Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 37 : Kencan? (1)


__ADS_3

Renza dan Arinka terus memandang dengan senyuman tulus dari bibirnya, seakan mereka adalah dua remaja yang baru mengenal pacaran, dua sejoli yang baru akan mengecap mabuknya cinta. Perkenalan dalam sebuah pernikahan memang terdengar seperti hal konyol, tetapi dari awal perjodohan mereka belum pernah mengenal satu sama lain dengan baik, bahkan perihal nama saja mereka tau saat akan di melangsungkan pernikahan.


Seperti biasa, rutinitas Renza setiap hari adalah pergi bekerja. Pagi itu Renza seperti enggan berangkat. saat sarapan Renza dan Arinka saling bertatapan malu-malu kucing, tersenyum dan tidak fokus untuk menyuap makanan kemulut masing-masing. Bi Ami yang memperhatikan tingkah mereka, terheran-heran sampai menggaruk kepala padahal tidak gatal sama sekali.


Arinka berdiri dan meraih gelas di atas meja untuk menuang minuman di gelas Renza, wajahnya tak henti tersenyum tapi tidak berani menatap wajah Renza karena masih canggung.


"Apa kau ingin pergi kekantor bersamaku hari ini?" tanya Renza pelan sambil mengunyah makanan sontak Arinka agak kaget.


"Hmm..., tidak. aku dirumah saja, Tuan."


"Baiklah, Jika bosan kau boleh pergi ke taman," ucap Renza lagi.


Arinka hanya menganggukan kepalanya pelan, Renza segera beranjak dan berangkat kekantor menuju mobilnya, Deni sudah menunggu di dalam sana. Senyum merekah dibibirnya, tapi tidak berani sampai berjabat tangan atau melambaikan tangan, mereka harus berusaha memulai sedikit demi sedikit menghilangkan semua kecanggungan dan menghapus masa lalu buruk beberapa bulan lalu.


Tentang seorang wanita, meskipun banyak berpikir tentang logika, tapi pada akhirnya ia akan bertindak sebagaimana hatinya berkata. begitu lah dengan Arinka. ia sempat tidak berani membuka hati, tapi seperti pernyataan diatas, hati akan mengalahkan logika, walaupun sudah pernah tersakiti apa salahnya mencoba kembali, hanya mati saja yang tidak boleh dicoba pikirnya.


Didalam mobil, Renza tak henti-hentinya tersenyum. Deni melihat tingkah konyol atasannya itu dari kaca depan.


"Apakah semua berjalan lancar, Pak? tanya Deni penasaran.


"Hm.. begitulah," ucapnya masih tersenyum tipis.


Flashback on


Beberapa jam sebelum pulang dari kantor, Renza mendapat pencerahan dari Deni, kepalanya mendongak keatas mendengar ucapan Deni bahwa Arinka pernah punya perasaan kepadanya, Renza menatap tidak percaya, wanita yang selalu di acuhkannya bahkan selalu mendapat ucapan kasar darinya ingin membuka hati kepadanya, sungguh seperti anugrah.


"Kenapa Pak Renza tidak mencoba berkata terus terang kepada Ny. Arinka? Nyonya itu orangnya lembut." sambil mendengarkan rekaman percakapan mereka beberapa hari lalu dimobil, Deni merekam pembicaraannya dengan Arinka tanpa sepengetahuannya, Deni benar-benar sudah lelah melihat pasangan itu saling jaga image.


"Apakah ini nyata? kau tidak merekayasa nya, kan?" tanya Renza seperti tidak percaya dengan percakapan yang didengarnya, lalu ia mendengarnya kembali dengan seksama, "Tapi kenapa kau bilang aku jatuh cinta kepada nya? Sial! kau sok tau sekali, Deni!" emosinya mulai naik.


"Memang kenyataannya kan, Pak Renza mau mengelak lagi?" Deni terkekeh.


"Kau ini seperti detektif saja, Benar kata Arinka, kau bisa membuka kerja sambilan jadi mak comblang." tertawa keras sambil duduk melipat kakinya.


"Jika Pak Renza terus-terusan menghindar, dan menyembunyikan perasaan cinta kepada Ny. Arinka tidak akan baik, Pak. seperti kejadian beberapa waktu lalu dengan Pak Jefran, Apa Bapak mau Ny.Arinka direbut lelaki lain?" ucap Deni tegas.


"Ishh, kau ini! kenapa berbicara selalu saja benar sih, ups." Renza menutup mulutnya karena berbicara diluar kendali dan membenarkan ucapan Deni.


"Nah, benar kan. aku selalu benar." tertawa sambil membenarkan dasinya.

__ADS_1


"Tidakk, sudah hentikan. aku tidak menyukai Arinka kok. aku hanya iba saja kepadanya."


