, Pak." ucap pelayan toko itu. sontak Arinka terperanjat dan melongo mendengarnya.


"Ambilkan 5 tas yang terbaru dan bungkus, nanti sekretaris saya yang mengurus pembayaran."


"Baik, Pak"


Renza berjalan keluar diikuti Arinka yang membuntuti dari belakang dengan tatapan heran, ia masih tak menyangka dengan harga tas yang semahal itu.

__ADS_1


Padahal beli dipasar hanya 60rb-an, haha. kenapa juga harus membuang-buang uang. Dasar sultan!


Renza berjalan menaiki eskalator sedang Arinka lebih memilih naik tangga karena ia belum pernah,makanya ia takut. Renza hanya tersenyum melihat tingkah Arinka. Renza masuk kedalam sebuah cafe yang ada dilantai atas, Arinka masih mengikuti kemauan Tuannya itu. kemudian mereka duduk ditepi jendela dengan pemandangan yang indah.


"Wah, bagus sekali pemandangannya" ucapan itu lolos dari mulut Arinka tanpa ia sadari. Renza hanya tersenyum sambil memperhatikannya.


Senyummu sangat manis, kenapa aku baru sadar sekarang sih?


Arinka melihat daftar menu di cafe itu, ia terkejut karena untuk makan daging saja hampir satu juta. Renza memesan dua steik, membuat Arinka tambah melongo.


Orang kampung seperti aku,mana pernah makan makanan seperti ini.


Pesanan mereka datang dengan dua minuman smoothie, tampilannya sangat cantik dan menggugah selera.


Cekrek..


Suara Ponsel yang sedang mengambil foto, Renza senyum-senyum setelah mendapat foto Arinka.


"Tuan, mengambil foto makanan ini ya? Cantik sih, tapi apa perlu difoto juga."


"Hemm."


Ihh dasar! Aku tak se lebay itu juga buat foto makanan, aku mengambil foto mu tau, haha.


"Apa kau bisa memotongnya?"


"Bisa lah." dengan percaya diri.


Sebenarnya aku belum pernah makan makanan ini, tapi aku juga pandai menyesuaikan diri, aku tadi lihat cara dia memotongnya.


"Nah" Renza menukar piringnya dengan steik yang sudah dipotong kepada Arinka sambil tersenyum manis.


Kenapa ia berbeda hari ini, sangat baik. jangan-jangan setelah ini ia ingin aku menerima pacar baru nya lagi, modus ini aku yakin.


Setelah kenyang mereka keluar dari cafe tersebut, mereka berjalan menuju mobil diparkiran. Deni sudah menunggu. mereka masuk kemobil dan Deni melajukan kendaraan dengan hati-hati.


Jam menunjukan pukul 11:38. Arinka menjadi tidak tenang, pasalnya dia sudah telat sampai 2 jam setengah. Apa kata bos nya nanti. Kebetulan hari ini Renza memang sedang luang, Renza banyak memikirkan cara liburan dengan Arinka, kalau perlu Arinka tidak perlu bekerja lagi.


"Kalian tidak apa-apa hari ini, tidak masuk kerja?" tanya Arinka kepada Deni, padahal Renza tepat disebelahnya.


Kenapa juga dia tidak bertanya kepadaku? kenapa harus kepada Deni sih? huh!


"Tidak apa, kebetulan hari ini Pak Renza sedang luang."


"Owh, omong-omong kau sudah makan?"


"Sudah, Nyonya."


Hemm...hemmm


Renza berdeham, karena sedari tadi Arinka hanya bertanya kepada Deni saja. wajahnya terlihat kesal, ia menolehkan wajah kearah jendela. dalam perjalanan mereka hening yang hanya terdengar suara musik.


"Sudah sampai, kau harus turun."


"Kau tau tempat kerjaku? selama ini kau membuntutiku, ya? dan kalian pulang saja aku harus segera bekerja."


"Maaf, Nyonya. pertanyaannya terlalu banyak saya bingung mau jawab yang mana dulu."


"Huh!" Arinka melongos kesal.

__ADS_1


"Kau jika banyak tanya sebaiknya tidak usah bekerja, dirumah saja" ucap Renza dingin.


"Bukannya kita sudah berjanji, jika urusan pribadi masing-masing tidak boleh ikut campur, dan jika mungkin aku punya pacar, Tuan tidak akan ikut campur, kan?


Seperti terkena pukulan keras yang telak, Renza berusaha mengatur napas dan membuang napas sembarang, ia seketika mendapat jawaban yang pas.


"Dimata publik kau itu istrinya Renzaldi Alfariq, jika kau punya pacar mungkin akan mencoreng nama baik,bukan hanya nama baikku tapi juga nama baikmu sendiri, lagian jika kau ketahuan kerja disini pasti akan menjadi bahan pergunjingan. maka dari itu berhati-hatilah" berbicara dengan nada lembut.


"Kemarin kau juga punya pacar Tuan, selama tidak ketauan tidak apa-apa, kan? aku akan lebih berhati-hati? ucap arinka menyeringai.


"Kauuu ini sedang menantangku, yah?" nada nya naik setingkat lebih tinggi.


Dasar emosian, aku juga bisa membalasmu Tuan.


"Tidak, mana aku berani."


Arinka berjalan masuk kedalam Restaurant itu, ia masuk lewat pintu belakang. Renza dan Deni ikut turun tanpa tau Arinka. suasananya lumayan ramai karena jam makan siang. Renza dan Deni mengambil tempat duduk dekat jendela, Renza type orang yang tidak suka berkumpul ditengah keramaian. Deni melambaikan tangan, dan kebetulan Risa yang melayani.


"Apa atasanmu ada didalam?" tanya Deni.


"Ada Pak, apa mau saya panggilkan?"


"Iya silahkan."


Risa berjalan memanggil atasannya itu, ia bertemu Arinka sedang sibuk memakai celemek.


"Kak, baru datang?"


"iya, kebetulan tadi ada perlu"


"Oeh, aku naik dulu ingin memanggil Pak Jefran."


"Oke"


Risa turun dari tangga dan tidak lama Jefran pun menyusul, Risa menuntun Jefran menuju kursi tamu yang memanggilnya. Jefran terkejut melihat siapa yang ditemuinya itu. kemudian ia menarik kursi dan duduk didepannya, Risa pergi dan melanjutkan pekerjaan.


"Renza, apa kabar? lama tidak berjumpa?" Jefran menyodorkan tangannya.


"Kabar baik" tapi Renza tidak menyambut uluran tangan itu.


"Kau tidak banyak berubah,masih seperti dulu."


"Sayangnya aku telah berubah banyak." menyerigai.


"Aku dengar kau sudah menikah?" tanya Jefran kembali


"Iya. sayangnya aku sudah move on, huh!"


"Jika kau belum move on berarti kau keterlauan" ucap Jefran sarkasme


"Aku apa Kau yang keterlaluan? huh?"


Deni hanya diam melihat dua orang itu terlibat adu mulut perkara masa lalu yang sudah lama terkubur mencuat kembali.


**Bersambung..


mohon maaf Aku ga Up dikarenakan lagi flu berat.


mohon pengertiannya ya Readers 😊

__ADS_1


jangan lupa vote dan comment ya ❤**


__ADS_2