"Iba??? bukan iba, Pak? tapi cinta? berterus terang saja sebelum semuanya terlambat. Ny.Arinka juga akan berusaha membuka hati."


"Aku tidak mencintainya, titik." Berkata tegas dan penuh penekanan.


"Ya sudah, tapi bunga itu? kenapa anda mengiriminya bunga setiap hari?" sorot matanya menatap lekat dan tajam, tidak berkedip sedikitpun.


"Apa yang tidak kau tau, Sialan! kadang aku menyesal punya seseorang sepertimu, jadi tidak ada rahasia lagi!"


"Benarkan, makanya Bapak harus berterus terang." Deni berjalan keluar dari ruangan, bersiap pulang. Renza mengambil tas dan mengikuti.


Di perjalanan pulang, Renza sibuk mengotak-atik ponselnya tanpa berbicara, wajahnya tersenyum memandangi ponsel pintar itu, ternyata ia sedang melacak lokasi Arinka dari nomor ponselnya. ia menoleh menatap jendela tanpa sengaja ditepi jalan melihat gerobak jualan batagor, ia sebenarnya tidak ingin membelinya, makanan yang tidak hieginis dan tidak sehat pikirnya, tapi ia teringat ucapan Arinka yang sangat menyukai batagor, ia menyuruh Deni berhenti dan membelikan batagor, tentu Deni yang membelinya sedangkan ia hanya duduk dimobil mengawasi. mobil itu melaju kembali dengan cepat dan berhenti di depan taman, Renza bergegas turun dan menenteng plastik ditangannya sambil berjalan langkah pelan, menolehkan kepalanya celingak-celinguk kesana kemari, pandangannya tertuju kepada seseorang yang dicari, Yah Arinka yang sedang duduk di sebuah bangku taman.


Flashback off


***


Arinka masih sibuk menyelesaikan membaca novel, terlihat mulutnya menganga, ia menguap karena lelah membaca buku hampir selesai. ia meletakkan novel itu diatas meja dan berbaring disofa.


"Nyonya ada kiriman bunga?" teriak Bi Ami dengan suara cemprengnya dari arah bawah. Matanya terbuka sedikit. Akan tetapi, Arinka terlalu mengantuk untuk menyaut ucapan Bi Ami. ia terlelap di sofa itu tanpa beban. tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat ia terkejut dan terbangun. ternyata pesan singkat yang tak lain dari Renza. Namanya belum berubah masih bertuliskan Tuan di kontaknya. "Jika kau pergi ke taman nanti sore,aku akan menyusul." begitu isi pesan itu. Arinka kemudian bangkit dan tidak melanjutkan tidurnya tadi, ia bergegas masuk kekamar mandi, selang berapa menit ia sudah keluar dengan keadaan fresh.


Arinka turun dari tangga, Bi Ami memanggilnya dan berkata bahwa tukang kurir mengantarkan bunga lagi, Arinka melirik kesana-kemari, bola matanya memutar melihat setiap tempat, dan ia temukan bunga itu diatas rak kaca didekat ruang tamunya. ia berjalan menuju bunga itu dengan bibir melengkung keatas, Yah dia sangat bahagia. di genggamnya bunga itu dengan kedua tangannya, terlihat tulisan berinisil 'N'. Arinka membuka tasnya dan mengumpulkan semua potongan hurup dari kiriman bunga tersebut, dirangkainya potongan huruf itu bolak balik dengan susah payah, tenyata tersusun kalimat "Renzaldi" akhirnya teka-teki tentang pengirim bunga terpecahkan.


Arinka terperanjat kaget, "Aa-apa maksudnya? jadi selama ini yang mengirimiku bunga sejak lama adalah Tuan Renza?" pikirannya jauh melayang, menerawang diudara memikirkan Renza, "Pantas saja, jika aku membawa bunga ini pulang dan menaruhnya dikamar ia tidak pernah bertanya," berbicara sendiri, matanya mulai berkaca-kaca, hampir saja bulir kristal itu menetes diwajah mungilnya.


"Kenapa dia seperti ini?" akhirnya Arinka terisak, ia sangat tersentuh dengan semuanya. wanita polos itu benar-benar sangat terharu. Arinka segera menghapus air mata itu dan bergegas pergi keluar rumah, ia sudah memesan ojek online seperti biasa. diperjalanan ia masih memikirkan tentang bunga tadi, pikirannya terus menerawang, "Apa dia sungguh mulai menyukaiku...," gumamnya dalam hati. pikiran itu berkecamuk bersarang dikepalanya.


Ah sudah biarkan saja, jika memang ia menyukaiku, kenapa tak ia ungkapkan sendiri sih? menggeleng-gelengkan kepala keras.


Di taman, Arinka mencari bangku kosong. matanya melirik kesana-kemari, dilihatnya ada bangku kosong yang lumayan jauh, ia bergegas berjalan setengah berlari kalau-kalau seseorang nanti duduk disana.


"Ahh akhirnya dapet tempat duduk juga." ucap Arinka sambil tertawa dengan napas ngos-ngosan sehabis berlari kecil tadi. sejenak ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam menghirup udara yang asri itu, lalu ia mengeluarkan ponsel dari tas nya. ia mulai memainkan ponselnya, bermain game. Arinka sudah kecanduan memainkan ponselnya.


Sangat lama Arinka bermain game itu sambil tertunduk, lehernya merasa sakit. ia melepaskan ponselnya diatas pahanya, kepalanya mendongak menatap langit yang sudah mulai senja, ia menghirup nafas dalam lagi, "Ah segarnya, jika bisa aku ingin tinggal disini, berkemah, piknik, misalnya pasti seru." ucapnya sambil mengubah posisi duduk menjadi setengah berbaring.


Tiba-tiba terlihat seorang lelaki mendekatinya, Arinka mengusap-usap matanya, samar-samar lelaki itu tersenyum, Arinka mengubah posisinya menjadi duduk kembali, terlihat seorang lelaki yang sangat familiar baginya berjalan menghampirinya, Yah itu Renza.


"Buahhaaahhaa...," seketika Arinka cekikikan sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa kau tertawa seperti itu?" melihat dirinya dari atas sampai bawah sambil mengernyitkan keningnya.


"Astaga, Tuan, aku kehabisan kata-kata. kenapa kau berpakaian seperti ini sih? Sweatermu itu kenapa berwarna pink dan bergambar hati besar sih? aku jadi geli melihatnya." gelak tawa nya masih terus berlanjut, perutnya terasa kram karena banyak tertawa.


"Sial! ini sweater couple tau! Aku juga membelikannya ini untukmu." sambil menyerahkan dengan wajah cemberut paperbag ditangannya.


"Aduhh, perutku sakit tertawa. kau sungguh bisa menghibur, Tuan." masih cekikikan.


Ahh, aku malu sekali ditertawakan begini, seumur hidup baru pertama kali aku ditertawakan sekeras ini. untung aku menyukainya, jika tidak tamat riwayatnya.


"Bukannya aku perhatikan kau suka saat melihat dua anak muda di toko buku tempo hari memakai pakaian couple warna pink begini?"


"Tuan memperhatikanku? astaga! Tuan. Aku hanya memperhatikan mereka karena mereka imut, usia kita mana pantas memakai pakaian seperti ini, warna pink pula." lagi-lagi Arinka tertawa polos.


"Bisa kau hentikan tertawamu itu, orang-orang menatap kearah kita sekarang?" ucap Renza sambil menjulurkan tangan ingin mendekap mulut Arinka, tapi langsung ditepis lembut oleh Arinka.


"Ya.. yaa.. aku berhenti." perlahan tawanya berhenti dan terlihat wajahnya memerah.


"Aku ingin pulang, ganti baju! aku pikir ini kejutan, tapi malah menjadi lelucon."


"Cup... cup... jangan marah, tidak apa-apa aku tidak akan menertawakan lagi, lagian muda-mudi yang di toko buku itu kan pasti sedang kencan, makanya mereka memakai pakaian couple."


Ahhh, dia bertingkah gemas didepanku, pakaian ini akhirnya ia memakainya juga. ia sangat cantik sekaligus lucu.


Renza merapatkan kakinya, tubuhnya bergeser sedikit lebih dekat dengan Arinka, Tangan nya tanpa sadar telah menjama wajah Arinka dan kemudian mencubitnya dengan gemas, "Ah imutnya, bagaimana jika kita juga berkenc-...." ucapannya terhenti dan segera melepaskan jarinya dari wajah Arinka, terdengar suara, "maaf" dan dengan cepat ia membuang muka. Mereka terlihat canggung.


Ia bilang maaf, benar-benar kalimat langkah. tapi tunggu dulu, ia berkata Kencan??? Matanya melotot sempurna.


Renza segera menolehkan wajahnya kembali kearah Arinka, ia memberanikan diri mengambil dan memegang tangan Arinka dan menatap dengan mata sayup yang berbinar-binar, "Ayo berkencan?"


****Bersambung....


Jangan lupa buat yang belum tekan ❤ silahkan tekan, yang sudah membaca jangan lupa beri like.


dan aku tunggu vote sebanyak-banyaknya ya dari kalian 😁


Luv u 💗😘**


pict pemanis**..

__ADS_1



__ADS_2